Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10 Kerusuhan

Tubuh Kezia menegang, "Apa maksudnya??!!" tanya Kezia geram, dia sudah tidak peduli siapa yang menelponnya.

Terdengar suara kekehan di seberang membuat Kezia semakin menggeram marah, namun sedetiknya setelah Kezia membeku dan panggilan terputus secara sepihak.

"Jia! KEZIA! Lo ada di dalem nggak?!!"

Kezia tersentak mendengar teriakan Ayla dari luar, dengan buru-buru Kezia langsung bangkit untuk membukakan pintu untuk Ayla. "Iya, sabar Ay!"

Kezia kini berdiri di depan pintu dan langsung memperlihatkan Ayla berdiri di hadapannya dengan senyum lebar, Kezia mengerutkan keningnya melihat wajah Ayla. "Kenapa lo?"

Ayla tidak langsung menjawab dia langsung menyelonong masuk ke dalam rumah Kezia dan duduk dengan santainya di sofa dan mencomot keripik kentang di atas meja, Kezia menatapnya kemudian mengelus dada berusa sabar; Untung temen, kata itu terus yang dia ulang di pikirannya untuk tidak mengusir Ayla dari rumahnya.

"Eh, Ji tante Dian sama Om Galih kok nggak keliatan ya?"

"Mereka pergi ke tempat Oma," jawab Kezia yang kini mengambil alih toples yang berisi kripik kentang yang berada di pangkuan Ayla.

"Ohh, terus lo nggak ikut?" tanya Ayla dia merutuki dirinya sendiri, sudah jelas-jelas Kezia ada bersamanya sekarang dan sudah jelas jawabannya apa. Dan Ayla malah bertanya lagi! Oh astaga Ayla, lo emang lain, pikir Ayla.

"You can see, Ay. I'm here!" Ayla menyengir bodoh, sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya di udara.

"Terus Arion kenapa nggak lo bawa Ay?" Kezia balik bertanya saat menyadari tidak ada keberadaan Arion di sini, bagaimana pun juga Arion itu selalu menempeli Ayla terbukti beberapa hari yang lalu saat Kezia tidak sengaja melihat Ayla bersama Arion membeli es krim di Alfamart dan lagi saat Kezia meminta untuk mereka bertemu lagi rumah pohon Arion juga mengikuti.

"Lagi tidur dia. Gue aja heran padahal matahari udah naik masih aja molor tuh anak!" Kezia menggeleng beberapa kali, kemudian dia teringat sesuatu.

"Oh iya Ay, gue boleh nggak-" ucap Kezia menggantung, dia merasa tidak enak mengucapkannya.

"Boleh apa, Ji?" tanya Ayla penasaran, Kezia mengaruk pipinya karena merasa binggung untuk mengatakannya. Sedangkan Ayla masih menunggu kelanjutan ucapan Kezia sambil menikmati kripik kentang.

"Nginep di tempat lo? Lo kan tahu kalau gue nggak bisa tinggal di rumah sendirian kayak gini." jelas Kezia yang mendapat anggukan oleh Ayla. "Iya gue tahu kok. Lo kayak ngomong sama siapa aja, lo boleh-boleh aja kali nginep di tempat gue."balas Ayla tanpa menatap ke arah Kezia.

"Bukan di rumah lo Ayla!" Kezia menguncang bahu Ayla karena marasa geram. Ayla mengerutkan keningnya, "Terus maksudnya nginep di mana lagi selain rumah gue yang cuman berjarak dua rumah dari rumah lo ini?"

"Y-ya di tempat lo lah! Lo tahu kan kalau nginep di rumah lo dan nggak ada lo, gue ngerasa nggak enak di sana."

"Lo juga sering kali Ji nginep di rumah gue kalau orang tua lo pergi ke tempat Oma lo," balas Ayla lagi sambil menatap ke arah Kezia. "Lagian gue nanti bakalan sering-sering main ke rumah kok buat nemenin lo,"

"Ya ampun Aylaaa. Lo nggak mikir apa? Kan nggak mungkin kalau lo sering-sering balik apalagi ninggalin sih bayi gede itu. Lagian nih ya kalau lo sering pulang ke rumag terus si bayi gede minta ikut gimana? Apa yang mau lo bilang ke tente Mira?"

Ayla terdiam, dia jadi memikirkan setiap ucapan Kezia tadi. Dia tidak ingin ibunya jadi berfikiran yang macam-macam nantinya, Ayla terdiam cukup lama hingga akhirnya Ayla mengeluarkan ponsel dari tasnya untuk memberi tahu seseorang.

Ayla Winarta: Bu, kalau saya bawa temen untuk nginep di rumah sementara waktu boleh gak? Saya janji untuk tetep ngejagain Arion kok

Kezia semakin merapatkan duduk dengannya, "Jadi gimana, boleh?" tanya Kezia antusias.

"Belum tahu, masih gue tanya dulu."

***

"Ma, aku udah kasih tahu ke temenku kalau dia bakalan nginep di rumah juga."

Tut...

Panggilan langsung di putuskan secara sepihak oleh orang yang sedang menelponnya, wanita yang sudah memasuki usia tiga puluh tahunan itu menghela napas sambil memijat pangkal hidungnya untuk menetralkan rasa pening yang melandanya.

"Hei, kenapa?" tanya pria yang baru saja duduk di sebelahnya sambil meletakan secangkir teh hangat.

"Masalah anak-anak?" tanyanya tepat. Abrani menepuk bahu istrinya kemudian mengambil sebelah tangannya dan mengelus dengan lembut. "Pasti semua baik-baik aja, percayain aja semuanya ok?"

"Iya," balasnya dengan singkat, kemudian suara dari ponsel membuatnya beralih melihat notifikasi yang masuk.

Ayla Winarta: Bu, kalau saya bawa temen untuk nginep di rumah sementara waktu boleh gak? Saya janji untuk tetep ngejagain Arion kok

"Apa ini yang di maksud tadi?" tanya Nessya pada dirinya sendiri, dia mulai mengetikkkan pesan balasan.

Nessya Sabian: Iya, ayla boleh. Tapi kamu tetep jagain arion sekarang arion lagi apa?

***

Ayla membaca pesan balasan dari Nessya dengan senyum lebarnya dia langsung menghambur kedalam pelukan Kezia yang sibuk menatap ke arah layar ponselnya, ntah melihat apa Ayla pun tidak tahu. Tapi tindakan Ayla yang memeluk tiba-tiba membuat tubuh Kezia limbung dan berakibat membuat tubuh keduanya jatuh kedepan menabrak meja kaca yang langsung berubah posisi dari sebelumnya.

"AYLAAAA!!" Kezia mengeram marah, dia merahi bantal sofa untuk memukuli tubuh Ayla. "Gue ada salah apa sama lo sampai lo buat gue jatoh, ha?!"

Ayla terkekeh kemudian menyodorkan ponselnya ke arah Kezia, "Buruan lo siapin baju,"

"Beneran??" tanya Kezia dengan kedua mata yang berbinar.

"Iya, buruan lo. Gue tungguin,"

Kezia langsung bangkit dan memberikan hormat ke arah Ayla sambil berseru, "Aye ye captain!"

Kezia dengan cepat memasuki kamarnya dan menyiapkan semua keperluannya nanti, setelah semuanya beres dia langsung keluar menemui Ayla yang sekarang berada di teras depan. "Ngapain di luar lo?"

Ayla menatap ke arah Kezia, "Udah siap? Ayo kita langsung pulang, nih gue curiga Arion nangis di rumah. Apalagi di rumah lagi nggak ada orang, cuman ada satpam di sana sama satu pekerja baru yang nggak nginep di sana soalnya dia nggak cuman kerja di sana." jelas Ayla yang membuat Kezia mengangguk saja malas meladeni terlalu panjang.

"Yaudah ayo," ucap Kezia sambil mengunci pintu rumahnya, dan mengingat kembali barang-barang bawannya agar tidak ada yang tertinggal.

"Iya ayo," ajak Ayla sambil membantu Kezia membawa koper miliknya yang berukuran lumayan besar.

"Bawaan lo banyak banget sih Ji, gue heran yang lo bawa batu bukan baju!" Ayla terus mengerutu karena merasa berat saat membawa koper milik Kezia.

"Ihh lo bawel banget sih, tinggal bantu ngageret doang apa susahnya sih?" tanya Kezia yang tidak kalah geram karena terus mendapat omelan dari Ayla yang menuduhnya membawa batu.

Ayla mendengus kesal, "Terus nih koper isi apa kok berat? Kereberatan dosa lo ya?" tuduh Ayla lagi. Kezia memutar bola mata malas dan memilih diam untuk tidak meladeni setiap ucapan Ayla lagi.

Diam keduanya terus berlanjut sampai mereka menemukan taksi untuk segera menuju ke tempat Ayla.

Kezia duduk bersender sambil meregangkan ototnya, memang bener apa kata Ayla koper bawaannya sangat berat. Tapi bukan berat karena batu atau dosa-dosanya, tapi berat karena hampir setengah baju di dalam lemari dia masukkan ke dalam koper. Kezia menatap sebentar ke arah Ayla yang sibuk memperhatikan pemandangan di luar jendela sedangkan dirinya sibuk dengan ponselnya untuk memebrikan pesan kepada nomor yang tidak di kenal.

Kezia Aletta: Maaf untuk lo nomor yang gak gue kenal, gue gak ngerti maksud dari minta tolong dari lo apa, dan gue gak paham yang lo maksud demi kita itu apa. Jadi gue minta tolong sebesar besarnya untuk berhenti seolah olah gue dan lo itu saling kenal

Anda telah memblokir nomor ini

***

Mulut Kezia terbuka lebar, menatap takjub rumah yang ada di hadapannya sekarang ini.

"Gila! Gede banget nih rumah, wow! Pantes ya lo betah tinggal di sini,"

Ayla mencebikkan bibirnya, dia merasa ucapan Kezia tidak ada benarnya. "Ya nggak lah,"

"Udah ayo masuk ke dalam, biar lo susun nih batu-batu yang lo bawa." ujar Ayla menunjuk ke arah koper milik Kezia dengan tajam, seolah koper milik Kezia adalah barang yang harus dia hindari mulai sekarang ini.

"Lebay lo," cibir Kezia yang tidak suka jika koper kesayangannya di jelek-jelekan.

"Lo kali yang lebay," balasnya dengan sinis.

"Bodo amat Ay! Bodo amat! Gue gak perduli!" terik Kezia sambio menyeret koper miliknya untuk masuk ke dalam rumah, seolah rumah itu miliknya sendiri dan Ayla hanya lah tamu yang tidak tahu diri.

"Gila lo?"

"Iya! Kenapa?" balas Kezia tidak kalah sinis dengan suara yang dia naikkan.

Keduanya tiba-tiba saja tertawa, lebih tepatnya menertawakan kegilaan mereka berdua yang sudah lama tidak pernah mereka lakukan lagi. Suara tawa mereka mendadak berhenti saat pintu bercat putih tinggi dan besar itu terbuka memperlihatkan Arion berdiri dengan wajah memerah.

"Ayla kenapa ninggalin Rion sendiri?! Huaaa Ayla jahat! Rion kasih tahu Mama nanti!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel