BAB 2 TANIA AMNESIA
“Ibu Anggun”, seru Vans saat melihat perempuan tengah baya tengah menangis. Vans mengenal perempuan, dia adalah salah satu pengurus Panti Asuhan tempat Tania tinggal.
“Nak Vans”, seru Bu Anggun setelah melihat Vans.
“Bagaimana keadaan Tania Bu?” Tanya Vans. Dia berusaha sekuat tenaga untuk berjalan mendekati perempuan itu.
“Bintang telah meninggal dalam kecelakaan itu Nak, jasad Bintang telah dikubur kemarin.” Terang Bu Anggun sambil terus menangis.
Vans sangat terpukul mendengarnya. Satu lagi nyawa melayang dari orang yang sangat dia kenal. Berapa nyawa yang telah melayang karena perbuatannya? Tubuh Vans sedikit oleng karena berita itu. Dia seperti tidak mampu lagi untuk berdiri di atas kakinya.
“Vans”, Bu Meera dengan sigap memegang tubuh Vans agar tidak jatuh.
Vans segera menguasai dirinya. Ada satu hal yang bisa membuatnya lebih kuat. “Lalu Tania? Bagaimana keadaan Tania?” Ujarnya.
“Gadis malang, tepat sehari sebelum pernikahan calon suaminya meninggal. Dan kemarin, yang seharusnya menjadi hari pernikahan bagi Bintang dan Tania. Harus berubah menjadi hari pemakanan untuk Bintang.” Bu Anggun terus menangis tanpa memberikan jawaban yang pasti bagaimana keadaan Tania.
Vans segera berdiri melihat ruang kaca yang berada di depannya. Meskipun samar dirinya bisa melihat bagaimana keadaan Tania. Perempuan cantik itu kini tampak tak berdaya dengan berbagai macam selang yang menempel di tubuhnya. “Tania”, ucap Vans sendu.
Tak lama seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Vans.
“Bagaimana keadaan Tania Dok?” Tanya Vans yang keadaannya sendiri pun juga masih lemah.
“Tuan Vans, apakah anda sudah baik-baik saja?” Dokter itu balik bertanya, pasalnya dia adalah dokter yang juga merawat Vans.
“Dok, bagaimana Tania?” Tanya Vans lagi kali ini dengan emosi.
“Keadaan Tuan masih belum sehat, seharusnya Tuan Vans istirahat di kamar.”
“Dokter, saya bertanya bagaimana keadaan Tania. Jangan alihkan pembicaraan ini! Saya tidak akan tenang sebelum kau mengatakan jika Tania baik-baik saja.” Vans berkata dengan marah sambill memegang kerah baju dokter.
“Tania mengalami pendarahan di otak, saat ini kondisinya sedang kritis. Kita butuh waktu 24 jam untuk terus memantau keadaanya saat ini. Sebelum dia keluar dari masa kritisnya, dia akan terus berada di sini dengan beberapa alat bantu.” Kata dokter tersebut yang akhirnya mengatakan keadaan Tania yang sebenarnya.
“Apa? Dokter selamatkan Tania! Tolong, selamatkan tania dok!” Ucap Vans sambil menangis dan menjatuhkan dirinya di lantai.
“Kami akan mengusahakan yang terbaik Tuan, lebih baik Tuan istirahat sekarang. Kondisi Tuan Vans juga masih belum stabil.” Kata Dokter itu.
Bu Meera yang sedari tadi memperhatikan Vans, mendekat ke arah putranya. Dan membantu Vans untuk kembali ke ruang perawatan.
“Mama, Tania harus selamat. Tidak boleh terjadi apa-apa dengan Tania. Tania harus selamat Ma. Vans, Vans tidak akan memaafkan diri Vans sendiri jika sesuatu terjadi kepada Tania.” Ucap Vans sambil menangis dipelukan Sang Ibu.
“Iya Vans, kita akan berdoa untuk kesembuhan Tania.”
*****
“Tuan Vans, Bu Meera, saya ingin bicara tentang keadaan Tania.” Kata dokter setelah memanggil Vans dan Bu Meera ke ruangannya.
“Bagaimana keadaan Tania dok?” Tanya Vans yang kini telah melepas seragam pasien rumah sakit dan kembali memakai setelan jas yang biasa dia kenakan.
“Lihatlah!” Dokter tersebut memperlihatkan hasil CT-SCAN dari otak Tania. “Ada kerusakan kecil di sini yang disebabkan karena benturan atau semacamnya. Hal ini mengakibatkan pasien melupakan kejadian yang telah dilakukannya. Bisa kejadian dalam jangka dekat atau kejadian dalam jangka panjang yang biasa kita sebut dengan amnesia.”
“Jadi Tania lupa dengan peristiwa kecelakaan itu?”
“Tidak hanya kecelakaan itu, dia juga bisa lupa dengan apa yang telah terjadi setahun yang lalu, dua tahun yang lalu, bahkan bisa jadi dia tidak ingat apapun.”
“Apakah itu berbahaya untuk kesehatannya?”
“Sejauh ini kami belum bisa memastikan hal tersebut, setelah kondisi Tania stabil kami akan melakukan beberapa tes kembali.”
“Lakukan yang terbaik untuk Tania dok! Berapapun biayanya kami akan menanggungnya.” Kata Bu Meera.
*****
“Tania Sayang kau sudah sadar Nak.” Bu Anggun gembira saat melihat Tania mulai membuka mata sedikit demi sedikit.
Tania melihat sekeliling dengan badan yang masih sangat lemah. “Istirahatlah Nak, Ibu akan memanggil dokter.” Ucap Bu Anggun sambil berlinang air mata dan akan bergegas keluar ruangan.
“Ibu..”, panggil Tania lemah.
Bu Anggun sangat iba melihat gadis itu. Kemudian memeluk Tania erat. “Tania sayang kau harus bersabar Nak. Ini semua adalah musibah yang harus kau terima. Ibu tahu keadaan ini sangat sulit bagimu. Karena kecelakaan ini kau kehilangan cintamu, kau kehilangan calon suamimu, kau kehilangan Bintang. Tapi tenanglah Sayang, kau masih memiliki Ibu. Ibu sangat menyayangimu Tania.” Kata Bu Anggun dengan penuh emosional.
“Ibu..”, Tania terlihat sangat bingung. Dia berusaha mengingat sesuatu, namun dirinya sama sekali tidak ingat. Malah kepalanya yang terasa begitu sakit. Sakit yang semakin sakit hingga dirinya tidak tahan lagi. Beberapa monitor yang terhubung di tubuh Tania memberikan tanda bahwa Tania sedang tidak baik-baik saja.
Para dokter dan perawat segera berlari menuju ruangan Tania. Mereka berjibaku untuk memberikan pertolongan kepada perempuan yang kini keadaannya kritis kembali.
“Kenapa Tania?” Bu Anggun yang tidak mengerti apapun terlihat sangat ketakutan.
“Inilah yang saya takutkan!” Ucap dokter kepada Vans, Bu Meera, dan Bu Anggun. “Kondisi tubuh Tania tidak bisa menerima ingatan yang hilang.”
“Maksud dokter?”
“Jangan mengingatkan Tania tentang kejadian yang akan membuat dirinya sedih ataupun terluka! Itu akan sangat fatal bagi keadaannya saat ini.” Jawab dokter dengan tegas.
“Lalu apa yang harus kami lakukan dok?” Tanya Bu Meera sedih.
“Jauhkan dia dari hal-hal yang akan mengingatkannya tentang masa yang telah dia alami. Berikan kehidupan baru untuk Tania.” Jawab dokter.
Lalu Vans? Apa yang terjadi padanya? Vans berjalan dengan lemah, air mata tak berhenti mengalir dari netranya. Dia meninggalkan ruangan dokter dengan rasa bersalah yang sangat besar. Tania, perempuan yang sangat dicintai olehnya kini harus terbaring dengan kondisi yang begitu parah. Itu semua karena dirinya. “Aku memang tidak pantas untukmu Tania. Aku sangat mencintaimu. Tapi bukan kebahagiaan yang kuberikan melainkan rasa sakit bertubi-tubi yang kuserahkan kepadamu.” Ungkap Vans di dalam hatinya.
“Apa Bu Meera yakin dengan hal ini?” Tanya Bu Anggun setelah Bu Meera mengatakan apa yang ingin dirinya lakukan untuk Tania.
“Saya yakin Bu Anggun. Dan ini juga merupakan salah satu yang bisa kami lakukan untuk kehidupan Tania. Kami akan memberikan kehidupan baru untuk Tania. Saya harap Ibu tidak keberatan.” Bu Meera berusaha meyakinkan.
“Saya tidak keberatan Bu, asal Tania sembuh dan bisa ceria seperti dulu.” Jawab Bu Anggun yang dibarengi dengan senyum dari bibirnya.
