Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Gaji Pertama

Ngantuk," ucap Arion sambil menguap.

Ayla menganggukan kepalanya, dan menuntun Arion ketempat tidur, ia segera menyelimuti tubuh Arion dan mengeluskan kepala Arion dengan lembut.

"Hai," sapa Arion mengulang sapaan Ayla tadi. Ayla mengernyit tidak mengerti.

"Nama aku Arion, nama kamu siapa? Kamu mau nggak jadi sahabat Rion, soalnya Rion nggak punya temen. Kalau sekarangkan ada kamu, Rion nggak mau kehilangan sahabat lagi, janji ya," ujarnya sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

Ayla menatapnya sebentar, kemudian ia langsung menautkan jari kelingking mereka, "Nama gue Ayla, iya gue mau jadi temen lo." setelah mengatakannya Ayla langsung menutup kembali mulutnya.

Dia melihat raut bingung di wajah bocah 20 tahun ini, "Kamu ngomong apa?"

"Nggak ada,"

Ayla mengelus pelan puncak kepala Arion dengan lembut, sekarang pikiranya sedang bekelana jauh, ia masih bimbang untuk menerima pekerjaan ini.

Gue harus ngurus seorang anak laki-laki 20 tahun? Yang bener aja! Gaji sih besar, tapi apa kata Ibu sama Nenek nanti? Pikir Ayla, dia menatap ke arah anak laki-laki ini yang telah memejamkan matanya.

Lamunanya seketika buyar saat pintu kamar terbuka menampilakn seorang wanita paruh baya.

"Ayla, Bu Nessya bilang agar kamu segera ke ruang kerja Pak Brani. Ada yang mau mereka bicarakan."

"Ruang kerjanya di mana ya, Bi?" tanya Ayla saat dirinya sudah berada luar kamar berhadapan dengan wanita paruh baya ini.

"Mari saya anter,"

***

Abrani duduk di sofa yang tersedia di ruang kerjanya sambil menggenggam erat tangan sang istri.

"Gimana ini, Aron belum kembali dan kita harus pergi ke Singapur untuk tiga bulan."

Abrani mengeratkan genggaman tangan pada Nessya dengan ibu jari yang mengelus punggung tangan Nessya, "Aron dia tadi ngabarin aku, katanya salah satu teman Ayla bakalan datang. Tapi belum tahu pasti kapan datangnya,"

"Temannya yang mana?" tanya Nessya penasaran.

Abrani mengedikkan bahunya, tidak tahu. "Nggak tahu. Katanya perempuan namanya Ji-"

Tok...tok

Ucapan Abrani harus terpotong karena ketukan pintu dari arah luar, saat pintu terbuka terlihat Bi Siti yang sudah lama berkerja di rumah keluarga Sabian ini.

"Permisi," ucap Bi Siti yang membawa Ayla kehadapan Nessya dan Abrani, Bi Siti berbalik keluar dari sana meninggalkan Ayla di sana sendiri.

Ayla duduk di sofa bersebelahan dengan Nessya, kedua tanganya saling memilin di atas pahanya. Dia sedang menerka-nerka apa yang akan mereka katakan padanya, suara deringan ponsel terdengar memenuhi ruang membuat Ayla mengangkat kepalanya untuk mengetahui apa yang terjadi.

"Oh gitu, baiklah saya dan istri saya akan segera ke sana."

"...."

"Iya,"

Abrani mematikan ponselnya dan kembali fokus ke arah Ayla, "Sebelumnya kami minta maaf, apa kamu bisa untuk tinggal di sini sementara waktu?"

Ayla mengerutkan keningnya, "U-untuk apa ya?" tanyanya dengan hati-hati.

"Saya dan Istri saya harus pergi, ada urusan yang sangat penting. Belum tahu untuk berapa lama, tapi kami sangat berharap kamu mau tinggal di sini."

Ayla terkejut. Tentu saja, bagimana mungkin mereka mengizinkannya bergitu saja untuk tinggal di sini. Apa mereka tidak mengkhawatrikan anak mereka jika bersamanya?

"Maaf nih, tapi a-apa kalian yakin? M-maksudnya saya orang baru di sini, bagimana jika saya tidak bekerja dengan baik? Dan sesuatu hal buruk lainnya, apa kalian tidak mengkhawatirkannya?"

Ayla semakin melongo saat kedua pasangan suami istri ini malah tertawa, apa yang salah dengan pertanyaanya? Ayla menggaruk pelipisnya saat tidak mendapatkan jawaban sama sekali dari mereka berdua.

"Saya tidak akan khawatir, ada Bi Siti. Kamu bisa meminta bantuan padanya," jelas Nessya yang membuat Ayla terdiam dan tidak berniat untuk memberikan jawaban lagi.

"Tenang saja, saya akan tetap memberikanmu gaji yang sesuai dan pastinya saya akan menambahkan gajimu."

Ayla menatap Nessya lekat saat melihat wanita itu menyodorkan tangannya ke arah Abrani, Abrani mengambilkan amplop cokelat ke tangan istrinya yang kemudian di berikan kembali ke Ayla.

Ayla menatap lekat dan menebak apa maksudnya.

"Gaji pertamamu." ucap Nessya seolah mengerti apa yang sedang Ayla pikirkan. "Jika kurang akan saya tambahkan lagi,"

Ayla tersenyum senang dia membuka perlahan amplop cokelat itu, dan betapa terkejut dirinya saat melihat sejumlah uang berwarna merah. Jika Ayla perkirakan isinya lebih dari jumlah yang di tetapkan di lembaran itu.

"I-ini b-beneran?"

Nessya dan Abrani kompak menganggukkan kepalanya, "Iya, beneran." jawab Nessya tanpa keraguan.

"Terima kasih! Terima kasih!"

Ayla menjabat tangan Nessya dan Abrani bergantian, dia bersimpuh di bawah sambil terus menundukkan kepalanya.

"Hei, sudah jangan di bawah gitu!"

Ayla mengangguk dia kembali duduk di atas sofa samping Nessya, dia menggenggam erat setumpuk uang di dalam amplop itu. Dia sedang membayangkan bagaiman wajah keluarganya nanti, terutama wajah ibunya nanti.

"Oh ya, apa saya boleh pulang dulu untuk mengambil baju-baju saya?"

"Iya tentu boleh, kami juga harus pergi sekarang. Oh ya bagaimana dengan Arion tadi?"

"Ah, dia baik. Sekarang di sudah tidur siang."

"Bagaiman kalau kita perginya sekalian aja, kita harus langsung ke bandara untuk penerbangan siang ini."

"Sekarang? Bukanya itu terlalu cepat ya? Bagaiman sama Arion kalau tahu kalian nggak ada di rumah?"

***

Ayla sekarang berada di dalam mobil samping pria paruh baya yang di ketahui bernama Aryo, setahunya Aryo dan Bi Siti pasangan suami istri yang sudah cukup lama bekerja disini.

"Kita langsung ke bandara aja dulu ya, kamu nggak apa-apakan Ayla?"

Ayla mengangguk kikuk, "Iya, Bu."

Mobil berjenis Audi A4 B6 itu melaju membelah jalanan kota yang ramai dan cukup padat ini, Ayla menatap jalanan dari samping jendela melihat banyaknya orang-orang yang melajukan kendaraannya dengan cepat.

Mobil brand Eropa itu kini berhenti di parkiran bandara di Ibu kota, setelah Nessya, Abrani dan seluruh barang mereka keluar Pak Aryo kembali melajukan mobil menuju ke rumahnya.

Mobil yang Ayla tumpangi kini berhenti di depan rumahnya, sebelum keluar Ayla mengecek kembali amplop  cokelat itu dia mengeluarkan beberapa lembar uang untuk di masukkan kembali ke dalam tasnya dan sisanya di dalam amplop.

"Tunggu sebentar ya, Pak."

Ayla memasuki rumahnya, dia tidak melihat siapa pun di dalam hanya ada suara gemericik air dari kamar mandi yang berada di area dapur.

Ayla segera menuju ke arah kamar mandi, dia mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. Saat pintu terbuka di melihat Neneknya yang baru saja berwudhu.

"Ayla, ada apa?"

Ayla tersenyum dia mengeluarkan amplop cokelat dari dalam tasnya.

"Apa ini?" Hana membukanya, kemudian Hana menutup kembali mulutnya karena melihat sejumlah uang yang tidak sedikit itu. "Uang dari mana ini Ayla?"

"Ayla kan kerja, Nek."

"Kerja apa kamu sampai dapat gaji sebesar ini dalam satu hari?"

Ayla sudah menebaknya, pasti Hana akan bertannya apa pekerjaannya.

"Jadi baby sitter," jawab Ayla dengan suara pelan.

"Baby sitter? Pengasuh gitu?"

Ayla mengangguk, "Iya Nek. Keluarganya kaya Nek, makanya Ayla bisa dapat gaji besar."

Hana membuka kedua telapk tangannya kemudian mengadahkan tanggannya ke atas dan mengusapnya kembali ke wajah.

"Alhamdulillah. Terima kasih ya gusti Allah,"

Ayla tersenyum melihat raut bahagia dari neneknya. "Oh ya, Ayla udah nggak bisa tinggal dari di sini. Mereka minta Ayla untuk tinggal di sana,"

"Gitu?" Ayla mengangguk lucu, "Tapi Nenek tenang aja. Hari minggu nanti Ayla bakalan datang kok!"

"Iya, Nenek yakin." ucap Hana, "Nenek mau sholat Zuhur dulu ya? Kamu di sana juga jangan lupa untuk sholat."

Ayla mengajungkan ibu jarinya, "Sip,"

"Ayla mau siapin baju dulu ya nek,"

Ayla segera memasuki kamarnya untuk segera menyusun baju-bajunya dan memasukkannya semua ke dalam tas berukuran besar, tidak lupa dia juga memasukan satu bingkai foto Ayahnya ke dalam sana.

Ayla keluar dari dalam kamarnya, dia menatap sebentar kamar yang tertutup rapat. Dia mengintip sedikit melihat ibunya yang sedang tidur dengan nyenyak di dalam sana, Ayla mendorong pelan pintu bercat putih itu untuk duduk di pingiran ranjang.

Ayla mengambil tangan Amira dan mengusap punggung tangannya dengan lembut, Ayla mencium punggung tangan Amira dan kembali mencium kening Amira tidak lupa dia membisikan sesuatu di telinga ibunya berharap ibunya bisa mendengarnya walau sekilas.

"Ayla sayang, Ibu. Jaga kesehatan terus ya? Maaf Ayla nggak akan ada di rumah lagi, tapi Ayla janji untuk sering kesini buat jenguk ibu,"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel