Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 7 THANK YOU VANS

“Vans, bagaimana kesepakatan dengan perusahaan Pak Suroso?” Tanya Bu Meera kepada Vans saat mereka tengah makan bersama.

“Lancar Ma, hari ini Vans akan ke kebun teh milik Beliau. Untuk meninjau kebunnya dan juga memberikan kontrak.”

“Wahh bagus itu. Ajak serta Tania, dia pasti senang dengan suasana perkebunan di sana.” Bu Meera melirik ke arah Tania.

Tania yang sedari tadi hanya memainkan sendok dan garpu di piring merasa terkejut saat Bu Meera mengatakan hal tersebut.

“Untuk apa Ma?” Tanya Tania.

“Ikutlah bersama Vans. Pak Suroso adalah teman Almarhum Papa. Saat Papa masih ada kami sering sekali bersilaturahmi ke rumah Beliau. Pak Suroso memiliki kebun teh yang sangat luas.”

“Tapi Ma, Tania…”

“Heii, sampaikan salam Mama untuk beliau. Pak Suroso pasti senang melihat Vans dan istrinya datang. Mama akan siapkan oleh-oleh yang nanti kamu bawa untuk istrinya.”

“Tapi Ma, Tania..”

“Tania.. apa lagi Nak?”

“Ma, jangan memaksa Tania! Mungkin Tania masih merasa kurang sehat. Biarkan dia beristirahat.” Ucap Vans menengahi perdebatan mertua dan menantu itu.

“Begitukah Tania? Kau kurang sehat? Oo Sayang..”

“Ah tidak Ma, Tania akan ikut Vans ke rumah Pak Suroso. Mama siapkan saja oleh-olehnya.” Kata Tania kemudian yang membuat Bu Meera tersenyum senang. Namun membuat Vans merasa sedikit tidak nyaman, meskipun dalam hati kecilnya dia juga sangat senang.

*****

Vans duduk di jok belakang bersama Tania di sebelahnya. Sejak kecelakaan waktu itu hingga saat ini Vans masih tidak berani menyetir mobil sendiri. Saat ini Vans dan Tania hanya diam tanpa tegur sapa meskipun perjalanan mereka sudah hampir separuh jalan.

“Tania, apa kau butuh sesuatu? Mungkin kita bisa berhenti di market depan.” Vans membuka pembicaraan. Dirinya merasa sangat tidak nyaman dengan situasi ini. Apalagi Tania hanya diam sedari tadi, Tania pasti masih marah.

“Tidak”, jawab Tania jutek.

“Ok, atau mungkin kau butuh ke kamar kecil?”

“Tidak.” Sekali lagi Tania menjawab tanpa melihat ke arah Vans.

“Kalau kau bosan, kau bisa memutar musik.”

“Sudahlah Vans, jangan mempedulikanku!” Bentak Tania yang membuat Vans sedikit terkejut. Namun dirinya juga tersenyum mendengarnya. Meskipun gadis ini mengalami amnesia, namun kelakuannya masih sama. Tania galak. Dan kalau sudah begini hanya waktu yang bisa menjelaskan kapan amarah gadis ini akan berakhir.

“Waowww, segar sekali…” Wajah cemberut yang sedari tadi Tania tunjukkan kini mulai berubah sejalan dengan perubahan suhu dari tempat kami datang.

“Tania, hati-hati. Jangan keluarkan kepalamu! Kau tidak takut jika ada mobil besar di dekatmu.” Kata Vans.

Tania tidak menjawab, dia hanya membalikkan tubuh menggoyangkan bibirnya ke arah Vans kemudian melakukan gaya yang sama seperti sebelumnya.

Vans ingin terbahak melihat kelakuan istrinya. Tapi dia berusaha menahan. Tania pasti akan lebih marah jika dirinya sampai tertawa.

*****

“Hai Vans, apa kabar?” Pak Suroso dan istrinya menyambut kedatangan Vans dengan ramah.

“Hai Tania, kau sangat cantik. Vans, kau sangat beruntung.” Celetuk Bu Suroso saat berkenalan dengan Tania.

Tania tersenyum ramah kepada Bu Suroso, kemudian melirik ke arah Vans dengan mata tajam. “Dengar itu! Istri secantik ini kau sia-sia kan. Dasar kau payah!” Kata Tania dalam hati.

“Jadi waktu kecil Vans sangat manja ya Tante.” Kata Tania saat dirinya dan Bu Suroso sedang menyiapkan makanan di dapur.

“Manja sekali. Dulu teman-temannya menyebut dia anak mami. Dia selalu menangis saat dijahili teman-temannya.”

“Oo ya..”

“Iya, tapi Tante salut kepadanya. Kini anak manja itu telah berubah menjadi laki-laki dewasa yang sangat menghormati orang tua. Menjadi laki-laki hebat yang bisa membuat orang tuanya bangga. Apalagi sekarang memiliki istri seperti kamu. Terlihat sekali kalau Vans itu sangat mencintaimu Nak.”

“Apa Tante benar?”

“Ya, benar sekali. Tante belum pernah melihat Vans memandang perempuan seperti dia memandangmu. Mata Vans tidak bisa berbohong. Tante bisa melihatnya. Vans sangat mencintaimu, bahkan mungkin lebih besar dari yang kau tahu.”

“Tapi.. Kenapa Vans…”

“Bu.. mana makanannya? Lama sekali!” Suara Pak Suroso mengejutkan mereka.

Bu Suroso tersenyum, kemudian meminta Tania menyajikan makanan di meja.

*****

“Apakah Tante Suroso benar? Apa Vans mencintaiku? Tapi kenapa Vans selalu bersikap dingin kepadaku? Bahkan dia selalu menghindariku.”

Tania berjalan menyusuri kebun teh milik Pak Suroso seorang diri, tanpa Vans yang menemaninya. Bahkan laki-laki itu sama sekali tidak peduli saat Tania berpamitan kepada Sang Pemilik rumah. Meskipun Tania sudah memberikan kode keras kepada Vans lewat pandangan matanya, namun Vans sama sekali tidak peka.

“Dasar laki-laki payah. Dia sama sekali tidak tahu betapa beruntungnya dia memiliki istri cantik sepertiku.” Gerutu Tania sambil terus berjalan. Entah telah berapa lama dia berjalan.

Sssstt.. Sssssttt.. Tania menghentikan langkah saat dia mendengar suara mendesis. Namun suara itu tidak muncul kembali. Tania melanjutkan perjalanannya.

Ssssttttt… Ssssttttt.. Suara itu kembali muncul. Kali ini Tania berfikir bahwa itu adalah Vans yang sengaja menggodanya. “Akhirnya kau mengikutiku juga.” Batin Tania.

Dia pun kembali melanjutkan perjalannya tanpa menghiraukan suara desisan yang semakin lama semakin dekat.

Hingga, aaaaa… aaaaa… ular….

Tania berteriak sekuat tenaga saat seekor ular berwarna hijau muncul di depannya meliuk-meliuk seperti tengah memamerkan tariannya.

“Tolonggggg.. tolongggg… ” Tania terus berteriak minta tolong. Dia tidak bisa berbuat apapun selain melakukan berteriak. Sementara ular itu masih terus meliuk-liuk bahkan mulai membuka mulut untuk menggigit Tania.

“Vanss.. tolong…” Teriak Tania lagi sambil memejamkan mata. Gadis itu kini telah pasrah dengan hal-hal buruk yang akan menimpanya saat ini.

“Bukalah matamu! Ularnya sudah pergi.” Kata seseorang yang tak lain adalah Vans.

Tania segera membuka mata, melihat Vans di depannya. Kemudian memeluk laki-laki itu dengan sangat erat.

“Vans aku takut. Ular itu akan menggigitku.” Tania menangis di pelukan Vans.

“Sudah, sudah. Ular itu sudah pergi. Kau aman.” Vans berusaha menenangkan Tania yang masih saja histeris.

Pelan-pelan Tania melepas pelukannya. Kepala gadis itu melihat ke kanan dan ke kiri memeriksa ular yang tadi nyaris membuat nyawanya melayang.

“Seharusnya kau lebih berhati-hati. Kau berjalan terlalu jauh. Tempat ini tidak aman.” Omel Vans.

“Apa pedulimu?” Tania mendorong tubuh Vans hingga hampir terjatuh kemudian dirinya berlari meninggalkan Vans.

“Tania.. Tania..” Seru Vans namun Tania tidak menghiraukannya.

Tania merasa sangat sakit hati dengan Vans. Laki-laki itu hanya bisa mengomel. Tidak bisakah dia bersikap lebih manis. Apakah seperti ini cara dia memperlakukan istrinya?

“Tania, batu di sini besar-besar. Berhenti berlari! Jalan pelan-pelan!” Suara Vans terdengar jauh dari Tania. Gadis itu berusaha membalas dendam dengan tidak mempedulikan apa yang Vans katakan.

Beeegggg, kaki Tania terantu batu. Menyebabkan tubuh gadis ini oleng dan…

“Tania..” Wajah Vans tiba-tiba muncul di hadapan Tania dengan kedua tangan kekar yang menopang tubuh gadis itu hingga tidak jadi menyentuh bumi.

Berhadapan dengan wajah Vans dalam keadaan yang sangat dekat seperti ini, membuat Tania bisa melihat kecemasan yang tergambar nyata di wajah laki-laki itu.

“Apa kau takut Vans? Apa kau takut jika aku terluka? Kenapa kau selalu siap menolongku?” batin Tania sambil menahan senyum manisnya.

“Tania, kau tidak apa-apa?” Tanya Vans yang masih membopong tubuh istrinya.

Tania segera menguasai diri. Gadis itu segera berdiri sambil berucap, “thank you Vans”. Kemudian pergi dengan hati berbunga-bunga.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel