Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Aroma Aneh

Aron!"

"Kamu di mana?"

"Aku di sini,"

Pria dengan tubuh tinggi tegap itu berdiri di belakangnya, membuat Kezia yang memangil namanya itu berbalik menampilkan senyum indahnya.

"Kemana aja sih!" kesalnya sambil memukul dada bidangnya.

"Maaf, tadi beli cokelat."

Dia menyerahkan cokelat batangan, Kezia menerimanya dengan senyum yang terus merkah di wajahnya.

"Suka nggak?"

"Suka!"

Pria bernama Aron itu mengacak rambut Kezia membuatnya berdecak kesal dan menatapnya tajam.

"Biasa aja matanya!"

"Berantakan!"

"Mana berantakan. Sini-sini aku lihat," Aron menangkup wajah Kezia menariknya agar lebih dekat dan beralih ke rambut kemudian kembali mengacaknya dengan brutal.

"Ish!"

Aron tertawa renyah melihat wajah kesal Kezia, dia menarik tubuh Kezia mengambil cokelat yang berada di tangan Kezia. Dengan gerakan cepat dia membuka lapisan bungkus yang menutup cokletan dan memasukakannya ke dalam mulut Kezia.

"Emmmm,"

Kezia mengeluarkan cokelat dalam mulutnya dan memukul dengan brutal dada bidang Aron.

"Hei, stop!"

"Aw! Iya maaf-maaf!"

"Nggak lagi-lagi deh, peace!"

Kezia terbangun dengan deru napas yang memburu dia menatap ke arah jam yang berada di layar ponselnya.

01.00, Kezia mengubah posisinya duduk bersandar di kepala ranjang sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa nyeri.

"Ahh, kenapa harus mimpi dia lagi?"

"Kenapa nggak ada mimpi lain aja sih?"

"Kenapa?"

"Cape tahu nggak, hampir setiap malam harus mimpiin lo."

Kezia menarik napas perlahan kemudian di hembuskan, dia melakukannya beberapa kali sampai merasa tenang kembali.

"Oh iya, nanti pagi harus segera pergi."

Kezia mengusap kembali wajahnya, "Kita akan bertemu lagi nanti."

***

Sinar matahari menyeruak masuk menembus gorden putih, hal ini membuat seseorang yang masih bergulung dalam selimut putih tebal itu bergeliat. Dia menarik kembali selimut untuk menutup wajahnya untuk melanjutkan kembali tidurnya.

Tok...tok

Suara ketukan pintu tidak membuatnya untuk beranjak dari kasur empuknya, suara jam weaker yang berbunyi itu tidak membuatnya untuk membuka mata.

Tok...tok

Suara ketukan pintu kembali terdengar, dan kali ini suara ketukan lebih keras dan brutal. Membuatnya mau tidak mau harus membuka matanya, dia mendengar suara pintu yang di buka hal ini membuatnya sedikit membuka matanya untuk melihat siapa yang masuk.

"Maa, Rion masih ngantuk."

"Ekhem!"

Suara deheman keras itu tidak membuatnya terbangun, Arion kembali memeluk guling kesayangannya tanpa memperdulika seseorang yang tengah menatapnya dengan tajam sekarang.

Ayla berdiri dengan tangan berada di depan dada menatap Arion yang masih bergulung dalam selimut tebal itu, tanpa ragu Ayla menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Arion.

"IHH!"

Bruk!

Ayla terjatuh karena mendapatkan serang tiba-tiba dari Arion.

"ARION!!"

Ayla berteriak marah, dia merebut guling yang berada di sebelahnya dan melemparkannya kembali ke pemiliknya.

"Aw!"

Arion mengadu kesakitan saat merasakan tubuhnta di hujami sesuatu.

Kedua bola mata Arion melebar sempurna melihat Ayla yang memukuli tubuhnya dengan guling kesayangannya.

"Huaaa! Kok di pukul?!" tanya Arion histeris.

"Lo deluan yang ngelempar nih guling ya! Kesel tahu nggak!"

Arion menggaruk kepalanya binggung, "Masa sih?"

"Iya!" ucap Ayla yang kemudian meletakkan kembali guling ke samping Arion, Ayla menarik tangan Arion agat mau bangkit dari posisinya yang bersender di senderan ranjang. "Tadi Bu Nessya ngirim chat katanya bawa Rion keluar, atau kemana aja biar nggak bosen di rumah."

Arion membuka mata lebar saat mendengar perkataan Ayla, "Beneran?!" tanyannya dengan semangat.

"Iya,"

"Yey! Mau Dufan!"

"Beneran nih mau dufan, nggak ke mall yang semalem beli boneka iron man?" goda Ayla, dia melihat Arion seperti sedang berfikir.

"Emangnya Rion boleh beli boneka Iron man? Rion nggak mau ya kayak semalam!" ucapnya sambil mengembungkan pipinya.

"Hemm, sebenernya sih nggak boleh."

"Ihh, kenapa?"

"Liat dong, di kamar ini juga udah ada banyak banget mainan. Masa masih mau nambah lagi sih?"

"Kenapa nggak? Kan mainan Rion bukan mainan Ayla,"

"Terserah sih terserah mau bilang apa!"

"Ihh kok jadi Ayla yang malah kesel? Seharusnya yang kesel kan Rion," ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Ihh, nggak mau ngalah nih? Yaudah nggak jadi pergi ke Dufannya," kata Ayla, dia kemudian berbalik meninggalkan Arion di kamarnya sendirian.

***

Ayla tengah fokus pada bahan-bahan masakan di depannya, di samping ada Bi Siti yang akan membantunya untuk menyiapkan makanan pagi ini.

Ayla meletakkan sebagian daging ayam yang telah dia lumuri dengan telur dan tepung di piring, di saat dia hendak memasukakn potongan ayam pertama ke dalam wajan yang berisi minyak panas harus terurung karena suara Bi Siti.

"Eh! Biar Bibi aja sini, kamu buatin aja dulu untuk Den Arion susu." ucap Bi Siti mengambil alih piring berisi ayam itu.

Ayla mengangguk, dia sedikit bergeser untuk membuatkan susu untuk Arion. Ayla menatap toples yang sudah kosong kemudian menunjukannya ke Bi Siti.

"Bi, ini susu bubuknya udah habis ya?"

"Ya ampun," Bi Situ menepuk keningnya, Bi Siti agak berjinjit membuka lemari dapur dan mengambil kotak susu bubuk baru. "Nih, kamu isiin lagi ya."

"Iya, Bi." Ayla menerimanya dan akan segera membuatkan susu.

Ayla menatap kotak berwarna kuning itu, udah geda minumnya susu Dancow. Aneh, pikir Ayla.

"Ayla," panggil Bi Siti membuat Ayla menoleh padanya.

"Eh, iya Bi ada apa?" tanya Ayla saat Bi Siti berada di sebelahnya.

"Kalau udah selesai buat susunya, tolong ambil buah di kulkas ya soalnya Den Rion kalau habis sarapan gini mau makan buah juga." jelas Bi Siti membuat Ayla mengangguk paham.

"Sip, Bi." Ayla mengacungkan ibu jarinya.

Sesuai permintaan Bi Siti, Ayla langsung menyiap segala buah-buahan yang tersedia. Pepaya, melon, apel dan pisang. Semuanya sangat lengkap.

Seusai menyaipak semuanya, makanan telah tersaji di atas meja makan, segelas susu hangat untuk Arion dan beberapa buah untuk Arion.

"Den Rion kenapa belum turun ya?" tanya Bi Siti.

Ayla juga memikirkan hal yang sama, ini juga sudah jam delapan lewat. Kata Bi Siti Arion tidak boleh makan telah sedikit pun walau hanya telat beberapa menit pun, mengingat perkataan itu membuat Ayla mengeleng-gelengkan kepala heran.

"Makin aneh aja," gumam Ayla.

"Kalau gitu biar Ayla aja Bi yang nganter ke kamar Rion," tawar Ayla, dia mengambil segela susu untuk segera menuju ke kamar Arion di lantai dua.

***

"Rion! Rion! Rion!" teriak Ayla beberapa kali, namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.

"Arion jelek! Buka pintunya! Jangan nggak nurut gitu! Gue yang kena marah nanti kalau Rion nggak nurut!"

Masih belum ada jawaban dari dalam membuat Ayla gemas, dia membuka pintu kamar yang tidak di kuci sama sekali.

"Rion," panggilnya lagi.

"Ngehh,"

Ayla terkejut mendengar suara asing itu, sangat jelas kalau suara itu berasal dari dalam kamar mandi.

"Ngehh,"

Lagi. Suara itu terdengar lagi, dan kali ini lebih jelas.

"Rion, di kamar mandi ya?" tanya Ayla sambil mendekatkan telinga ke depan pintu kamar mandi.

"Ngehh, iyah."

Kedua mata Ayla membulat dengan sempuran saat mendengar jawaban Arion, dan Ayla malah menggedor-gedor pintu kamar mandi beberapa kali berharap Arion mau keluar dari dalam sana.

Bukan karena apa-apa, dia hanya takut jika terjadi sesuatu di dalam sana.

"Eh! Buka!"

"Ngapain sih di dalam?!"

"Shuttt, Rhion lagih puph!" balas Arion dari dalam sana setengah berteriak.

Lagi pup, tapi kenapa suaranya harus kayak gitu? Pikir Ayla lagi.

"Oh, sorry ganggu. Di atas narkas udah ada susu, kalau udah siap nanti langsung turun aja untuk sarapan."

"Iya,"

Setelah mengatakan hal itu Arion tidak lagi mendengar suara Ayla dari dalam kamarnya lagi, dia segera menyelesaikan semuanya dia berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Dia menatap segelas susu di samping tempat tidurnya, dia segera meneguknya hingga habis.

Arion menyentuh perutnya yang telah berbunyi untuk minta di isi, dia segera keluar dari dalam kamarnya untuk menemui Ayla dan meminta makanan.

Kehadiran Arion yang menuruni tangga membuat obrolan antara Bi Siti dengan Ayla berhenti, tidak lupa di sana juga ada Pak Aryo yang tengah menyantap kulit ayam dan secangkir kopi di hadapannya.

Ayla tiba-tiba menutup hidungnya saat Arion mengambil duduk di sebelahnya, Pak Aryo yang sedang menyesap kopi pun tersedak karena merasa menciun aroma yang tidak mengenakan.

Arion mengerutkan kening karena kedua orang di hadapannya menutup hidung, Arion sedikit mengangkat tangannya untuk mencium aroma tubuhnya sendiri.

"Arion nggak bau, kenapa kalian tutup hidung semua?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel