Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Syarat

Leny menghela napas pelan menunggu seseorang di restoran.

"Kenapa beliau harus menyuruh gue di sini? Padahal mahal" pikir Leny.

Sebelumnya begitu dari pertemuan dengan teman SMPnya Leny telepon Om itu dan beliau langsung minta bertemu tanpa menyuruh Leny mengeluarkan pendapat.

"Leny?"

Terdengar suara berat dari balik punggungnya lalu Leny menoleh dan melihat seorang lelaki yang sudah berumur. Leny melihat lelaki tersebut dan berpikir keras.

"Kamu Leny, bukan?"

"Iya...iya. Saya Leny. Apa Om..."

Beliau langsung mengangguk.

"Tadi yang kamu telepon saya" lanjut beliau.

Leny segera berdiri dan menyapa dengan sikap hormat.

"Kamu tidak perlu sampai begitu. Santai saja dengan saya"

Leny melihat terus beliau. Leny memang merasa beliau figur orang yang santai.

"Saya tidak bisa duduk di sini. Kamu ikut saya tidak masalah, bukan?"

"Ke mana, Om?"

"VIP"

"Ehm...baiklah" kata Leny pelan dengan canggung.

Leny berjalan mengikuti beliau dengan melihat punggung tinggi beliau dan sampai di ruang VIP beliau bicara kepada pelayan. Leny mendengar sekilas beliau memberikan perintah dan ternyata sebelumnya beliau sudah memesan ruang VIP. Beliau mempersilahkan Leny untuk masuk lebih dulu dan Leny bingung.

"Ayo" kata beliau dengan mempersilahkan Leny masuk.

Leny berjalan masuk dengan pelan dan beliau melihat terus Leny lalu semakin lama tersenyum penuh arti dan berjalan masuk.

"Masih sangat polos" pikir beliau.

Beliau duduk di depan Leny dan Leny melihat postur tubuh beliau cukup bagus walaupun bukan atletis. Bahunya lebar, perut tidak buncit, tubuh tegap, cukup tinggi (jika disandingkan dengan Leny cocok karena Leny pun bukan perempuan pendek), kulit kuning, rambut tidak ada sehelai pun beruban, bahkan Leny yang melihat beliau memakai hem berlengan pendek warna putih motif spiral pantas dikenakan di tubuh beliau dan...tampak menarik. Beliau memang tidak tampan tapi cukup memiliki karisma sebagai pria yang sukses.

"Oh ya, kenalkan dulu. Saya Hadi"

Leny mengangguk.

"Jadi gimana? Sekilas mendengar cerita kamu agar saya membantu meminjamkan uang"

"Benar, Om. Saya butuh uang"

Pelayan datang dengan membawa pesanan Hadi dan meletakkan di atas meja.

"Kamu benar tidak memesan apapun?"

Leny menggeleng.

"Sudah pesan saja"

"Tidak, Om" kata Leny menolak halus.

Pelayan berjalan pergi dan Hadi minum.

"Untuk biaya kuliah saya karena ekonomi orang tua saya mulai goyah"

Leny menceritakan semuanya dan Hadi mendengarkan dengan sesekali mengangguk.

"Sebenarnya selama ini stabil tapi karena hal itu jadi keadaan mulai goyah"

"Ya...hidup memang ada saja masalah apalagi masalah ekonomi"

"Jadi Om bisa mengerti sehingga mau meminjamkan kepada saya?" tanya Leny berharap.

Hadi meletakkan gelasnya.

"Saya selalu bisa...berapapun yang kamu mau tapi saya tidak yakin dengan kamu"

"Maksud Om Hadi? Om, apa dengan bunga?"

Hadi menyunggingkan senyum penuh artinya dan Leny merasa gelisah.

"Kenapa reaksi Om Hadi begitu? Apa arti senyuman Om Hadi?" pikir Leny pelan.

"Ya...bunga"

"Berapa bunga yang ditargetkan Om Hadi?"

"Yakin bisa? Nanti kaget" kata Hadi santai.

"Saya berusaha bisa"

"Tinggi" kata Hadi dengan mengangguk.

"Berapa, Om?"

"25% dari setiap pinjaman kamu"

Seketika Leny terkejut.

"Astaga" pikir Leny.

Hadi melihat sekilas Leny dengan tatapan penuh arti.

"Begini, Leny. Sebenarnya syarat yang diberikan saya ada dua dan kamu bisa pilih salah satu"

"Apa saja, Om?" tanya Leny.

Leny berharap syarat kedua merupakan syarat yang tidak sulit untuk dirinya.

"..."

"Om?" tanya Leny penuh harap.

"Syarat pertama kamu bayar dengan bunga 25% dari setiap pinjaman kamu lalu syarat kedua..."

Leny merasa sangat ingin tahu dan sesekali Hadi mengetuk pelan meja dengan telunjuknya.

"...melayani saya"

"Melayani ya? Jadi saya dijadikan pembantu?"

Seketika Hadi tertawa dan Leny tersentak kaget. Suara tawa Hadi cukup keras.

"Umur kamu berapa? Ah...tidak. Tidak. Saya bisa menilai umur kamu masih sangat muda tapi sudah di atas 18 tahun, bukan? Kamu bisa tidak mengerti. Kamu sangat polos" kata Hadi dengan menggelengkan sebentar kepalanya.

"Apa tidak bisa Om Hadi menjelaskan lebih detail kepada saya?" tanya Leny mendesak.

"Jadi kamu benar tidak tahu?" kata Hadi dengan sikap santai.

Hadi berhenti tertawa dan Leny semakin merasa tidak mengerti.

"Melayani dalam arti...dewasa. Perempuan dan lelaki yang di kamar lalu..."

Seketika terdengar bunyi pukulan di meja. Ternyata Leny baru saja memukul meja dengan tasnya di hadapan Hadi dan berdiri. Tatapan Leny marah.

"Kamu bebas dari hutang, lho...kalau kamu melayani saya"

"Hentikan, Om. Apa Om Hadi pikir saya serendah itu?" kata Leny dengan penuh emosi.

Hadi tersenyum penuh arti dan begitu santainya.

"Dari awal saya tidak ada unsur pemaksaan bahkan saya mengajak kamu berdua di ruang ini secara baik, bukan? Kamu tidak perlu sampai marah begitu" kata Hadi santai.

Leny melihat terus Hadi dengan tatapan jijik.

"Terima kasih meluangkan waktu untuk saya" kata Leny menekan suara.

Leny segera berjalan pergi dan keluar lalu Hadi tersenyum santai dan sesekali mengetuk meja dengan telunjuknya. Leny ada di perjalanan menuju kostnya dengan menyetir sepeda motornya.

"Kenapa sangat sulit untuk membantu papa dan mama? Gue sampai dianggap rendah" pikir Leny dengan merasa sedih.

Pukul 21.00. Leny dan teman SMPnya saling telepon. Leny histeris menceritakan tentang Hadi.

"Memang benar. Nama beliau Om Hadi" kata dia pelan.

"Astaga. Jadi...Om Hadi itu Om Nakal?"

"Tidak bisa dikatakan Om Nakal"

"Maksud loe? Hey, bukankah jika bermain dengan perempuan lain disebut Om Nakal?"

"Menurut gue tidak. Om Hadi bukan Om Nakal pada umumnya. Jika loe kenal lebih dekat dengan Om Hadi ada alasan beliau begitu"

"Apa?"

"Gue tidak bisa cerita. Om Hadi yang berhak cerita sendiri"

"...tapi tetap saja Om Hadi tidak berperasaan"

"Semua tergantung kita. Apa memilih syarat pertama atau tidak? Jika Om Hadi Om Nakal maka Om Hadi tidak akan pernah memberi kesempatan kita untuk berpikir bahkan mengajak paksa di hotel"

"Gue tidak bisa mendengarkan alasan apapun. Om Hadi sudah berkhianat dari istrinya"

"Hal itu terserah beliau lah ya. Gue tidak ada urusan. Jangan mencampur urusan orang lain jika kita tidak tahu yang sebenarnya"

"Jadi mana yang loe pilih?"

"Ya..."

"Hey, jawab gue donk"

"Kedua" kata dia pelan.

"Astaga" kata Leny tersentak kaget.

"Sehingga sampai sekarang gue trauma belum mau memiliki pacar karena gue merasa jijik dengan diri gue sendiri"

Leny bukan jijik justru prihatin terhadap temannya.

"Hey, loe..."

"Sudahlah, Leny. Tidak ada pilihan lagi. Lagian selama gue bersama Om Hadi tidak seburuk yang dipikirkan. Om Hadi tidak seperti Om Nakal yang curang atau gimana. Om Hadi selalu tepat waktu jika memberikan uang kecuali memang ada urusan yang harus langsung diselesaikan. Intinya Om Hadi tidak pernah ingkar tapi ada sisi kejinya juga"

"Apa?"

"Jika Om Hadi sudah bosan kita disuruh pergi tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan"

"Kita dijadikan bonekanya donk"

"Ya..."

Dia menghela napas.

"Entahlah, Leny. Menurut gue loe memang harus mempertimbangkan dengan matang. Jangan karena loe terlalu ingin membantu orang tua maka pikiran loe sudah tidak logis lagi"

"Berapa lama loe bertahan dengan Om Hadi?"

"Cuma 8 bulanan"

Leny merasa prihatin.

"Orang tua loe juga tidak mau loe terlalu memikirkan untuk membantu, bukan?"

"Memang namanya saja orang tua tapi sebagai anak pasti ingin membantu" pikir Leny pelan.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel