Bab 2: Tugas Pertama
“Kemari,” panggil Arthur lagi.
Pria itu kini duduk di tepi meja mahoninya yang besar. Satu kakinya yang panjang berpijak di lantai, sementara yang lain menggantung santai, memberikan kesan dominan yang tak terbantahkan.
Kemeja putihnya yang terbuka di bagian kerah memperlihatkan pangkal leher yang kokoh dan berurat, menunjukkan kekuatan fisik yang tersembunyi di balik pakaian bangsawannya.
Helena melangkah maju dengan ragu. Setiap ketukan sepatunya di atas karpet tebal terasa seperti detak jantungnya yang berpacu. Ia berhenti tepat ketika jarak mereka hanya tersisa dua langkah.
Dari posisi ini, Helena harus mendongak untuk menatap wajah sang Duke. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Arthur mengetat, menciptakan garis keras yang menunjukkan pengendalian diri yang sedang diuji habis-habisan.
“Apa ini kali pertamamu bekerja?” tanya Arthur memulai interviu pada gadis berusia dua puluh satu tahun itu.
Matanya menyipit, tengah memindai Helena seolah sedang memeriksa dokumen negara yang sangat rahasia.
“Saya … pernah bekerja di kedai perbatasan sebagai penghibur di sana, Tuan,” ucap Helena dengan nada yang goyah.
Dia lalu meremas jemarinya di balik kain gaunnya, merasa cemas jika pekerjaan lamanya sebagai penjaja makanan dan minuman di kedai yang tak memiliki batasan moral itu akan membuatnya diusir seketika.
“Artinya, kau sudah terbiasa menghadapi pria-pria kasar yang mabuk dan haus, bukan?” tanyanya memancing, seolah ingin mengupas lapisan demi lapisan keberanian Helena.
“Tidak, Tuan. Saya hanya menyajikan minuman dan bernyanyi. Saya tidak pernah menyerahkan diri saya pada mereka,” jawab Helena cepat, lalu menunduk dalam, mencoba menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya.
“Begitukah?”
Arthur tiba-tiba berdiri. Gerakannya yang mendadak membuat Helena refleks mundur selangkah hingga punggungnya membentur rak buku tinggi di belakangnya.
Kayu ek yang dingin menyentuh kulit punggungnya, namun panas yang terpancar dari tubuh Arthur jauh lebih mengintimidasi.
“Lalu kenapa kau memakai gaun yang seolah-olah berteriak minta dilepaskan ini? Kau tahu persis apa yang dilakukan pria saat melihat lekuk tubuh yang sengaja ditonjolkan seperti ini, Helena.”
Arthur mengulurkan kedua tangannya, lalu menumpukannya pada rak buku di sisi kepala Helena, dan mengurung gadis itu dalam dekapan tak kasat mata.
Helena bisa merasakan napas hangat Arthur menerpa keningnya, membawa aroma tembakau mahal dan maskulinitas yang pekat.
Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang liar. Ia yakin Arthur bisa mendengar detak itu di tengah kesunyian ruangan yang menyesakkan.
Ketegangan di antara mereka terasa begitu pekat, hampir bisa dirasakan secara fisik seperti sengatan listrik yang menjalar di udara.
“S-saya tidak punya pilihan, Tuan Duke,” bisik Helena parau. Suaranya nyaris hilang. “Ini pakaian terbaik yang saya miliki. Saya datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk menggoda.”
“Bekerja?” Arthur memiringkan kepalanya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Helena hingga helai rambut gadis itu bergerak tertiup napasnya.
“Istriku, Selene, dia mengirimmu karena dia pikir aku adalah mesin yang tidak punya gairah. Dia pikir dengan memberiku pelayan yang cantik, aku akan berhenti mengganggunya dengan tuntutanku sebagai suami.”
Helena memejamkan mata erat-rapat. Ia merasa terjebak dalam pusaran konflik rumah tangga bangsawan yang tidak seharusnya ia masuki.
Namun, ketika jemari kasar Arthur menyentuh dagunya dan mengangkat wajahnya agar mereka saling berhadapan, Helena tak punya pilihan selain membuka mata.
“Apakah Anda membenci Duchess Selene?” tanya Helena dengan keberanian yang muncul entah dari mana.
“Aku tidak membencinya. Aku hanya sedang lapar,” desis Arthur. Matanya lalu jatuh ke bibir merah muda Helena yang sedikit terbuka, dan membasah karena kegugupan itu.
“Dan kau, dengan segala kepolosan palsumu ini, adalah hidangan yang sangat menggoda untuk dilewatkan.”
Tangan Arthur turun ke leher Helena. Ibu jarinya mengusap lembut nadi yang berdenyut cepat di sana, seolah sedang menghitung detak kehidupan gadis itu. Helena merinding hebat.
Sentuhan itu tidak kasar, namun penuh dengan otoritas kepemilikan yang absolut. Secara logika, Helena tahu ia harus mendorong pria ini dan lari keluar pintu untuk menyelamatkan kehormatannya.
Namun, ada sesuatu dalam tatapan kesepian Arthur yang justru menariknya lebih dalam.
Di balik arogansi dan kekuasaan itu, Helena melihat seorang pria yang memiliki segalanya namun sebenarnya tidak memiliki siapa-siapa untuk berbagi kehangatan.
“Tugas pertamamu,” ucap Arthur, suaranya kini terdengar lebih memerintah namun serak oleh hasrat. “Buka kancing kemejaku. Aku ingin mandi, dan tanganku terlalu lelah untuk mengurus hal-hal kecil.”
Helena tertegun, lalu matanya membelalak tak percaya. “Tu-Tuan, saya—”
“Lakukan, Helena. Atau kau ingin aku membuktikan kata-kataku tentang mengusirmu sekarang juga?” ancam Arthur dan tidak memberikan ruang bagi Helena untuk bernegosiasi.
Tak punya pilihan selain menuruti perintah sang penguasa, Helena mengangkat jemarinya dengan tangan yang gemetar hebat.
Ia menyentuh kancing pertama kemeja sutra putih milik Arthur. Kulit jemarinya yang dingin bersentuhan dengan dada hangat Arthur yang keras dan berotot di balik kain tipis itu.
Sensasi panas menjalar dari ujung jari Helena, merambat naik ke lengannya dan meledak di seluruh tubuhnya. Setiap kali satu kancing terlepas, kulit kecokelatan Arthur yang ditumbuhi rambut-rambut halus tipis semakin terekspos ke udara dingin ruangan.
Napas Helena semakin pendek, paru-parunya seolah kehabisan oksigen setiap kali ia melihat lebih banyak bagian tubuh pria itu.
Arthur tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya memperhatikan wajah Helena yang kini semerah mawar dengan konsentrasi penuh. Pria itu tampak menikmati ketakutan sekaligus ketertarikan yang terpancar dari manik mata gadis di depannya.
“Kau sangat lambat,” gumam Arthur, kemudian meraih tangan Helena, dan membimbing jemari kecil gadis itu untuk merasakan detak jantungnya sendiri yang kini berdegup sama kencangnya dengan jantung Helena.
Tanpa peringatan, Arthur menarik pinggang Helena dan merapatkan tubuh mereka hingga tidak ada celah tersisa. Helena tersentak saat merasakan kekuatan otot paha Arthur yang menekan miliknya di balik gaun tipis itu.
Sensasi itu begitu asing, namun meledakkan semacam kembang api yang membutakan di dalam kepalanya. Helena merasa pening; kakinya terasa lemas seolah seluruh tulang-tulangnya telah mencair.
Pandangan mereka terkunci. Ruangan itu seakan menghilang, menyisakan mereka berdua dalam kungkungan gairah yang berbahaya. Helena bisa merasakan setiap embusan napas Arthur yang memburu di bibirnya.
“Siapkan air mandiku,” perintah Arthur tiba-tiba, lalu melepaskan Helena dengan sentakan kecil yang membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan dan jatuh.
Arthur kemudian berbalik, dan menyisakan Helena yang masih terengah-engah berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang berantakan.
“Dan jangan coba-coba melarikan diri dari kamar ini sebelum aku mengizinkanmu keluar. Kau mengerti?”
