Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 — Rahasia yang Tidak Diketahui Aira

Ada sebuah perbedaan besar antara melupakan dan terbiasa hidup tanpa seseorang.

Aira Maheswari selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia sudah melupakan Arga Pradipta.

Setelah delapan tahun tanpa kabar, tanpa pertemuan, dan tanpa satu pun pesan yang menghubungkan mereka, apa lagi yang harus ia lakukan selain melanjutkan hidup?

Ia lulus sekolah.

Masuk universitas.

Menjalani malam-malam penuh tugas dan revisi desain.

Menangis karena gagal dalam beberapa kompetisi.

Tertawa bersama teman-teman barunya.

Belajar menjadi perempuan yang mandiri.

Dan sedikit demi sedikit, ia belajar menjalani hari tanpa menunggu suara motor seseorang berhenti di depan rumah.

Setidaknya, ia pikir begitu.

Sampai takdir mempertemukan mereka kembali.

Sampai ia menyadari bahwa hatinya masih mengenali Arga hanya dari satu kalimat sederhana.

"Masih suka berbicara sendiri kalau gugup?"

Sejak hari itu, semua perasaan yang selama ini terkubur mulai kembali ke permukaan.

Dan yang paling membuatnya takut adalah kenyataan bahwa mungkin hanya dirinya yang masih menyimpan masa lalu itu.

---

Pagi hari di Aruna Design Studio berjalan lebih sibuk dari biasanya.

Seluruh karyawan terlihat berkonsentrasi menyelesaikan proyek besar yang akan dipresentasikan kepada klien.

Aira duduk di depan komputernya sambil menatap desain yang belum selesai.

Namun selama lima belas menit terakhir, kursor di layar bahkan tidak bergerak.

Pikirannya sedang berada di tempat lain.

Lebih tepatnya, pada seorang perempuan bernama Nadia.

Perempuan yang berdiri di sisi Arga selama enam tahun.

Perempuan yang memanggil Arga tanpa gelar.

Perempuan yang tampaknya mengenal bagian kehidupan Arga yang tidak pernah diketahui Aira.

"Kalau kamu menatap layar seperti itu lebih lama, desainnya tidak akan berubah sendiri."

Aira terkejut.

Ia menoleh dan melihat Rena berdiri sambil membawa dua gelas kopi.

"Aku tidak melamun."

Rena duduk di sampingnya.

"Kalimat itu sudah menjadi tanda bahwa kamu memang sedang melamun."

Aira mendesah.

"Kenapa semua orang suka menyimpulkan begitu cepat?"

"Karena ekspresimu terlalu jujur."

"Aku tidak jujur."

"Justru itu masalahnya. Kamu berusaha menyembunyikan sesuatu, tapi wajahmu membocorkannya."

Aira tidak bisa membalas.

Karena Rena benar.

Sejak kemarin, pikirannya terus dipenuhi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.

Apakah Arga dan Nadia memiliki hubungan khusus?

Apakah selama enam tahun mereka bekerja bersama, ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka?

Dan jika memang benar begitu, apakah Aira mempunyai hak untuk merasa kecewa?

Jawabannya tidak.

Ia tidak punya hak.

Ia tidak pernah menjadi siapa-siapa bagi Arga.

Cinta yang ia simpan selama ini hanyalah miliknya sendiri.

Tidak pernah menjadi sebuah janji antara dua orang.

"Masalah laki-laki?"

Aira langsung menoleh cepat.

"Apa?"

Rena tersenyum puas.

"Tebakanku benar."

"Tidak."

"Terlalu cepat menyangkal."

"Rena."

"Iya, iya. Aku berhenti."

Namun dari senyumnya, jelas bahwa ia tidak percaya.

---

Beberapa saat kemudian, seluruh anggota tim mendapatkan panggilan untuk menghadiri rapat proyek hotel baru.

Aira membawa buku catatan dan duduk di bagian belakang.

Ia berharap bisa bersikap biasa.

Profesional.

Tenang.

Seolah keberadaan Arga tidak memiliki pengaruh apa pun terhadapnya.

Sayangnya, harapan dan kenyataan adalah dua hal yang berbeda.

Ketika pintu ruang rapat terbuka dan Arga masuk, mata Aira tetap mencarinya tanpa izin.

Pria itu mengenakan kemeja abu-abu dengan lengan yang dilipat rapi.

Wajahnya serius ketika membahas pekerjaan.

Jauh berbeda dengan Arga yang sering menggoda dirinya dulu.

Dan entah kenapa, melihat sisi baru Arga membuatnya sadar sesuatu.

Selama ini ia hanya merindukan kenangan.

Tetapi sekarang ia mulai mengenal lelaki yang telah tumbuh selama delapan tahun tanpa dirinya.

"Untuk konsep interior hotel, saya ingin mendengar pendapat dari tim desain."

Suara Arga menariknya kembali ke kenyataan.

Beberapa orang menyampaikan ide mereka.

Arga mendengarkan dengan saksama.

Tidak memotong.

Tidak meremehkan.

Ia mengajukan pertanyaan yang membuat semua orang berpikir lebih dalam.

Saat itulah Aira menyadari mengapa seluruh karyawan menghormatinya.

Bukan karena jabatannya.

Tetapi karena cara ia memperlakukan orang lain.

"Aira."

Namanya dipanggil.

Ia langsung menegakkan badan.

"Ya, Pak."

Arga memperhatikannya.

"Menurutmu bagaimana?"

Aira sedikit gugup.

Bukan karena ia tidak memiliki pendapat.

Tetapi karena ia takut membuat kesalahan di depan Arga.

Namun tiba-tiba, ia teringat masa lalu.

Sore hujan ketika ia menyerah pada soal matematika.

Dan seorang mahasiswa bernama Arga berkata kepadanya:

"Kamu hanya terlalu cepat menyerah."

Aira menarik napas.

"Saya rasa konsep saat ini terlalu mewah dan dingin. Jika hotel ingin membuat tamu merasa nyaman, kita perlu menambahkan unsur yang lebih hangat. Mungkin menggunakan material alami, pencahayaan lembut, dan sentuhan budaya lokal."

Ruangan menjadi hening.

Beberapa karyawan melihat sketsa yang ada di layar.

Lalu salah satu senior mengangguk.

"Itu ide yang bagus."

Aira sedikit terkejut.

Kemudian ia menoleh kepada Arga.

Pria itu tidak langsung berbicara.

Namun senyum kecil muncul di wajahnya.

Senyum yang sama seperti saat ia berhasil menyelesaikan soal matematika untuk pertama kali.

"Bagus."

Satu kata.

Hanya satu kata.

Tetapi Aira membenci dirinya sendiri karena masih merasa bahagia mendengarnya.

---

Setelah rapat selesai, semua orang keluar dari ruangan.

Namun Arga menghentikan langkahnya.

"Aira, tunggu sebentar."

Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Ya, Pak?"

Arga mengerutkan dahi.

"Masih memanggilku Pak?"

Aira menatapnya.

"Kita sedang di kantor."

"Aku tahu."

"Jadi harus profesional."

"Jadi delapan tahun perkenalan kita kalah dengan dua hari menjadi rekan kerja?"

Aira terdiam.

Ia tidak menyangka Arga akan mengatakan itu.

Ada sesuatu dalam nada suaranya.

Seolah ia tidak menyukai jarak yang tiba-tiba Aira buat.

"Mas Arga."

Akhirnya ia menyerah.

Senyum Arga muncul.

"Begitu lebih baik."

Aira segera memalingkan wajah.

Kenapa pria ini masih bisa membuatnya gugup seperti dulu?

---

Sore hari, hampir seluruh karyawan sudah pulang.

Aira kembali ke ruang desain karena tertinggal sebuah buku sketsa.

Saat membuka pintu, ia terkejut melihat lampu masih menyala.

Arga berada di sana.

Bukan sedang bekerja.

Tetapi memegang sesuatu di tangannya.

Sebuah buku gambar lama.

Aira menyipitkan mata.

Buku itu terasa sangat familiar.

Sampul biru.

Sudut yang sedikit rusak.

Dan gambar bunga kecil di bagian depan.

Tubuhnya membeku.

Itu adalah buku yang pernah ia berikan kepada Arga sebelum pria itu pergi delapan tahun lalu.

"Mas..."

Arga menoleh.

Wajahnya terlihat sedikit terkejut karena tertangkap.

"Kenapa buku itu masih ada?"

Pertanyaan itu keluar lebih pelan daripada yang ia kira.

Aira tidak percaya.

Delapan tahun.

Ia mengira benda itu sudah lama dibuang.

Sama seperti perasaan kecil seorang gadis remaja yang seharusnya tidak penting.

Namun Arga masih menyimpannya.

Dengan hati-hati.

Seolah benda itu berharga.

Arga melihat buku itu.

Kemudian tersenyum kecil.

"Kamu pikir aku akan membuangnya?"

"Bukankah itu hanya buku gambar anak SMP?"

"Tidak."

Jawaban Arga datang begitu cepat.

Membuat Aira terdiam.

"Itu adalah buku pertama yang membuatku tahu apa cita-citamu."

Mata Aira membesar.

Arga membuka salah satu halaman.

Di sana terdapat gambar rumah dengan taman kecil.

Di pojok kanan bawah, terdapat gambar bunga yang menjadi kebiasaannya.

"Aku masih ingat kamu berkata ingin membuat tempat yang membuat orang lain merasa pulang."

Suara Arga lembut.

"Aku ingin melihat apakah kamu benar-benar bisa mewujudkannya."

Aira merasakan sesuatu mengganjal di tenggorokannya.

"Dan sekarang?"

tanyanya pelan.

Arga menatapnya.

Tatapan yang selama ini membuatnya sulit berpaling.

"Sekarang aku bangga karena kamu berhasil."

Satu kalimat sederhana.

Namun bagi Aira, itu lebih berharga daripada semua penghargaan yang pernah ia dapatkan.

Karena selama delapan tahun, ia selalu berpikir bahwa hanya dirinya yang menyimpan kenangan.

Bahwa hanya dirinya yang masih mengingat setiap hal kecil tentang Arga.

Ternyata ia salah.

Ada seseorang di sisi lain yang juga menyimpan masa lalu mereka.

Mungkin tidak dengan cara yang sama.

Mungkin tidak dengan perasaan yang sama.

Namun cukup untuk membuat Aira bertanya untuk pertama kalinya...

Selama delapan tahun ini, apakah hanya aku yang menunggu?

---

Di luar ruangan, seseorang berdiri diam sambil menggenggam map di tangannya.

Nadia.

Ia melihat senyum yang jarang muncul di wajah Arga.

Senyum yang tidak pernah ia dapatkan selama enam tahun berada di sisi pria itu.

Tatapannya perlahan berubah dingin.

"Jadi ini alasan mengapa kamu tidak pernah melihatku, Arga..."

bisiknya pelan.

Dan sejak hari itu, Nadia menyadari satu hal.

Aira Maheswari bukan sekadar masa lalu Arga.

Ia adalah bagian dari hati Arga yang tidak pernah benar-benar pergi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel