BAB 1 KECELAKAAN MENYERAMKAN
Tiin.. tiin.. tiin.. terdengar suara klakson bersahutan.
“Vans, hati-hati!” Kata Tina dengan wajah yang khawatir saat Vans melajukan mobil tanpa haluan.
“Tidak Tina, tidak. Aku baik-baik saja. Tenanglah!” Jawab Vans berusaha menenangkan adik sepupu yang sangat dia sayangi.
Ciiiittttttt, suara rem yang begitu keras terdengar dari mobil Vans. Laki-laki itu mengerem dengan mendadak saat sebuah mobil hampir ditabraknya.
“Hai, apa kau sedang mabuk? Ini di jalan. Jangan seenaknya sendiri! Fikirkan nyawa orang lain!” Sebuah suara keluar dari pengendara mobil yang berada di belakang Vans. Nyaris saja kecelakaan terjadi.
“Maaf Pak, kami minta maaf.” Seru Tina. “Vans, aku tahu kau sedang kalut. Aku bisa memahami perasaanmu saat ini. Tenangkan dirimu Vans!” Kata Tina sambil memegang bahu Sang Kakak.
“Aku sangat buruk Tina, aku sangat buruk. Aku terlalu egois. Aku tidak memikirkan perasaan mama, bahkan aku menghancurkan diriku sendiri.” Kata Vans sambil menangis saat mobil mereka telah berada di tepi. “Kita harus segera pulang! Aku harus berbicara dengan mama.” Imbuhnya.
“Iya Vans, Tante Meera pasti akan senang melihat ini. Tante pasti akan bahagia melihatmu menyadari semuanya.” Jawab Tina.
Kemudian Vans kembali melajukan mobilnya.
“Aaaa, Vans.. Pelan-pelan!” Tina berteriak saat Vans melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Ya Tina, Vans telah kembali. Vans telah kembali dari sebuah keterpurukan. Sekarang tidak akan ada lagi kesedihan, tidak ada lagi alkohol.” Ujar Vans senyum mengembang.
“Vans, menepilah! Kau masih mabuk Vans. Biar aku yang menyetir.” Ujar Tina yang semakin khawatir dengan keadaan ini.
Tapi Vans sama sekali tidak menghiraukan ucapan Tina. Dia masih tertawa sambil berteriak entah apa yang ada di fikirannya saat ini. Tina benar, Vans masih dalam keadaan tidak sadar. Sementara Tina masih terus meminta Vans untuk menepi meskipun tidak ada hirauan dari laki-laki itu.
Ciiittttt, brraaagggggg, krangggg, tiiiiinn, tiiiinnn, braaagggg, braagggg, kraangggg, tiiiinnnn, brraagg.. Suara rem, dentuman, pecahan kaca, klakson, memenuhi jalan raya. Kecelakaan berantai tidak bisa dihindari.
Deru nafas yang tidak beraturan terdengar dari tubuh Vans. Dirinya berusaha bangun meskipun kepala dan dadanya terasa sangat sakit.
“Tina, Tina, bangun Tina!” Teriak Vans sambil menggerak-gerakkan tubuh adiknya yang berlumuran darah dan tidak berdaya.
Vans mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Suasana yang sangat mencekam. Beberapa mobil terguling, teriakan, dan suara dentuman memenuhi suasana malam jalanan ini. Vans berusaha keluar dari dalam mobil dengan susah payah.
“Aaaaaaa….” Sebuah teriakan dimana Vans sangat familiar dengan warna suara itu. Vans segera menoleh.
“Tania”, ucap Vans saat melihat seorang perempuan berada di dalam mobil dengan pintu yang terbuka. Sementara mobilnya berputar-putar tidak bisa dikendalikan oleh pengemudinya.
Lalu semua gelap. Vans terjatuh di tanah.
*****
“Mama.” Sebuah suara lirih keluar dari mulut Vans setelah dua hari dirinya tidak sadarkan diri.
“Vans, sayang, kau sudah sadar Nak.” Ujar Bu Meera perempuan berumur lima puluh tahunan yang masih memiliki rupa menawan.
“Mama..”, Vans memanggil lagi kali ini dengan mata yang mulai dia buka perlahan.
“Syukurlah Vans kau sudah sadar Nak. Mama sangat takut Vans.” Bu Meera menangis sambil menciumi tangan Sang Putra.
“Tina, bagaimana Tina Ma?” Vans terperanjat kala dirinya tiba-tiba mengingat kejadian malam itu. Apalagi saat ingat bagaimana keadaan Tina terakhir kali dia melihatnya.
“Vans, kuatkan dirimu! Tina telah meninggal Nak. Kami telah menguburkannya kemarin.”
“Apa? Tina. Tidak Ma, tidak. Tina tidak mungkin.”
“Kuatkan hatimu Vans!” Bu Meera mencoba menenangkan putranya yang kini tengah menangis tersedu-sedu.
“Ini semua salah Vans Ma. Vans adalah laki-laki yang buruk. Ini semua tidak akan terjadi jika Vans…”
“Tenang Vans!” Bu Meera memeluk Vans sambil berusaha tegar. Meskipun dirinya juga hancur. Tina, gadis dua puluh enam tahun yang merupakan putri dari adiknya harus meninggal karena kecelakaan. Gadis ceria itu selalu membawa kegembiraan bagi dirinya dan juga Vans. Bu Meera telah menganggap Tina seperti putrinya sendiri. Begitu pula Vans yang begitu menyayangi adik sepupunya itu.
“Selamat siang Nyonya Meera.” Seorang laki-laki tiba-tiba masuk ke ruangan mereka yang membuat keduanya sedikit terkejut.
Bu Meera melepas pelukan anaknya, kemudian berjalan mendekati laki-laki yang merupakan orang kepercayaannya tersebut.
“Bagaimana?”
“Semua sudah beres Nyonya, para keluarga korban mau berdamai dengan perjanjian yang kita tawarkan.”
“Syukurlah kalau begitu. Kamu atur semuanya, jangan sampai ada yang terlewat dan kurang. Mereka harus mendapatkan hak mereka.”
“Baik Nyonya. Para korban juga menitipkan ucapan salam kepada Tuan Muda Vans agar Beliau lekas sembuh dan juga bisa belajar dari kejadian ini.”
“Iya, terimakasih. Pergilah!” Ucap Bu Meera. Laki-laki itu pun segera pamit dan pergi dari tempat itu.
Bu Meera mengusap wajah dengan kedua tangannya. Dirinya masih tidak percaya musibah ini akan menimpa Sang Putra.
“Vans”, panggil Bu Meera saat mendengar suara tangisan. Perempuan itu segera berlari menemui putranya.
“Vans, apa yang terjadi Nak?” Seru Bu Meera kala melihat Vans sedang meringkuk seperti orang yang ketakutan sambil menangis tersedu-sedu.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Vans. Laki-laki dua puluh sembilan tahun itu hanya menangis sambil memeluk Sang Ibu. Bu Meera yang sangat memahami putranya hanya bisa mengelus kepala Vans berharap Vans bisa tenang dengan ini.
“Ma, seharusnya Vans yang tiada. Bukan mereka. Mereka tidak bersalah, Tina, dan korban yang lain. Mereka adalah korban dari kebodohan Vans.” Vans mulai mengeluarkan apa yang menjadi bebannya.
“Ini takdir Nak, kita tidak bisa melawan kuasa-Nya. Pasti ada hikmah yang tersembunyi di dalamnya Vans. Kau hanya harus belajar dari apa yang telah terjadi Nak. Mama selalu menyayangimu, Mama selalu bersamamu.”
“Mama.” Vans melepas pelukan Ibunya. Vans seperti mengingat sesuatu. “Ma, Tania juga korban dalam kecelakaan itu.”
“Apa?” Bu Meera terkejut mendengarnya. “Vans apa yang akan kau lakukan Nak?” Tanya Bu Meera saat Vans mulai menarik selang infus yang menancap di tangannya.
“Vans harus mencari Tania Ma, Vans harus tahu bagaimana keadaan Tania saat ini.” Kata Vans sambil berjalan tertatih-tatih keluar ruangan.
“Vans….” Bu Meera pun berlari mengejar putranya.
