Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Hal Baru

"Jadi loe masih tertutup kepada gue? Loe tidak mau memberitahu kost loe"

"Gue sudah tidak kost. Gue tinggal di tempat kontrak. Om Hadi yang menyuruh"

"Di mana?"

"Lain waktu gue akan memberitahu loe"

"Loe juga masih belum siap memberitahu gue?"

"Bukan begitu. Om Hadi masih tidur di sana"

"Om Hadi tidak kerja?"

"Mana gue tahu? Kenyataannya masih betah tidur"

"..."

"Jika keadaan sudah memungkinkan maka gue pasti ajak loe ke sana"

"Om Hadi masih di sana dan loe mau pulang dengan keadaan wajah bengkak"

"Astaga. Benar juga. Gue tidak bisa pulang langsung"

"Loe mau ikut gue?"

"Ke mana?"

"Salon. Mau? Untuk menenangkan pikiran loe juga"

Leny berpikir sebentar dan akhirnya mengangguk.

"Leny jangan sedih lagi. Kalau memang sudah terlanjur...artinya nanti ada masa Om Hadi melepaskan loe"

"Ya...gue memang menunggu masa itu karena dengan begitu gue bisa mencari penghasilan halal"

"Gue siap membantu loe. Gue akan minta tolong papa gue"

"Terima kasih. Gue sangat berterima kasih kepada loe"

Rebeca tersenyum dan berdiri lalu memegang tangan Leny dan mengajak Leny. Leny mengikuti Rebeca.

Hari terus berlanjut. Leny merasa bosan apalagi Hadi sudah jarang datang ke tempat kontrak walaupun masih mengusik hidupnya dengan banyak pesan yang dikirim. Semakin lama Leny mengabaikan dan pergi ke suatu tempat. Pukul 00.00. Leny sampai di tempat itu.

"Seperti apa dunia malam?" pikir Leny dengan tersenyum senang.

Leny berjalan masuk dan duduk dengan memesan anggur. Leny bingung memesan karena berbagai macam anggur terjual di sana. Akhirnya Leny tanya beberapa yang menurutnya menarik. Pukul 01.00. Leny sudah setengah mabuk.

"Tidak boleh. Setidaknya gue harus mendapatkan setengah kesadaran agar gue bisa pulang" pikir Leny.

Seorang lelaki melihat perempuan yang begitu menarik matanya. Penampilan yang sexy karena pakaian mini, wajah yang lembut dan...

"Hai"

Leny menoleh dan melihat lelaki itu. Dia tersenyum simpul dan melihat bibir Leny yang dipoles dengan lipstik warna peach berkilau.

"Bibirnya tipis. Gue senang dengan perempuan yang bibirnya tipis...memperlihatkan betapa cantik dan sexy" pikir dia.

"Boleh duduk di sini?"

Leny berpikir sebentar dan mengangguk dengan wajahnya yang setengah mabuk lalu melihat ke depan dan dia melihat terus Leny.

"Sendiri?"

"..."

Dia tersenyum karena merasa tidak dihiraukan tapi hal itu tidak membuat dia menyerah.

"Loe juga senang minum? Jika begitu bisa kita lomba minum?"

"..."

Dia mengangkat gelasnya dan tidak ada respon dari Leny lalu dia berpikir keras dan menurunkan gelasnya.

"Siapa nama loe? Gue boleh kenal?"

"..."

"Loe jutek juga"

"Dasar cowok!" kata Leny menggerutu.

Dia mengangkat salah satu alisnya.

"Kenapa dengan cowok?"

"Loe seperti lelaki berumur itu" kata Leny dengan merasa tidak senang dan mengingat tentang Hadi.

"Lelaki berumur?"

Dia menoleh di sekelilingnya dan melihat gerombolan lelaki berumur dikelilingi perempuan cantik bahkan taruhan untuk mendapatkan perempuan itu.

"Oh...tidak. Gue bukan seperti yang dipikirkan loe"

"..."

Dia mengulurkan tangannya.

"Gue Nathan. Loe?"

"..."

"Loe tidak mau kenalan dengan gue?"

Leny menghela napas pelan.

"Kenapa loe mengusik gue?" tanya Leny dengan menoleh dan melihat Nathan.

"Apa salah jika lelaki berkenalan dengan perempuan?"

Leny melihat terus Nathan dan Nathan tersenyum tulus lalu Leny melihat antara tangan Nathan dan Nathan maka Leny menyambut tangan Nathan.

"Leny"

"Nama loe cantik" kata Nathan dengan tersenyum senang.

Leny segera melepaskan tangan Nathan dengan merasa risih.

"Apa loe mau lomba minum dengan gue?"

"Gue tidak boleh mabuk. Gue hanya sendiri"

"Gampang. Gue akan bertanggungjawab jika loe mabuk. Gue akan mengantarkan loe pulang"

"Basi"

Entah kenapa penolakan Leny justru membuat penasaran maka Nathan menemani Leny sampai Leny selesai. Pukul 03.00. Leny melepaskan pelukan Nathan dan mendorong Nathan.

"Jangan coba memeluk gue apalagi gue bisa jalan sendiri"

"Sepertinya dia sudah sadar" pikir Nathan.

"Gue mau bertemu lagi dengan loe"

"Basi"

Leny segera berjalan pergi dan Nathan melihat terus Leny dengan tersenyum lucu.

"Menarik" pikir Nathan dengan merasa senang.

Pukul 03.35. Leny sampai di tempat kontrak dan masuk begitu saja dengan masih memakai sepatu di atas tempat tidur. Jalan Leny sempoyongan dan tertidur begitu saja. Pukul 03.45. Seketika Leny membuka mata dan menutup mulutnya lalu bangun dan segera berlari menuju toilet dengan membuka paksa sepatunya. Leny masuk ke dalam toilet dan mengeluarkan seluruh isi yang ada di perutnya dalam kloset. Berulang kali hal itu terjadi sampai akhirnya Leny merasa lemas dan duduk lalu bersandar di dinding dan memegang kepalanya yang sakit. Leny tidak bisa bangun lagi dan akhirnya tertidur. Pukul 08.00. Rebeca duduk dengan pelan.

"Leny, sekarang loe berubah...jauh berubah. Loe jadi malas kuliah" pikir Rebeca.

Rebeca semakin prihatin memikirkan Leny. Pukul 10.00. Leny berpikir keras.

"Bagaimana bisa gue kalah dengan alkohol? Gue jadi penasaran" pikir Leny.

Rasa penasaran dengan hal baru membuat Leny sering datang ke klub malam untuk mencoba anggur di sana dan bertemu Nathan. Awalnya Leny merasa risih dengan pendekatan Nathan tapi akhirnya Leny coba mengikuti apa yang diinginkan Nathan. Saling memperkenalkan diri kembali, bicara sampai sesekali becanda lalu Nathan memberanikan diri minta nomor handphone Leny dan Leny hanya nyengir.

"Gue saja yang menyimpan nomor handphone loe"

"Baiklah"

Leny menyimpan nomor handphone Nathan setelah Nathan memberitahu.

"Hubungi gue"

Leny tidak menghiraukan dan sibuk minum kembali. Pukul 03.30. Nathan mau mengantarkan Leny pulang tapi langsung ditolak Leny. Nathan khawatir Leny dalam keadaan mabuk.

"Bagaimana sebelumnya? Apa loe mau jadi penguntit?"

"Baiklah. Baiklah. Jika begitu sebaiknya loe hati hati"

Leny segera berjalan pergi dan tersenyum sendiri ketika merasakan anggur.

"Enak" pikir Leny.

Leny tertawa. Orang di sekitar melihat Leny dengan tatapan menganggap Leny gila.

"Anggur termahal bisa gue beli. Gue juga sudah tidak pernah muntah. Akhirnya gue kuat" pikir Leny dengan ceria.

Sesekali Leny melompat kecil dengan hati gembira seolah tidak memiliki beban apapun. Pukul 04.00. Leny membuka pintu dengan keras dan berjalan masuk lalu jalan sempoyongan dengan penampilan berantakan dan merasa tidak kuat jalan maka Leny melihat lantai.

"Ternyata gue cepat sampai di tempat tidur ya?" pikir Leny dengan merasa senang.

Seketika Leny berbaring di lantai dan sudah tertidur.

Pukul 07.15. Hadi datang dan merasa heran karena pintu tidak dikunci.

"Sembrono. Bagaimana kalau ada pencuri?" pikir Hadi dengan merasa tidak menyangka.

Hadi melihat ruangan berantakan dan terkejut.

"Bagaimana bisa...?" pikir Hadi.

Hadi segera melangkahkan kakinya untuk mencari Leny dan tersentak kaget karena Leny tidur di lantai dengan penampilan berantakan lalu membangunkan Leny dan mencium bau alkohol. Hadi segera menutup hidungnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel