Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Mengancam

Leny berdiri dan berjalan menuju meja lalu duduk dan mengambil anggur. Leny minum sebanyak mungkin. Setiap Leny mengingat tentang nasibnya maka Leny berusaha melupakan dengan cara minum anggur atau bir. Hal itu membuatnya tertidur sehingga tidak perlu memendam hal pahit dalam hidupnya. Pukul 18.30.

"Jam berapa Om Hadi datang ke sini?" pikir Leny.

Leny mengangkat bahu dan ganti baju lalu tersentak kaget dan langsung membalikkan badan karena ada orang yang masuk.

"OM HADI!!" teriak Leny marah.

Hadi melihat Leny dan merasa heran.

"Kamu marah? Kenapa?"

"Saya kaget"

"Bukankah salah kamu? Kenapa kamu tidak mengunci?"

"Jadi Om Hadi menyalahkan saya? Saya tidak mengunci karena tahu Om Hadi akan datang"

Hadi merasa heran.

"Jadi saya harus mengetuk dulu? Di mana tempat ini adalah uang dari hasil saya"

Leny melihat terus Hadi dengan semakin marah.

"Baik jika begitu" kata Leny penuh emosi.

Leny memakai bajunya dan mengambil tas lalu berjalan melewati Hadi keluar dari kamar dan Hadi melihat kepergian Leny dengan terkejut.

"Kamu mau ke mana?"

Leny jalan terus tanpa menghiraukan pertanyaan Hadi.

"Leny" panggil Hadi dengan suara agak keras.

Hadi berjalan menyusul Leny dan sampai di ruang bagian depan.

"Om Hadi sendiri yang bicara begitu. Memang Om Hadi yang membayar. Om Hadi memiliki uang banyak. Saya cuma pelayan Om Hadi tapi walaupun antara pelayan dan majikan tetap harus ada saling menghargai. Apa tidak bisa memberi tanda Om Hadi sudah ada di sini? Om Hadi memang..."

Leny terus menggerutu dan Hadi yang mau bicara tidak jadi lalu akhirnya terkejut karena Leny mau berjalan pergi dan menghadang Leny dengan berdiri di hadapannya.

"Baiklah. Baiklah. Saya minta maaf"

Leny membuang muka dan Hadi merasa heran dengan sikap Leny.

"Kenapa sampai marah begitu? Padahal kamu yang salah" pikir Hadi dengan berusaha sabar.

Leny berjalan menuju kamar dengan mengerutkan dahi dan Hadi melihat kepergian Leny.

***

Leny duduk di atas tempat tidur dengan menghela napas pelan. Baru saja Leny ditenangkan Hadi agar tidak terus marah.

"Sudah merasa lebih baik?"

Leny menoleh dan melihat Hadi karena di hadapannya ada gelas berisi air yang diberikan Hadi untuknya. Leny merasa heran.

"Saya tidak haus"

Leny mengambil dan meletakkan gelas di atas nakas dengan ketus.

"Om Hadi tidak pulang lagi? Kemarin Om Hadi sudah tidak pulang"

Hadi duduk di sebelah Leny dan Leny melihat terus Hadi dengan merasa heran.

"Wajah Om Hadi seperti memikirkan sesuatu. Apa gue yang keterlaluan terhadap Om Hadi ya?" pikir Leny pelan.

Hadi berbaring dan berpikir keras.

"Om Hadi?"

"Cindy belum pulang"

"Cindy?" tanya Leny dengan merasa tidak mengerti.

"Apa Cindy simpanan Om Hadi yang lain? Astaga. Dasar Om Hadi memang pria berhidung belang" pikir Leny dengan merasa tidak mengerti.

"Kenapa tidak telepon saja? Om Hadi bisa cari tempat sembunyi untuk telepon Cindy"

"Sudah tapi tidak bisa dihubungi. Kenapa saya harus sembunyi jika untuk telepon Cindy?"

"Nanti ketahuan istri Om Hadi"

Hadi menoleh dan melihat Leny lalu bangun dan duduk.

"Cindy itu istri saya"

"Apa?" tanya Leny.

Semakin lama Leny merasa malu karena salah paham.

"Memangnya kamu pikir Cindy siapa?"

"Maaf. Maaf, Om. Saya tidak tahu. Saya pikir..."

Seketika Leny tidak melanjutkan perkataannya karena merasa segan tapi justru Hadi tertawa pelan dengan merasa konyol.

"Jika simpanan saya tidak perlu pusing memikirkan"

Leny melihat terus Hadi.

"Om Hadi khawatir?" tanya Leny pelan.

Hadi berhenti tertawa.

"Kasihan anak"

"Ada suster, bukan?"

"Dicari terus sama anak"

"Kenapa menurut gue tidak begitu? Menurut gue Om Hadi memang sangat khawatir" pikir Leny.

"Memang Cindy memberitahu sebelumnya. Pergi untuk ke rumah saudara yang sakit. Kenapa tapi tidak bisa dihubungi? Biasanya selalu bisa"

"Om Hadi tidak pernah berpikir sinyal susah?"

"Rumah saudara Cindy di tengah kota. Mana mungkin susah sinyal?"

"Jika begitu Om Hadi bisa telepon saudara Tante Cindy"

"Mereka tidak pernah mau menerima telepon saya"

"Kenapa?"

"Tidak pernah senang Cindy bersama saya"

"..."

"Dulu saja ketika menikah mereka sewot dengan saya"

"Kenapa Om Hadi tidak menemani Tante Cindy saja? Setidaknya Om Hadi tidak khawatir begini"

"Hanya saudara sepupu bukan kandung. Saya...lebih khawatir tentang anak. Tanpa Cindy sepertinya anak merasa ditinggal walaupun dia tidak setiap waktu mengurus tapi tidak masalah terutama dia tidak pergi jauh. Jika ke kantor setidaknya ada waktu untuk pulang ke rumah dan anak melihat"

"Tidak. Gue bisa melihat Om Hadi lebih menginginkan Tante Cindy ada di sampingnya. Kenapa tetapi Om Hadi harus main dengan perempuan lain? Jadi benar ada pria yang tidak bisa memegang komitmen pernikahannya?" pikir Leny dengan merasa bingung.

"Apa yang bisa saya bantu?"

Hadi menoleh dan melihat Leny lalu tersenyum simpul dan seketika memeluk Leny.

"Seperti sebelumnya" kata Hadi berbisik.

Seketika Hadi mendekatkan wajahnya ke wajah Leny lalu mencium bibir Leny dan Leny membalas ciuman Hadi. Leny sudah mulai bisa mengikuti setiap gerakan bibir Hadi karena dia mulai terbiasa dengan cara Hadi. Leny mendorong pelan tubuh Hadi dan menindih tubuh Hadi lalu Hadi melumat bibir Leny dengan tangannya membuka baju Leny dan mulai mencium wajah sampai leher Leny. Sesekali Leny berusaha bisa membuka baju Hadi. Hadi dan Leny sudah setengah telanjang dengan napas berat tanda penuh dengan napsu lalu Leny berbaring dan Hadi menindih tubuh Leny. Napas Leny tersengal dan menghindar. Hadi langsung protes dan seketika Leny mengancam dengan memberikan telunjuknya di depan wajah Hadi.

"Saya tidak mau Om Hadi seenaknya mengeluarkan di dalam"

Hadi menghela napas.

"Kamu cerewet" kata Hadi dan mau mencium bibir Leny.

"OM HADI!" teriak Leny marah.

Hadi tidak jadi mencium bibir Leny dan melihat terus Leny dengan berusaha sabar.

"Siapa yang bertanggung jawab kalau saya hamil?" kata Leny menekan suara.

Leny melihat terus Hadi dengan tatapan tajam.

"Apa saya harus minum pil KB atau menanam IUD?"

Hadi terkejut Leny bisa mengerti tentang itu.

"Baiklah. Baiklah. Kamu jangan mengancam begitu. Bagaimanapun juga kamu pelayan saya" gertak Hadi.

Seketika Leny terdiam dan secara perlahan menurunkan telunjuknya lalu berusaha menahan air mata dan merasakan bibirnya dilumat. Leny berusaha melupakan perkataan Hadi dan mengembalikan mood karena jika Leny tidak mood Hadi akan marah lalu berakibat Leny tidak diberikan uang ketika meminta dan Leny memejamkan kedua mata hanya sebentar. Secara perlahan Leny membalas ciuman Hadi dan melanjutkan aktifitas seksnya.

***

Hadi mulai meraba punggung sampai kedua payudara Leny dengan sesekali memasukkan intinya ke inti Leny.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel