Bab 9 Kembali Ke Rumah
Sudah seminggu lebih sejak terhitung dari pertama kali dia datang dan berkerja untuk menjadi baby sitter di rumah besar milik keluar Sabian ini, Ayla tidak lupa akan janjinya pada Hana tempo hari yang menyatakan dirinya untuk setiap hari minggu agar berkunjung ke sana.
Ayla mengendap-endap untuk keluar dari dalam rumah, Ayla membuka sedikit pintu kamar Arion untuk melihat Arion.
"Huftt.. Untung masih tidur,"
Ayla menghela napas lega kemudian diamenutup kembali pintu kamar Arion dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur si bayi besar, Ayla dengan cepat menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Ayla menatap makanan yang telah dia siapkan, dan jangan lupakan segela susu dan berbagai macam buah.
"Semua udah lengkap, waktunya pergi."
Ayla segera melangkah keluar, namun Ayla sempat berhenti menatap motor matic yang masih terpajang di garasi bersama beberapa mobil. Ayla menggeleng pelan saat terlintas ide untuk membawa motor matic ke rumahnya.
Ayla menggelengkan kepala beberapa kali, "Gak. Nggak. Nggak. Ayla lo nggak boleh ya bawa motor orang lain, walaupun yang punya kasih izin ya tetep aja. Kata Ayah nggak boleh, dan Nenek pasti juga akan marah apalagi ibu."
Ayla menatap kembali motor dari balik jendela di ruang tengah dan kembali memilih untuk melanjutkan langkahnya agar dia tidak terlalu lama sampai ke rumah, Ayla menutup kembali pintu bercat putih tinggi. Setelah pintu benar-benar telah tertutup Ayla segera berlari dengan kecepatan penuh untuk menjauhi area permuahan ini.
***
Ayla baru saja turun dari taksi tepat di depan gang rumahnya, Ayla sengaja turun jauh dari rumahnya untuk menikmati sedikit susana tempat tinggalnya dulu lebih lama lagi. Karena dia yakin cuman hari ini dia bisa menikmatinya, karena Bik Siti belum memberitahunya kapan mereka akan kembali lagi.
Ayla tersenyum dan seseakali menyapa orang-orang yang berlalu lalang.
"Waa, nak Ayla makin cantik aja." puji salah satu ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya.
"Hehe, makasih." sahut Ayla sambil menunduk karena mendapati Ibu-Ibu lain yang datang menghampirinya.
"Mau ke rumah ya?" tanya Ibu-Ibu lain yang menghampirinya.
"Iya," jawab Ayla seenaknya.
"Waa bagus, Ibu kamu tuh kangen banget apalagi Fina. Memangnya kamu kemana aja sih?" sahut seorang Ibu yang pertama kali mendatanginya.
"Iya, Ayla juga pergi karena kerja. Tapi ya emang sih nggak enak harus ninggalin ibu, nenek sama adik-adik di rumah. Tapi ya mau gimana lagi?"
"Kamu kerja? Kerja apa?" tanya Ibu-ibu dengan kipas berbulu di tangannya, kalau tidak salah mengingat dia adalah istri dari ketua RT di tempat tinggalnya.
Mampus gue! Pikiran Ayla sekarang tidak menentu, tidak mungkin bilang pengasuh bayi besar yang berumur 20 tahun. Bisa-bisa mereka semua akan membicarakannya yang tidak-tidak nanti.
"Ehh! Ay!" Ayla tersenyum setidaknya dia bisa selamat kali ini berkat Kezia yang entah dari mana datang menerobos ibu-ibu yang sudah mengermunuinya seolah-olah dirinya adalah penjahat di tempat tinggalnya sendiri.
"Eh, Ji!"
"Woo, ada apa ini kok Ayla di kermumuni gini sih?"
"Eh, nggak!"
Kezia tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Ayla sambil merangkulnya, Kezia menatap ibu-ibu yang ada di sana dengan kening yang mengerut.
"Maaf nih Aylanya ada masalah apa ya sampai rame-rame gini?"
Ibu yang sedang mengendong anaknya melirik Kezia dan Ayla bergantian, "Nggak apa-apa, cuman ngobrol bentar doang. Lagian udah lama banget nggak lihat Ayla,"
Keiza mengangguk, kemudian menarik tangan Ayla untuk keluar dari kerumunan Ibu-Ibu yang haus informasi, Ayla hanya pasrah saat Kezia menarik tangannya setidaknya dia bisa selamat.
"Ah, gila parah banget itu emak-emak!" gerutu Kezia saay berhasil membawa Ayla menjauh dari kerumunan ibu-ibu.
Kezia melepaskan gengaman tangannya pada Ayla, "Thanks Ji, gue mau ke rumah. Sekali lagi thanks,"
Kezia memukul lengan bagian atas Ayla, "Lo kayak sama siapa aja sih?" ucap Kezia, "Biasa aja kali," lanjut Kezia dengan santai.
"Burun gih lo balik ke rumah,"
"Iya, bye Jiaa!" sahut Ayla sambil melambaikan tangan ke Kezia.
"Ay, nanti mampir ya ke rumah. Bosen gue sendiri!"
"Iya Ji!"
***
"Assalamualaikum,"
Ayla mengetuk pintu rumahnya beberapa kali berharap penguni di dalam sana segera keluar, Ayla sedikit mengintip dari jendela rumahnya untuk melihat apakah ada orang atau tidak.
"Iya, sabar." Ayla segera menurunkan tanganya saat mendengar suara adiknya yang paling kecil, Fina. Ayla mengembangkan senyumnya saat pintu telah terbuka memperlihatkan adiknya yang masih memakai baju tidurnya.
"Kak Ayla!" pekik Fina kegirangan, dia langsung menghambur kedalam pelukan sang kakak. "Fina kangen banget sama kakak,"
Ayla membalas pelukan Fina tidak kalah erat, "Kakak juga kangen banget sama Fina, yang lain ada di mana?"
Ayla melepaskan pelukan dia menatap ke arah adiknya dalam, dia melihat di sudut bibir Fina terdapat nasi. "Lagi makan ya?" tebak Ayla yang di hadiai angukan oleh Fina.
"Iya, ayo kak masuk dulu. Ibu sama Nenek pasti seneng kakak udah balik."
Ayla menurut saja saat tangannya di tarik oleh Fina dan membawanya masuk ke dalam rumah, "Ibu! Nek! Bang Farel! Kak Ayla pulang nih!"
Fina berteriak tepat saat mereka berdua telah sampai di ruang makan, teriakan Fina membuat Farel yang baru memasukkan nasi ke dalam mulutnya tersedak.
"Fina! Jangan teriak-teriak!" sahut Farel setelah meminum air.
Fina menyengir tanpa dosa ke arah Farel yang kini tengah menatap tajam ke arah adiknya yang paling kecil, "Awas ya! Nggak akan abang bantu ngerjain tugas lagi," ancamnya.
"Eh! Jangan doang, nanti gimana sama tugas-tugas Fina?"
"Kerjain sendiri lah," jawab Farel dengan enteng.
Fina berdecak kesal, dia kemudian beralih pada Ayla untuk menyuruhnya duduk tepat di kursi sebelahnya. Ayla duduk menatap seluruh anggota keluarganya terutama pada Amira, Ibunya dan Hana, Neneknya.
"Ayla, kamu itu sebenernya kerja di mana sih? Kamu juga pergi nggak pamit dulu sama Ibu, terus kenapa baru sekarang kamu balik lagi? Ibu itu khawatir sama kamu Ayla. Berhenti buat Ibu khawatir, sebenernya kamu itu nganggep ibu atau nggak sih? Ibu bener-bener heran sama kamu, setidaknya kasih tau sama ibu. Ibu juga mau tahu keadaan kamu selama seminggu ini."
Ayla menunduk mendengar setiap perkataan ibunya, dia tidak bermaksud membuat Ibunya khawatir seperti ini.
"Waktu kamu pergi dari rumah, nenek sempet ngasih ke ibu amplop isinya uang sebanyak itu. Itu uang kamu? Kenapa sebanyak itu? Kamu nggak ngelakuin hal aneh-aneh kan?"
Ayla mengangkat wajahnya dan menggelengkan kepalanya beberapa kali, "Nggak aneh-aneh bu. Nenek kan udah jelasin kalau aku kerja Bu, sebelumnya aku juga bilang kan aku dapet kerja." jelas Ayla.
"Kerja apa kamu? Pengasuh? Kenapa kerja gitu, pasti berat kenapa nggak yang lain aja?"
Ayla menghela napas berat, "Cuman itu doang bu yang bisa Ayla dapat," Ayla memundurkan kursinya untuk segera keluar dari, "Ayla pamit ya, mau langsung pulang."
***
Ting
0812-xxxx-xxxx: Gue bakalan balik ke Indo
Kezia baru saja mendaratkan bokongnya di atas sofa empuk setelah bertemu dengan Ayla tadi, dia mengernyit membaca pesan dari nomor yang tidak ia kenal.
Kezia Aletta: Maaf, siapa ya?
Kezia kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
0812-xxxx-xxxx is calling
Kezia melebarkan kadua bola matanya, ponselnya berdering. Melihat siapa yang menelpon nomor yang tidak dia kenal tadi langsung dia abaikan, suara panggilan sudah selesai dan di gantikan dengan notifikasi pesan dari nomor yang sama.
0812-xxxx-xxxx: Kok gak di angkat?
0812-xxxx-xxxx: Parah banget sih :(
"Idihhh! Siapa sih? Gila ya nih orang?"
0812-xxxx-xxxx is calling
Nomor itu lagi, Kezia mengambil ponselnya dan mulai mengangkat panggilan dari nomor yang tidak di kenal. Kezia mulai menempelkan ponsel ketelinganya, hanya hening dengan suara angin yang jelas berhembus di seberang sana dan beberapa suara tetesan air yang turun. Kezia mengerutkan keningnya karena tidak ada suara dari seberang sana, Kezia mulai merasa kesal dia merasa seperti di kerjai oleh orang yang sama sekali tidak dia kenal.
"Maaf ya, lo siap sih? Sumpah gue nggak tahu lo si--"
"Hai, gu-"
Kezia menjauhkan ponsel dari telinganya saat suara serak khas orang yang baru bangun tidur terdengar begitu jelas di telinganya, Kezia menatap layar ponselnya dengan ragu-ragu dia mulai menempelkan kembali ponsel ketelinganya.
Ini masih sulit di percaya untuknya.
"Kes, Hallo?" Kezia merasa tercekat saat panggilan itu kembali terdengar, tidak ada niat untuk menyahut. Namun di seberang sana seseorang menarik sudut bibirnya saat suara napas Kezia terdengar jelas.
"Lo tahu, gue mau balik. Gue harap kita ketemu lagi nanti."
"Kes, lo mau kan bantu gue?"
"Demi kita juga, mau?"
