Terharu
Leny membuka kedua mata dan melihat jam beker yang ada di atas nakas. Pukul 05.00. Leny bangun dan duduk dengan melihat punggung Hadi. Hadi masih tidur dan Leny melihat ke depan. Leny memikirkan mimpinya sekilas.
"Mimpi itu yang dilakukan gue semalam" pikir Leny.
Leny merenung agak lama sampai akhirnya turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi dan masuk. Tatapan Leny kembali kosong. Pukul 05.20. Leny ada di halaman belakang. Hadi memang pintar mencari tempat kontrak karena ada taman kecil di halaman belakang. Di sanalah Leny duduk berdiam diri dan melihat tanaman dengan tatapan kosong.
(...kamu pelayan saya)
Leny berusaha menahan air mata dengan memejamkan kedua mata.
"Bagaimana pun juga menurut gue Om Hadi keji walaupun Om Hadi selalu memberikan apapun yang diinginkan gue" pikir Leny dengan berusaha tidak sedih.
Di kampus Leny lebih banyak diam dan menyendiri sehingga Rebeca selalu kesulitan mencari Leny. Beda kalau di hadapan Hadi Leny lebih mudah marah sehingga ketika batas sabar Hadi sudah habis maka Hadi mengatakan Leny cuma sebagai pelayan jadi selayaknya harus menurut. Leny selalu minta apapun kepada Hadi bahkan di luar kebutuhan kuliah tapi Hadi mau saja memenuhi. Leny sering berbohong kepada Hadi kalau Hadi tanya tentang kuliah Leny. Hadi jadi lebih sering menghubungi Leny ketika tidak bersama Cindy dan sesekali Leny heran karena Hadi menghubungi cuma tanya tentang yang dilakukan Leny dan sudah makan atau belum.
"Kenapa Om Hadi mengganggu gue?" pikir Leny dengan mengerutkan dahi.
Pernah Leny tidak merespon pesan Hadi karena merasa malas. Menurut Leny Hadi terlalu basa basi maka ketika datang ke tempat kontrak Hadi mulai marah membahas tentang Leny yang tidak merespon pesannya.
"Kamu pelayan saya jadi apapun kamu harus siap"
"Apa begitu? Jadi ketika saya ada kelas maka saya juga harus merespon? Lalu...ketika saya tidur pun maka saya harus bangun dan membalas pesan Om Hadi?" sindir Leny.
"Apa kelas kamu malam? Apa kamu tidur sepanjang waktu?"
Leny mengerutkan dahi.
"Saya tidak mengerti. Kenapa saya merasa Om Hadi semakin sewenang wenang terhadap saya? Kalau Om Hadi butuh saya untuk melayani cukup datang saja ke sini. Bukankah Tante Cindy tidak curiga hanya karena Om Hadi tidak pulang sehari dua hari? Atau saya datang ke rumah Om Hadi untuk melayani? Tidak apa apa. Saya bisa saja" kata Leny santai.
Hadi mengerutkan dahi dan mengepalkan tangannya.
"Kenapa semakin hari kamu membantah saya?" kata Hadi marah.
"Bukan tentang membantah. Saya cuma membela diri saya yang tidak bersalah. Kenapa Om Hadi terlalu menuntut ini dan itu kepada saya? Apa hal itu ada dalam perjanjian?"
Hadi semakin marah dan Leny langsung berjalan pergi dengan berusaha bersikap santai. Sebenarnya Leny takut sehingga memilih pergi. Hadi memukul meja dan Leny yang mendengar dari luar segera berhenti berjalan lalu tersentak kaget dan merenung. Semakin lama Leny berusaha menahan air mata jatuh dan berjalan keluar. Leny sudah tidak takut hanya sendiri di luar. Jika memang Leny diperkosa maka Leny tidak peduli karena dia mengalami lebih daripada diperkosa. Leny memang sudah tidak peduli dengan dirinya sendiri. Leny berjalan pelan di pinggir jalan tanpa tahu ke mana harus pergi.
"Sebenarnya saya jadi pemberontak karena hidup saya yang sudah hina, Om. Ingin kembali seperti dulu percuma. Semua sudah terlambat" pikir Leny pelan.
***
Pukul 10.30. Rebeca keluar dari kelas dan berjalan menuju lobi lalu melihat Leny duduk di pojok dengan menatap kosong di depannya dan Rebeca berjalan menghampiri Leny. Rebeca duduk pelan lalu Leny menoleh dan melihat Rebeca.
"Len" panggil Rebeca pelan.
Leny berusaha tersenyum. Rebeca semakin yakin Leny memiliki masalah bahkan sangat berat.
"Loe mengabaikan kuliah lagi"
"..."
"Semakin hari loe jarang muncul di kelas"
Leny merenung.
"Loe melamun, wajah loe sedih, tidak semangat, tatapan loe kosong"
Leny melihat terus Rebeca dan wajah Rebeca tampak sangat khawatir.
"Gue minta maaf membuat loe khawatir" kata Leny pelan.
"..."
"Mungkin memang sudah waktunya gue cerita kepada loe"
Rebeca merasa ingin tahu.
"Ayo cerita. Jangan dipendam" kata Rebeca dengan merasa kasihan.
***
"Leny, loe jangan begini. Gue mohon" kata Rebeca dengan memegang kedua lengan Leny.
Rebeca segera menghapus air mata Leny yang jatuh. Sebelumnya Leny cerita semuanya dengan menangis dan Rebeca terus menenangkan sampai semakin lama Leny berhenti menangis.
"Kenapa loe masih duduk di sini? Kenapa loe tidak pergi saja?" kata Leny pelan.
Rebeca menggeleng keras.
"Gue tidak mau jadi jangan menyuruh gue untuk berhenti berteman dengan loe. Loe tetap sahabat gue. Masalah yang ada bahkan loe harus terjebak dengan Om bukan karena kesalahan loe sendiri" kata Rebeca prihatin.
Seketika Rebeca melepaskan kedua tangan Leny dan memeluk Leny lalu air mata Leny semakin jatuh dan merasa tidak menyangka reaksi Rebeca. Jujur Leny terharu Rebeca masih mau berteman dengan dirinya, tidak memandang jijik bahkan sekarang Leny merasakan pelukan tulus dari Rebeca.
***
Leny sudah tenang dan masih merenung dengan memandang tisu yang didapat dari Rebeca untuk menghapus air matanya. Tisu tersebut dilipat Leny menjadi beberapa bagian. Hidung Leny merah seperti tomat. Kedua mata Leny bengkak dan merasa pedih. Leny juga merasa wajahnya lengket karena air mata.
"Leny" panggil Rebeca pelan.
"..."
"Gue memang pernah melihat loe bersama seorang lelaki ya...seperti sudah berumur tapi gue pikir beliau Om loe. Jadi beliau Om Hadi?"
Leny mengangguk pelan.
"Untung loe tidak menyapa gue karena gue belum siap menceritakan semuanya" kata Leny pelan.
"Gue bukan tidak menyapa tapi ketika itu pacar gue terburu pulang sampai tangan gue ditarik"
"..."
"Bagaimana kalau loe berhenti saja dengan Om Hadi?"
"Sudah ada perjanjian jadi gue belum bisa berhenti" kata Leny pelan.
"Benar juga gue lupa"
"..."
"Kenapa loe mengabaikan ancaman gue? Apapun loe harus cerita kepada gue. Andai loe cerita maka gue bisa minta tolong papa gue untuk mempekerjakan loe"
Leny melihat Rebeca dengan pelan.
"Gue malu...gu...gue juga segan. Loe teman yang sangat sempurna untuk gue jadi gue..."
"Loe tahu sejak awal gue benar menganggap loe sahabat. Kenapa loe harus segan? Kenapa loe harus malu? Gue tahu loe bukan teman parasit jadi gue tidak akan berpikir macam macam dengan loe" potong Rebeca.
Memang Rebeca menggerutu tapi di balik itu Rebeca sedih dan khawatir terhadap Leny.
"Gue minta maaf membuat loe sedih"
Rebeca kembali memeluk Leny dan sekarang Leny membalas pelukan Rebeca.
"Ingat satu hal, Len. Apapun yang terjadi dengan loe. Keadaan loe yang sekarang begini gue tidak pernah berubah. Gue tetap memandang loe sebagai perempuan baik dan memastikan teman kita yang lain tidak tahu"
"Loe sahabat terbaik gue" kata Leny terharu.
