Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Bertemu?

"Arion nggak bau, kenapa kalian tutup hidung semua?"

Bi Siti mengulum senyum, membuat Arion semakin penasaran.

"Ihh Bi kasih tahu Rion doangggg," bujuk Arion dengan bibir di kercutkan sambil mendekat ke arah Bi Siti dan mengenggamnya erat.

"Den Rion habis pup ya?"

Arion mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban.

"Pantesan, masih bau." ucap Pak Aryo.

"Jorok banget sih!" cibir Ayla, dia bangkit dari posisinya menuju wastafel untuk menyelesaikan urusan perutnya.

"Huekkkk,"

Ayla memijat tengkuknya untuk mengeluarkan semua isi perutnya akibat aroma yang sangat menyengat dari Arion.

"Sebau itu ya?" tanya Arion sendiri, dia menyentuh bagian belakang celananya yang terasa basah. Arion menutup hidungnya karena aroma yang sangat menyengat.

"Bau banget!"

Arion mengikuti Ayla berdiri di wastafel.

"M-maafin Rion," Arion menutup mulutnya, "Huek! Huk...huk!"

Ayla menyalakan air untuk membasuh wajahnya dan berkumur, dia menatap ke arah Arion sebentar kemudian mendorong tubuh Arion agar menjauh darinya.

"Iss! Jauh-jauh sana," usirnya.

Dia benar-benar tidak sanggup, Ayla menyentuh perutnya yang sekarang terasa kosong karena semua isi dalam perutnya telah keluar.

"Bi Siti Pak Aryo, Ayla nggak ikut sarapan deh. Ayla mau ke kamar aja," ucap Ayla lemas.

"Oh gitu, yaudah kamu istirahat aja dulu nanti biar Bibi yang anterin ke kamar ya?"

Ayla mengangguk mendengar tawaran dari Bi Siti dia ingin segera ke kamarnya dan mengistirahatkan tubuh.

Arion menatap punggung Ayla yang mulai menjauh, Arion dengan malas segera duduk di kuris yang di tempati oleh Ayla tadi.

Dia menatap makanan di hadapannya tanpa minat, Arion menopang dagunya. Selera makannya mendadak turun drastis.

"Den Rion, apa nggak mau ganti celananya dulu?" tanya Pak Aryo, dia melihat Arion menatapnya. "Eh, maaf Den. Bapak nggak maksud gitu!"

Arion tersenyum kecut, "Iya Pak, Rion mau ke kamar kok. Rion nggak mau sampai Bapak nggak makan gara-gara bau Rion,"

Setelah mengatakannya Arion benar-benar beranjak dari sana, tidak terlalu lama dia telah kembali lagi. Bahkan dia lebih memilih untuk langsung mandi, Arion menarik kuris yang dia duduki sebelumnya.

Dia tidak langsung menyentuh makanannya, dia menatapnya dan terus menatapnya sampai suara Bi Siti membuatnya menatap Bi Siti yang tengah menyaupkan makanan ke mulutnya.

"Den, kenapa nggak makan? Nggak suka ya?" Arion menggeleng.

"Padahal tadi Nak Ayla juga yang nyiapain ini,"

"Dia yang nyiapin?" tanya Arion tidak percaya.

Bi Siti mengangguk, "Iya. Bibi juga bantuin dikit juga,"

Arion meraih piring miliknya yang sudah di isi dengan makanan kesukaannya, beberapa buah dan segelas susu.

"Eh! Aden mau kemana?"

Arion menoleh, "Ke kamar Ayla Bi, Rion mau di makan sama Ayla."

"Jangan gitu bawanya, nanti jatuh." ujar Bi Siti, dia mengambil nampan di antara rak-rak piring. "Pakai ini biar nggak susah bawanya,"

Arion menerimanya dan meletakannya di atas nampan, "Makasih Bi,"

***

"Gila! Tuh anak jorok banget lagi."

Arion menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar, salah satu tangannya terangkat dengan jari telunjuk bergerak di udara seolah sedang mengukirkan kata 'Ayah, kangen.'

Ting...ting

Suara notifikasi di ponselnya tidak begitu Ayla perdulikan, namun suara ponselnya semakin terus berbunyi membuat Ayla tidak bisa untuk terus mengabaikannya. Ayla mengecek ponselnya untuk melihat siapa yang mengirimnya pesan.

Kezia Aletta: Ayla

Kezia Aletta: Gue udah di indo

Kezia Aletta: Percaya gk lu?

Kezia Aletta: Ayla, tadi gue ke rumah lo nih, kok lo gk ada sih lo kemana

"Udah sampai?"

Tanpa pikir panjang Ayla langsung mengetikan pesan untuk Kezia, sahabatnya.

Ayla Winarta: Lo udah balik

Ayla Winarta: Lo di rumah kan, gue mau kesana

Kezia Aletta: Iya gue di rumah

Ayla mengembangkan senyumannya saat melihat Kezia memulai video call, Ayla langsung menjawab. Saat pangilan terhubung Ayla dapat melihat wajah sahabatnya yang sedang membenarkan rambutnya.

"Hehe, Hi Ay. Udah lama banget gue nggak ketemu lo" sahut Kezia dari sebrang sana.

"Baik, lo sendiri?"

"Seperti yang lo liat sekarang, oh ya kalau lo mau dateng jangan ke rumah deh"

Ayla mengernyit mendengar ucapan Kezia.

"Terus, mau di mana?"

"Umm, cari tempat aja gitu." Kezia tampak berfikir sesaat, kemudian dia menjetikan tangannya, "Gue tahu!"

Ayla membanting ponselnya saat Kezia bersuara setengah berteriak, di tambah dia sedang memakai earphone.

"Gak usah teriak gitu ngomongnya bisa nggak?"

Kezia menyengir tanpa dosa.

"Sorry, kita ketemuan di rumah pohonaja gimana?"

"Hmm, bukan ide yang buruk juga."

"Jadi gimana, setuju gak?"

"Setuju aja, yaudah gue mau siap-siap dulu ya. Bye bye,"

Panggilan telah di matikan, Ayla langsung melopat dari ranjang untuk bersiap-siap. Ayla menatap dirinya dia pantulan kaca besar, tadi pagi dia sudah mandi dan telah menganti bajunya dengan dengan kaus lengan pendek berwarna abu-abu dan celana jeans dengan bagian robek di lutut. Ayla mencari jaket jeans di walk in closet, tidak lupa Ayla menguncir semua rambutnya menjadi satu.

Di saat Ayla membuka pintu di saat itu juga dia berpapasan dengan Arion yang berdiri di depan pintu dengan membawa nampan yang lengkap semua makanan dan susu, keduanya saling bertatapan namun  Ayla mengernyit melihat Arion yang malah menyodorkan nampan tersebut ke hadapannya dengan senyum menampilkan gigi kelincinya.

"Mau makan, tapi sama Ayla. Ayla yang suapin, mau kan?"

"Nggak." jawab Ayla dengan cepat.

"Kenapa?"

"Ya nggak mau,"

"Nggak mau karena apa? Pasti ada alasan kan? Ayla nggak suka ya sama Rion? Rion nakal ya sama Ayla?"

"Iya lo nakal, nakal banget malah."

Arion mengercutkan bibirnya, Ayla hanya bisa menatapnya terus. Astaga kenapa di saat seperti ini Ayla harus menyukai Arion, iya dia menyukai saat Arion membarikan tatapan seperti bayi ini.

"Huaaa, Mama. Kata Ayla Rion nakalllll!"

Ayla berdecak pasti akan selalu seperti ini, "Mama! Mama! Mama aja terus. Inget ya Bu Nessya nggak ada di rumah, jangan di sebut terus. Cengeng banget!"

"Biii mphtt--" ucap Arion terpotong karena Ayla sudah membekap mulutnya dengan tangan.

"Diem nggak?!" Arion mengangguk, dia lebih memilih untuk menurut dari pada harus di marahin lagi oleh Ayla.

"Siniin makananya," titah Ayla setelah melepaskan bekapan di mulut Arion, Arion langsung menyodorkan nampan tersebut.

"Ayla suapin?" tanya Arion dengan girang, dia ikut masuk ke dalama kamar saat Ayla sedikit menyingkir untuk memberikannya jalan masuk.

"Hm," sahut Ayla seenaknya, tanganya tengah mengaduk makanan membuat semua makanan jadi bercampur.

"Eh! Kok di aduk?"

"Kenapa? Nggak suka?" Arion menggeleng.

"Ribet banget sih." geram Ayla, "Udah diem aja, jangan banyak protes!"

"Galak," gumam Arion setelah Ayla menyurunya duduk di pinggir ranjang, "Apa?" tanya Ayla marah.

Arion menggeleng dengan pipi menggembung karena berisi makanan yang Ayla suapkan, Arion terus memperhatikan Ayla yang kini tampak rapi dengan pakaian yang bagus juga.

"Ayla mau pergi ya, kemana?" tanya Arion penasaran.

"Jumpa temen,"

"Boleh ikut?" sahut Arion antusias.

"Nggak,"

"Kenapa? Rion janji Rion nggak akan ganggu," Arion menunjukkan jari telunjuk dan tengah membentuk tanda V,

"Nggak, boleh. Yang ada nanti di sana Rion bosen," Ayla masih berusaha untuk memberikan alasan agar Arion tidak ikut dengannya.

"Yaudah kalau Rion nggak boleh ikut berati Ayla nggak boleh pergi,"

"Eh! Nggak bisa gitu dong!" sahut Ayla tidak terima dengan Arion. Enak aja emangnya dia siapa yang dengan seenaknya mengatur dan menyuruhnya, pikir Ayla.

"Yaudah Rion ikut! Rion mau ikut!" ucap Arion lagi dengan antusias.

"Nggak!" bantah Ayla, dia tidak ingin ada seorang pun yang ikut saat dirinya mau bertemu dengan sahabatnya.

"IKUT!"

"NGGAK!"

"Ihhh, ikutttt." rengek Arion dia menghentakkan kaki dan beberapa kali menendang-nendang tidak jelas.

Ayla meletakan piring di atas nampan yang berada di atas ranjang, Ayla berdiri menatap ke arah Arion lama. "Denger ya, kalau Ayla udah bilang nggak. Ya nggak! Paham?!"

Arion sedikit mundur sampai punggungnya menabrak sadaran ranjang, suara isakan kecil keluar dari bibirnya hal yang terjadi pada Arion ini tidak membuat Ayla luluh atau menenangkan Arion. Ayla malah meraih tas miliknya untuk segera keluar dari kamarnya meninggalkan Arion yang semakin menangis dengan kencang, Ayla berdecak karena suara tangis Arion semakin kencang saat dirinya hendak meraih knop pintu.

"Bisa diem nggak sih?"

***

Kezia duduk di bawah rumah pohon, dia menatap ponselnya berharap ada kabar dari Ayla. Karena sedari tadi saat menghubungi Ayla tidak ada jawaban sama sekali.

"Ayla lo mana sih?" geram Kezia, dia mencoba untuk mengirimkan lagi pesan untuk Ayla. Walau tahu tidak akan di jawab, tapi dia akan tetap mengirimkan pesan.

Kezia Aletta: Ay, lo mana? Jadi gak gue udah sampai nih

Pesan yang dia kirim masih belum di baca juga, Kezia tetap menunggu di bawah rumah pohon sambil terus memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa bosannya.

"Jia, udah lama ya lo nunggunya? Sorry kalau gue telat datangnya."

Kezia menoleh saat mendengar suara yang sangat familiar, dia melihat di depannya ada Ayla dan.... Tunggu-tunggu, Kezia merasa seperti tidak asing dengan wajah seseorang yang sedang bersama Ayla.

"A-aron?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel