Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Arion Si Menyebalkan

Pak Aryo: Apa kalian sudah keluar, saya tunggu di parkiran

Ayla kembali menatap ke arah Arion, "Nggak ada beli-beli mainan! Langsung pulang, Pak Aryo udah nunggu."

Ayla tampak siaga satu saat melihat perubahan raut pada wajah Arion yang sedang dia tarik.

"HUAAAAA!"

Arion terduduk di lantai sambil menghentak-hentakkan kakinya membuat sebagian pengunjung melihat ke arah Arion, Ayla meringis saat mendengar suara tangisan Arion yang sama seperti anak kecil yang tidak di belikan mainan oleh ibunya.

"Rion, bangun!"

"Nggak malu apa di liatin banyak orang?!"

Arion mengelengkan kepalanya sambil terus meraung tidak jelas, Ayla menutup wajahnya karena malu.

"Rion, please bangun. Ok deh kalau mau beli mainan, tapi siapa yang bayar?!"

Arion menghapus sisa air matanya dan cairan bening di hidungnya, Arion berdiri tegak dan setelahnya berjalan masuk ke dalam toko untuk menjemput mainan incarannya.

Dengan tanpa dosanya Arion menunjuk ke arah Ayla, "Yang bayar Ayla dong!"

Ayla melihat sisa uangnya, "Baru sebentar, udah mau habis aja."

Ayla menghela napas pasrah mengikuti langkah Arion ke dalam toko mainan, Arion menatap setiap mainan yang berjejer di sana.

"Yang itu, boleh ya?" tunjuk Arion pada boneka Iron man.

"Tadi katanya mau mobil-mobilan! Kenapa sekarang jadi boneka iron man?!" geram Ayla, dia menatap jengah ke arah Arion yang malah mengerjabkan matanya beberapa kali.

"MAU BONEKA IRON MAN!!!"

"Gak!"

"Iron man, Ay!"

"Gak!"

"Ishh!"

"Cepetan ambil mobil-mobilan, kalau nggak kita pulang!"

"MAUNYA BONEKA IRON MAN!"

"Pilih mobil-mobilan atau nggak beli sama sekali?!"

Arion mengercutkan bibirnya, dia meninju beberapa kali punggung Ayla. "HUAAAAA! Mau boneka iron mannnn!"

Ayla menahan pergerakan tangan Arion kemudian menendang tulang kering Arion, hal ini membuat Arion mengaduh kesakitan di tambah lagi dengan telinga kananya yang di tarik paksa oleh Ayla.

"Aw! Ay, lepasin!"

"Huaaa! Ayla lepasin!!"

"Kuping Rion lepas!!"

"Huaaa! Ayla! Mau aku aduin ke Mama, huh?!"

"AYLA!!!"

Ayla berdecak, dia melepaskan jeweran di telinga kanan Arion saat mereka berada di luar toko mainan itu.

"APA??!!" tanyanya dengan tidak sabaran.

Arion menunduk takut saat mendengar bentakan dari Ayla, "Galak," ucap Arion pelan, namun masih bisa di dengar baik oleh Ayla.

Ayla mengusap wajahnya, dia menarik lengan Arion untuk segera membawanya pulang.

"Udah sekarang diem aja! Nurut! Kita pulang. Nggak ada beli-beli apapun lagi!" titah Ayla yang tidak ingin di bantahkan.

Dia lelah. Sangat-sangat lelah menghadapi pria dengan sifat kekanak-kanakan ini, dan dia ingin segera pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya.

"T-tapi-"

"Tapi apa?!" tanya Ayla lagi pada Arion yang berada di belakangnya sambil menunduk takut.

Ayla tersentak saat menyadari satu hal, mereka masih berada berada di area pusat perbelanjaan dan kini sudah banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua.

"Ay, tangan Rion sakit."

Ayla kembali di sadarkan genggaman tangannya pada Arion, dia langsung melepaskannya.

"Kita pulang ya?" bujuk Ayla dengan suara lembut tidak seperti sebelumnya.

Arion mengangguk patuh, dia mengikuti langkah Ayla yang membawanya menuju lift agar lebih cepat.

***

Ayla menyenderkan tubuhnya pada dinding lift sambil memejamkan kedua matanya, "Maaf,"

"Nggak ada maksud marahin atau ngbentak tadi,"

"Sekali lagi maafin ya?"

Arion menatapnya sebentar kemudian ikut bersandar pada dinding lift, untung saja lift ini sepi hanya ada dirinya dan Ayla.

"Ayla,"

"Hm,"

"Ay,"

"Hm,"

"Aylaaa,"

"Hm,"

"Ay,"

"Hm,"

"Ayla,"

Untuk terakhir kalinya Ayla menghela napas untuk menenangkan dirinya,"

"Iya," dengan sabar Ayla menjawab untuk menantikan kelanjutan dari apa yang akan Arion katakan.

"Ayla,"

Ayla menegakkan tubuhnya menatap Arion lelah, "Apa?"

"R-rion mau pipis,"

Ayla memutar bola matnaya jengah,rasanya dia ingin melambaikan tangan ke arah CCTV untuk menyatakan dirinya sudah, menyerah. Di ulangi, DIRINYA MENYERAH!!

Masih berusaha sabar, dia mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya membuat kuku-kukunya memutih. Tenangin diri lo Ayla, tenang. Ayo lo harus tenang, pikir Ayla sambil memejamkan matanya.

Ayla membuka kedua matanya melihat makhluk di depannya dengan tatapan polosnya, Ayla mencoba untuk meredam suaranya agar tidak membentak anak ini.

"Jadi lo manggil gue berkali-kali cuman untuk bilang ini doang?" Arion menagangguk.

"Yaudah lo pipis di sini aja, nggak usah ribet!"

"T-tapi-"

"Tapi apa?" Ayla langsung menyela ucapan Arion.

"Tapi aku udah pipis dari tadi Aylaaa," ucap Arion sambil menutupi bagian depan celananya dengan kedua tanganya.

Ayla membuka mulutnya lebar-lebar, dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja Arion katakan. Ayla melirik ke arah celana Arion, dan benar saja kini celananya telah basah.

"Isss! Lo tuh jorok banget tahu nggak!"

Suara isakan kecil keluar dari mulut Arion, kedua matanya memerah. Air mengalir begitu saja di kedua matanya.

"Nangis! Cengeng banget!"

"Hiks, Aylaaa galak bangettt. Huaaa! Mamaaaa Ayla nakal!"

Ayla langsung membekap mulut Arion saat lift berhenti tepat di lantai satu, "Berisik!" bisik Ayla.

Setelahnya dia melepaskan bekapan di mulut Arion dan melangkah keluar dari dalam lift.

"Jahat! Ninggalin Rion terus!"

Ayla seolah menulikan pendengarannya, dia sama sekali membiarkan Arion mengoceh tidak jelas dan juga dia tidak memperdulikan orang-orang yang menatap ke arah Arion lebih tepatnya ke celana Arion.

"Ayla! Denger Rion nggak sih dari tadi?!"

"Nggak," jawab Ayla enteng.

"Ihhh, jadi dari tadi Rion ngomong sendiri dong?"

"Iya,"

"Ihhh, pantes banyak yang liatin Rion."

"Emang. Tapi mereka bukan liat lo kok,"

Arion menggaruk pipinya sambio memiringkan kepalanya, "Celana lo." ucap Ayla saat mereka tiba di dekat area parkiran dia segera menghampiri Pak Aryo yang bersandar di mobil.

Arion terpaku di tempatnya, dia melirik ke arah celananya.

"Huaaa Ayla! Rion maluuuuu!"

***

Mobil brand Eropa Audi A4 B6 itu berhasil memasuki pelataran rumah keluarga Sabian, di saat mobil telah berhenti Arion langsung membuka pintu mobil dan menutupnya kembali dengan kasar.

"Nak Rion kenapa ya?" tanya Pak Aryo penasaran.

Ayla mengedikkan bahunya, dia memilih untuk segera memasuki rumah dan beristirahat saja.

Memang sudah sejak di parkiran tadi Arion mendiamkannya hingga sekarang, Ayla menghela napas panjang saat memasuki rumah dan melihat Arion memasuki kamarnya dan menutup kembali pintu kamar dengan kasar.

"Ngambekan," cibir Ayla.

Dia tidak langsung kembali ke kamarnya, dia malah pergi ke dapur untuk melihat-lihat sesuatu untuk mengganjal perutnya.

Ayla mengambil sebungkus mi instan yang tinggal satu, Ayla mulai memasaknya untuk dirinya sendiri.

Ting...ting

Ayla yang tengah menyeruput mi menatap ponselnya yang berada di atas meja makan, beberapa pesan masuk dari nama Kezia Aletta. Ayla mulai membuka apa isi pesan dari sahabatnya itu.

Kezia Aletta: P

Kezia Aletta: P

Kezia Aletta: P

Kezia Aletta: P

Kezia Aletta: P

Kezia Aletta: Ay

Kezia Aletta: Jawab dong

Kezia Aletta: Penting nih! Penting banget sumpah

Ayla memutar bola mata jengah, ada apa dengan anak ini? Geram Ayla. Dia mulai mengetikan pesan balasan untuk Kezia.

Ayla Winarta: Ada apa sih Ji

Kezia Aletta: Gue mau balik

Kezia Aletta: Seneng gak lo?

Ayla Winarta: Oh

Ayla Winarta: B aja tuh

Kezia Aletta: Bgst

Kezia Aletta: Eh astagfirullah gak gitu

Kezia Aletta: Salah ketik gue

Ayla hanya membaca isi pesan Kezia tanpa ada niatan untuk menjawabnya.

Usai memakan mi instan, Ayla segera meletakkannya di wastafel dan mencucinya.

"Ahhh pegel banget, mau tidurrr."

Ayla meregangkan otot-otot lengannya, dia meraih kembali tas sling bag miliknya dan segera menuju ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Ayla menaiki anak tangga dengan perlahan, tepat di depan pintu kamar Arion. Ayla menatap ke arah pintu kamar Arion yang tertutup dengan rapat, "Paling tidur,"

Ayla mengedikkan bahunya kemudian pergi dari kamar Arion untuk segera ke kamarnya, Ayla meletakkan tasnya di atas kasur empuk dan melepaskan sepatu yang masih melekat di kakinya dan juga ikat rambut.

Ia menghela napas lagi kemudian menuju ke arah walk in closet untuk mengambil handuk miliknya, sebelumnya dia sempat mengecek di tas ransel besarnya untuk mengambil beberapa peralatan mandinya, sabun dan shampo.

Ayla kembali keluar dari dalam kamar mandi, kini keadaannya tampak lebih segar dan Ayla hanya mengunakan hot pants dan kaus over size berwarna baby blue dengan rambut yang masih basah. Ayla segera menuju ke ranjangnya, merebahkan tubuhnya sambil memejamkan mata membiarkan rambutnya yang masih basah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel