Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 6 TRAUMA VANS

“Vans aku menyiapkan bekal makan siang untukmu. Kamu bawa ya!” Ucap Tania sambil menyodorkan kotak makan kepada suaminya.

“Terimakasih tapi aku harus makan siang di restoran dengan klien.” Jawab Vans sekilas kemudian kembali sibuk dengan laptopnya.

“Oh begitu.” Tania dengan wajah sedikit kecewa berusaha memahami keadaan. “Lalu apa yang kau inginkan untuk makan malam? Aku akan menyiapkannya untukmu.” Perempuan itu masih berusaha untuk mencuri perhatian Vans.

“Nanti malam aku akan pulang terlambat ada meeting. Sepertinya aku harus makan malam bersama mereka.”

“Baiklah, aku akan menunggumu pulang.”

“Kenapa? Aku pulang larut. Kau harus istirahat! Kondisimu masih belum sehat.” Kata Vans kemudian berlalu meninggalkan Tania.

“Sombong sekali”, gerutu Tania.

“Tania, Mama akan pergi sebentar. Kau butuh sesuatu?” Bu Meera datang dengan tas ditangannya.”

Tania menggeleng dengan wajah masam.

“Kenapa Sayang?”

“Tidak apa-apa Ma”, jawab gadis itu sekenanya.

“Heii, apa yang kau fikirkan Nak? Kau merasa sakit?” Tanya Bu Meera sambil memeriksa kening Tania.

“Tidak Mama, bukan Tania yang sakit tapi Vans.”

Bu Meera tertawa kecil mendengar rengekan menantunya. “Kenapa Vans? Dia mengganggumu?”

“Mama.. bagaimana bisa Mama memiliki anak yang sangat sombong seperti Vans? Mama orang yang sangat baik. Tapi dia…” Tania menghembuskan nafas panjang sambil melempar tubuhnya di sofa.

“Sayang.. kenapa kau marah? Mungkin Vans hanya bercanda.”

“Ma.. Mama selalu bilang kalau Vans mencintaiku, sangat mencintaiku. Tapi, menyentuh masakan Tania saja dia tidak mau.”

Bu Meera masih tersenyum melihat kelakuan Tania, dia sama sekali tidak menyangka jika menantunya masih sangat kecil. Perempuan itu pun mendekat ke arah Tania, mengangkat dagu Tania agar melihatnya.

“Hmmm..” Ucap Bu Meera sambil tersenyum. Tania yang tidak mengerti dengan maksud Bu Meera hanya diam memperhatikan Ibu mertua rasa Ibu kandung tersebut.

“Hmmm..” sekali lagi Bu Meera berdehem. Lama-lama Tania tersenyum. Dirinya seperti mengerti apa yang diinginkan Sang Mertua.

“Nah, itu baru namanya Tania. Sekarang kau bersiaplah! Mang Ujang akan mengantarmu ke salon langganan Mama, lalu mampirlah ke butik.”

“Makasih Ma..” Tania memeluk Bu Meera hangat.

“Sama-sama Sayang, jaga dirimu baik-baik!” Balas Bu Meera.

*****

“Tania”. Panggil Vans saat dirinya membuka pintu kamar dan mendapati ruangan yang gelap. Vans tahu benar jika Tania takut akan gelap.

“Tania”, panggil Vans lagi. Laki-laki itu pun masuk ke dalam kamar saat dilihatnya sebuah cahaya kecil dari dalam.

Kaki Vans berhenti melangkah saat dirinya melihat sebuah tulisan “I LOVE YOU” yang terbentuk dari lilin-lilin kecil di lantai. Vans tersenyum, dirinya merasa senang. Vans mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari sesosok orang yang sangat ingin dia lihat.

Dan orang itu pun dia temukan. Perempuan yang sangat cantik dengan balutan baju tidur berwarna putih memberi kesan sexi. Kulit putih dan bersih yang terlihat dari ujung kaki hingga paha membuat laki-laki yang melihatnya tidak ingin melepaskan pandangan. Rambut wangi yang dia biarkan tergerai membuat sempurnanya makhluk ciptaan Tuhan ini.

“Ta.. Ta.. Tania kau belum tidur?” Vans gelagapan. Apalagi saat ini Tania mendekat ke arahnya.

“Bagaimana bisa Tania tidur tanpa Vans?” Jawab Tania dengan gaya menggoda sambil mengalungkan tangannya di leher Vans.

Vans merasa panas saat ini. Dia tidak bisa menahan sesuatu yang bergejolak dari dalam dirinya. Apalagi saat ini Tania tepat berada di depannya dengan jarak yang sangat dekat hingga dia bisa merasakan deru nafas perempuan itu.

Ya, mau bagaimana lagi. Vans adalah laki-laki normal dewasa yang memiliki kebutuhan akan hal tersebut. Sehingga adik kecil Vans yang bawah akhirnya bangun juga. Menambah gelora dan rasa panas yang kini melanda diri Vans. Ditambah suara musik klasik yang menambah syahdu malam romantis ini.

Tania pun semakin agresif. Tangannya muali membuka jas yang masih melekat di dada Vans. Membuat laki-laki itu mulai membuang nafas panjang.

“Aku memang tidak mengingat apapun kejadian tentang kita Vans. Aku lupa semuanya. Tapi aku yakin bahwa kau adalah orang yang terbaik untukku. Entah keyakinan seperti apa itu. Yang aku tahu saat ini, aku selalu ingat bahwa aku mencintai Vans.” Ucap Tania dengan wajah sedikit malu-malu kemudian menunduk.

Vans sudah tidak tahan lagi. Kalimat yang Tania keluarkan adalah kalimat yang selalu ingin dia dengar dari dulu. Vans mendekatkan kepalanya ke bibir Tania. Lalu cuuppp, sebuah ciuman mendarat di bibir Tania.

Vans melepaskan kecupan bibirnya. Dielus pipi Sang Istri yang tampak merona karena malu. Kemudian Vans melanjutkan lagi kecupan kedua, kecupan yang lebih dalam yang membuat rasa panas didirinya semakin membara. Yang membuat ciuman itu semakin menggelora.

Sementara Tania, dirinya merasa sangat senang. Beberapa hari ini dirinya sangat menunggu moment-moment indah ini. Dirinya sudah siap, bahkan untuk hal yang lebih dari ini.

Tapi tiba-tiba ingatan Vans kembali pada kejadian kecelakaan itu. Gambaran-gambaran dan suara-suara mengerikan saat kecelakaan itu tiba-tiba muncul. Tergambar jelas bagaimana Tania berteriak ketakutan saat itu.

“Tidak!” Teriak Vans sambil melepaskan pagutan bibirnya. Lalu dengan kasar mendorong tubuh Tania ke sofa.

“Auuu, Vans…” Teriak Tania kesakitan. Apalag dia juga sangat bingung dengan kelakuan Vans. “Apa yang terjadi?” Fikirnya.

“Tania, maaf, maafkan aku Tania.” Ucap Vans kemudian berlalu meninggalkan kamar.

“Vans..” Tania berteriak memanggil Vans. Berharap Sang SUami akan kembali dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun dirinya salah, Vans melangkah semakin cepat membuka pintu kamar dan pergi entah kemana.

“Vansss”, ucap Tania lirih dengan air mata yang telah membanjiri netranya.

*****

“Vans”, panggil Bu Meera saat mendapati Sang Putra tengah berdiri di dekat kolam ikan di taman rumahnya.

“Mama”, jawab Vans sedikit terkejut karena kedatangan Sang Ibu.

“Vans, Mama ingin bicara.” Kata Bu Meera, kemudian dibalas anggukan kepala dari Vans.

“Apa yang terjadi denganmu Nak? Kenapa kau perlakukan Tania seperti itu?”

“Apakah Tania…”

“Ah tidak, Tania tidak mengatakan apapun kepada Mama. Mama tadi malam melihat Tania menangis tersedu-sedu hingga larut. Mama tidak tega melihatnya. Apa yang kau lakukan Vans?”

“Maafkan Vans Ma. Vans masih tidak sanggup menerima semua ini. Melihat wajah Tania membuat Vans ingat akan kecelakaan itu. Kecelakaan yang telah merenggut calon suami Tania dan membuat dirinya amnesia. Vans masih tiak bisa lupa Ma.” Vans mengungkapkan isi hatinya.

“Nak lihatlah ikan-ikan itu, mereka begitu bebas. Mereka tidak pernah kebingungan bagaimana cara mendapatkan makanan. Mereka juga tidak pernah mengeluh. Ikan-ikan itu menjalani kehidupan apa adanya. Mereka menjalankan apa yang di hadapan mereka.”

“Maa..”

“Vans, tidak ada yang pernah menginginkan kecelakaan itu. Tidak ada yang pernah menginginkan kejadiannya akan seperti ini. Ini semua sudah digariskan Vans. Ini adalah takdir kalian berdua. Jangan pernah menyia-nyiakan apa yang telah Tuhan berikan Vans!”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel