Bab 8 Rumah Pohon
"A-aron?"
"Eh, iya gue lupa. Kenalin ini Arion," ucap Ayla saat melihat raut binggung Kezia.
"Hai," Arion menjulurkan tangannya yang langsung di jabat oleh Kezia. "Arion,"
"Kezia, panggil aja Jia."
Arion mengangguk paham, setelahnya Arion melepaskan tanganya dan memilih duduk di bawah pohon. Posisi mereka kini adalah Ayla berada di tengah dengan Arion duduk di sisi kiri dan Kezia di kanan, Arion tampak tenang bermain dengan ponselnya sedangkan Ayla dan Kezia ngobrol santai.
"Ay, yang lo bawa ini siapa sih?" akhirnya Kezia bertanya tentang siapa Arion yang Ayla bawa.
Ayla menoleh sebentar ke arah Arion, "Anak asuh gue," jawab Ayla, dia menatap ke arah Kezia yang tengah terkejut dengan apa yang baru dia katakan.
"Serius?!" tanya Kezia dia menyentuh bahu Ayla dan mengoyangkannya pelan, Ayla mengangguk mengiyakan pertanyaan Kezia.
"Crazy," sahut Kezia lelah, dia menyandarkan tubuhnya di pohon yang sudah tua yang selalu menjadi tempat bermain mereka dulu.
"Kenapa sih? Emangnya salah ya?" tanya Ayla dengan polosnya.
Kezia langsung menegakkan tubuhnya dan sedikit menggeser tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Ayla, Kezia menekan pelan bahu Ayla agar bertatapan dengannya. "Denger ya, lo mau kerja apa aja emang nggak salah. Cuman ya aneh aja gitu. Lo jadi pengasuh untuk anak laki-laki yang bahkan udah segede ini, apa kata Ibu sama Nenek lo coba?"
Ayla menggeleng, "Nggak tahu. Tapi lo jangan kasih tahu juga soal ini, mau kan lo janji sama gue?" ujar Ayla menyodorkan jari kelingkingnya.
"Gue nggak janji,"
"Ishh, lo gitu banget sih sama gue. Jahat lo jahat," Ayla memukul punggung Kezia.
"Bukan jahat, yakali gue harus bohong sama Ibu lo cuman gara-gara anaknya ini. Nggak mau durhaka gue," ucap Kezia ada benarnya.
Ayla mendengus kesal, "Ihh, sok biasanya juga sering bohong kok."
Kezia menyengir tidak berdosa, "Nah itu dia. Dosa gue udah banyak jangan tambahin dosa gue lagi,"
"Nggak setia kawan,"
"Gini nih, apa-apa bilang nggak setia kawan. Jadi selama ini gue gimana sama lo?" balas Kezia menatap lurus ke depan.
Ayla menatap lurus kedepan, "Lo sih bukan kawan gue," Ayla menarik napas pelan dan menghembuskannya, perkataannya ini langsung mendapat pelototan tajam dari Kezia. "Lo juga bukan sahabat gue. Tapi lo udah gue anggap kayak kakak gue sendiri," Ayla melipat lututnya sampai di depan dada. "Lo tahu itu kan?"
Kezia tertawa pelan, "Iya gue tahu kok," ucap Kezia menggantung. "Adik," lanjut Kezia.
"Ha? Apa? Apa? Gue nggak salah denger kan? Apa tadi lo bilang, adik?" ucap Ayla berlebihan dia sampai menyentuh kening Kezia seolah sedang mengecek suhu tubuh Kezia.
"Astagfirullah, Ji. Turut perhiatin gue sama lo," Ayla menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali, "Gue nggak nyangka banget sumpah, udah berapa lama?"
"Apaan sih Ay," Kezia menurunkan tangan Ayla yang masih berada di keningnya. "Geli gue sumpah!"
"Lo geli apalagi gue yang denger lo manggil gue adik, lagi. Jijik tahu gak,"
Kezia langsung menoyor bahu Ayla kuat sampai tubuh Ayla menabrak Arion yang tengah duduk tenang sambil bermain game, "Aduh!" ringis keduanya beramaan.
"Ihh, Ay kenapa nabrak Rion sih? Rion jadi kena tabrak kan," adu Arion sambil menunjukkan permainan subway surf.
Ayla dan Kezia kompak meringis mendengar aduan dari Arion, "Iya maaf-maaf," jawab keduanya bersamaan.
"Jia tuh yang dorong."
"Eh! Kok gue?" sahut Kezia tidak terima.
"Ya terus siapa dong? Kan emang lo Ji yang dorong gue!"
"Eh, mana ada. Tangan gue tuh yang bandel bukan gue," ucap Kezia sambil memukul tangannya sendiri.
"Sama aja, Ji." sahut Ayla malas.
Arion menutup ponselnya dan memasukannya ke dalam tas milik Ayla, Arion menatap kedua perempuan yang sedang bersamanya dengan bergantian.
"Ay, mau pulang. Rion mau bobok, Rion juga belum makan siang."
Ayla tersadar dia menempuk keningnya, "Gue lupa!"
"Ay, lo kenapa sih?"
"Sorry Jia ini nggak bisa lama-lama, gue mau pulang dulu bawa nih bayi besar dulu ya."
"Oh, ok deh kalau gitu. Hati-hati lo,"
"Iya!" sahut Ayla, Ayla mengeluarkan kunci motor matic milik pak Aryo.
***
Arion mengikuti Ayla dari belakang. "Nih bawa tasnya," Arion menerimanya dan mengeratkan pegangan pada tas milik Ayla. Ayla mengeluarkan kunci motor matic dari saku celanannya, "Buruan naik,"
"Iya,"
Arion duduk tepat di belakang Ayla, sebelumnya Arion juga memakai helm dan berpegangan pada sisi belakang motor. Di saat motor melaju Ayla menatap sebentar Arion yang duduk di belakang.
