Perjanjian Terikat
Pukul 07.15. Hadi datang dan merasa heran karena pintu tidak dikunci.
"LENY!" teriak Hadi.
Hadi segera melepaskan hidungnya dan membangunkan Leny dengan kasar lalu mendudukkan tubuh Leny dan menggoyangkan tubuh Leny. Leny setengah sadar dan melihat seorang lelaki. Leny tersenyum dan memeluk Hadi.
"Om..."
"LENY!" tegur Hadi.
Hadi sangat marah karena Leny jadi senang minum. Hadi memang tidak senang dengan perempuan yang senang minum. Hadi menepuk keras kedua pipi Leny untuk menyadarkan Leny tapi justru Leny sibuk memegang wajah Hadi.
"Ini Om Hadi, bukan?"
"Leny, tidak lucu! Ayo bangun!" kata Hadi dengan mengerutkan dahi.
Leny masih sibuk meraba sampai mengelus wajah Hadi dan membuat Hadi kalang kabut.
"LENY! BANGUN!" bentak Hadi dengan melotot di depan wajah Leny.
Seketika Leny terdiam dan melihat terus Hadi lalu sudah sadar dan mereka jadi saling melihat. Jarak Hadi dan Leny begitu dekat dengan posisi Leny memegang kedua pipi Hadi lalu Hadi memegang kedua lengan Leny dan akhirnya terhanyut menatap wajah Leny. Baru sadar Hadi tidak pernah menatap Leny sampai begitu walaupun sudah sering Hadi menyentuh Leny. Selama ini Hadi cuma berlalu begitu saja ketika telah tidur dengan Leny. Leny segera melepaskan kedua pipi Hadi dengan merasa segan dan menjauh lalu Hadi yang sadar segera berdiri dan berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Apa apaan kamu? Pintu tidak dikunci. Kamu tidur di sini. Penampilan tidak layak dipandang. Bau alkohol" tegur Hadi.
Leny menunduk karena tahu Hadi sangat marah terlihat dari wajah dan sikapnya.
"Jadi selama ini kamu tidak menghiraukan perkataan saya tentang hidup kamu?"
"..."
Hadi melihat ke arah lain dan menghela napas lalu melihat Leny dan merasa tidak senang.
"Saya tidak senang kamu begitu. Cepat mandi dan layani saya. Kamu harus bertanggung jawab karena membuat hati saya tidak senang" kata Hadi marah dan pergi begitu saja.
Leny berpikir sebentar.
"Kenapa Om Hadi harus marah? Bukankah hak gue minum atau tidak? Gue heran dengan Om Hadi yang semakin hari mengekang gue" pikir Leny dengan mengerutkan dahi.
Pukul 07.55. Hadi melihat Leny keluar dari kamar mandi. Rambut Leny setengah basah dan tercium bau sabun di tubuh Leny.
"Ini yang diinginkan saya" pikir Hadi dengan merasa senang.
Hadi berdiri dan Leny berjalan menghampiri Hadi lalu berdiri di hadapannya dan melihat terus. Leny melepaskan handuknya sehingga tubuh telanjang Leny terlihat dan melihat Hadi dengan tatapan mengajak. Leny siap melayani Hadi dan seketika Hadi memeluk Leny lalu mencium bibir Leny dan Leny membalas ciuman Hadi. Begitu penuh dengan hasrat lalu Leny duduk di pangkuan Hadi dan memeluk erat Hadi dengan ciuman begitu panas. Hadi sibuk mengelus punggung putih dan pantat Leny. Sesekali meremas dan Leny berhasil membuka baju Hadi lalu Hadi berbaring dan menindih tubuh Leny. Hadi mencium leher sampai kedua payudara Leny yang begitu menggoda Hadi. Bau tubuh Leny harum membuat hasrat Hadi melambung tinggi maka tanpa berpikir panjang Hadi membuat Leny orgasme lalu giliran Leny dan Leny memegang bagian tubuh Hadi yang bisa membuat Hadi terangsang maka waktu Leny memasukkan inti Hadi ke intinya. Ketika sampai dimana Hadi berhasil memasukkan Leny baru ingat Hadi tidak memakai alat kontrasepsi dan Leny mau mengeluarkan inti tapi Hadi memaksa terus lanjut. Leny tidak bisa menghindar karena kenikmatan yang mulai diciptakan Hadi. Pukul 09.00. Seketika Hadi mengeluarkan intinya dari inti Leny dan sesuatu keluar dari inti Hadi. Banyak sampai semakin lama sedikit. Ketika itu handphone Leny berbunyi dan Hadi yang mau mencium bibir Leny untuk melanjutkan permainannya dengan posisi lain tidak jadi.
"Siapa yang telepon kamu?"
Leny melihat ke arah nakas dan Hadi mengambil lalu seketika Leny merampas dari tangan Hadi dan menjawab.
"Bukan siapapun" kata Leny.
Leny segera mengakhiri telepon dan melirik sekilas layar handphone.
"Kenapa kamu tidak menerima?"
"Bukan orang penting"
"Yakin? Wajah kamu kepikiran. Apa orang lain yang sangat penting?"
"Om Hadi pasti terganggu. Maaf. Saya akan menonaktifkan"
"Kenapa kamu seperti kepikiran? Siapa sebenarnya? Kenapa kamu tidak mau memberitahu saya?"
"Bukan siapapun jadi tidak penting"
Hadi melihat terus gerak gerik Leny dan Leny menonaktifkan handphone.
"Apa kamu ada lelaki lain?" tanya Hadi curiga.
Leny berpikir sebentar.
"Hanya teman"
"Dari mana kenal? Kenapa kamu tertutup tentang dia? Apa spesial?" tanya Hadi dengan mengerutkan dahi.
"Kenapa Om Hadi tanya detail?"
"Jawab jujur. Siapa lelaki yang bersama kamu selain saya?"
"Tidak ada"
"Kenapa kamu jadi bohong?"
"Kenapa Om Hadi sangat ingin tahu bahkan mendesak saya untuk jawab? Apa ada urusan dengan Om Hadi?"
"Kamu tidak boleh bersama lelaki lain ketika dengan saya"
Leny merasa heran.
"Apa itu ada dalam perjanjian?"
"Tanpa di atas kertas seharusnya kamu tahu. Namanya perjanjian artinya kamu terikat dengan saya. Saya pun tidak bersama dengan perempuan lain jika membuat perjanjian dengan seseorang"
"..."
"Mengerti?"
Leny mengangguk terpaksa dan Hadi melihat ke depan dengan berpikir sebentar.
"Saya juga mau kamu mulai menata hidup"
"..."
"Kuliah yang rajin, hanya bersama saya, jangan minum alkohol, saya akan selalu memenuhi semua kebutuhan kamu asalkan kamu janji mendengarkan dan melaksanakan perkataan saya yang baru saja"
Leny tuli mendengarkan apapun perkataan Hadi sehingga hanya mengangguk asal dan Hadi turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi dan menutup pintu dengan mengerutkan dahi. Hadi sudah tidak mood untuk melanjutkan permainannya. Leny merasa sebal dan mengepalkan tangannya.
"Dasar Om pengekang. Siapa memangnya Om?" pikir Leny dengan merasa tidak senang.
Pukul 10.10. Hadi melihat terus Leny yang keluar dari kamar mandi. Leny baru selesai mandi.
"Kamu tidak ada kuliah?"
"Tidak ada"
"Kamu tidak bohong?"
"Kenapa Om Hadi selalu menganggap saya bohong?" protes Leny.
Hadi melihat sebentar langit kamarnya dan akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah. Jika begitu saya pergi. Saya ingin ke kantor"
Hadi melihat sebentar jam di atas nakas.
"Sudah waktunya" lanjut Hadi.
"Ya sudah sana pergi, Om. Masih basa basi" pikir Leny dengan merasa sebal.
Hadi berjalan keluar dari kamar dan Leny melihat kepergian Hadi lalu memastikan Hadi tidak kembali maka Leny tersenyum senang dan berpikir sebentar.
"Akhirnya gue bebas" pikir Leny dengan gembira.
Leny berjalan menuju nakas dan mengambil handphone lalu mengaktifkan dan melihat banyak pesan. Banyak telepon dari Nathan.
"Ya...gara gara Om Hadi. Apa Nathan mikir macam macam ya?" pikir Leny dengan gelisah.
Leny telepon Nathan sampai berulang kali.
"Tidak diterima lagi" pikir Leny dengan merasa kecewa.
Leny merasa lemas dan duduk di atas tempat tidur dengan pelan.
