Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1 — Rahasia yang Tumbuh dalam Diam

Ada beberapa orang yang datang ke dalam hidup kita tanpa membuat suara yang besar.

Mereka tidak hadir seperti badai yang mengubah segalanya dalam satu malam. Mereka tidak membawa kejutan yang luar biasa atau meninggalkan kenangan yang sengaja dibuat untuk diingat.

Kadang, mereka hanya datang sebagai seseorang yang duduk di ruang tamu rumahmu.

Seseorang yang tertawa bersama kakakmu.

Seseorang yang sesekali bertanya apakah kamu sudah makan atau sudah mengerjakan tugas sekolah.

Sesederhana itu.

Namun, justru karena kesederhanaan itulah, seseorang bisa tinggal begitu lama di dalam hati.

Bagi Aira Maheswari, orang itu bernama Arga Pradipta.

Ia tidak pernah menjadi pahlawan yang menyelamatkan Aira dari keadaan berbahaya.

Ia juga bukan seseorang yang memberikan janji manis.

Arga hanya seorang laki-laki biasa.

Sahabat kakaknya.

Orang yang sering datang ke rumah mereka hampir setiap minggu.

Dan seseorang yang tanpa sadar menjadi rahasia pertama yang disimpan Aira dalam hidupnya.

---

Saat pertama kali bertemu Arga, Aira berusia lima belas tahun dan duduk di kelas dua SMP.

Di usia itu, dunianya masih dipenuhi dengan hal-hal sederhana.

Bertengkar dengan teman karena hal sepele.

Mengeluh tentang tugas sekolah.

Menghabiskan waktu menonton drama romantis dan membayangkan kisah cinta yang hanya ada dalam cerita.

Sementara Arga sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir berusia dua puluh dua tahun.

Perbedaan tujuh tahun di antara mereka terasa seperti jarak yang sangat jauh.

Bagi Aira, Arga adalah orang dewasa.

Seseorang yang sudah memiliki tujuan hidup.

Seseorang yang terlihat tahu harus melakukan apa.

Sementara dirinya masih seorang anak yang sering lupa mengerjakan pekerjaan rumah.

Hari pertama mereka bertemu adalah sebuah sore yang hujan.

Dimas, kakak laki-laki Aira, membawa seorang teman ke rumah.

Aira yang saat itu sedang asyik menonton acara favoritnya di televisi langsung mengeluh ketika ibunya memintanya membuatkan minuman untuk tamu.

“Kenapa harus aku, Bu? Kan Mas Dimas punya tangan.”

Ibunya menatapnya tajam.

“Karena kamu sedang tidak melakukan apa-apa.”

“Tapi aku sedang menonton.”

“Acara itu tidak akan ke mana-mana.”

Aira mendengus kesal.

Dengan langkah malas, ia masuk ke dapur dan membuat dua gelas teh hangat.

Dalam hatinya, ia sudah menyiapkan berbagai keluhan untuk kakaknya yang selalu membawa teman ke rumah tanpa memberi tahu lebih dulu.

Namun saat ia berjalan menuju ruang tamu, langkahnya terhenti.

Di sana, duduk seorang pemuda dengan kemeja putih sederhana.

Wajahnya tampan dengan cara yang tidak berlebihan.

Senyumnya terlihat hangat.

Dan saat ia tertawa mendengar cerita Dimas, matanya sedikit menyipit.

Aira tidak tahu mengapa ia memperhatikan hal itu.

Mungkin karena ia belum pernah melihat seseorang tertawa dengan begitu tulus.

“Ini adikku,” kata Dimas.

Aira segera sadar dari lamunannya.

“Namanya Aira. Dia menyebalkan dan suka membuat masalah.”

“Mas!”

Dimas tertawa puas melihat wajah kesalnya.

Namun sebelum Aira membalas, pemuda itu lebih dulu berbicara.

“Jangan percaya semua perkataan Dimas.”

Aira menoleh.

“Dia memang suka melebih-lebihkan.”

Untuk pertama kalinya hari itu, Aira tersenyum.

Entah mengapa, ia merasa seseorang baru saja membelanya.

“Benar, kan?” kata Aira dengan semangat.

Dimas menggeleng.

“Wah, baru lima menit kenal sudah bersekutu.”

Pemuda itu tersenyum.

“Aku Arga.”

“Aira.”

“Senang berkenalan, Aira.”

Tiga kata sederhana.

Namun bertahun-tahun kemudian, Aira masih mengingat nada suara saat Arga mengatakannya.

---

Setelah hari itu, Arga menjadi orang yang sering muncul di rumah mereka.

Awalnya Aira tidak terlalu memedulikannya.

Namun perlahan, ia mulai menyadari kebiasaan-kebiasaan kecil Arga.

Arga selalu mengucapkan salam sebelum masuk rumah.

Ia tidak pernah menolak makanan yang diberikan ibu Aira.

Ia selalu membantu membereskan meja setelah makan.

Dan yang paling aneh adalah bagaimana Arga selalu sabar menghadapi Dimas.

Menurut Aira, itu adalah kemampuan yang sangat luar biasa.

Suatu hari, Aira sedang mengerjakan tugas matematika dengan wajah frustrasi.

Dimas yang melihatnya langsung tertawa.

“Baru soal seperti itu saja sudah mau menyerah?”

Aira melirik tajam.

“Kalau Mas pintar, kenapa tidak membantu?”

“Aku sedang sibuk.”

“Bohong. Mas hanya bermain ponsel.”

“Namanya juga kesibukan.”

Aira mengambil penghapus dan melemparkannya.

Namun sebelum perang kecil mereka dimulai, Arga yang duduk di sofa mendekat.

“Coba aku lihat.”

Aira menyerahkan bukunya dengan ragu.

“Kamu tidak akan menertawakanku, kan?”

Arga mengangkat alis.

“Memangnya kamu lucu?”

“Mas Arga!”

Arga tertawa.

“Bercanda.”

Aira cemberut.

Tetapi ia tetap duduk di samping Arga.

Selama satu jam berikutnya, Arga menjelaskan setiap rumus dengan sabar.

Ketika Aira salah, ia tidak pernah mengatakan bahwa Aira bodoh.

Ia hanya mengulang penjelasan sampai Aira mengerti.

“Sekarang coba kerjakan sendiri.”

Aira mengangguk.

Beberapa menit kemudian, ia memberikan buku itu.

“Sepertinya salah.”

Arga melihat hasilnya.

Lalu tersenyum.

“Benar.”

Mata Aira membulat.

“Benarkah?”

“Iya.”

“Aku berhasil?”

“Kamu berhasil.”

Senyum kecil muncul di wajah Arga.

Dan tanpa sadar, jantung Aira berdetak sedikit lebih cepat.

Bukan karena pujian itu istimewa.

Tetapi karena ia menyukai bagaimana Arga selalu percaya padanya.

Hari itu, untuk pertama kalinya, Aira menyadari sesuatu.

Ia selalu merasa senang ketika Arga datang.

Ia selalu menunggu suara motor Arga di depan rumah.

Ia selalu ingin terlihat lebih pintar ketika berada di dekatnya.

Dan itu membuatnya takut.

Karena ia mulai memahami perasaan apa yang tumbuh dalam dirinya.

---

Waktu berjalan.

Musim berganti.

Aira tumbuh dengan rahasia yang semakin sulit disembunyikan.

Ia mulai memperhatikan hal-hal yang bahkan mungkin tidak disadari Arga.

Bahwa Arga tidak suka minuman terlalu manis.

Bahwa Arga selalu membawa permen mint di tasnya.

Bahwa Arga akan mengerutkan alis saat sedang berpikir.

Bahwa ia selalu tersenyum sebelum mengatakan sesuatu yang menggoda.

Hal-hal kecil.

Tidak penting bagi orang lain.

Namun bagi Aira, semua itu menjadi harta kecil yang ia simpan sendiri.

Tentu saja, ia tidak pernah memberi tahu siapa pun.

Terutama Dimas.

Jika kakaknya tahu, seluruh rumah akan menjadi tempat ejekan tanpa akhir.

Jadi Aira memilih diam.

Menyimpan rasa sukanya seperti sebuah rahasia.

Rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

---

Namun suatu hari, semuanya berubah.

Arga datang ke rumah dengan kabar bahwa ia akan pindah ke luar kota karena mendapatkan pekerjaan.

Aira mendengarnya dari balik pintu kamar.

“Berangkat minggu depan,” kata Arga.

“Cepat sekali,” jawab Dimas.

“Iya. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”

Aira menggenggam buku yang ada di tangannya.

Minggu depan.

Artinya, ia tidak akan lagi mendengar suara motor Arga.

Tidak akan lagi melihatnya duduk di ruang tamu.

Tidak akan lagi mendengar tawanya bersama Dimas.

Aira ingin marah pada dirinya sendiri karena merasa sedih.

Karena ia tidak punya alasan untuk menahan Arga.

Ia bukan siapa-siapa.

Hanya adik kecil sahabatnya.

---

Hari keberangkatan itu akhirnya datang.

Arga berdiri di depan rumah dengan tas di tangannya.

Dimas menepuk bahunya.

Ibu Aira memberikan banyak pesan agar Arga menjaga kesehatan.

Dan Aira hanya berdiri diam.

Berusaha terlihat biasa.

“Belajar yang rajin,” kata Arga sambil mengacak rambutnya.

Aira langsung mundur.

“Jangan perlakukan aku seperti anak kecil.”

Arga tersenyum.

“Memangnya kamu bukan?”

“Mas Arga!”

Semua orang tertawa.

Namun di balik tawanya, Aira merasa sedih.

Karena mungkin inilah terakhir kalinya ia bisa mendengar suara itu dalam waktu yang lama.

Saat Arga hendak masuk ke mobil, Aira memanggilnya.

“Mas Arga.”

Arga menoleh.

“Ya?”

Aira menggenggam ujung bajunya.

Ada banyak hal yang ingin ia katakan.

Aku akan merindukanmu.

Jangan lupakan aku.

Aku menyukaimu.

Tetapi tidak ada satu pun yang keluar.

Karena ia tahu, perasaan seorang gadis lima belas tahun tidak seharusnya menjadi beban bagi seseorang yang sedang mengejar masa depan.

Jadi ia hanya bertanya,

“Apakah kita akan bertemu lagi?”

Arga diam sejenak.

Kemudian ia tersenyum.

Senyuman yang akan terus tersimpan dalam ingatan Aira selama delapan tahun berikutnya.

“Dunia kecil.”

Dua kata.

Sederhana.

Tetapi cukup untuk membuat seorang gadis kecil menyimpan harapan.

Mobil Arga perlahan menjauh dari halaman rumah.

Aira berdiri di tempat yang sama sampai mobil itu menghilang dari pandangan.

Hari itu, ia membuat sebuah janji kecil pada dirinya sendiri.

Jika suatu hari mereka bertemu kembali…

Ia tidak ingin Arga melihatnya sebagai anak kecil yang selalu mengekor di belakang kakaknya.

Ia ingin menjadi seseorang yang bisa berdiri sejajar dengannya.

Seseorang yang memiliki mimpi.

Seseorang yang memiliki kehidupan sendiri.

Dan mungkin…

Jika takdir cukup baik kepadanya…

Suatu hari nanti, Arga akan melihatnya bukan sebagai adik Dimas.

Melainkan sebagai Aira Maheswari.

Perempuan yang diam-diam telah menyimpan namanya di dalam hati.

Selama bertahun-tahun.

---

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel