Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 — Pertemuan yang Terlambat

Delapan tahun.

Bagi sebagian orang, delapan tahun hanyalah angka.

Delapan kali pergantian kalender.

Delapan kali perayaan ulang tahun.

Delapan kali kesempatan untuk memulai kehidupan yang baru.

Namun bagi Aira Maheswari, delapan tahun adalah waktu yang cukup lama untuk belajar melupakan seseorang.

Atau setidaknya, berpura-pura sudah melupakan.

Setelah kepergian Arga Pradipta, kehidupan Aira berjalan seperti seharusnya.

Ia lulus dari SMP, masuk SMA, kemudian berkuliah di jurusan desain interior—jurusan yang awalnya tidak pernah ia bayangkan akan ia pilih.

Dulu, ketika masih remaja, ia sering menggambar isi kamarnya sendiri di buku tulis.

Ia suka mengubah posisi meja, membayangkan warna dinding yang berbeda, dan menggambar rumah impiannya.

Saat orang lain menganggap itu hanya hobi kecil, Arga adalah orang pertama yang berkata bahwa hobinya memiliki nilai.

"Kamu suka menggambar?"

"Iya, tapi gambarku jelek."

"Siapa bilang?"

"Aku sendiri."

"Kalau begitu berhenti menghakimi dirimu sendiri sebelum orang lain sempat melihat hasilnya."

Kalimat itu masih Aira ingat dengan jelas.

Lucu sekali.

Arga mungkin sudah melupakannya.

Namun Aira masih menyimpan setiap kata itu dengan rapi.

Seperti sebuah surat lama yang tidak pernah dibuka, tetapi tidak pernah dibuang.

---

Hari ini adalah awal baru.

Hari pertama Aira bekerja di Jakarta.

Kota yang besar, penuh gedung tinggi dan jutaan manusia yang memiliki cerita masing-masing.

Ia berdiri di dalam area kedatangan bandara dengan sebuah koper kecil di sampingnya.

Jantungnya berdebar bukan karena rasa takut.

Melainkan karena kegugupan menghadapi dunia baru.

"Aira Maheswari, kamu bisa."

Ia berbisik pada dirinya sendiri.

Ia sudah berjanji untuk tidak lagi menjadi gadis yang mudah menyerah.

Ia bukan lagi gadis lima belas tahun yang menangis karena tidak bisa menyelesaikan soal matematika.

Ia telah tumbuh.

Telah belajar.

Telah mengalami kegagalan dan bangkit kembali.

Dan yang paling penting, ia telah belajar hidup tanpa Arga.

Atau begitulah yang ia pikirkan.

Karena takdir ternyata memiliki selera humor yang buruk.

"Masih suka berbicara sendiri kalau gugup?"

Tubuh Aira membeku.

Suara itu.

Suara yang pernah menjadi bagian dari sore-sore masa remajanya.

Suara yang selama bertahun-tahun hanya hadir dalam ingatan.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin semudah ini.

Perlahan, Aira membalikkan tubuhnya.

Dan dunia seakan berhenti berputar.

Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai siku.

Wajahnya lebih dewasa dibandingkan delapan tahun lalu.

Rahangnya lebih tegas.

Tatapannya lebih dalam.

Namun senyumnya masih sama.

Senyum yang dulu membuat seorang gadis lima belas tahun menunggu suara motor di depan rumah setiap sore.

"Lama tidak bertemu, Aira."

Sial.

Bahkan cara ia mengucapkan namanya pun masih sama.

Aira sudah berkali-kali membayangkan pertemuan ini.

Dalam pikirannya, ia akan terlihat tenang.

Ia akan tersenyum kecil lalu berkata:

"Oh, Mas Arga. Lama tidak bertemu."

Dengan nada santai seolah ia benar-benar tidak pernah memikirkannya.

Namun kenyataannya?

Otaknya kosong.

Jantungnya berisik.

Dan semua latihan selama delapan tahun menghilang begitu saja.

"Kenapa diam?"

Aira berkedip.

"Hah?"

Arga tertawa kecil.

"Jangan bilang kamu lupa sama aku."

Harga dirinya langsung terusik.

"Siapa yang lupa?"

Begitu kalimat itu keluar, Aira menyesal.

Arga mengangkat alis.

"Jadi masih ingat."

Aira memejamkan mata sejenak.

Masih sama.

Masih suka menjebaknya dengan kata-kata.

"Mas Arga juga masih suka menggodaku."

Kalimat itu membuat Arga diam beberapa detik.

Bukan karena ia tersinggung.

Namun karena sesuatu terasa berbeda.

Dulu, gadis yang memanggilnya "Mas Arga" adalah seorang anak dengan seragam sekolah, rambut berantakan, dan wajah yang selalu cemberut ketika digoda.

Sekarang, perempuan di hadapannya mengenakan blazer krem dengan rambut panjang yang tertata rapi.

Aira telah berubah.

Bukan hanya penampilannya.

Cara ia berdiri.

Cara ia berbicara.

Cara ia menatap mata Arga tanpa lagi merasa takut.

Semua sudah berbeda.

Dan untuk pertama kalinya, Arga menyadari bahwa waktu benar-benar telah berlalu.

"Kamu sudah dewasa."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Aira terdiam.

Delapan tahun.

Delapan tahun ia menunggu untuk tidak lagi dianggap sebagai anak kecil.

Namun ketika akhirnya mendengar kalimat itu, mengapa hatinya terasa aneh?

"Baru sadar?" tanyanya mencoba bercanda.

Arga tersenyum.

"Sedikit terlambat, ya?"

Jantung Aira kembali kehilangan ritmenya.

Sial.

Kenapa pria ini masih bisa membuatnya gugup hanya dengan satu kalimat?

---

Mereka berjalan menuju area luar bandara sambil mengobrol.

Awalnya canggung.

Bagaimanapun juga, mereka telah kehilangan delapan tahun kehidupan satu sama lain.

"Aku dengar kamu menjadi desainer interior," kata Arga.

Aira menoleh.

"Mas Dimas cerita?"

Arga mengangguk.

"Dia sering membanggakan adiknya."

Aira tertawa kecil.

"Mustahil."

"Benar."

"Mas Dimas lebih sering mengejekku."

"Dia mengejekmu di depanmu. Membanggakanmu di belakangmu."

Jawaban itu membuat Aira terdiam.

Mungkin selama ini ia terlalu fokus pada seseorang yang pergi, sampai lupa bahwa orang-orang yang tinggal juga selalu menyayanginya.

"Kalau Mas Arga sekarang bekerja di Jakarta?"

"Sudah empat tahun."

Aira berhenti berjalan.

"Empat tahun?"

"Iya."

"Berarti selama empat tahun kita berada di kota yang sama dan tidak pernah bertemu?"

Arga juga berhenti.

"Sepertinya begitu."

Aira tertawa kecil.

"Lucu sekali."

"Apa?"

"Dulu aku berpikir dunia terlalu besar untuk membuat kita bertemu lagi."

"Lalu?"

"Ternyata dunia kecil, tapi manusia terlalu sibuk."

Arga menatapnya.

Lama.

Terlalu lama.

Sampai Aira merasa wajahnya mulai panas.

"Kamu berubah."

Aira mengerutkan dahi.

"Mas baru bilang itu."

"Bukan penampilanmu."

"Lalu?"

"Caramu berbicara."

Jantungnya kembali berdebar.

Sebelum ia sempat menjawab, ponselnya bergetar.

Pesan dari atasannya muncul di layar.

> Aira, meeting dipercepat. Semua karyawan baru harus hadir tiga puluh menit lebih awal.

Mata Aira membesar.

"Aduh."

"Kenapa?"

"Aku terlambat."

Arga melihat jam tangannya.

"Aku antar."

Aira langsung menggeleng.

"Tidak perlu, Mas. Nanti merepotkan."

"Kamu yakin?"

"Iya."

Sebenarnya tidak.

Sebenarnya ia ingin menghabiskan sedikit waktu lagi.

Hanya sedikit.

Karena delapan tahun terasa terlalu lama untuk dibayar dengan percakapan setengah jam.

Namun ia tahu kehidupan mereka tidak bisa berhenti hanya karena sebuah pertemuan.

"Aku pergi dulu."

Arga mengangguk.

"Baik."

Aira menarik kopernya dan mulai berjalan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Lalu ia berhenti.

Ada sesuatu yang harus ia katakan.

Ia menoleh.

"Mas Arga."

"Ya?"

Aira tersenyum.

Senyum yang berbeda dari delapan tahun lalu.

Bukan senyum seorang anak yang menyembunyikan rasa suka.

Tetapi senyum seorang perempuan yang telah belajar menerima perasaannya.

"Senang bertemu lagi."

Tatapan Arga melembut.

Untuk sesaat, ia tidak melihat Aira sebagai adik kecil Dimas.

Ia hanya melihat Aira.

Perempuan yang berdiri di depannya.

Dan entah mengapa, hal itu membuat hatinya terasa asing.

"Aku juga senang bertemu lagi, Aira."

---

Aira pergi.

Namun Arga tetap berdiri di tempatnya.

Memandangi punggung perempuan itu hingga menghilang di antara kerumunan.

Dalam pikirannya muncul gambaran seorang gadis kecil yang dulu selalu mengeluh ketika belajar matematika.

Gadis yang pernah marah karena rambut pendeknya diejek.

Gadis yang selalu mencoba menarik perhatian mereka.

Dan kini...

Gadis itu telah menjadi perempuan yang sulit ia alihkan pandangannya.

Arga tersenyum kecil pada dirinya sendiri.

"Dunia memang kecil."

Ia pernah mengucapkan kalimat itu delapan tahun lalu sebagai sebuah penghiburan.

Namun hari ini, ia mulai menyadari sesuatu.

Mungkin dunia memang sengaja mempertemukan kembali dua orang yang belum selesai dengan cerita mereka.

Dan tanpa diketahui Aira...

Pertemuan di bandara bukanlah kebetulan terakhir yang akan mereka alami.

Karena esok pagi, di hari pertama Aira bekerja, ia akan kembali melihat wajah yang sama.

Kali ini bukan sebagai kenangan masa lalu.

Tetapi sebagai seseorang yang akan hadir dalam kehidupan sehari-harinya.

Arga Pradipta.

Pria yang selama delapan tahun ia coba lupakan.

Kini akan menjadi bagian dari hari-harinya lagi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel