BAB 9 KEMARAHAN TANIA
Bibir Vans dan Tania terus berpaut selama beberapa waktu. Keduanya sangat menikmati apa yang tengah mereka lakukan. Hubungan intim ini terasa begitu indah. Dan Tania mulai merasakan sesuatu yang basah di bagian bawahnya, gadis itu sudah sangat siap untuk melanjutkan semua ini di peraduan.
“Ahhh”, tiba-tiba Vans melepas ciumannya dengan kasar. Wajah laki-laki memerah. Entahlah semakin lama keduanya bersama, bayangan akan kecelakaan itu semakin nyata. Apalagi saat dia ingat tentang Bintang.
“Vans”, ucap Tania terkejut. Tubuh gadis itu sedikit terpelanting karena dorongan Vans.
“Maaf, maaf Tania. Aku.. aku…”
“Kenapa Vans? Kenapa kau selalu menghindar dariku?”
“Tania masuklah ke kamar!”
“Vans jawab aku, kenapa kau menghindar dariku? Aku istrimu.”
“Tania masuklah ke kamar!” Vans sedikit membentak.
“Tidak! Aku tidak ingin kemana-mana. Aku hanya ingin mendapat jawaban darimu Vans. Kenapa kau selalu menghindariku? Semua orang di sini mengatakan jika kau sangat mencintaiku. Ternyata mereka berbohong. Kau sama sekali tidak mencintaiku. Lalu apa gunanya aku menjadi istrimu Vans? Kau menikahiku saat aku kritis, untuk apa? Kau hanya ingin mempermainkanku, kau hanya ingin mempermainkan hatiku.” Teriak Tania dengan air mata bercucuran. Gadis itu sudah tidak sanggup lagi memendam apa yang ingin dikatakannya kepada Vans.
“Tania tidak seperti itu.”
“Apa? Seperti apa yang kau mau Vans? Tidak, aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak bisa hidup dengan laki-laki yang…” Tania tidak melanjutkan kalimatnya. Gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi, kemudian berlari meninggalkan Vans seorang diri.
Vans hanya bisa memandang punggung Tania dengan sedih. Laki-laki itu tidak kuasa untuk menahan air matanya. “Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa menerima ini semua. Aku yang telah merusak kebahagiaan Tania. Dan kini Tania mencintaiku, meskipun hal ini adalah kebahagiaan terbesarku tapi apa aku mampu melakukannya?”
“Tania… Tania…” Bu Meera memanggil Tania saat melihat gadis itu menangis sambil berlari menuju kamarnya. “Ada apa dengan anak itu?” Gumam Bu Meera khawatir.
Perempuan setengah baya itu segera berjalan menuju taman belakang, tempat dari mana arah Tania berlari. Dan benar apa yang ditakutkannya. Tampak Vans tengah tertunduk lesu sambil menangis.
“Vans”, panggil Bu Meera sambil menatap iba Sang Putra.
“Mama”, Vans memeluk Ibunya.
“Ada apa Nak? Apa yang terjadi dengan kalian?”
“Ma, maafkan Vans. Vans tidak bisa..”, ucap Vans dengan terbata.
“Ssttt, tenangkan dirimu. Ada apa Sayang?”
“Vans tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Tania Ma, Vans tidak bisa memberikan apa seharusnya Tania dapatkan. Bayangan kecelakaan itu selalu, ahh..”
“Vans.. tenangkan dirimu!”
“Apa yang akan terjadi jika Tania tahu bahwa aku yang telah menghancurkan kehidupannya Ma? Bagaimana jika dia tahu kalau calon suaminya, laki-laki yang sangat dia cintai meninggal karena kecelakaan yang disebabkan oleh suaminya saat ini?”
“Sayang.. Vans.. Mama mengerti Nak. Tenangkan dirimu!” Bu Meera mengusap air mata yang terus mengalir dari netra putranya. “Vans, sampai kapan kau akan hidup dengan masa lalu Nak? Mama bisa merasakan apa yang kau rasakan saat ini. Mama bisa mengerti rasa bersalah yang tidak mudah hilang begitu saja darimu. Tapi apa yang bisa kita lakukan Nak? Kita tidak bisa mengembalikan Bintang, bahkan kita juga tidak bisa mengembalikan Tina. Hanya ini yang kita bisa lakukan Vans. Hidup baru untuk Tania.”
