Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3: Tidak akan Puas hanya dengan Diam

“Jangan hanya berdiri di sana, Helena. Kemari.”

Helena yang sedang berdiri kaku di sana lantas tersentak usai mendengar perintah sang Duke untuk mendekat.

Pria itu sudah berada di dalam air, menyandarkan punggung kokohnya pada tepian bak. Bahunya yang lebar terpampang jelas, kecokelatan dan berkilau oleh sisa air yang mengalir turun ke dada bidangnya yang berotot.

Helena melangkah perlahan, namun kakinya terasa berat seolah terikat timah. “S-saya harus mulai dari mana, Tuan?”

“Gosok bahuku. Ototku kaku sekali karena rapat dengan dewan seharian,” perintah Arthur tanpa menoleh sedikit pun.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Helena berlutut di belakang pria itu. Ia mencelupkan kain ke dalam air hangat, lalu perlahan menyentuh kulit bahu Arthur.

Saat jemarinya yang halus bersentuhan dengan kulit kasar sang Duke, sebuah desahan rendah lolos dari bibir pria itu, hingga membuat Helena berjengit kaget.

“Tekan lebih kuat. Kau tidak sedang mengelap meja, Helena,” tegur Arthur.

“Maaf, Tuan,” bisik Helena dan memberanikan diri menekan jemarinya pada otot trapezius Arthur yang keras. “Apakah ini sudah cukup?” tanyanya dengan pelan.

“Ya, lumayan. Tanganmu jauh lebih hangat daripada tangan pelayan pria yang biasanya kusuruh,” gumam Arthur.

Pria itu kemudian memejamkan matanya tengah menikmati sentuhan tangan Helena yang terasa sangat berbeda. Tangan gadis ini kecil, namun memiliki kekuatan yang entah bagaimana mampu meruntuhkan ketegangan di kepalanya.

Tiba-tiba, Arthur berbalik dengan gerakan cepat, dan mencengkeram pergelangan tangan Helena sebelum gadis itu sempat menarik diri.

Air pun memercik ke seragam pelayan Helena, membuat kain hitam itu basah dan menempel ketat pada lekuk dadanya yang membusung.

“Kenapa kau gemetar terus? Apa kau takut padaku?” tanya Arthur, matanya kini berkilat tajam di bawah uap yang tipis.

“Saya ... saya hanya tidak terbiasa sedekat ini dengan Anda, Tuan. Ruangan ini, suasananya membuat saya gugup.”

Arthur tidak melepaskan cengkeramannya. Ia justru menarik tangan Helena dan membawa jemari gadis itu ke depan bibirnya. Ia menghirup aroma sabun murah yang melekat di kulit Helena, aroma yang terasa jauh lebih jujur daripada parfum mahal para bangsawan.

“Kau tahu, Selene tidak pernah sudi masuk ke ruangan ini bersamaku. Baginya, mandi adalah urusan privasi yang membosankan. Tapi lihatlah kau, kau di sini, basah kuyup karena kecerobohanku,” ucap Arthur dengan nada pahit.

Helena merasa jantungnya berdegup kencang hingga sesak. “Duchess Selene mungkin hanya terlalu lelah dengan urusan luar, Tuan.”

“Jangan membela wanita yang bahkan tidak tahu namamu dengan benar, Helena!” sentak Arthur pelan, namun penuh penekanan. Dia lalu menarik Helena lebih dekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti di atas air.

“Dia mengirimmu kemari karena dia ingin aku berhenti mengganggunya. Dia pikir dengan memberiku pelayan cantik, aku akan diam dan berhenti menuntut hakku sebagai suami.”

Helena menelan ludahnya, sementara matanya terkunci pada manik mata abu-abu Arthur yang gelap. “Lalu ... apakah Anda akan diam?”

“Menurutmu?” Arthur justru balik bertanya dan meraih tengkuk Helena, lalu jemarinya memilin rambut cokelat gadis itu yang mulai lembap karena uap.

“Jika pelayannya memiliki mata setajam ini dan tubuh yang selalu gemetar saat kusentuh, menurutmu apakah aku akan puas hanya dengan diam?” tanyanya dengan suara beratnya.

Arthur mencondongkan tubuhnya hingga hidungnya bersentuhan dengan hidung Helena. Panas tubuh Arthur terpancar begitu nyata, beradu dengan uap air di sekitar mereka.

Helena merasa pening. Ia tahu ini salah. Ia tahu ini adalah dosa yang akan menghancurkannya. Namun, tarikan magnetis pria ini terlalu kuat untuk dilawan.

“Tatap mataku, Helena. Katakan bahwa kau juga ingin aku menciummu sekarang,” bisik Arthur tepat di depan bibir Helena.

“Saya ... saya tidak boleh melakukannya, Tuan, ini melanggar kontrak—"

“Aku yang membuat aturan di rumah ini, bukan kontrak itu,” sergah Arthur dengan suara serak.

Tangan Arthur bergerak ke pinggang Helena, menarik tubuh gadis itu hingga separuh badan atasnya condong di atas bak mandi.

Seragam Helena benar-benar basah sekarang, memperlihatkan siluet tubuhnya yang sempurna di bawah cahaya lampu minyak yang temaram. Arthur baru saja hendak menyatukan bibir mereka saat suara keras memecah keheningan mansion.

BRAK!

Suara dentuman pintu utama yang dibuka dengan kasar bergema hingga ke lantai atas, diikuti oleh langkah kaki yang tegas dan suara tinggi yang sangat dikenal.

“Arthur! Di mana kau? Aku pulang lebih awal karena pertemuan di pelabuhan dibatalkan!”

Itu suara Selene.

Helena tersentak seolah tersengat listrik. Ia pun menarik dirinya mundur dengan kasar hingga jatuh terduduk di lantai marmer yang licin. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak ketakutan.

“Duchess, beliau sudah pulang,” bisik Helena parau.

Arthur mengumpat pelan, dengan rahang yang mengetat dan matanya memancarkan kemarahan yang tertahan karena momennya hancur.

Ia pun segera bangkit dari bak mandi dan berdiri dengan segala kemegahan tubuhnya yang basah tanpa memedulikan kesopanannya di depan Helena.

“Cepat keluar lewat pintu belakang yang menuju lorong pelayan!” perintah Arthur dengan nada rendah yang mendesak.

“Tapi baju saya basah kuyup, Tuan! Airnya menetes di lantai! Beliau akan tahu ada seseorang di sini!” Helena berdiri dengan panik, sembari mencoba memeras ujung gaunnya yang meneteskan air ke lantai pualam.

Langkah kaki Selene terdengar semakin dekat di koridor luar, menuju kamar pribadi mereka yang terhubung langsung dengan ruang pemandian.

“Arthur? Kau di dalam? Kenapa pintunya dikunci?” teriak Selene tepat di balik pintu kayu ek yang besar.

Helena memandang Arthur dengan tatapan memohon yang putus asa. Jika Selene menemukannya di sini dengan seragam basah kuyup sementara suaminya baru saja keluar dari bak mandi, habislah sudah.

“Sembunyi di balik lemari handuk besar itu, sekarang!” desis Arthur sembari menyambar jubah mandinya. “Jangan bersuara dan jangan bergerak sampai aku menyuruhmu keluar!”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel