Sebuah Kenyataan
Pukul 02.00. Nathan dan Leny keluar dari mobil.
"Terima kasih"
"Yakin cuma di sini? Gang loe sepi"
"...tapi aman" kata Leny.
Nathan tampak khawatir.
"Jangan terlalu berlebihan. Gue baik saja. Sampai bertemu kembali" kata Leny dan berjalan pergi.
Nathan melihat kepergian Leny.
"Semakin hari perasaan gue..." pikir Nathan.
2 bulan kemudian
Leny mengambil handphone dan melihat layar handphone dengan merasa heran.
"Nomor tidak dikenal. Siapa memangnya?" pikir Leny.
Leny coba menerima telepon.
"Kamu siapa?"
Leny merasa heran.
"Justru saya yang seharusnya tanya begitu. Kamu siapa?"
"Kemarin malam kamu memberi pesan kepada suami saya untuk transfer uang. Apa maksud kamu? Uang apa?"
Leny terkejut.
"Apa artinya...yang telepon gue...Tante Cindy?" pikir Leny.
"Apa kamu ada hubungan khusus dengan suami saya?"
Leny semakin terkejut.
"Kenapa cuma diam? Jawab"
Leny mendengar dia menggertak untuk jawab yang sejujurnya dan merasa tidak sabar.
"Maksud Anda? Suami? Siapa ya? Kamu juga siapa? Maaf salah sambung" kata Leny dengan segera mengakhiri telepon.
Leny panik.
"Astaga sudah ketahuan" pikir Leny.
Handphone Leny berbunyi lagi dan nomor Cindy yang telepon lalu Leny terkejut dan menonaktifkan handphone. Pukul 16.00. Leny bangun dan duduk. Sejak tadi Leny tidak melakukan apapun karena kepikiran lalu mengambil handphone dan coba mengaktifkan handphone.
"Apa Om Hadi bersama Tante Cindy? Bagaimana gue menghubungi Om Hadi? Gue harus bicara dengan Om Hadi?" pikir Leny.
Leny mau mengirim pesan tapi tidak jadi.
"Bagaimana jika ternyata Tante Cindy yang membuka pesan gue?" pikir Leny.
Leny merasa serba salah.
"Astaga. Apa yang harus dilakukan gue?" pikir Leny dengan merasa bingung.
Leny mau telepon Hadi tapi tidak jadi karena ingat perkataan Hadi yang dulu.
(Jangan telepon lebih dulu ketika kita tidak bersama karena bisa saja saya bersama istri saya)
"Pesan Om Hadi begitu tapi gue harus bicara dengan Om Hadi" pikir Leny dengan merasa gundah.
Sesekali Leny berteriak gemas karena tidak tahu yang harus dilakukan. Pukul 16.30. Leny memutuskan telepon dan tidak diterima.
"Om Hadi, terima. Penting" pikir Leny dengan gelisah.
Leny telepon lagi dan tidak ada jawaban.
"Apa Tante Cindy yang menerima? Gawat" pikir Leny.
Leny mau mengakhiri tapi terdengar suara Hadi.
"Om Hadi" panggil Leny ragu.
"Kenapa kamu telepon saya dulu?"
"Ada hal yang harus saya katakan"
"Apa?"
"Tadi Tante Cindy telepon saya dan sudah tahu semuanya walaupun Tante Cindy basa basi tanya dulu"
"Saya tidak tahu apapun" kata Hadi dengan merasa heran.
"Om Hadi benar tidak tahu?" tanya Leny dengan merasa tidak percaya.
"Tidak tahu" kata Hadi terkejut.
"..."
"Saya juga kaget Cindy bisa tahu nomor kamu"
"Om Hadi, lebih baik perjanjian kita selesai"
Hadi terkejut.
"Maksud kamu?"
"Tante Cindy sudah tahu jadi waktunya perjanjian kita diakhiri"
Tidak ada jawaban dari Hadi justru telepon terputus dan Leny merasa bingung.
"Berarti waktunya gue cari pekerjaan" pikir Leny.
Dulu impian Leny mau lepas dari Hadi tapi sekarang ketika semuanya terjadi jadi bingung karena Leny menyadari bekerja tidak akan membuat kebutuhannya terpenuhi sedangkan selama ini Leny seenaknya minta uang untuk ini atau itu kepada Hadi. Leny berkelimpahan uang. Pikiran Leny sudah serakah.
"Apa gue cari Om lain saja?" pikir Leny dengan merasa senang.
Leny berpikir sebentar.
"Di klub malam banyak Om" pikir Leny dengan bersemangat.
Pukul 17.30. Hadi datang ke tempat kontrak Leny dan Leny yang keluar melihat Hadi.
"Om Had..."
"Ingin ke mana?" potong Hadi.
Leny tidak bisa menjawab dan berpikir sebentar.
"Kenapa Om Hadi masih di sini?"
Seketika Leny ingat.
"Salah saya tanya begitu. Seharusnya saya yang keluar dari sini. Di sini tempat Om Hadi bukan saya. Om Hadi, saya akan keluar dari sini tapi beri kesempatan saya seminggu lagi...oh tidak...tidak. Tiga hari lagi kalau Om Hadi keberatan...untuk saya cari..."
"Apa kamu lupa perjanjian kita?" potong Hadi.
Leny berpikir sebentar.
"Selama saya tidak menyuruh kamu pergi artinya saya masih mau dilayani kamu"
Leny mau bicara.
"Saya akan mengganti perjanjian kita dengan yang baru"
Leny tidak jadi bicara dan merasa tidak mengerti.
"Isi perjanjian yang baru saya ingin selamanya dilayani kamu sehingga kamu tidak bisa menyuruh saya mengakhiri"
Leny terkejut.
"Maksud Om Hadi?"
Leny merasa bingung.
"Kenapa jadi begitu? Om Hadi curang. Om Hadi juga harus mengerti posisi saya. Tante Cindy sudah tahu jadi waktu dimana kita berakhir...ya...sekarang waktunya"
"Jika kamu mengingkari maka...kamu masih ingat?"
(...maka mengganti dengan bunga 50%)
Leny mengingat isi perjanjian dan tersentak kaget.
"Tolong Om Hadi mengerti posisi saya. Saya sudah merusak rumah tangga Om Hadi" kata Leny memohon.
Hadi melihat terus Leny.
"Saya tidak akan mengakhiri begitu saja jika peristiwa tadi tidak ada. Saya perempuan, Om. Jadi saya mengerti perasaan Tante Cindy" lanjut Leny gundah.
"Saya sudah susah melepaskan kamu"
"Ketika Tante Cindy tahu...maaf...saya tidak bisa melanjutkan. Saya sungguh minta maaf, Om. Saya akan mengganti uang Om Hadi beserta bunga walaupun dengan mencicil. Saya mohon Om Hadi bersedia memberikan toleransi kepada saya untuk mencicil. Tolong Om Hadi juga jangan menuntut saya" kata Leny pelan.
"Sudah susah. Dulu saya memang mudah melepaskan kamu tapi sekarang susah. Terlalu rumit untuk perasaan saya yang sekarang"
Leny merasa tidak mengerti.
"Sering bersama membuat saya cinta kamu"
Leny tersentak kaget dan membelalakkan kedua mata.
"Segala sifat kamu. Jadi bukan hanya kamu yang sudah terjebak dengan saya. Saya juga terjebak cinta dengan kamu"
Leny tidak bisa mempercayai perkataan Hadi dan justru merasa konyol.
"Maksud Om Hadi? Om Hadi ingin buat lelucon dengan saya? Om Hadi masih menganggap saya polos?"
"Kamu berbeda dengan semua perempuan yang pernah menjadi simpanan saya" kata Hadi menatap Leny.
Leny merasa tidak menyangka dan melihat tatapan beda dari Hadi lalu Hadi yang begitu menatap dalam membuat secara perlahan Leny sadar Hadi memang tidak sedang membuat lelucon dan mendengarkan lagi perkataan Hadi.
"Saya tidak bisa menjelaskan detail. Intinya kamu menggemaskan dan begitu menarik untuk saya"
Leny tidak merasa bangga justru beban. Sungguh beban berat. Kenapa lelaki yang sudah menjadi suami orang bahkan dirinya menjual kepada lelaki itu bisa menyukai dirinya? Leny juga bertanya terus dalam hati. Apa benar ada lelaki seperti Hadi walaupun sudah memiliki istri bisa menyukai perempuan lain?
"Saya memang tidak bisa memilih antara kamu dengan Cindy. Cindy memegang peran penting dalam hidup saya. Cindy memberikan jagoan hebat untuk saya tapi satu sisi kamu membuat saya jatuh cinta lagi dengan seorang perempuan"
"Kembalilah, Om. Kembalilah dengan Tante Cindy. Saya tidak bisa percaya dengan cinta Om Hadi untuk saya. Saya sudah tidak mengenal cinta, Om" kata Leny pelan.
Hadi melihat terus Leny dan mengerti maksud perkataan Leny.
"Saya yakin itu hanya pelampiasan...semuanya...entah pelampiasan sebuah perasaan atau napsu..."
Leny nyengir.
"Saya juga bersama Om Hadi hanya untuk uang. Hubungan kita hanya antar pelayan dan majikan. Tidak bisa lebih"
Hadi berusaha menepis rasa kecewanya.
"Saya tidak ada kata atau menyuruh kamu untuk menjawab bahkan menerima cinta saya. Saya juga menyadari posisi kamu yang hanya menganggap kita bersama karena sebuah perjanjian dan justru perjanjian itu kamu tidak bisa lepas dari saya. Kamu sudah tanda tangan di atas materai maka saya bisa menuntut kamu"
Leny terkejut.
