Bab 5: Tak ada Pilihan lain
“T-Tuan Arthur ….”
Tubuh Helena menggigil hebat. Meski uap panas masih mengepul di ruangan itu, ia merasa seolah disiram air es. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, menyatu dengan sisa uap yang menempel di wajahnya yang kini merah padam.
“Kenapa kau berlagak terkejut?” sahut Arthur dengan nada rendah yang menghina.
Matanya kemudian menatap tajam ke arah dada Helena yang turun naik karena napas yang memburu. “Bukankah di kedai perbatasan itu kau sudah terbiasa melakukan ini dengan pria-pria yang membayarmu?”
Sesaat, Helena merasa jantungnya berhenti berdetak. Rasa sakit hati yang luar biasa menghantam dadanya, lebih sakit daripada remasan tangan Arthur.
Tubuhnya menegang kaku. Memang benar ia pernah menjadi penghibur di kedai bar kecil di kampungnya, tempat sederhana yang menjadi satu-satunya sumber nafkahnya.
Namun, ia tidak pernah menjual harga dirinya. Ia melihat teman-temannya menyerahkan tubuh demi koin tambahan, tapi Helena selalu menjaga batasannya.
“Saya bukan wanita murahan!” sahut Helena dengan suara yang tiba-tiba tegas. Ada kemarahan yang tersirat jelas di matanya yang berkaca-kaca.
Memanfaatkan ketercenungan Arthur, Helena mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyentak tangan pria itu dan menjauh. Ia pun berdiri dengan kaki gemetar, menatap sang Duke dengan pandangan kecewa.
“Saya rasa, malam ini adalah malam terakhir saya bekerja di mansion ini, Tuan. Selamat malam.”
Dengan hentakan kaki yang keras di atas lantai marmer, Helena berlari keluar dari ruang pemandian, meninggalkan Arthur yang terpaku di tengah uap. Pria itu mencengkeram rambutnya sendiri, lalu menggeram frustrasi antara rasa tidak percaya dan amarah pada dirinya sendiri.
“Argh! Sialan!” umpat Arthur pelan.
Memasuki kamar pelayan yang sempit di sayap belakang, Helena langsung mengunci pintu kayu itu rapat-rapat. Tubuhnya luruh ke lantai, punggungnya bersandar pada pintu saat tangisnya pecah bak air bah.
Ia datang jauh-jauh dari desa, berharap mendapatkan penghidupan yang layak sebagai pelayan di rumah bangsawan, namun yang ia dapatkan justru penghinaan yang merendahkan martabatnya.
Ia merasa kotor. Sentuhan Arthur seolah masih membekas di kulitnya, meninggalkan jejak panas yang membingungkan.
“Bodoh! Kenapa aku diam saja tadi?” raung Helena pelan di tengah isaknya.
Ia sadar, seharusnya ia langsung melawan saat Arthur mulai mendekatinya. Namun, sebuah kenyataan pahit menghantuinya; saat pria itu menyentuhnya, ada sebuah gelenyar aneh yang sempat membuatnya terlena. Gelenyar itulah yang membuatnya lambat bereaksi.
“Aku akan pergi besok pagi!” tekadnya sembari mulai memasukkan beberapa potong pakaian kumalnya ke dalam tas kain.
Tepat ketika ia berdiri, sebuah ketukan keras terdengar dari jendela kecil kamarnya. Seorang kurir dari desa berdiri di sana dengan wajah panik. Helena buru-buru membukanya.
“Helena! Ibumu... beliau masuk rumah sakit pusat di kota. Serangan jantung mendadak, dan dokter bilang harus segera dioperasi malam ini juga!”
Helena merasa dunianya runtuh seketika. “Apa? Bagaimana bisa?”
“Cepatlah, Helena. Adikkmu, Selly, sedang menunggumu di sana. Biayanya sangat besar, dokter meminta jaminan uang muka sekarang juga atau mereka tidak akan memulainya,” ucap kurir itu dengan napas tersengal.
Setelah kurir itu pergi, Helena terduduk lemas di pinggir tempat tidur. Ia baru saja memutuskan untuk pergi dari rumah ini, namun kabar ini mengubah segalanya.
