Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pilih

Setelah sekian lama akhirnya Leny mencari pekerjaan di manapun dan ternyata susah. Leny hampir putus asa sehingga melihat layar handphonenya dan tertuju kepada kontak Hadi.

"Masa gue harus mengadakan kerja sama dengan beliau?" pikir Leny ragu.

Akhirnya Leny segera menggeleng keras.

"Gue tidak boleh berbuat begitu. Baiklah gue akan mencari pekerjaan kembali. Gue tidak boleh pantang menyerah" pikir Leny.

Seusai kuliah Leny sibuk mencari pekerjaan melewati koran dan internet di warnet. Leny juga menjalani wawancara. Sayangnya Leny selalu gagal dalam proses wawancara sehingga Leny harus mencari di internet cara agar dirinya bisa lolos.

"Penampilan menarik" pikir Leny pelan.

Leny melamun.

"Gue mengaku penampilan gue sekedarnya karena memang selama ini hemat uang" pikir Leny dengan merasa sedih.

Leny berdiri lalu berjalan keluar dari rental internet dan berjalan dengan tidak ada semangat.

***

"Halo?"

"Om Hadi" panggil Leny pelan.

"..."

"Bisa Om Hadi meluangkan waktu sebentar untuk saya?"

"Kamu...Leny?"

"Benar, Om"

"Baiklah. Kita bertemu di restoran itu. Sebentar lagi saya akan ke sana"

"Baik, Om" kata Leny pelan.

Leny mengakhiri telepon dengan pelan dan melamun lalu merasa miris dan sedih. Pukul 18.00. Leny berjalan masuk dengan pelan.

"Selamat sore. Silahkan" sapa pelayan.

Leny sudah melihat ternyata di sana ada sosok Hadi dan berjalan menghampiri beliau lalu Hadi yang tahu segera melihat Leny dan Leny berdiri di hadapan Hadi.

"Lebih baik kita di ruang VIP"

Leny cuma menurut layaknya boneka dan pikirannya campur aduk.

"Benar gue harus melakukan itu?" pikir Leny pelan.

Hadi mengajak Leny masuk ke dalam ruang VIP dan Leny berjalan masuk dengan pelan lalu duduk di sofa dan Hadi melihat terus Leny dengan tatapan penuh arti.

"Jadi gimana?"

"..."

"Leny?"

Leny melihat Hadi dengan pelan dan tatapan kosong.

"Jika kamu di sini hanya untuk diam tanpa bicara tujuan saya tidak punya waktu untuk itu. Kamu tahu jika saya juga punya urusan lain yang jauh lebih penting" kata Hadi memaksa.

"Maaf, Om" kata Leny tersentak kaget.

Hadi berusaha menahan amarah dengan melihat sebentar ke arah lain.

"Iya, Om. Saya mau memenuhi syarat yang diberikan Om Hadi"

Hadi tersenyum penuh arti.

"Yang mana?"

Leny merasa ragu sehingga terdiam dan merasa sedih.

"Kamu masih mau menyuruh saya menunggu?" tanya Hadi dengan nada menggertak.

Seketika Leny tersentak kaget. Leny khawatir Hadi tidak akan memberi kesempatan lagi untuk ingin bertemu dengan dirinya.

"Saya mau...melayani Om Hadi" kata Leny yang semakin lama bicara dengan suara rendah.

Hadi cukup bisa mendengar perkataan Leny. Bagai dihantam besi Leny merasa dirinya sudah kotor. Harga dirinya tidak ada lagi. Leny berani menjerumuskan dirinya ke dalam dunia hina terlebih melihat reaksi Hadi yang merasa menang.

"Astaga, Leny. Apa yang mau loe lakukan terhadap diri loe sendiri? Loe jahat. Loe tidak sayang dengan diri loe sendiri" pikir Leny dengan merasa sedih.

"Baiklah jika begitu ikut saya"

"Ke mana, Om?"

"Kamu masih bertanya"

Leny berpikir keras dan merasa sedih.

"Jadi Om Hadi ingin sekarang?"

"Kamu pikir?"

Hadi berdiri dan melihat Leny masih duduk terdiam maka Hadi setengah menggertak untuk ikut dengannya. Pukul 19.10. Hadi dan Leny sampai di sebuah hotel lalu Hadi keluar dari mobil dan terpaksa Leny pun juga. Leny melihat Hadi berjalan masuk begitu saja seolah sudah mengenal resepsionis. Leny semakin sedih menghadapi kenyataan.

"Disinilah gue berada" pikir Leny.

Semakin menuju ke kamar hotel Leny ragu lalu masuk dengan pelan dan Hadi yang juga sudah masuk melihat Leny dengan tatapan penuh arti.

"Leny, yakin loe mau melakukan hal itu terhadap diri loe sendiri?" pikir Leny dengan merasa ragu.

Leny mulai melihat Hadi berjalan menghampiri dirinya dan seketika Leny membuka pembicaraan.

"Om Hadi, tunggu sebentar"

Hadi mengangkat salah satu alisnya dan berhenti berjalan.

"Maksud kamu apa? Kamu menyuruh saya untuk terus menunggu? Tidak ada kesempatan lagi"

Seketika Hadi menarik tangan Leny dan menjatuhkan tubuh Leny di atas tempat tidur lalu Leny terkejut dan berteriak.

"Om,..."

Leny merasa ragu.

"Perjanjian kita batal saja"

"Kamu mau main dengan saya?" kata Hadi melotot.

Seketika Leny mau bangun tapi tidak jadi karena Hadi mendorong Leny dan mendekatkan wajahnya ke wajah Leny. Leny tidak berhenti meronta.

"Om, tolong perjanjian kita batal atau Om Hadi bersedia berbaik hati untuk memberikan syarat yang lain kepada saya" kata Leny memohon.

Hadi mau menampar karena muak dengan sikap Leny yang tidak konsekuensi tapi seketika Leny berteriak dengan memejamkan kedua mata sehingga membuat Hadi tidak jadi menampar dan melihat terus wajah Leny.

"Tidak disangka kalau dilihat dari jarak dekat begini cantik juga. Saya tidak salah menerima perjanjian darinya" pikir Hadi dengan tatapan nakal.

Leny membuka kedua mata dengan pelan dan melihat keadaan agak longgar maka segera mendorong tubuh Hadi lalu berlari menuju pintu dan membuka pintu.

"Astaga. Percuma. Pintu pasti dikunci. Gue bodoh tidak memikirkan hal ini" pikir Leny panik dan takut.

"Kamu pikir bisa kabur dari saya?"

Terdengar suara mengancam lalu Leny membalikkan badan dan melihat Hadi dengan pelan. Hadi baru bangun dari ranjang dan sudah berdiri dengan tatapan licik.

"Gue memang sudah terjebak di sini" pikir Leny dengan merasa sedih.

"Kamu masih ingin coba kabur dari saya?"

Leny mulai gemetar dan Hadi mengambil remote TV lalu mencengkeram dan mengangkat remote itu ke arah Leny.

"Pilih. Tetap melayani saya atau saya akan membiarkan kamu lolos dengan cacat di wajah kamu?" bentak Hadi dengan nada menggertak.

Seketika Leny terkejut.

"Om" kata Leny memohon.

Leny menangkupkan kedua tangan di dadanya.

"Saya mohon. Pertimbangkan lagi syarat dari Om" kata Leny dengan mengeluarkan air mata.

Tanpa mendengarkan perkataan Leny Hadi mau melempar remote TV ke wajah Leny lalu Leny berteriak dan menutup kedua mata dengan tangannya.

***

"Hadi, kamu keterlaluan!" teriak Cindy.

Hadi terkejut melihat pipi Cindy yang berdarah lalu mendengar tangisan Cindy dan Hadi melihat tangannya.

"Tanpa sebab kamu melempar aku dengan benda itu. Apa salah aku? Aku saja tidak tahu masalah kamu. Kamu jahat. Kamu bukan papa yang baik untuk calon anak aku"

Seketika Cindy berlari keluar dan Hadi terkejut.

"Cindy. Cindy" teriak Hadi dengan panik.

Hadi segera berlari mengejar Cindy.

"Astaga. Apa yang telah dilakukan saya? Cindy tidak tahu apapun" pikir Hadi dengan merasa bersalah.

***

"Aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf. Aku...aku..."

Hadi segera memeluk Cindy dan tangisan Cindy semakin keras.

"Aku janji tidak akan pernah lagi memukul perempuan"

"Aku muak dengan kamu, Hadi" kata Cindy di sela tangisannya.

Hadi terkejut.

"Kamu tidak boleh muak dengan aku. Aku sungguh minta maaf" kata Hadi menyesal.

***

Seketika Hadi menurunkan remote dan memejamkan sebentar kedua mata untuk tenang.

"Cindy" pikir Hadi.

Hadi melihat Leny yang gemetar ketakutan dan membanting remote TV di atas meja lalu berjalan cepat menghampiri Leny dan mendorong Leny di ranjang.

"Sekali perjanjian tetap perjanjian!" bentak Hadi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel