Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Selembar Kertas

Leny terbaring di ranjang dengan terkejut dan melihat Hadi lalu Hadi menindih tubuh Leny dan Leny kalang kabut. Pegangan dan tindihan Hadi begitu kuat sehingga Leny terlalu lemah untuk mendorong apalagi bibirnya sudah dicium bahkan semakin lama mencium dengan lumatan kasar. Leny tidak bisa lagi melindungi dirinya sendiri dan mencengkeram sprai dengan mengeluarkan air mata.

***

Sudah sejak setengah jam yang lalu Leny duduk dengan memeluk tubuhnya di bawah air shower. Tubuhnya begitu dingin tapi lebih daripada hal itu Leny merasa terpukul dengan semua yang terjadi. Air mata juga sudah banyak yang keluar karena begitu lamanya menangis.

"Masa depan gue..." pikir Leny pelan.

***

Hadi selesai menulis sebuah cek dan memberikan kepada Leny lalu Leny cuma menunduk dengan mengeluarkan air mata dan Hadi meletakkan cek itu di atas meja.

"Saya menepati janji" kata Hadi puas.

Hadi berdiri dan berjalan keluar lalu Leny melihat ranjang dan mengeluarkan air mata. Semakin lama menangis karena melihat darah keperawanannya terdapat di sprai. Leny memegang darahnya dengan gemetar karena terlalu sedih dan mencengkeram sprai.

"Gue hina!" teriak Leny dengan menangis keras dan menepuk keras ranjang.

***

Keesokan harinya. Pukul 09.00. Rebeca mencari Leny di sekitar dengan matanya. Handphone Leny tidak bisa dihubungi.

"Di mana Leny, sih?" pikir Rebeca.

Rebeca menghampiri kerumunan teman sekelasnya dan sesekali tanya tentang Leny.

"Loe tidak salah tanya kepada gue? Bukankah selalu bersama loe?"

"Justru gue tanya artinya tidak tahu. Leny juga tidak bisa dihubungi"

"Mungkin sakit"

Rebeca ingat perkataan Leny.

(Gue agak sakit)

"Benar juga. Bisa saja sakit Leny parah. Astaga gue tidak tahu kost Leny" kata Rebeca cemberut.

"Kita tunggu sampai besok saja. Semoga sakit Leny tidak parah"

Rebeca mengangguk dengan khawatir. Pukul 14.00. Leny berjalan keluar dari kamar hotel dengan pelan.

"Ehmm...maaf, Mbak. Saya sudah lewat dari jam check out. Berapa yang harus saya bayar?"

"Kamar nomor berapa?"

"32"

Resepsionis melihat layar komputer dan memeriksa. Wajah Leny begitu pucat. Leny masih belum bisa melupakan kejadian semalam tapi di hadapan siapapun Leny berusaha menutup masalahnya.

"Anda tidak perlu membayar karena sudah dijamin"

"Dijamin?" tanya Leny dengan merasa heran.

"Di sini tertera nama orang yang menjamin Anda...Pak Hadinata"

"Hadinata?" pikir Leny dengan merasa heran.

Leny berpikir keras dan akhirnya terkejut.

"Apa mungkin Om Hadi? Hadi...nata" pikir Leny pelan.

Seketika wajah Leny muram.

"Terima kasih" kata Leny berusaha tersenyum.

Leny berjalan pergi dengan mengeluarkan sebentar air mata. Pukul 17.30. Leny baru sampai di kost dan masuk ke dalam kamar kost. Leny masih duduk di lantai dengan memeluk tubuhnya dan melihat terus cek itu. Cek itu belum dicairkan Leny karena masih tidak siap.

"Gue menjual tubuh gue dengan selembar kertas itu" pikir Leny dengan merasa sedih.

Leny memegang lalu akhirnya meremas cek itu dengan merasa miris dan marah terhadap diri sendiri.

"Bagaimana bisa loe tega terhadap diri loe sendiri, Leny?" pikir Leny penuh emosi.

Leny melempar cek yang berbentuk bola kecil itu lalu menangis keras dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Keesokan harinya. Leny kuliah seperti biasanya dan Rebeca segera memegang tangan Leny dengan menggerutu karena Leny tidak bisa dihubungi. Banyak hal yang berkecamuk di pikiran Leny. Akhirnya Leny berusaha tersenyum.

"Gue sudah mulai sembuh"

"Leny, jangan buat gue khawatir lagi"

Leny tidak menghiraukan perkataan Rebeca dan mengembalikan jaket Rebeca.

"Terima kasih. Gue tidak boleh lagi menyimpan barang dari loe. Jangan terlalu lama berada di dekat gue"

Rebeca merasa heran dengan perkataan Leny dan sesekali melihat tatapan Leny kosong tapi berusaha disembunyikan.

"Ayo masuk kelas" kata Leny pelan.

Leny berdiri lalu berjalan pergi dan Rebeca melihat kepergian Leny dengan merasa tidak mengerti.

"Kenapa sikapnya aneh?" pikir Rebeca pelan.

***

"Ma, aku sudah mendapatkan pekerjaan jadi mama jangan khawatir"

"Leny, mama sudah bicara kamu cukup memikirkan kuliah yang benar. Tepat waktu"

"...tapi, Ma...Leny tidak bisa hanya diam. Leny mau membantu papa dan mama. Leny janji kuliah tidak akan terbengkalai"

"..."

"Jangan kecewa dengan Leny. Aku melakukan semuanya untuk papa dan mama"

Mama merasa heran.

"Kenapa nada bicara Leny beda?" pikir mamanya.

"Ma, kondisi ekonomi keluarga kita semakin goyah jadi aku pun tidak akan tenang kuliah jika tidak melakukan apapun"

"Leny" panggil mama dengan pelan.

"Jadi mulai sekarang mama tidak perlu bingung. Uang makan, kost, buku kuliah tidak perlu dikirim lagi"

"...tapi kamu di sana mama tahu walaupun kerja pasti gaji tidak tinggi karena kamu masih dihitung lulusan SMA"

"Cukup. Sungguh. Mama percaya aku"

"Jika tidak kuat berhenti saja ya? Ingat selalu perkataan mama" kata mama pelan dengan merasa tidak tega.

"Aku kuat. Aku kuat kok" kata Leny berusaha meyakinkan diri sendiri dan mamanya.

"Baiklah. Kamu baik di sana. Apapun yang terjadi ingat selalu perkataan mama. Jika tidak kuat berhenti kerja saja"

Leny berusaha tersenyum.

"Ya"

Sambungan telepon terputus dan seketika air mata Leny jatuh.

"Aku minta maaf mengecewakan papa dan mama" pikir Leny pelan.

Leny duduk dengan menangis tersedu sedu. Sudah dua hari sejak kejadian di hotel Hadi belum telepon Leny kembali. Leny tidak tahu harus bingung atau tidak karena cek yang kemarin sudah kusut jadi tidak bisa dicairkan walaupun Leny belum coba datang ke bank. Beberapa hari kemudian Leny harus melihat layar handphonenya karena berbunyi. Leny berhenti memikirkan nasibnya.

"Om?"

"Kamu temui saya di hotel kemarin"

"Iya" jawab Leny singkat.

Sambungan telepon terputus dan Leny merenung. Pukul 18.00. Leny melihat Hadi datang di lobi dan memakai baju santainya. Leny merasa heran.

"Apa Om Hadi tidak kerja?" pikir Leny.

Hadi mengajak Leny ke kamarnya dan Leny cuma menurut layaknya boneka penggerak. Leny masuk ke dalam kamar dan Hadi menunjukkan sebuah dokumen di hadapan Leny. Leny mengambil dan membaca dalam hati.

"Oh...ternyata tentang perjanjian" pikir Leny.

"Saya tidak mau kamu curang begitu saja"

Leny merasa malas dengan prasangka buruk Hadi. Tentu saja Leny tidak bisa curang. Leny hanya perempuan miskin yang sudah terjebak dengan kehidupan kotor maka tanpa berpikir panjang Leny tanda tangan di atas materai. Hadi melihat tanda tangan Leny dengan merasa puas dan Leny hanya melihat ke depan dengan sesekali menatap kosong. Akhirnya Hadi mengalihkan tatapan dari dokumen kepada Leny.

Hadi melihat terus Leny dan berpikir sebentar. Beberapa hari sejak kejadian tanda tangan surat perjanjian Leny kembali bersama Hadi di hotel yang sama.

"Kamu ikut saya"

Leny hanya menurut perkataan Hadi. Pukul 20.00. Leny melihat berbagai macam kosmetik bahkan satu kosmetik seperti bedak banyak berbagai macamnya. Seketika wajah Leny berseri dan segera menyusuri semua kosmetik.

"Wah...ini kosmetik yang diimpikan gue" pikir Leny dengan memegang salah satu merk bedak.

Leny melihat semua kosmetik dan seketika sebuah lipstik ada di hadapannya lalu Leny menoleh dan melihat Hadi. Leny merasa tidak mengerti.

"Untuk kamu"

"Saya, Om?" tanya Leny dengan merasa heran.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel