Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 3 KEPUTUSAN BU MEERA

Vans duduk di salah satu sudut kafe sambil meneguk sebotol minuman yang dia bawa. Bibirnya merekah saat dirinya melihat Tania memasuki kafe tersebut.

“Tania”, seru Vans yang sangat bahagia melihat Sang Pujaan Hati. Vans pun bergegas hendak menemuinya. Namun niat itu terhenti karena seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di belakang Tania dan memeluk pinggang perempuan itu membawanya masuk ke dalam kafe. Vans pun kembali duduk dengan hati kecewa. Diteguknya kembali minuman memabukkan itu sambil tetap memperhatikan dua sejoli yang sedang berbahagia.

Ah Vans begitu bodohnya dirimu. Kau tahu itu sangat menyakitkan, melihat perempuan yang sangat kau cintai bercanda ria dengan laki-laki lain. Tapi kau tetap memperhatikannya sambil ssesekali menyunggingkan senyum kala melihat Tania tertawa lepas. Kenapa Vans? Apa karena kau tidak bisa membuat Tania tertawa seperti itu saat bersamamu?

“Aku pesan apa Bintang?” Tanya Tania kepada kekasihnya.

“Terserah kau Sayang, hari ini ulang tahunmu dan kau bebeas melakukan apapun hari ini.” Jawab Bintang.

Tania pun mulai menyebutkan beberapa menu makanan, sementara Bintang sibuk menghitung isi dompetnya. Vans tersenyum melihat pemandangan ini.

Vans memanggil manager dan berkata, “lihatlah! Perempuan itu bernama Tania. Buat pengaturan ulang tahun istimewa untuknya sekarang. Aku ingin dia bahagia.”

“Baik Tuan”, jawab manager tersebut.

“Permisi, ini makanannya Tuan Nona.” Seorang waiters tiba-tiba datang dengan membawa beberapa hidangan makanan yang terlihat sangat lezat.

“Tapi kami tidak memesan makanan….” Bintang sedikit bingung, karena makanan itu bukan pesanannya.

“Ini kue ulang tahun untuk Nona. Selamat ulang tahun Nona Tania.” Ucap beberapa waiters yang membawa kue ulang tahun berukuran besar.

“Waow, terimakasih.” Tania tampak sangat bahagia. “Bintang, ini semua kejutan darimu? Thank you so much Honey.” Katanya dengan raut wajah yang berbinar. Apalagi saat beberapa tamu kafe tersebut mulai menyanyian lagu selamat ulang tahun dan mengucapkan ucapan selamat tahun untuk Tania. Tidak bisa dibayangkan bagaimana bahagianya Tania saat ini.

Sementara Bintang sangat bingung dengan semua ini. Dirinya sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang paling dirinya takutkan saat ini adalah uang. Ya, sedari tadi dia hanya mengira-ngira berapa harga makanan-makanan yang tiba-tiba terhidang di mejanya.

Lalu Vans? Seperti yang kalian fikirkan. Vans hanya duduk di kursinya sambil tersenyum bahagia melihat Tania yang sangat bahagia malam ini.

“Apa? Sudah dibayar?” Ucap Bintang dengan terkejut setelah mendengar ucapan kasir restoran itu. “Saya belum membayar.” Ucap Bintang lagi.

“Iya Tuan, hari ini ada kejutan dari kafe kami untuk tamu yang sedang berulang tahun.” Kata manager.

“Sejak kapan ada hal semacam itu?” Batin Bintang bingung.

“Terimakasih Pak, siapkan bill nya akan saya bayar semuanya.” Kata Vans kepada manager kafe setelah Tania dan Bintang meninggalkan tempat itu.

“Jadi ini semua adalah permainanmu Tuan Vans?” Ucap Tania sambil berjalan menuju Vans. Vans sangat terkejut melihat kedatangan Tania. Bukankah dia sudah pergi?

“Tania, ini semua…”

“Cukup Vans. Apa yang kau inginkan dengan semua ini? Kau ingin membuktikan kepada Bintang bahwa kau yang bisa membahagiakanku? Atau kau ingin merendahkan Bintang?”

“Tania, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti…”

“Sudah, cukup. Bahkan kau tidak pantas untuk meminta maaf. Aku sangat membencimu Vans. Aku tidak menyangka kau akan bertindak seperti ini. Sekali aku katakan, aku sangat mencintai Bintang. Apapun Bintang, siapapun Bintang tidak akan menggoyahkan cintaku kepadanya.” Kata Tania tegas. “Ah maaf aku lupa.” Kata Tania sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Ini undangan pernikahan kami, saya harap Tuan menyempatkan waktu untuk turut berbahagia bersama kami.” Imbuh Tania sambil memberikan undangan pernikahannya.”

“Vans, kau sedang apa Nak?” Tanya Bu Meera mengejutkan Vans dalam lamunannya tentang masa lalu.

“Mama..”

“Nak, kau sedang melamun? Mama tidak suka melihatnya Vans. Kau harus bangkit Nak! Hidup tidak akan berubah jika kau terus mengingat masa lalu. Lupakan masalalumu! Kau memiliki masa depan yang lebih baik.”

Vans menghembuskan nafas dalam. Ibunya benar, semua tidak akan berubah jika dirinya masih terpuruk dalam masa lalu. Seperti yang sering dirinya lakukan. “Bagaimana Tania Ma?”

“Tania baik, dokter berkata jika dalam beberapa jam kemudian Tania akan siuman.”

“Syukurlah kalau begitu.” Vans mengusap wajahnya dengan kedua tangan.

“Vans, mama sudah membuat keputusan. Kita akan pindah ke kota M bersama Tania.” Ucap Bu Meera tegas.

Vans sedikit terkejut mendengarnya, tetapi akhirnya dia menganggukkan kepala setelah mengingat apa yang dokter katakan untuk memberikan kehidupan baru kepada Tania.

“Dan kau harus menikah dengannya setelah Tania siuman.”

“Apa?”

“Iya Vans, Mama sudah memikirkannya dengan matang. Tidak mungkin kita memberikan kehidupan baru kepada Tania tetapi membiarkan hidupnya tetap kosong.”

“Tapi Ma, Tania tidak mencintai Vans. Dia mencintai…”

“Bintang, dulu Tania mencintai Bintang dan akan menikah dengannya. Tapi Tuhan memberikan takdir lain untuk itu. Dan mama yakin ini adalah takdir kalian.”

“Tidak Ma, Vans tidak mungkin melakukan itu tanpa persetujuan Tania.” Vans masih bersikeras.

“Bagaimana jika Tania setuju?” Kata Bu Meera yang membuat Vans sedikit terkejut. “Vans, saat ini Tania dalam keadaan kosong. Dia tidak ingat apapun. Dia membutuhkan kita untuk melanjutkan hidupnya. Anak itu tidak memiliki siapapun Vans. Mama sudah menganggap Tania seperti putri Mama sendiri, Mama tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada putri Mama.”

“Tapi Ma, please, tolong mengertilah. Bagaimana bisa Vans..”

Bu Meera menutup bibir Vans dengan jari telunjuknya. Ini adalah pertanda jika perempuan itu sudah tidak ingin lagi dibantah. Dan Vans sudah sangat hafal dengan ini.

“Apa kau masih mencintai Tania?” Tanya Bu Meera tegas.

“Vans sangat mencintai Tania Ma, dulu, sekarang, dan selamanya.”

“Lalu…”

“Ma…”

“Mama akan mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kalian. Pernikahan ini akan dilaksanakan secara sederhana.” Bu Meera menyelesaikan kalimatnya kemudian pergi meninggalkan Vans seorang diri.

Vans melempar tubuhnya di sebuah sofa empuk. Dirinya masih tidak habis fikir bagaimana Ibunya bisa memiliki ide seperti itu. Bagaimana bisa dirinya menikah dengan Tania? Sementara Tania menolak cintanya, bahkan terang-terangan perempuan itu membencinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel