BAB 8 CIUMAN MANIS
“Tania, kenapa kau tersenyum sendiri Nak?” Tanya Bu Meera saat melihat Tania yang duduk sendiri di kursi taman.
Hmm, hari ini memang begitu sejuk. Kalau biasanya dijam seperti ini matahari sudah mulai menyengat, tapi untuk saat ini awan terlihat mendung yang membuat suasana syahdu. Apalagi untuk Tania. Pengalamannya kemarin bersama Vans di kebun teh tidak bisa dia lupakan. Tania merasa ini adalah kebahagiaan terbesar yang pernah dia rasakan. Baginya Vans adalah sosok laki-laki sempurna.
“Tania….” Bu Meera memanggil kembali saat tidak ada jawaban dari Sang Menantu.
“Ah Mama, Mama di sini. Tania, Tania tidak melihat Mama datang.”
“Hhmm, bagaimana kau melihatku jika fikiranmu tidak di sini Sayang.” Ucap Bu Meera gemas sambil mencubit pipi Tania. Ya, Bu Meera tidak pernah memperlakukan Tania sebagai menantu, baginya Tania adalah seorang putri di keluarga ini.
“Upss, sorry..”
“Katakan padaku apa yang tengah kau fikirkan saat ini. Mama lihat sepulang dari Pak Suroso kau tampak aneh.” Tanya Bu Meera yang sangat perhatian.
“Aneh gimana sih Ma, biasa aja kok.” Jawab Tania sambil tertunduk malu.
“Hai, kenapa kau malu Tania? Apa yang terjadi?”
“Ma, Tania Tania jatuh cinta.” Ucap Tania yang membuat Bu Meera terbelalak.
Bu Meera tersenyum melihat tingkah Tania, dia tahu benar siapa yang tengah Tania bicarakan.
“Hmm, begitu ya.. Apa kau lupa jika yang di depanmu adalah Ibu dari laki-laki yang membuatmu jatuh cinta?” Bu Meera sengaja menggoda Tania.
“Ahh Mama…” Tania memeluk Bu Meera dengan manja. “Vans sangat baik Ma, dia juga sangat tampan. Ahh, Mama Tania malu. Haruskah aku mengatakan hal ini di depan Ibu dari laki-laki yang kucintai?”
Bu Meera terbahak mendengar pengakuan Tania. “Kau sungguh manis Nak. Semoga selalu bahagia.”
“Tapi Ma, kenapa Vans begitu dingin? Apa Vans sudah tidak mencintaiku lagi? Bahkan aku merasa tidak ada artinya aku menjadi istri Vans.”
“Tania.. kenapa kau bicara seperti itu Sayang? Vans sangat mencintaimu. Pahamilah, kecelakaan yang menimpa kalian berdua membuat Vans begitu trauma. Mungkin karena itulah dia bersikap dingin.”
“Tapi kenapa Ma? Apa yang terjadi? Bukankah kami berdua selamat. Iya memang Tania lupa ingatan, tapi apa masalahnya? Toh kami masih tetap bersama.” Tania mulai protes.
“Ssstt, tenanglah! Ini semua butuh waktu. Mama harap kau bisa sabar menghadapi Vans. “Ucap Bu Meera mengelus rambut Tania berusaha menenangkan. Gadis itu pun menganggukkan kepalanya, berusaha menerima sesuatu yang sangat membuatnya bingung.
*****
“Vans..”, panggil Tania saat laki-laki itu tengah sibuk di meja kerjanya.”
Vans melirik ke arah Tania, dilihatnya gadis itu tengah memakai dress orange selutut. Ah dress sederhana yang begitu pas dengan tubuh gadis ayu itu. Ditambah bando senada yang membuat penampilan Tania begitu sempurna dan sangat manis. Deg, deg, deg, jantung Vans berdetak lebih cepat. Sejak pertama bertemu Tania sampai saat ini, sampai gadis itu menjadi istrinya, Vans selalu merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuhnya. Detak jantung yang biasanya berdetak dengan normal, setelah melihat Tania menjadi berdetak lebih cepat. Udara yang awalnya terasa biasa saja, setelah kemunculan Tania terasa begitu sejuk. Hingga rasa nyaman bisa dirasakan oleh Vans.
“Vans…” Tania mengulang panggilannya karena Vans hanya meliriknya tanpa respon.
“Ah iya, ada apa Tania?” Vans sedikit gelagapan, namun dia begitu pandai menyembunyikannya.
“Apa kau sibuk? Bolehkah aku mengganggumu sebentar?”
“Kau membutuhkan sesuatu? Aku akan memanggil..”
“Ah tidak Vans. Aku tidak membutuhkan sesuatu. Aku hanya ingin mengajakmu ke sebuah tempat. Apa kau mau?” Tawar Tania sambil tersenyum manis, semanis gula merah yang dicampur dengan es cincau.
“Tapi aku sedang…”
“Oh baiklah kalau kau sedang sibuk. Aku tidak jadi. Maaf aku akan pergi.” Tania yang memiliki firasat sedikit buruk memilih untuk bergegas pergi sebelum Vans menolaknya. Pantang bagi gadis itu untuk ditolak oleh laki-laki.
“Aku akan menemanimu”, suara Vans membuat Tania menghentikan langkahnya. Saat ini Tania tengah tersenyum lebar karena Vans berada di belakangnya. “Kau ingin kemana? Aku akan siapkan mobil.” Vans segera beranjak kemudian mengambil kunci mobil miliknya.
“Tidak perlu, kita tidak akan pergi jauh. Yukk..” Tania menggenggam tangan Vans dan segera membawa ke suatu tempat.
Vans melihatnya tangannya yang digenggam erat oleh Tania. Tania menggenggam tangan itu seperti tidak ingin tangan itu terlepas dari genggamannya. Vans merasa sedikit kikuk, namun dia juga sangat bahagia. Bagaimanapun keadaannya gadis itu adalah satu-satunya yang dia inginkan dalam hidup.
“Lihatlah! Bagus sekali bukan.” Ucap Tania sambil menunjuk ke atas. Tania mengajak Vans ke taman belakang rumah.
Tampaklah sebuah bulan sabit yang begitu terang, ditambah dengan berjuta bintang di langit yang membuat sempurnanya keadaan langit saat ini. Bulan dan bintang, mereka adalah ciptaan Tuhan yang senantiasa mucul di tiap malam. Menghibur orang-orang yang telah lelah berjuang hari ini. Mereka memberi semangat kepada para manusia untuk terus berusaha dan berdoa hingga mereka hilang dan pagi pun datang. Membawa semangat baru.
“Bagus sekali”, ucap Vans menyunggingkan senyum sambil memperhatikan Tania yang begitu takjub menyaksikan hal ini.
“Tania, apakah kau ingat? Aku pun pernah mengajakmu ke tempat ini. Dan ekspresimu masih sama seperti dulu.” Gumam Vans.
“Vans, kau tahu kenapa bintang-bintang itu sangat cantik?”
Vans menggeleng, dia tidak berfikir. Dia tidak ingin berfikir, dia hanya ingin Tania tersenyum karena kebodohannya. Lagipula Tania pasti akan mengatakan hal yang tidak masuk akal.
“Dasar bodoh, cepat sekali kau menyerah.” Ya, kalimat itulah yang sangat ingin Vans dengar.
“Bintang-bintang itu cantik karena mereka sedang bahagia.”
“O ya, bagaimana kau tahu?” Vans mulai menghadapi kerandoman istrinya itu dengan senang.
“Karena ada kita di sini. Ada Tania, Vans, dan ada cinta.” Jawab Tania yang membuat Vans terbelalak. Entahlah rasa tidak enak dan trauma itu muncul lagi saat ini. “Kau tahu Vans, aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu. Laki-laki yang sangat baik dan juga sangat tampan.” Tania tersenyum sambil meletakkan tubuhnya di pelukan Vans. Menuntun tangan Vans agar memeluk erat tubuhnya. “Aku sangat mencintaimu Vans. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Terimakasih telah menjadikanku istrimu. Membawaku ke keluarga ini.”
Tania mulai menengadahkan wajahnya. Hingga dia bisa melihat dengan jelas wajah tampan suaminya. Tania tersenyum manis, mengelus bibir Vans dengan lembut.
Tania mulai mengangkat tubuhnya sambil berjinjit sampai bibirnya sejajar dengan bibir Vans. Kemudian dengan gerakan lembut gadis itu mulai mengulum bibir Vans. Sebuah kuluman yang mampu membuat Vans melupakan segalanya. Yang mampu membuat laki-laki itu mengeluarkan lidah dan membalas kuluman bibir Tania. Hingga kedua bibir itu menyatu dalam ciuman yang sangat manis.
