Bab 4: Tawaran Mendadak sang Duke
Gagang pintu kuningan itu berputar dengan suara klik yang tajam. Selene kemudian melangkah masuk ke dalam ruang pemandian yang masih dipenuhi kepulan uap putih tebal.
Sepatu hak tingginya berdenting ritmis di atas lantai marmer, memecah keheningan yang sejak tadi mencekik Helena. Di balik lemari handuk besar yang pengap, Helena meringkuk, sembari menahan napas hingga dadanya terasa nyeri.
“Arthur? Kenapa kau lama sekali di dalam sini? Aku sudah memanggilmu dua kali dari luar,” teriak Selena terdengar tidak sabar.
Dia lalu mengibaskan tangan di depan wajahnya, mencoba menghalau uap panas yang menghalangi pandangan.
Sementara Arthur tetap tenang, bahkan nyaris terlalu tenang.
Dia tampak sedang menyandarkan punggungnya di tepian bak mandi, meraih sabun batangan dan mulai menggosok lengannya dengan gerakan santai. Air memercik pelan saat ia bergerak, menciptakan suasana seolah-olah ia sedang menikmati waktu sendirinya dengan damai.
“Airnya sangat nyaman, Selene. Aku sedang mencoba melemaskan otot-ototku yang kaku karena rapat dewan tadi pagi,” jawab Arthur tanpa nada panik sedikit pun.
Kemudian menoleh perlahan ke arah istrinya yang berdiri beberapa langkah dari bak mandi. “Kau pulang lebih awal. Mau melepaskan gaunmu dan mandi bersamaku? Masih ada cukup ruang di sini.”
Selene mendengus sinis, lalu matanya menyapu sekeliling ruangan dengan dahi berkerut.
“Mandi bersama? Kau tahu aku benci uap panas yang merusak tatanan rambutku, Arthur. Lagi pula, aku punya tumpukan laporan yang harus diselesaikan. Simpan tawaranmu untuk lain waktu.”
Tiba-tiba, Selene terhenti. Ia menghirup udara dalam-dalam, hidungnya kembang kempis seolah menangkap sesuatu yang asing.
“Bau apa ini? Ada aroma parfum yang tidak biasa di sini. Manis, seperti bunga liar di desa. Sejak kapan kau memakai minyak mandi dengan aroma seperti ini?”
Helena, di balik lemari, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Jantungnya seolah hendak melompat keluar dari rongga dada. Ia tahu itu aroma sabun murah yang ia gunakan pagi tadi, aroma yang menempel kuat di seragamnya yang kini basah kuyup.
“Oh, itu mungkin aroma minyak esensial baru yang dikirimkan oleh pedagang dari selatan kemarin,” sahut Arthur datar sambil menyiram bahunya dengan gayung perak. “Kenapa? Kau tidak suka?”
“Baunya terlalu mencolok dan murah untuk seleramu,” cibir Selene lalu melangkah mendekati area lemari handuk, mencari sesuatu di sana.
Langkah kakinya yang kian mendekat membuat Helena memejamkan mata rapat-rapat, berdoa agar bayangan tubuhnya tidak terlihat dari celah kayu.
“Ngomong-ngomong, di mana pelayan baru itu? Dia sudah datang, kan? Namanya Helena, kalau aku tidak salah ingat.”
Arthur mengangguk kecil, dan matanya terus mengikuti pergerakan Selene dengan waspada namun tetap terlihat santai. “Ya, dia sudah datang tadi pagi. Dia sedang membiasakan diri dengan rumah ini.”
“Lalu di mana dia sekarang? Aku tidak melihatnya di paviliun depan saat aku masuk tadi,” tanya Selene lagi, sementara tangannya hampir menyentuh pintu lemari tempat Helena bersembunyi.
“Aku menyuruhnya ke kebun belakang untuk memanen bunga melati segar,” dusta Arthur dengan wajah tanpa ekspresi yang sempurna. “Aku ingin teh bunga segar untuk menenangkan sarafku nanti malam. Dia mungkin masih sibuk di sana sekarang.”
Selene memutar bola matanya dan melepaskan tangannya dari lemari, lalu berbalik arah.
“Kau dan teh bungamu. Baiklah, aku akan ke kamar sekarang. Aku benar-benar butuh istirahat karena besok pagi ada rapat penting dengan gubernur pesisir. Jangan ganggu aku, Arthur. Aku butuh ketenangan total malam ini.”
“Tentu, Sayang. Istirahatlah yang cukup. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusikmu,” ucap Arthur dengan nada yang terdengar patuh, namun matanya berkilat menatap ke arah lemari tempat Helena bersembunyi.
Setelah suara pintu tertutup rapat dan langkah kaki Selene menjauh hingga tak terdengar lagi di koridor, keheningan kembali menguasai ruangan.
Helena mengembuskan napas panjang yang terasa sangat melegakan. Paru-parunya terasa perih karena menahan napas terlalu lama. Dengan tangan yang masih bergetar hebat, ia mencoba merangkak keluar dari celah sempit di balik lemari handuk itu.
“Syukurlah, aku pikir aku akan mati di sana,” bisik Helena lirih pada dirinya sendiri.
Namun, saat ia berhasil berdiri dan memutar tubuhnya untuk segera pergi, langkahnya terhenti seketika. Tubuhnya membeku saat ia menatap ke depan. Helena hampir saja menabrak dada bidang yang keras, lebar, dan masih basah.
Arthur sudah berdiri tepat di depannya. Pria itu telah keluar dari bak mandi, hanya dengan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya secara longgar.
Tetesan air mengalir turun dari rambutnya yang berantakan, jatuh ke dada berototnya, lalu terus mengalir ke sela-sela otot perutnya yang keras.
Helena menelan ludah berkali-kali. Tenggorokannya terasa tersumbat. Matanya tak kuasa untuk tidak menatap pemandangan yang begitu intimidatif sekaligus memikat di depannya. Aroma maskulin Arthur yang bercampur uap panas kini terasa jauh lebih pekat dan memabukkan.
“Kau dengar itu, Helena?” tanya Arthur. Suaranya kini jauh lebih rendah dan berbahaya, seolah-olah getarannya bisa dirasakan langsung di permukaan kulit Helena.
“Istriku bahkan tidak mengenali aromamu. Baginya, kau hanyalah sekadar barang baru yang diletakkan di rumah ini.”
Arthur melangkah maju satu langkah hingga membuat Helena terpaksa mundur hingga punggungnya menempel pada lemari kayu di belakangnya.
“Kau melihat bagaimana dia memperlakukanku? Seperti seorang pria tanpa keinginan, seperti pajangan yang hanya ada untuk melengkapi statusnya.”
Tangan Arthur yang besar dan hangat naik ke pipi Helena, ibu jarinya mengusap lembut sisa air yang menempel di sudut bibir gadis itu. “Daripada kau menjadi pelayan rendahan yang harus memetik bunga di bawah terik matahari dan berakhir dengan tangan yang kasar ….”
Wajah Arthur mendekat perlahan, hingga ujung hidung mereka bersentuhan. “Bukankah sebaiknya kau mengambil peran yang lebih menarik? Menjadi pemuas nafsuku di ranjang ini.”
