BAB 4 MENIKAH
“Bagaimana saksi? Sah? Sah?”
“Sah..”
“Alhamdulillah..”
Lantunan doa diucapkan setelah akad nikah pernikahan Vans dan Tania. Tania yang baru saja siuman hanya bisa melihat ke kiri dan ke kanan, tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Namun Bu Meera selalu di sisinya. Perempuan itu dengan senang hati menjelaskan semua kebingungan-kebingungan Tania dengan ceritanya.
“Ma, apakah semua ini benar?” Tanya Vans yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya.
“Semua ini tidak salah Vans. Kita melakukan semua ini untuk gadis itu.” Ucap Bu Meera sambil melihat ke arah Tania yang sudah mulai tersenyum. “Setidaknya Tania senang dengan pernikahan ini.” Imbuhnya.
*****
Satu bulan berlalu. Keluarga itu kini sudah berada di kota M. Kota baru yang mereka harap akan membawa kehidupan baru untuk Tania dan juga untuk Vans.
Keadaan Tania juga semakin membaik. Meskipun sampai saat ini dirinya masih berada di rumah sakit kota, namun kondisinya semakin hari semakin membahagiakan. Tania mendapatkan perawatan terbaik. Belum lagi Bu Meera dan juga Vans yang selalu menjaga dan membantu Tania.
“Mama di sini.” Seru Tania saat dirinya melihat Sang Ibu Mertua yang baru saja datang di rumah sakit saat dirinya tengah menjalani terapi berjalan.
“Hai Sayang, bagaimana keadaanmu?”
“Tania sangat baik, Mama lihatlah ini!” Tania memulai aksinya dengan melepaskan pegangan tangannya, kemudian mencoba melangkahkan kakinya satu persatu.
“Tania, kau sudah bisa..” Bu Meera tidak melanjutkan kalimatnya. Dirinya sudah sangat bahagia melihat pemandangan ini. Beberapa hari yang lalu gadis itu masih terkulai lemas di tempat tidur, tapi kini dia sudah mulai kembali bisa berjalan.
“Hati-hati Tania!” Tegur Bu Meera disaat Tania sangat bersemangat melangkahkan kaki. Seperti anak kecil yang baru bisa berjalan.
“Tania sudah sehat Ma. Kapan kita pulang?” Seru Tania.
Tapi tiba-tiba kakinya terasa lemas, hingga seperti mati rasa. Yang membuat langkahnya mulai meleyot, terhuyung, dan….
Beggg…
Tania terjatuh. Tania tidak terjatuh di lantai, melainkan di dada bidang seorang laki-laki tampan berkulit putih, hidung mancung, dan bermata elang. Jantung Tania berdetak sangat cepat, sampai laki-laki itu bisa merasakannya.
“Tania kau tidak apa-apa?” Tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Vans suaminya.
“Vans..” Ucap Tania sambil memandang wajah suaminya yang begitu dekat dengannya. Ya, meskipun sudah satu bulan mereka menikah tetapi Tania baru kali ini melihat wajah Vans dengan jelas.
“Tania, Sayang, apa yang terjadi Nak? Kau tidak apa-apa?” Tanya Bu Meera sambil berlari menemui Tania dan Vans. Perempuan itu sangat khawatir dengan menantunya.
Tania menggeleng sambil tersenyum manis.
“Bagaimana Tania? Apakah kau ingin cepat pulang?” Tanya dokter yang memeriksa keadaan Tania.
“Iya dokter, aku sangat bosan di sini. Bolehkah aku pulang?” Pinta Tania dengan kedua tangan disatukan di depan dada. Membuat Bu Meera dan dokter di situ tertawa terbahak menyaksikan tingkahnya.
“Baiklah, karena keadaanmu sudah sangat baik kau bisa pulang hari ini. Tapi ingat, jangan lupa minum obat, makan yang teratur, istirahat yang cukup, dan jangan stres!” Kata dokter yang membuat Tania girang.
“Siap dokter! Terimakasih banyak.” Ungkap Tania dengan sangat senang. Begitupun Bu Meera yang juga sudah tidak sabar ingin membawa Sang Menantu pulang ke rumah.
“Tania, jangan banyak bergerak! Duduklah di situ! Mama yang akan membereskan barang-barang ini.” Seru Bu Meera yang sedikit khawatir mellihat Tania yang tidak bisa diam. “Kamu mencari siapa Tan?” Imbuh Bu Meera lagi saat Tania celingak celinguk melihat keluar pintu.
“Dimana dia Ma?”
“Siapa?”
“Dia, suami Tania.” Jawab Tania malu-malu yang membuat Bu Meera gemas dan mendekatinya.
“Vans, dia balik lagi ke kantor.”
“Jadi Vans tidak menjemput kita?” Tania berujar lirih sambil menundukkan kepala. Bu Meera bisa melihat kekecewaan di mata gadis itu.
“Hai, suamimu hanya bekerja Nak. Nanti kita akan bertemu dengannya di rumah. Dan setelah itu dia kan menjadi milikmu seutuhnya.” Bu Meera menggoda Tania.
“Ahh Mama..” Jawab tania malu-malu. Bu Meera terbahak melihatnya.
“Ma, bolehkah Tania bertanya?”
“Ada apa?”
“Apa Vans dan Tania sudah saling kenal sebelumnya?”
“Kenapa kau menanyakan itu?”
“Tidak, Tania hanya merasa sudah lama melihat Vans.”
“Bukankah mama sudah bilang kalau Vans adalah teman masa kecilmu. Kalian berdua dipertemukan kembali setelah sekian lama.”
“Lalu kecelakaan itu terjadi sebelum kami menikah. Tapi Ma, apakah Vans sempat memiliki perasaan khusus sebelum itu? Bu Meera sedikit terkejut mendengar pertanyaan Tania.
“Ah maksud Tania, apakah…”
“Sayang, Vans sangat mencintaimu.” Kata Bu Meera yang sepertinya tahu arah pembicaraan Tania.
“Benarkah?” Tanya Tania malu-malu.
“Mana mungkin Mama membohongimu Nak? Lalu bagaimana Vans menurutmu?” Bu Meera memang sengaja membuat Tania berbunga-bunga.
“Menurut Tania, Vans sangat tampan, Vans juga baik.. Ah Mama. Tania malu…” Tania menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Bu Meera tersenyum senang melihat tingkah Tania. Dirinya merasa sangat bahagia saat ini. Meskipun cerita itu salah, tapi biarlah. Kadang kehidupan memang senang mempermainkan hidup seseorang.
“Bu Meera semua telah siap.” Seseorang dengan seragam hitam driver mengejutkan mereka.
“Ah baiklah. Tania kau sudah siap pulang ke rumah?” Tanya Bu Meera.
“Siapp”, jawab Tania sambil meletakkan telapak tangan kanannya di alis memberi penghormatan kepada Bu Meera yang sangat dia sayangi.