“Tapi Vans tidak bisa…”
“Mama tahu. Sulit untuk melakukan ini semua. Lupakan pelan-pelan Nak! Mama yakin cinta Tania akan membantumu melupakan kejadian itu. Lihatlah ke depan! Masa depanmu bersama Tania. Kau sangat mencintai Tania. Hidup mempermainkan perasaan kalian. Ini semua takdir Vans. Lupakan masalalumu.”
“Nyonya Besar, Tuan Vans..” Sebuah suara dari belakang mengejutkan keduanya. Seorang laki-laki dengan seragam satpam datang dengan tergopoh-gopoh.
“Ada apa Pak?” Tanya Bu Meera.
“Non Tania.”
“Ada apa dengan Tania Pak?” Vans mulai sedikit panik saat laki-laki itu menyebut nama Tania.
“Non Tania pergi sambil membawa koper Tuan.”
“Apa?”
“Iya Tuan, saat saya tanya Nona tidak menjawab apapun hanya berjalan sambil menangis.”
“Vans, Tania…” Bu Meera tampak sangat khawatir.
Vans menggenggam tangan Ibunya, berusaha memberi kekuatan. Kemudian segera pergi tanpa mengatakan apapun.
“Tania kau dimana?” Gumam Vans yang saat ini sangat merasa bersalah. Gadis itu pasti sangat marah. Dan Vans tahu bahwa Tania mampu melakukan apapun saat ini.
Tania berjalan tak tentu arah. Suasana malam ini sungguh sepi. Ya, benar saja saat ini waktu menunjukkan pukul 12 malam. Semua orang pasti sudah mengakhiri hari ini di peraduan.
“Hai Nona kau mau kemana?” Seseorang yang tidak tahu dari mana asalnya tiba-tiba menyapa Tania. Tania tidak menjawab, dia terus berjalan tanpa menghiraukan orang tersebut.
“Hai Nona sombong, kau mau kemana? Ikutlah denganku!” Bersamaan dengan kehadiran teman-teman orang tersebut yang kesemuanya adalah laki-laki.
“Pergi kalian! Jangan menggangguku!” Tania mulai panik. Dia tidak mengira akan menghadapi situasi sepetti ini.
“Usshh, Sayang.. kau sangat cantik. Dan hhmm wangi..” Salah satu laki-laki berusaha mengendus rambut Tania.
“Pergi kau! Kau sangat tidak sopan.” Dengan reflek Tania memukulkan tasnya ke wajah laki-laki itu. Dan kesalahan terbesar, laki-laki itu dan teman-temannya tidak terima dengan perlakuan Tania.
“Hai gadis, kau sangat ganas.” Teriak salah pria lain yang kini mulai berani menarik tangan Tania.
“Lepaskan aku!” teriak Tania. Namun pria itu tidak menghiraukan. Malah menarik tangan Tania yang lain. “Tolong.. tolong.. Tania muali berteriak ketakuatan. Air matanya mulai turun. Dia tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi padanya.
Para laki-laki itu tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Tania. Mereka seperti monster yang siap menerkam mangsa.
“Tolong..”, teriak Tania lagi.
Buuggg, buuggg, buugg, para pria itu jatuh satu persatu. Tania terkejut melihat hal ini. Bagaimana bisa?
“Kurang ajar! Beraninya kau menyentuh istriku.” Suara yang sangat tidak asing bagi Tania tiba-tiba muncul sambil membabi buta memukul para pria iblis itu.
Tania tersenyum senang melihat Vans datang. “Terimakasih Vans”, gumamnya yang kini merasa sangat lega.
Vans memukul semuanya tanpa ampun, beberapa nampak terluka parah karena kebrutalan Vans. Ada juga yang masih menantang Vans, bahkan dari mereka ada yang membawa senjata tajam. Tapi Vans lah pemenangnya. Satu per satu mulai terkapar di tengah jalan. Kemarahan Vans memang tiada lawan.
Seorang laki-laki tampak memberi tanda kepada teman-temannya untuk meninggalkan tempat ini. Mereka pun berlari kocar kacir meninggalkan Vans dan Tania.
Vans datang menghampiri Tania yang masih tampak ketakutan, “kau tidak apa-apa?” katanya. Tania hanya menggeleng.
“Vans, kau berdarah.” Ucap Tania begitu khawatir saat melihat darah yang mengalir di kaos yang Vans kenakan.
