Bab 4
Jari-jari Noah masih melingkar di pergelangan tanganku. Mendengar pertanyaanku, pupil matanya sedikit mengerut.
"Skyler, kamu harus memercayaiku." Suaranya rendah dan mendesak. "Itu semua sudah menjadi sejarah lama. Selama lima tahun ini, kamulah satu-satunya yang ada di sisiku..."
Di matanya ada kepanikan yang belum pernah kulihat sebelumnya, membuatku sejenak linglung—mungkin dia memang peduli padaku.
Namun tepat saat itu, pandangannya tiba-tiba melesat melewati bahuku, pupilnya kembali menyempit.
"Noah!" suara Bella terdengar dari belakang.
Lengan yang melingkar di tubuhku tiba-tiba dilepaskan, dan dia tersentak mundur seolah tersengat listrik. Gerakan itu begitu cepat, murni seperti refleks, seakan-akan menarik garis batas tak kasatmata di antara kami.
Pada saat itu juga, aku akhirnya mengerti—pacar yang sudah bersamanya lima tahun tetap tidak bisa menandingi mantan kekasih yang kembali.
Aku mundur dua langkah, menciptakan jarak di antara kami. "Pergilah. Jangan biarkan dia menunggu."
Tanpa menunggu jawabannya, aku berbalik dan mendorong pintu kaca restoran. Angin malam New York menerpa kerah bajuku, dan aku baru menyadari bahwa tubuhku gemetar sepanjang waktu.
Kupikir aku sudah menyiapkan diri secara mental, tetapi ketika pengkhianatan tersaji begitu telanjang, hati tetap saja terasa perih.
Jarak dari restoran ke apartemen hanya dua puluh blok, namun aku berjalan selama tiga jam penuh.
Saat aku membuka pintu apartemen, jam di area masuk menunjukkan pukul satu dini hari.
Aku meringkuk di sofa ruang tamu, cahaya layar ponsel menerangi wajahku. Jariku tanpa sadar membuka Instagram Bella.
Unggahan terbarunya diunggah sepuluh menit yang lalu.
Dalam foto itu, Bella mengenakan gaun mini hitam berpayet, duduk di atas bahu Noah, kedua tangannya terangkat tinggi, tertawa lepas. Tangan Noah menopang pahanya, dia menatap ke atas dengan ekspresi yang tampak sangat lembut di bawah cahaya remang-remang.
Keterangan: "Kekuatan pacar maksimal! Siapa bilang kapten hanya bisa menerbangkan pesawat? #DukunganTerbaik"
Tiba-tiba aku teringat musim panas lalu di taman hiburan Coney Island yang riuh. Aku melihat seorang wanita dengan penuh semangat duduk di atas bahu pacarnya untuk menonton kembang api, lalu aku menarik tangan Noah dengan manja, ingin mencobanya juga.
Noah dengan lembut mendorongku menjauh, alisnya berkerut. "Jangan lakukan itu, Skyler. Itu tidak pantas."
Ternyata bukan tidak pantas—hanya orangnya yang salah.
Cinta memang selalu memberi perlakuan yang berbeda.
Aku menutup ponsel. Saat layar menjadi gelap, setetes air mata akhirnya jatuh ke punggung tanganku. Namun aku segera mengusapnya—menangisi orang yang tidak layak hanyalah mengecewakan diri sendiri.
Aku masuk ke ruang lemari. Pakaian Noah tergantung rapi di sisi kiri—kemeja-kemeja mahal yang dibuat khusus, masing-masing kupilih dengan saksama bersamanya. Di bagian paling belakang tergantung beberapa set pakaian pasangan yang belum pernah dibuka—karena kami tidak pernah bisa memakainya bersama di depan umum.
"Nanti saat kita liburan," katanya dulu.
Melihatnya sekarang, pakaian-pakaian ini tak akan pernah melihat cahaya hari.
Aku perlahan menurunkan pakaiannya, melipat setiap helai dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam kotak penyimpanan. Pakaian pasangan itu langsung kumasukkan ke dalam kantong sampah.
Lalu aku mulai membereskan koperku sendiri. Apartemen Aurora Airlines di Seattle sudah siap, aku hanya perlu membawa barang-barang penting. Koper terbesar kuisi dengan hati-hati: seragam, pakaian kerja, dan pakaian sehari-hari.
Saat Noah pulang, waktu hampir menunjukkan pukul tiga dini hari. Pandangannya jatuh pada koper di dekat dinding, alisnya sedikit berkerut. "Beres-beres larut malam begini?"
Aku menutup ritsleting koper, suaraku datar. "Penerbangan panjang minggu depan. Lebih baik menyiapkan semuanya dari sekarang."
Dia mengangguk, sama sekali tidak curiga. Dia bahkan mendekat, membungkuk untuk memeriksa kunci koperku, lalu klik—dia sendiri yang menguncinya untukku.
"Tidurlah." Dia menepuk koper itu seperti menyelesaikan sebuah tugas, lalu berbalik menuju kamar mandi.
Aku menatap koper yang dikuncinya sendiri, tenggorokanku tiba-tiba terasa sesak. Dia takkan pernah tahu bahwa koper ini tidak berisi perlengkapan penerbangan, melainkan tekadku untuk pergi.
Suara air terdengar dari kamar mandi. Aku dengan lembut menyentuhkan jariku ke permukaan koper yang dingin. Lima tahun hubungan, akhirnya diringkas menjadi satu koper yang dikunci olehnya sendiri, dan sebuah hati yang takkan pernah bisa terbuka lagi.