"Jangan pegangan di belakang. Berat,"
"Ha? Apa?"
"Jangan pegangan di belakang. Berat!" ulang Ayla dengan suara yang lebih kuat.
"Iya! Rion kan udah pegangan!"
"Bukan! Lo pegangan aja di jeket gue atau di mana aja terserah. Asal jangan di belakang, berat."
Tidak ada sahutan, "Eh, Rion." panggil Ayla lagi.
"Jangan tidur elah ntar jatoh, kalau lo doang jatoh nggak masalah kalau gue yang ikut jatoh itu yang bahaya." peringat Ayla, Arion mendengus mendengar ucapan Ayla.
"Gitu banget sih,"
"Makanya yang bener,"
"Iya,"
"Pegangan,"
"Iya," sahut Arion yang langsung memeluk tubuh Ayla, pelukan tiba-tiba dari Arion membuat Ayla menghentikan motornya. "Jangan meluk!"
"Katanya pegangan,"
"Tapi bukan meluk,"
"Kalau pegangan di belakang salah, meluk salah. Yang bener yang mana sih?"
Ayla mengusap wajahnya gusar, "Turun,"
Arion langsung menurut atas perintah Ayla, dia turun dari atas motor dan memperhatikan Ayla yang juga ikut turun sambil melepaskan helmnya. Arion pun melakukan hal yang sama untuk melepas helm yang terpasang sempurna di kepalanya, Arion mengernyitkan keningnya saat Ayla menghentikan sebuah taksi dan menyebukan alamat rumahnya.
"Ay, kita naik taksi. Terus motor Pak Aryo gimana?" tanya Arion dengan polosnya.
"Ya nggak lah," Ayla mengelak pertanyaan Arion sambil membukakan pintu taksi dan mendorong Arion untuk masuk ke dalamnya.
"Udah Pak jalan aja," titah Ayla pada supir taksi saat Arion telah masuk di dalam taksi, Ayla tersenyum puas saat taksi itu telah berjalan menjauh dan kini tinggal dirinya yang harus pulang.
***
Ayla segera turun dari atas motor matic itu saat sudah sampai di pelataran rumah keluarga Sabian, Ayla terperajat saat mendengar suara Arion yang berteriak menghampirinya.
"AYLAAA!"
Ayla mengelus dadanya saat melihat Arion kini telah berdiri di hadapannya. "Hiks... Bik Siti mau pergi. Hikss... Rion nggak mau. Huaaaa Rion nggak mau!"
Ayla mengernyit binggung, tapi setelahnya dia paham saat melihat Bik Siti dan Pak Aryo berjalan ke arah mereka sambil membawa tas besar.
"Bik, kalian mau kemana?"
"Bibi mau balik ke kampung, Kamila, anak Bibik lagi sakit." jawab Bik Siti sambil menunduk sedih, di sampingnya Pak Aryo terus mengusap punggung Bik Siti untuk menenangkan.
"Sakit apa Bik?"
"Cacar,"
"Terus, Bibik nanti pulangnya kapan?"
Bik Siti mengeleng, "Belum tahu,"
Ayla mengangguk, "Yaudah Bik, nggak apa-apa. Bibik balik aja, urus aja dulu anaknya Bik." Ayla diam sejenak, "Umm, Bu Nessya udah tahu?"
"Udah," jawab Pak Aryo. "Oh ya kamu nggak apa-apa kan jaga Arion sendiri?" tanya Pak Aryo hati-hati.
"Nggak apa-apa kok," sahut Ayla dengan senyum yang membuat Pak Aryo dan Bik Siti merasa tenang. Karena bagaimana pun juga mereka telah berkerja cukup lama di sini, dan Arion sendiri sudah seperti anak mereka sendiri. Begitu juga dengan Arion yang menganggap mereka seperti kedua orang tuanya sendiri.
"Beneran harus pergi?" tanya Arion.
"Iya, Den Rion sama Ayla ya?"
"MAU IKUTTT! Ayla nakal, nggak mau sama Ayla. Tadi aja Rion di tinggalll, Rion nggak mauuuu!"
Arion memeluk erat tubuh Bik Siti, dia menumpahkan air matanya membuat baju Bik Siti basah karena air matanya.
"Eh, nggak boleh gitu. Kan Ayla temenya Rion,"
"Nggak! Bukan temen. Ayla jahat. Rion nggak mau!"
Ayla memutar bola mata jengah. Kenapa harus seribet ini? pikir Ayla.
"Gue nggak ninggalin ya kalau Rion nurut."
"Kannn, di marahin lagi." adu Arion lagi ke Bik Siti yang tengah mencoba untuk menenang kan nya.
"Cup...cup...cup. Jangan nangis gitu, kan tadi Aylanya juga udah bilang kalau Den Rion nurut pasti nggak akan di marahin, nggak akan di tinggalin."
"Rion nurut, Rion nggak nakal. Aylanya aja tuh."
Terserah nih anak ngomong apa sumpah, pikir Ayla sambil memijat pelipisnya.
Pak Aryo sedikit mendekat ke Bik Siti untuk membisikan sesuatu, "Ayo cepat, nanti kita ketinggalan kereta." Bik Siti mengangguk, dia mengurai pelukan Arion padanya.
"Udah ah nangisnya. Arion baik-baik di rumah, nurut sama Ayla."
"Iyaaa,"
"Ayla juga kalau ada apa-apa bilang aja sama Bibik ya?" pesannya lagi yang di angguki oleh Ayla.
"Iya Bik,"
"Kalau gitu kita pergi ya, jaga diri kalian berdua baik-baik."
