Bab 4 RIP Gaji Pertama
"Ayla sayang, Ibu. Jaga kesehatan terus ya? Maaf Ayla nggak akan ada di rumah lagi, tapi Ayla janji untuk sering kesini buat jenguk ibu,"
Ayla menarik selimut untuk menutupi tubuh ibunya, tubuh Ibunya memberikan reaksi saat merasakan selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.
Cepat-cepat Ayla memakai tas ransel berukuran besar itu keluar, dia melihat Hana berdiri di dekat jendela memperhatikan mobil mewah di luar sana.
"Nek, ngapain?" Hana mengelus dadanya karena suara Ayla yang mengejutkkannya.
"Mobil siapa itu Ayla?"
"Ohh itu mobil punya keluarga tempat Ayla kerja, Nek."
"Sampai nganterin kamu gitu?"
"Bukan, Nek. Tadi itu sekalian orangnya ada urusan penting jadi katanya sekalian aja perginya sama,"
Hana mengangguk paham, Ayla mengambil tangan milik Neneknya dan mencium punggung tanganya. "Nek kalau ada apa-apa bilang ke Ayla, ingetin juga Farrel walau nggak ada Ayla di sini jangan sampai dia nggak pergi sekolah atau bolos-bolos lagi."
"Iya, nanti Nenek ingetin dia. Kamu tenang aja."
"Iya kalau gitu Ayla pergi ya Nek, Asslamualaikum."
"Waalaimumsalam."
Ayla menyempatkan untuk memberikan fly kiss untuk Hana sebelum benar-bener beranjak dari pelantaran rumahnya.
***
Ayla membukakan pintu bagian kursi penumpang mobil dan meletakkan tasnya di sana, setelahnya di berpindah duduk di depan tepat samping Pak Aryo.
"Udah semuanya?"
"Udah, Pak."
Mobil brand Eropa itu melaju menjauhi area tempat tinggal Ayla, sampai tidak terasa mereka telah tiba di pelataran rumah keluarga Sabian lagi. Ayla membukakan pintu mobil di ikuti dengan Pak Aryo di sebelahnya, dia juga membantu Ayla untuk mebukakan pintu mobil di bagian kursi penumpang untuk mengambil tas miliknya.
"Makasih ya Pak,"
"Iya, sama-sama."
Ayla melangkah masuk kedalam rumah bersama Pak Aryo, saat tiba di dalam Pak Aryo langsung menuju ke dapur sedangakan dirinya harus segera menuju kamarnya yang berada di lantai dua yang hanya berjarak sepuluh langkah dengan kamar Arion
Ayla membukakan pintu kamar tersebut setelah mendapatkan kuncinya dari Bi Siti, Ayla melogo menatap kamar ini yang tidak kalah luas dengan kamar milik Arion. Ayla jadi berfikir, apa semua kamar di rumah ini memang memiliki ukuran yang besar? Jika di perkirakan untuk ukuran kamar saja memiliki ukuran yang sama seperti ruang tamu di rumahnya.
Ayla menggeleng takjub, dia melangkah mendekati ranjang berukuran besar dan empuk itu. Ayla meletakan tas ransel besar di atas ranjang dan membukakanya untuk menuyusun kembali semua bajunya di walk in closet, Ayla mengambil bingkai foto Ayahnya dan meletakkannya di bawah bantalnya.
Seusai menyusun semua pakaian miliknya Ayla langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk menghadap ke arah langit-langit kamar, Ayla mencoba untuk memejamkan matanya saat merasakan kantuk yang tiba-tiba menyerangnya.
Tok...tok
Ayla tidak menghiraukan ketukan pintunya, dia mengambil bantal di sebelahnya untuk menutup wajahnya.
TOK...TOK
Ketukan pintu semakin keras membuat Ayla berdecak kesal, dia turun dari ranjangnya untuk melihat siapa yang mengsuik ketanangnnya sekarang ini.
Pintu terbuka, suara Ayla seolah tertahan saat mengetahui siap yang sedang berdiri di hadapannya kini.
"A-arion?"
Iya, Arion berdiri di hadapannya dengan wajah yang sudah di penuhi dengan air matanya. "Kenapa?" Ayla mengulurkan tangannya saat Arion selangkah mendekatinya.
Brukkk
Arion menubruk tubuh Ayla, Ayla tidak dapat menahan tubuhnya sendiri saat mendapatkan serangan tiba-tiba dari Arion. Ayla mengerjabkan matanya beberapa kali saat mendengar suara isakan kecil dari bibir Arion dan Arion yang masih belum menyingkir dari tubuhnya, Ayla mendorong bahu Arion berharap agar bocah ini mau menyingkir.
"Rion, geser dikit!"
Arion diam saat menyadari satu hal, dia segera menyingkir dari Ayla dan duduk di sebelah Ayla. Arion mengusap dengan kasar air matanya yang masih terus membanjiri pipinya, dia terus menggumamkan kata maaf pada Ayla.
Ayla mengubah posisinya menjadi duduk di samping Arion, dia menatap ke arah Arion yang masih terus menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Lo-" Ayla mengantup mulutnya, "K-kamu kenapa?"
Arion mendongakakan kepalanya menatap Ayla sebentar, "M-mama P-papa, m-mereka pergi lagi ya?"
"Iya,"
"Kemana?"
"Nggak tahu pergi kemana,"
"Mereka pergi untuk berapa lama?"
Ayla mengedikkan bahunya, "Nggak tahu berapa lama,"
Ting...ting
Ayla mengambil ponselnya yang berada di atas ranjang, satu pesan masuk dari Nessya. Ayla langsung mengecek langsung apa yang Nessya kirimkan untuknya.
Bu Nessya: Ayla, gimana keadaan Arion. Kalau dia sudah bangun nanti tolong kasih tahu saya pergi ke Singapur ya, dan tolong ingatkan padanya untuk nggak main terus
Ayla menunjukkan isi pesan itu ke Arion.
"Ke Singapur? Lagi?"
Ayla melihat guratan sedih dari wajah polos Arion, dia mengeser duduknya agar semakin dekat. Salah satu tangannya terangkat perlahan untuk menyentuh punggung Arion dan mengusapnya beberapa kali.
"Udah jangan sedih, kan disini masih ada Bi Siti, Pak Aryo dan gu-. Eh! Maksudnya aku disini juga,"
Arion mengerjabkan matanya beberapa kali sampai akhirnya dia tersenyum lebar menampilkan gigi kelincinya, Arion menubruk kembali tubuh Ayla dan untung saja tubuhnya tertahan oleh kaki ranjang.
Ayla menahan mati-matian agar dirinya tidak mendorong tubuh anak ini, namun dirinya tidak bisa menahan lebih lama lagi. Ayla langsung mendorong tubuh Arion sampai tubuh bocah itu sedikit menjauh darinya.
"Laper nggak?"
Arion mengangguk, "Laper,"
"Mau makan disini atau di luar?"
"Boleh di luar?!"
***
Di sinilah mereka sekarang, di salah satu tempat makanan di pusat perbelanjaan terbesar. Ayla menghela napas saat melihat jumlah cup ice cream yang sudah di habisakan oleh Arion, entah sudah yang keberapa Ayla pun tidak tahu.
"RIP gaji pertama," gumam Ayla yang tidak terdengar jelas oleh Ayla.
"Ha? Ayla, kamu ngomong apa tadi? Rion nggak denger jelas?"
"Eh? Nggak kok! Udah selesai makan ice creamnya?"
Arion menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil meletakkan cup ice cream terakhir di atas meja, "Udah!"
"Arion, tunggu di sini sebentar ya?"
"Mau kemana? Mau ninggalin Rion ya?"
"Eh! Nggak. Mau bayar semua makanan ini, tunggu sebentar ok?"
"Iya,"
Arion mendudukkan kembali dirinya sambil menunggu Ayla kembali, Arion mengambil ponselnya yang berada di saku celana untuk melihat beberapa pesan masuk dari aplikasi WhatsApp.
Mama: Arion, nggak ada masalah apa-apa kan?
Mama: Inget makan kamunya, kalau mau apa-apa bilang ke Ayla atau Bi Siti aja
Arion Sabian: Iya, Ma
Arion melihat lagi pesan masuk dari abangnya.
Aron Sabian: RIONNNN
Aron Sabian: Kangen gak sama abang sendiri
Aron Sabian: Pasti lo kangen banget kan?
Arion Sabian: Nggak tuh
"Rion,"
Arion langsung mematikan ponselnya dan memasukkannya ke saku celananya saat mendengar suara Ayla yang telah duduk di hadapanya.
"Mau kemana lagi atau langsung pulang?"
Arion tampak berfikir, "Pulang aja deh,"
"Ok, biar bilang dulu ke Pak Aryo untuk jemput."
Seusai mengirimkan pesan ke Pak Aryo, Ayla dan Arion berjalan beriringan keluar dari tempat makan itu. Arion terus menggenggam erat lengan Ayla, saat di tanya apa alasannya menggenggam lengan Ayla adalah; "Biar Rion nggak hilang, Ay."
Mendengar alasan itu Ayla memilih untuk tidak bertanya lagi. Lagian siapa yang mau menculik pria 20 tahun dengan sifat anak-anak dan memiliki posri makan besar ini?
Di tengah perjalanan mereka Arion malah menarik tangan Ayla untuk membawanya ke tempat toko mainan.
"Ay! Ay!" panggil Arion, dia menunjuk ke arah kotak besar berisi mobil-mobilan remot control berukuran besar itu. "Mau Ay! Mau!"
Ayla menarik kembali tangannya dari genggaman Arion, tanganya berada di depan dada menatap Arion. "Katanya mau pulang, kenapa jadi belok ke toko maianan?"
Kedua jari telunjuk Arion tertaut dan memasang wajah memelas ke arah Ayla, "Mau, itu." tunjuknya lagi ke arah toko mainan yang berisi mobil remot control dari balik kaca ini.
"Sayang kalau nggak di beli, Ay. Boleh ya? Boleh?!"
Arion memasang wajah semelas mungkin dengan bibir yang di kercutkan, sedangakn Ayla dia memutar bola mata jengah.
Sayang uang gue jadi habis gara-gara nih anak! Pikir Ayla, dia melihat ponselnya terdapat pesan masuk dari Pak Aryo.
Pak Aryo: Apa kalian sudah keluar, saya tunggu di parkiran
Ayla kembali menatap ke arah Arion, "Nggak ada beli-beli mainan! Langsung pulang, Pak Aryo udah nunggu."