Ia butuh uang dalam jumlah besar, hampir seratus koin emas untuk biaya operasi dan perawatan ibunya yang tidak memiliki jaminan apa pun.
Satu-satunya jalan bagi Helena adalah bertahan. Ia harus menelan harga dirinya, menebalkan muka, dan kembali menghadap pria yang baru saja menghinanya.
Keesokan harinya, Helena bangun jauh sebelum matahari terbit. Ia menyiapkan sarapan dan kopi dengan tangan yang masih gemetar. Duchess Selene turun lebih awal, sudah mengenakan gaun berkuda yang elegan untuk berangkat ke kantor gubernur.
“Duchess Selene, apa saya boleh bicara sebentar?” tanya Helena ragu-ragu saat Selene hendak melangkah keluar.
Selene meliriknya sekilas, lalu melihat jam saku emasnya. “Soal apa, Helena? Cepatlah, aku ada pertemuan penting dengan dewan pagi ini.”
Helena mengangguk cepat. “Begini, Duchess ... saya minta maaf sebelumnya. Saya ingin memohon bantuan ... saya ingin meminjam u—”
Tiba-tiba, suara terompet pengawal kerajaan di luar menginterupsi. Seorang ajudan masuk dan membisikkan sesuatu yang mendesak pada Selene.
“Helena, maaf. Aku harus berangkat sekarang. Urusanmu nanti bicarakan saja dengan suamiku. Dia yang mengurus masalah domestik pelayan minggu ini,” ucap Selene tanpa menoleh lagi dengan langkah kaki yang begitu cepat.
Helena terpaku di tempatnya. Haruskah ia berurusan lagi dengan Arthur? Pria yang semalam baru saja melecehkannya? Ketakutan luar biasa menghantuinya, namun bayangan wajah ibunya yang pucat di rumah sakit mengalahkan segalanya.
Tak punya pilihan lain, ia menunggu di ruang makan hingga Arthur turun. Sekitar setengah jam kemudian, sang Duke muncul dengan pakaian formal yang sangat rapi, wajahnya tampak kaku dan dingin, seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.
Arthur duduk di kursinya, namun ia tidak menyentuh sarapannya. Matanya yang tajam bak elang langsung mengunci sosok Helena yang berdiri di sudut ruangan.
“Bukannya kau bilang ingin pergi semalam? Kenapa kau masih di sini berdiri dengan seragam itu?” ujar Arthur dengan nada sinis yang menyakitkan.
Helena menundukkan kepala sedalam mungkin. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. “Maafkan kelancangan saya semalam, Tuan. Saya ... saya tidak jadi pergi. Saya butuh bantuan Anda. Saya ingin meminjam uang.”
Dengusan sinis keluar dari bibir Arthur. “Oh, jadi sekarang kau kembali butuh uang?”
Menahan rasa sesak di dadanya, Helena menjelaskan dengan suara bergetar, “Ibu saya masuk rumah sakit karena serangan jantung. Beliau harus dioperasi segera, Tuan. Saya mohon bantuan Anda.”
Arthur terdiam sejenak. Ia pun menyandarkan punggungnya di kursi seraya menatap Helena dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat dingin.
“Aku bisa memberikan uang itu padamu sekarang juga. Berapa pun yang kau butuhkan untuk ibumu,” ucap Arthur perlahan lalu bangkit dari kursinya, dan berjalan mendekat dengan kedua tangan diselipkan di saku celananya.
“Benarkah, Tuan? Terima kasih banyak—”
“Tapi ada syaratnya,” potong Arthur cepat lalu berhenti tepat di samping tubuh Helena, dan membungkuk sedikit hingga bibirnya berada tepat di samping telinga gadis itu.
“Syarat ... apa itu, Tuan?” tanya Helena dengan pelan.
“Tubuhmu. Mulai malam ini, jadilah pemuasku di ranjang setiap kali aku menginginkannya. Jika kau setuju, koin emas itu akan sampai di rumah sakit dalam satu jam.”
