Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 5 MENJADI ISTRI VANS

“Iya baiklah, kita akan tinjau tempat itu besok. Kamu atur semuanya. Ok, bye.” Vans menutup sambungan ponselnya kemudian membuka pintu kamarnya. Rasa lelah yang menderanya setelah seharian bekerja membuat Vans ingin segera meletakkan tubuh di tempat tidur dan mengakhiri hari ini dengan mimpi indah.

Kraakkk, pintu terbuka. Mata Vans terbelalak, ini seperti mimpi. Tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Perempuan cantik yang sangat dia cintai kini berdiri di depannya menyambut kedatangannya dengan senyum manis menghiasi bibir.

Brakkk, tanpa sengaja Vans menjatuhkan ponsel yang masih berada di tangan. Tidak hanya tangannya yang lemas, bahkan kaki Vans pun juga terasa lemaas.

“Vans”, panggil perempuan itu lembut dengan wajah bingung.

“Ee, ee..” Vans mencari-cari alasan sambil mengambil ponselnya. “Tania kau, kau sudah pulang. Bagaimana keadaanmu?” Vans sangat gemetar menanyakan hal itu. Dia pun mengalihkan perhatian dengan masuk ke kamar dan menaruh tas kerjanya di meja.

“Aku sudah sembuh. Dokter sudah mengizinkanku pulang. Kenapa kau tidak menjemputku Vans?” Tanya Tania lugas.

Pertanyaan itu membuat Vans sedikit terkejut hingga dirinya batuk-batuk.

“Vans, kau tidak apa-apa?” Tania setengah berlari mendekati Vans sambil mengelus punggung laki-laki itu.

“Tidak, tidak apa-apa.” Vans sedikit menghindar agar Tania menghentikan gerakan tangannya. Vans tidak bisa diperlakukan semanis ini. “Maaf, hari ini aku sangat sibuk. Aku tidak bisa menjemputmu Tania.” Kata Vans berusaha setenang mungkin.

“Baiklah tidak apa-apa. Sebaiknya kau mandi.” Ucap Tania yang dibalas dengan anggukan dari kepala Vans.

Vans pun segera bpergi ke kamar mandi. DI dalam dia berusaha menenangkan detak jantungnya yang bergerak sangat cepat. Entah berapa lama dirinya tidak lagi mendengar kalimat indah yang keluar dari mulut Tania, dia pun juga sudah lama sekali tidak melihat senyum Tania yang sangat manis seperti yang diberikan Tania saat menyambutnya pulang.

Ya, sejak kejadian saat Vans mengungkapkan cinta kepada Tania. Saat itu juga Vans mulai tahu jika Tania telah memiliki hubungan serius dengan Bintang. Dan saat itu juga Vans mulai patah hati yang mulai merubah hidupnya.

Tapi kini semua telah kembali. Senyum Tania sudah muncul kembali. Kalimat-kalimat indah yang dulu selalu gadis itu ucapkan kepadanya kini mulai terucap kembali dari bibir cantik itu.

Vans tersenyum. Dia merasa sangat bahagia. Impian-impian yang dia fikir tidak akan pernah menjadi nyata kini sudah ada di depan mata.

Namun tiba-tiba senyum itu memudar saat memori Vans kembali pada kejadian kecelakaan itu. Masih bisa tergambar dengan jelas bagaimana keadaan malam itu. Suara-suara klakson, jeritan, pecahan, ahh tiba-tiba semua datang kembali di otak Vans.

“Tidak..” Vans berteriak. Jantungnya kembali berdetak dengan sangat kencang. Nafasnya mulai tak beraturan. Apakah ini yang dinamakan trauma?

Vans keluar dari kamar mandi setelah berusaha keras menguasai diri.

“Vans apa yang kau lakukan?” Tiba-tiba Tania berlari ke pojokan sambil menutup kedua matanya. Vans yang tidak mengerti hanya diam dalam kebingungan.

“Vans, kenapa kau hanya memakai handuk?” Ucap Tania lagi yang membuat Vans mulai sadar jika dirinya sudah tidak sendiri lagi di kamar ini.

“Sory.. sory..” Vans gelapan.

“Ha ha ha..” Tania sedikit tertawa. “Aku sudah menyiapkan baju gantimu di tempat tidur. Pakailah baju itu sekarang juga. Lalu katakan kepadaku setelah kau selesai.”

Vans pun mulai melakukan apa yang Tania perintahkan. Ini adalah hal baru bagi Vans. Dia tidak tahu jika ini yang akan terjadi jika dirinya telah menikah.

“Bukalah matamu! Aku sudah selesai.” Ucap Vans. “Tania, tidurlah! Aku akan tidur di sofa.” Imbuh Vans kemudian sambil membaringkan dirinya di sebuah sofa panjang.

Tania merasa bingung dengan sikap Vans. “Bukankah suami istri seharusnya tidur bersama?” Batinnya.

Malam sudah semakin larut, namun Tania masih belum bisa memejamkan mata. Entah karena rumah baru ini yang membuatnya tidak bisa tidur atau ada hal lain.

“Errhhh”, sebuah suara erangan halus kelur dari mulut Vans. Tampak Vans sedang menggigil. Tania berjalan mendekati Vans sambil membawa selimut dan memasangkan di tubuh Vans. Perempuan itu duduk di sebelah wajah Vans. “Kau sangat tampan Vans, entah kebaikan apa yang pernah kuperbuat selama ini hingga aku memiliki suami sepertimu.” Ucapnya lirih. “Tapi kenapa kau begitu kaku kepadaku? Bukankah suami istri tidur di satu tempat tidur? Ahh, bodoh sekali aku. Mungkin Vans mengira aku masih sakit. Atau mungkin Vans memang laki-laki yang sangat sopan. He.. he.. Vans, kau sangat tampan. Kau juga begitu baik.” Imbuhnya.

Tania pun kembali ke tempat tidurnya, berusaha menutup mata. Dan berharap hari ini akan berakhir dengan mimpi yang sangat indah.

*****

Hmm, aroma apa ini? Vans yang masih menutup mata di tempat tidur mulai merasakan aroma sedap yang belum pernah dia rasakan selama ini. Vans enggan untuk membuka mata, namun aroma sedap ini tidak bisa membiarkan dirinya tetap tidur. Godaannya sungguh luar biasa.

Vans membuka mata, merasakan dengan sungguh-sungguh aroma apa yang begitu kuat dan bisa masuk ke kamarnya. “Ini seperti makanan. Makanan apa? Mama tidak pernah memasak sesedap ini. Apakah ini masakan chef?” Batinnya.

Vans semakin tertarik untuk mendekatinya. Apalagi setelah dirinya membuka pintu kamar, aroma ini lebih sedap dari yang dirasakan sebelumnya. Vans berjalan keluar kamar. Namun di saat yang bersamaan Bu Meera juga keluar dari kamar.

“Mama di sini?” Tanya Vans sedikit terkejut karena Sang Ibu masih dengan baju tidur yang artinya Bu Meera baru saja bangun. Lalu siapa yang memasak? Chef di rumah ini tidak berani melakukan sesuatu tanpa perintah Bu Meera atau dirinya.

“Mama baru bangun. Ini aroma apa? Sedap sekali.” Kata Bu Meera.

“Vans juga tidak tahu Ma. Ini seperti makanan. Tapi siapa yang memasak?” Vans masih bertanya-tanya.

Kemudian Bu Meera tersenyum kecil setelah mengingat sesuatu. “Siapa lagi? Menantu Mama lah yang masak.” Katanya kemudian segera turun menuju dapur.

“Masak apa Sayang?” Tanya Bu Meera sambil mendekati Tania diikuti Vans dari belakang.

“Mama.. Vans, kau sudah bangun?” Tania memperhatikan Vans yang membuat Bu Meera tersenyum senang.

“Sudah”, jawab Vans sekenanya sambil mengambil minum di kulkas.

“Vans, aku mencoba masak makanan kesukaanmu. Kata Mama kau sangat menyukai rendang.” Ucap Tania kepda Vans namun laki-laki itu hanya diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun.

“Waow, the perfect rendang. Bagaimana bisa kau memasak seenak ini Tania?” Bu Meera mencicipi masakan Tania. Tania sangat senang mendengarnya.

“Vans, kau juga bisa mencicipinya. Mungkin ada bumbu yang kurang.” Kata Tania masih mencari perhatian Sang Suami.

“Nanti saja, aku ke atas dulu.” Kata Vans sambil berlalu.

Jelas sekali raut kecewa muncul di wajah ayu Tania. Ini semua dia lakukan agar Vans terkesan dengan dirinya. Tapi tetap saja, Vans masih kaku.

“Mungkin anak itu ingin mandi. Biarkan saja! Mama sudah tidak sabar lagi. Mama harus makan masakan kamu.” Bu Meera mengambil nasi di piringnya.

“Mama kan lagi diet?” Tania mengingatkan.

“Diet, apa itu? Mama sudah lupa.” Kata Bu Meera sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel