Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Merantau

Leny berpikir keras dan memikirkan kejadian ketika bersama Hadi.

"Astaga. Tadi tidak memakai pengaman ya?" pikir Leny.

Leny mencari kalender di layar handphone.

"Oh...aman. Om Hadi mengeluarkan di luar. Gue baru ingat" pikir Leny.

Leny berpikir sebentar.

"...tapi...bagaimana jika suatu hari nanti lupa lalu Om Hadi tidak sengaja mengeluarkan di dalam dan gue masa subur?" pikir Leny dengan terkejut.

Handphone Leny berbunyi dan Leny berhenti berpikir lalu melihat layar handphone dan menerima telepon.

"Len" panggil Nathan dengan tersenyum.

"Hai. Maaf tadi gue tidak menerima telepon karena ada kelas jadi gue sampai menonaktifkan" kata Leny dengan nada merayu.

Nathan tersenyum simpul.

"Tidak apa apa. Ayo bertemu. Mungkin malam. Bisa?"

"Jam berapa?"

"Gue pulang pukul 17.00 tapi masih sedikit lembur"

"Jadi?"

"Pukul 19.00"

"Baiklah" kata Leny dengan tersenyum.

Nathan tersenyum.

"Gue ganggu loe?"

"Tidak sedikitpun"

"Jangan sok. Lebih baik loe kerja dulu. Nanti langsung bertemu di sana"

"Kenapa loe tidak mengizinkan gue untuk menjemput loe?"

"..."

"Baiklah. Baiklah. Kita bertemu di sana saja"

"Gue mengakhiri"

"Baiklah"

Leny mengakhiri telepon dan melihat layar handphone.

(Kenapa loe tidak mengizinkan gue untuk menjemput loe?)

"Karena di sini bukan tempat gue" pikir Leny pelan.

Pukul 19.30. Nathan mengajak Leny makan di restoran lalu Leny melihat di sekitarnya dan melihat Nathan dengan sandiwara memberikan senyum terbaiknya.

"Ya...lumayan sih. Dia bisa mengajak gue di restoran mahal" pikir Leny.

"Pesan apa?"

Leny melihat buku menu.

***

"Eca, kamu lihat apa?"

Rebeca menoleh dan melihat pacarnya.

"Oh...tidak...tidak ada"

"Ingat lho ya? Aku tidak mengizinkan kamu melihat lelaki manapun"

Rebeca mencibir dan mencubit pelan pipi pacarnya.

"Masih saja curiga. Sudah hampir empat tahun kita bersama. Masih saja tidak percaya aku"

"Ya...aku cuma mau menjaga dan sangat sayang kamu"

"Paham. Paham" kata Rebeca dengan tersenyum.

"Tadi Leny, bukan?" pikir Rebeca dengan berusaha yakin.

Rebeca berpikir keras.

"Jika memang Leny...tadi bukan lelaki berumur seperti yang dulu pernah gue lihat" pikir Rebeca dengan merasa heran.

Handphone Leny berbunyi dan Leny mengambil handphone lalu melihat layar handphone dan mengerutkan dahi.

"Om Hadi" pikir Leny malas.

[Kamu sudah makan? Jika belum saya akan memesankan makanan untuk kamu lewat ojek online]

Leny membalas pesan Hadi.

"Kenapa kamu? Seperti sebal"

Leny melihat Nathan.

"Tidak ada"

"Kenapa sebenarnya?"

"Biasa. Cuma teman kuliah yang mengganggu" kata Leny.

Leny meletakkan handphone dan menonaktifkan.

[Sudah. Kenapa Om Hadi harus menghubungi saya terus? Saya harus kerja tugas jadi jangan ganggu saya]

Hadi merasa tidak bisa menerima dan mengerutkan dahi.

"Kenapa respon kamu begitu?" pikir Hadi.

Hadi membalas pesan Leny.

[Niat saya baik. Belajarlah merespon pertanyaan orang dengan baik juga]

Hadi mengirimkan pesan.

"Tidak ada laporan terkirim" pikir Hadi.

Hadi penasaran maka mau telepon tapi tidak jadi karena terdengar suara Cindy memanggil di sampingnya.

"Ada apa dari tadi tampak bingung?"

"Oh...tidak ada" kata Hadi dengan meletakkan handphone dan berusaha menyembunyikan rasa ingin tahunya.

"Besok aku mau pergi ke rumah saudara"

"Lagi?"

Cindy berpikir.

"Ya"

Hadi menghadapkan badannya kepada Cindy dan melihat terus Cindy.

"Kenapa?" tanya Cindy santai.

"..."

"Kamu tidak perlu mengintimidasi aku"

"Tidak apa apa jika memang ada kepentingan tapi bukan berarti kamu susah dihubungi. Kamu jauh dari rumah maka handphone kamu mengikuti susah dihubungi. Apa sebenarnya yang dilakukan kamu? Benar kamu di rumah saudara?"

Cindy merasa heran.

"Maaf. Maaf" kata Hadi dengan berpikir.

Cindy melihat terus Hadi.

"Baiklah hati hati"

Cindy berusaha tersenyum dan berjalan pergi. Hadi berpikir keras dengan sesekali mengetuk meja menggunakan telunjuknya. Pukul 23.10. Nathan dan Leny masih betah ada di klub malam setelah makan malam.

"Di mana loe kuliah?"

"Loe lucu. Awalnya loe tanya tempat kontrak gue lalu sekarang loe tanya kampus gue nanti apalagi?"

"Jadi juga tidak boleh tahu?"

"..."

"Loe memang ada sifat juteknya" kata Nathan dengan tersenyum.

Leny mengamati banyak orang di sekitarnya.

"Gue minta maaf" kata Nathan.

Leny merasakan tangannya dipegang erat dan melihat tangannya. Ternyata tangannya dipegang Nathan dan secara perlahan Leny melepaskan.

"Kamu pulang malam tidak dicari orang tua?"

"Cuma ditanya dan pastinya gue menjawab bohong. Ke rumah teman. Gue nakal ya?" kata Nathan dengan tertawa pelan.

Leny cuma tersenyum tipis.

"...terutama gue tidak pernah melakukan hal yang memalukan"

"Maksud loe?"

"Seperti main perempuan"

"Loe datang ke sini tidak termasuk nakal?"

"Lihat dulu tujuannya. Jika gue hanya untuk melepas penat dari pekerjaan apalagi suasana di kantor sangat tegang terutama jika papa gue yang bicara. Papa gue sangat keras"

"Serius? Jadi tujuan loe cuma itu?"

Nathan mengangguk.

"Apa loe jujur? Jadi loe juga tidak pernah berhubungan...maaf. Maaf"

"Kenapa? Tanya saja. Gue tidak akan tersinggung karena sudah biasa ditanya hal yang macam macam. Gue memang dianggap cupu oleh teman perkumpulan gue" kata Nathan dengan tertawa pelan hanya sebentar.

Nathan menggaruk sebentar kepalanya yang tidak terasa gatal.

"Apa loe tidak penasaran?"

"Penasaran?"

"Ya...rasanya melakukan seks"

Nathan berpikir keras.

"Apa loe ingin melakukan bersama gue?" tanya Nathan dengan tertawa pelan.

Leny merasa heran dan Nathan segera berhenti tertawa.

"Maaf. Maaf. Gue tidak ada maksud. Gue sungguh becanda" kata Nathan dengan merasa menyesal.

"Ternyata dia cowok dari keluarga baik baik" pikir Leny.

"Leny"

Leny melihat Nathan.

"Apa loe sungguh tidak ada pacar?"

Leny berpikir sebentar dan menggeleng.

"Jadi...gue ada kesempatan" kata Nathan dengan tersenyum senang.

"Maksud loe?"

"Becanda. Becanda" kata Nathan dengan tersenyum.

Leny merasa perkataan Nathan sebenarnya serius. Jika untuk urusan lelaki yang pendekatan dengan dirinya Leny sudah hapal karena sering merasakan ketika SMA.

"Gue tidak bisa membiarkan loe memiliki gue" pikir Leny pelan.

"Gue bosan. Ingin keluar dari sini. Loe mau menemani gue?" tanya Nathan.

Leny berpikir sebentar.

"Gue mau ke suatu tempat"

"Ke mana? Jika boleh gue akan menemani" kata Nathan dengan tersenyum.

"Boleh"

Nathan dan Leny berdiri lalu berjalan keluar dan berjalan beriringan. Pukul 00.00. Nathan dan Leny sampai di pantai lalu Leny memandang ombak dan Nathan melihat terus Leny.

"Dilihat dari remang lampu loe bercahaya. Hal itu membuat loe semakin cantik dan menarik" pikir Nathan dengan memandang Leny.

"Andai loe tahu gue yang sebenarnya" pikir Leny.

Leny menghela napas pelan dan Nathan merasa ingin tahu.

"Apa loe ada masalah?"

Leny menoleh dan melihat Nathan lalu segera menggeleng dan Nathan melihat terus Leny dengan seksama.

"Jadi loe bukan asli orang sini?"

Leny memberitahu kota asalnya dan mengenang masa dulu ketika dirinya masih suci.

"Jujur gue menyesal memilih kuliah di sini"

"Kenapa loe baru menyesal? Apa ada peristiwa besar dalam hidup loe selama ada di sini?"

"Lebih daripada hal itu. Andai gue tidak memilih kuliah di sini maka gue masih suci" pikir Leny pelan.

Leny berusaha tersenyum.

"Bukan apapun. Gue rindu orang tua. Gue tidak bisa setiap minggu pulang"

"Gue tahu loe harus hemat uang"

"Dari mana loe tahu?"

"Kata loe bukan orang sini artinya loe perantau. Orang perantau biasanya harus hemat apalagi loe merantau ke sini untuk kuliah"

"Merantau...seperti perkataan orang yang sampai di luar pulau padahal cuma antar kota. Dari sini ke kota gue cuma 2 jam" kata Leny dengan tersenyum lucu.

Nathan tertawa pelan hanya sebentar.

"Menurut gue sama saja"

Leny menoleh dan melihat Nathan.

"Bagaimana dengan loe? Apa loe sudah ada pacar?"

"Wah kalau gue sudah ada pacar maka gue tidak akan datang ke klub malam"

"Benar juga" kata Leny pelan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel