Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 — Orang Asing yang Masih Terlalu Aku Kenal

Ada sebuah kalimat yang sering didengar Aira saat masih kecil.

Dunia ini penuh dengan kejutan.

Dulu ia menganggap kalimat itu hanyalah ucapan orang dewasa untuk menghibur anak-anak ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan.

Namun pagi ini, sambil berdiri di depan gedung tinggi dengan nama Aruna Design Studio terpampang megah di atas pintu masuk, Aira mulai percaya bahwa hidup memang memiliki cara yang aneh untuk mempermainkan manusia.

Karena kurang dari dua belas jam setelah ia bertemu kembali dengan cinta pertamanya di bandara...

Takdir tampaknya belum selesai menggodanya.

---

Aira berdiri di depan cermin di lobi gedung.

Ia menarik napas panjang.

Hari pertama bekerja.

Kesempatan pertama untuk menunjukkan kemampuan yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun.

Ia tidak boleh gugup.

Ia sudah melewati malam tanpa tidur karena memikirkan pertemuannya dengan Arga.

Bukan.

Itu bohong.

Ia benar-benar tidak bisa tidur.

Setiap kali menutup mata, wajah Arga muncul di pikirannya.

Senyumnya.

Caranya mengatakan namanya.

Dan kalimat yang paling membuatnya kesal.

"Kamu sudah dewasa."

Delapan tahun.

Butuh delapan tahun bagi pria itu untuk akhirnya menyadarinya.

Dan bagian paling menyebalkan adalah...

Aira justru merasa senang.

"Dasar tidak punya harga diri," gumamnya pelan.

"Maaf?"

Aira langsung menoleh.

Seorang perempuan dengan rambut pendek berdiri di sampingnya sambil membawa beberapa map.

"Wah, maaf! Saya tidak bicara dengan Anda."

Perempuan itu tertawa.

"Syukurlah. Saya sempat berpikir apakah saya melakukan kesalahan sebelum jam kerja dimulai."

Aira langsung tersenyum malu.

"Maaf. Saya Aira. Karyawan baru."

"Rena."

Mereka berjabat tangan.

"Desain interior juga?"

Aira mengangguk.

"Iya."

"Wah, berarti kita satu tim."

Seketika rasa gugup Aira sedikit berkurang.

Setidaknya ia memiliki seseorang yang bisa diajak bicara.

"Jangan terlalu tegang," kata Rena sambil berjalan bersama menuju lift.

"Kelihatan sekali, ya?"

"Sangat."

Aira menghela napas.

"Ini pekerjaan pertamaku."

"Tenang. Semua orang pernah menjadi anak kecil."

Mendengar kata anak kecil, Aira refleks mengerutkan dahi.

Rena melihat ekspresinya dan tertawa.

"Kenapa?"

"Tidak ada."

Ia hanya sedang mengingat seseorang yang terlalu sering menyebutnya anak kecil.

---

Ruang rapat berada di lantai dua puluh.

Ruangan luas dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta.

Beberapa karyawan baru sudah duduk.

Aira memilih kursi di bagian tengah.

Ia membuka buku catatannya, berusaha mengalihkan pikiran dari kejadian kemarin.

Hari ini adalah tentang pekerjaan.

Bukan tentang Arga.

Bukan tentang masa lalu.

Bukan tentang seorang pria yang selama delapan tahun ia simpan dalam hati.

Benar.

Ia harus profesional.

Sangat profesional.

Pintu ruang rapat terbuka.

Semua orang menoleh.

Aira juga.

Dan pada detik berikutnya...

Seluruh dunia seakan berhenti.

Tidak.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin.

Dari semua perusahaan di Jakarta.

Dari semua gedung.

Dari semua orang yang bisa memasuki ruangan ini.

Kenapa harus dia?

Arga Pradipta.

Dengan setelan jas gelap dan ekspresi tenang, berjalan masuk bersama direktur perusahaan.

Berbeda dengan Arga yang ia kenal dulu.

Mahasiswa yang datang dengan ransel lusuh dan sering tertawa bersama Dimas.

Pria di hadapannya sekarang terlihat jauh lebih dewasa.

Lebih dingin.

Lebih profesional.

Lebih sulit didekati.

Namun matanya langsung menemukan Aira di antara semua orang.

Dan untuk sepersekian detik...

Senyum kecil muncul di bibirnya.

Seolah ia juga tidak menyangka.

Aira segera mengalihkan pandangan.

Jangan lihat dia.

Jangan terlihat gugup.

Kamu sudah dewasa.

Sayangnya, jantungnya tidak mau bekerja sama.

"Selamat pagi semuanya," kata direktur.

"Saya Rangga Wirawan, direktur Aruna Design Studio."

Semua orang memberikan salam.

"Hari ini kalian akan diperkenalkan dengan salah satu kepala divisi yang akan banyak bekerja sama dengan kalian."

Aira sudah memiliki firasat buruk.

Firasat yang sangat buruk.

Dan ia benci karena ternyata firasatnya benar.

"Perkenalkan, Arga Pradipta. Kepala divisi pengembangan proyek dan arsitek utama perusahaan."

Aira hampir menjatuhkan pulpen yang ia pegang.

Arsitek utama?

Kepala divisi?

Berarti...

Dia bukan sekadar bekerja di perusahaan yang sama.

Dia adalah atasannya.

Semesta benar-benar punya selera humor yang kejam.

"Selamat pagi."

Suara Arga terdengar tenang.

Aira menunduk, pura-pura menulis sesuatu.

Ia tidak berani melihat ke depan.

"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."

Kalimat formal.

Sangat formal.

Seolah mereka tidak pernah saling mengenal.

Aira merasa aneh.

Ada sedikit rasa kecewa yang tidak bisa ia jelaskan.

Namun beberapa detik kemudian, ia menyadari sesuatu.

Tentu saja.

Mereka sedang bekerja.

Arga bukan lagi kakak sahabatnya yang datang ke rumah dan menggodanya.

Di sini, ia adalah seorang profesional.

Dan Aira harus menjadi profesional juga.

---

Setelah sesi perkenalan selesai, karyawan baru mulai keluar satu per satu.

Aira sengaja menunggu sampai hampir semua orang pergi.

Ia berharap bisa keluar tanpa harus berbicara dengan Arga.

Sayangnya, harapan dan kenyataan jarang bekerja sama.

"Masih suka kabur."

Tubuh Aira membeku.

Suara itu.

Ia menutup mata.

"Ternyata Mas tidak berubah."

Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Kenapa menghindar?"

Aira berbalik.

"Aku tidak menghindar."

"Kamu yakin?"

"Tidak semua orang harus menjawab dengan jujur."

Arga tertawa kecil.

Tawa yang sangat ia kenal.

Dan anehnya, dalam sekejap pria dingin dengan jas mahal itu menghilang.

Yang tersisa adalah Arga yang dulu.

"Jadi kamu masih keras kepala."

"Dan Mas masih suka menggodaku."

"Setidaknya ada hal yang tidak berubah."

Mereka terdiam sesaat.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali, mereka benar-benar hanya berdua.

Tidak ada Dimas.

Tidak ada ibu Aira.

Tidak ada orang lain.

Hanya mereka.

Aira merasa gugup.

Aneh.

Padahal ia sudah berumur dua puluh tiga tahun.

Bukan gadis lima belas tahun lagi.

Namun di depan Arga, sebagian dirinya masih merasa seperti anak SMP yang bersembunyi di balik pintu hanya untuk melihatnya datang.

"Kenapa tidak bilang kemarin?" tanya Aira.

"Tentang apa?"

"Kalau Mas bekerja di sini."

Arga tersenyum tipis.

"Aku ingin melihat ekspresimu saat tahu."

Mata Aira membesar.

"Mas sengaja?"

"Sedikit."

"Mas Arga!"

Untuk pertama kalinya hari itu, Aira memanggil namanya dengan nada kesal seperti dulu.

Dan Arga tersenyum lebih lebar.

Senyum yang tidak ia tunjukkan kepada siapa pun di kantor.

Senyum yang membuat beberapa karyawan yang lewat menoleh dengan heran.

Karena selama ini, Arga Pradipta dikenal sebagai sosok yang tenang, serius, dan sulit didekati.

Namun di depan Aira...

Ia tampak seperti seseorang yang berbeda.

Dan tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang memperhatikan dari kejauhan.

Seorang perempuan dengan pakaian elegan berdiri di ujung koridor.

Tatapannya tertuju pada Arga.

Lalu berpindah kepada Aira.

Ekspresinya berubah menjadi dingin.

"Jadi dia orangnya..."

gumam perempuan itu pelan.

Aira belum tahu.

Kehadirannya di perusahaan itu bukan hanya akan membuka kembali perasaannya kepada Arga.

Tetapi juga membuka konflik yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karena tidak semua orang senang melihat Arga Pradipta tersenyum.

Terutama seseorang yang selama ini merasa memiliki tempat istimewa di sisinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel