Drastis
"Mulai sekarang kamu harus memperhatikan penampilan"
Leny melihat sebentar penampilannya.
"Bukan. Maksud saya dalam hal memakai kosmetik. Kamu tidak memakai kosmetik apapun jadi terlihat pucat apalagi jika tidak memakai lipstik"
Leny berpikir.
"Apa begitu?" tanya Leny pelan.
"Perempuan harus terlihat cerah walaupun wajah kamu sudah putih setidaknya kamu pakai lipstik dan...pelembab agar wajah kamu tidak kering"
"Om Hadi tahu tentang kosmetik juga. Apa artinya istri Om Hadi sangat menjaga penampilan?" pikir Leny.
Leny mengambil lipstik dari tangan Hadi dan membuka.
"Tidak begitu mencolok juga" pikir Leny.
Leny melihat beberapa kosmetik yang lain dan wajahnya berbinar.
"Om, itu menarik"
Leny menunjuk beberapa kosmetik dan Hadi melihat.
"Ambil saja"
"...tapi...uang saya habis untuk membayar SPP dan beli buku kuliah" kata Leny pelan.
"Gampang. Ambil saja yang diinginkan kamu"
Leny tersenyum senang.
"Terima kasih, Om"
Hadi merasa senang dan Leny berjalan ke tempat kosmetik lain dengan tersenyum licik.
***
Sejak bersama Hadi kehidupan Leny memang terjamin bahkan terkesan berlimpah apalagi di luar uang hak Leny Hadi masih sering membelikan apapun yang diinginkan Leny tanpa perhitungan tapi ketika hanya sendiri di kost Leny masih sering memikirkan kehidupannya yang sudah kotor walaupun akhirnya Leny segera melupakan. Sering memiliki kebersamaan juga membuat Leny mulai akrab dengan Hadi apalagi Hadi menceritakan tentang kehidupan pernikahannya.
"Saya masih memiliki satu istri"
Leny merasa janggal dengan perkataan Hadi.
"Maksud Om Hadi? Apa mungkin Om Hadi punya rencana untuk memiliki istri dua atau bahkan banyak?"
Seketika Hadi tertawa pelan.
"Tidak. Tidak. Sekalipun tidak pernah berpikir begitu. Saya hanya asal bicara"
"Apa istri Om Hadi tidak curiga?"
Hadi berhenti tertawa.
"Sering pulang malam bahkan pernah tidak pulang"
"Tidak akan curiga"
"Begitu? Bagaimana Om Hadi bisa yakin?"
"Istri saya tahu tentang kantor karena memang dia juga kerja di perkantoran dan sering pulang malam jadi tidak mungkin curiga"
"Berapa anak Om Hadi?"
"Satu dan jagoan saya"
"Jagoan...berarti cowok?"
Hadi mengangguk.
"Apa masih kecil?"
"Masih kelas 4"
Leny berpikir.
"Jadi ada suster di rumah?"
"Memang tapi terkadang istri saya tidak ke kantor untuk mengurus anak maka saya yang mengurus kantor istri"
"Oh...apa maksud Om Hadi istri punya kantor sendiri?"
Hadi mengangguk.
"Saling bekerja sama tapi lebih banyak saya yang mengurus kantor istri" lanjut Hadi.
"Pantas istri Om Hadi santai saja" pikir Leny.
"Bagaimana kuliah kamu?"
"Kenapa? Kuliah saya lancar saja"
"Tidak apa apa. Saya sekedar mau tahu saja"
Leny sudah jarang masuk kuliah tapi di hadapan Hadi Leny bohong bicara rajin kuliah. Rebeca sering telepon Leny juga jarang diterima. Hari itu Leny dikunjungi Hadi ketika jam istirahat Hadi.
"Om Hadi, kenapa ada di sini? Bukankah kerja?"
Hadi melihat terus Leny dengan merasa heran.
"Kamu minum bir?"
Leny mengangguk.
"Om Hadi cuma bisa masuk di teras kalau datang ke sini"
Hadi berjalan masuk dan duduk di kursi kayu lalu Leny berdiri di samping Hadi dan menatap rerumputan.
"Kenapa hanya berdiri?"
Leny berpikir sebentar dan duduk dengan pelan. Hadi sibuk melihat gerak gerik Leny.
"Kamu pindah dari sini"
"Kenapa?"
"Saya sudah cari tempat kontrak untuk kamu dan menemukan tapi belum datang ke pemilik kontrak"
"Jadi Om Hadi memang ingin saya pindah dari sini?"
"Nanti saya akan mengirimkan lokasi ke kamu lalu kamu datang ke pemilik kontrak"
"Kenapa saya harus pindah?"
"Di sini kost. Banyak orang"
"Jika tentang itu Om Hadi tidak perlu khawatir karena selama ini saya bicara kepada teman Om Hadi adalah Om saya"
"Saya tidak nyaman"
"Apa Om Hadi tidak mengerti tempat kontrak sangat mahal? Uang yang didapat saya dari menjual diri hanya untuk urusan kuliah"
Hadi terkejut mendengar perkataan detail dari Leny.
"Jangan bicara keras nanti terdengar"
Leny bersikap santai dan Hadi menghela napas pelan.
"Makanya saya menyuruh kamu pindah. Kamu tidak perlu memikirkan tentang biaya"
Leny mengangguk. Seiring berjalan waktu Leny disuruh Hadi mengurus tempat kontrak dan Leny menurut perintah Hadi. Setelah selesai mengurus maka Leny menempati tempat kontrak itu dan telepon Hadi. Susah untuk menghubungi Hadi tapi Leny masih terus telepon dan setelah kesekian kali akhirnya Leny mendengar suara jawaban dari Hadi. Leny mendengar Hadi tampak sebal.
"Kenapa kamu harus telepon saya di malam begini? Apa kamu tidak mengerti saya ada di kamar?" bisik Hadi.
"Mana saya tahu, Om. Pokoknya saya hanya memberitahu masalah tempat kontrak sudah beres dan saya sudah menempati. Jangan lupa uangnya ditransfer"
"Baiklah. Baiklah. Kamu cukup memberi pesan saja. Saya sudah bicara kamu tidak boleh menghubungi saya dulu. Saya tidak mungkin ingkar janji" bisik Hadi.
"Baiklah" kata Leny santai.
Leny mengakhiri telepon dan tersenyum licik.
"Apa gue peduli?" pikir Leny dengan tatapan sinis.
Keesokan harinya. Leny kuliah dan Rebeca langsung memeluk Leny. Secara perlahan Leny melepaskan pelukan Rebeca dan Rebeca merasa heran.
"Gue agak sakit jadi gue takut loe kena virus gue"
"Leny, di mana loe selama ini? Loe selalu tidak masuk kuliah. Loe sakit apa?"
Leny berusaha tersenyum.
"Kenapa loe tidak menjawab, sih?" kata Rebeca cemberut.
"Astaga. Jangan marah begitu"
"Loe hilang tidak ada kabar apalagi jarang masuk kuliah. Kenapa loe jadi begitu? Loe mahasiswi terajin dan pintar di kelas kita. Tidak cuma tentang ketidakterlambatan tapi presensi. Loe juga selalu mengerjakan tugas dan begitu dosen memberikan kuis atau pertanyaan nilai loe tertinggi. Kenapa sekarang loe jarang kuliah? Begitu masuk loe sering tertidur. Apa loe ada masalah? Apa loe tidak takut dengan ancaman gue?"
Leny memikirkan hidupnya dan berusaha setengah mati menahan air mata.
"Gue..."
"Leny, perubahan loe drastis. Apa loe pikir gue anak kecil yang bisa dibohongi?" potong Rebeca protes.
"Ya..."
Leny mengangguk pelan.
"...gue memang ada masalah tapi tolong jangan memaksa gue untuk cerita sekarang. Gue belum siap" kata Leny pelan.
Rebeca menatap kedua mata Leny. Penuh dengan kesedihan dan Rebeca memeluk Leny dengan mengangguk.
"Baiklah tapi gue mohon jika sudah waktunya cerita kepada gue"
Leny terharu dan mengangguk.
"Tidak perlu memohon gue akan cerita" kata Leny pelan.
Pukul 12.30. Handphone Leny berbunyi dan Leny membuka pesan dari Hadi.
[Kamu sudah selesai kuliah?]
[Sudah, Om]
[Di mana kamu? Kamu sudah makan?]
[Sudah, Om]
Hadi berpikir keras.
[Nanti saya ke sana]
[Baik, Om]
Leny meletakkan handphone dan memikirkan perkataan Rebeca.
"Perubahan loe drastis. Apa loe pikir gue anak kecil yang bisa dibohongi?..."
Leny mengepalkan tangan kirinya untuk menahan air mata jatuh.
"Apa loe masih tetap ingin berteman dengan gue jika tahu keadaan gue yang sekarang?" pikir Leny.
