Bab 12 Perkara Es Krim
Ayla membawa Arion kedapur dan menyiapkan air garam untuk mengurangi rasa sakit gigi Arion, Ayla menyerahkan gelas berisi larutan air garam.
"Nihh, biar nggak sakit gigi lagi."
Arion menggeleng, "Nggak mau. Asin."
"Iya namanya juga garam pasti asin lah!"
"Nggak mau!" ucap Arion sambil menutup mulutnya sendiri dengan tangan.
"Mau sembuh nggak?" Arion menggangguk lalu menerimanya dan menegukknya.
Byurrr
Bago. Umpat Ayla dalam hati.
"Kan asinnnn," rengek Arion dengan polosnya, dia mengusap mulut dan dagunya yang terkena tumpahan air garam.
"Di kumur Arion, bukan ditelen." geram Ayla sambil memukul bahu Arion beberapa kali.
"Ihh, makanya bilang dong. Kan Rion nggak tahu."
"Bodo amat sih, terserah lo Rion. Terserah!" jawab Ayla yang mulai merasa jengah, dia mengembil kembali minuman untuk Arion dan menyerahkannya.
"Nih minum dulu biar ngurangin rasa asinnya,"
"Makasih,"
Ayla mengangguk sebagai balasan untuk ucapan Arion, dia menatap jam yang berada di dinding dekat meja makan. "Rion tidur siang ya?"
Arion menggeleng sambil meneguk minumannya, "Nggak, Arion masih mau main. Nggak mau tidur siang,"
"Mau main apa?"
Arion tidak langsung menjawab, dia tampak berfikir. "Umm, ketaman aja yuk. Rion bosen di rumah, boleh ya?"
"Tapi Kezia gimana? Yakali di tinggal."
"Iss nggak papa, sebentar doang." kedua tangan Arion terkantup di depan dada, memohon pada Ayla dengan wajah di buat semelas mungkin.
"Yaudah, bener ya sebentar doang? Awas aja kalau sampai sore." Ayla menyodorkan jari kelingkingnya sebagai bukti kalau Arion tidak akan berbohong. Kalau Arion sampai berbohong maka Ayla akan meninggalkan Arion di taman.
Arion menggangguk cepat dan menautkan jari kelingking mereka. "Iya Ay, janji!"
"Ok, kalau gitu kita langsung pergi. Taman biasa kan?" tanya Ayla lagi untuk memastikan.
"Iya, kalau yang jauh-jauh nanti Rion di tinggal lagi sama Ayla."
Ayla tertawa pelan mendengarnya, dia mengikuti langkah Arion yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Arion menatap ke arah jendela di ruang tengah yang tepat bersebelahan dengan garasi, satu motor matic yang pernah Ayla pakai dengannya berada di sana. Ayla yang berjalan di belakang Arion meringis saat dahinya menabrak punggung Arion, Arion berbalik tanpa mengucapkan apa-apa dan langsung menunjuk ke arah motor membuat Ayla mengikuti arah yang Arion tunjuk.
"Kenapa? Mau naik motor?" tebak Ayla dengan tepat.
"Iya. Boleh ya?"
"Nggak takut di tinggal?" tanya Ayla dengan sengaja.
"Rion lapor ke Mama nanti,"
"Kebiasaan. Ngadu aja terus," balas Ayla dengan tangan yang terlipat di depan dada.
Arion menyengir, dan kembali memohon agar mereka naik motor saja. Hitung-hitung biar tidak lelah karena berjalan, dan agar lebih cepat sampai juga.
Ayla menghela napas pasrah, dan berbalik untuk mencari kunci motor yang biasanya di letakkan di atas kulkas. Ayla kembali sambil mengangkat tinggi-tinggi kunci motor di hadapan Arion, "Nihh, ayo buruan." ujar Ayla sambil menarik tangan Arion.
***
"Hallo, Pah. Ada ap-"
"Kamu apa-apaan sih ini? Temen yang kamu bilang masaan bawa segede itu? Heran Papa liatnya."
Terdengar kekehan dari serbang sana, "Yaudah sih ,pah. Percayaain aja, mending Papa fokus tuh kerjanya."
"Iya iya Papa percayaain aja. Kamu buruan baliknya."
"Iya, aku. Balik seminggu lagi, lagian rumah pasti baik-baik aja. Pasti nggak akan rusuh, tenang pa."
"Iya, Pap tutup dulu ya?"
"Ok, Papaku"
Tut...
Panggilan tertutup, pria dengan kaca mata yang bertenger di hindungnya di lepaskan dan di letakkan di atas meja. Dia menatap ke arah laptop yang terhubung langsung dengan kamera keamanan di rumahnya, dua orang tampak berjalan keluar rumah dengan motor.
"Astaga, mau kemana sih mereka ini?" geramnya.
Tubuhnya dia sandarkan di punggung kursi kerjanya yang terbuat dari busa, sesekali memijat pangkal hidungnya dan rasa nyeri mendadak menyerangnya.
"Nggak ada kerjaan banget mereka, ya ampun."
Tok...tok...
Dia menatap ke arah pintu kerjanya, dan melihat wanita dengan pakaian formal membawakan kopi untuknya.
"Sorry sir, I brought you a drink."
"What drink?"
Wanita berpakaian formal itu meletakan terlebih dahulu minuman di atas meja. "Coffee,"
"Coffee? Thanks."
"Yes, i'm permission out first."
"Okay,"
Menyeruput kopi yang baru saja di antarkan, setidaknya ini sedikit memeberikan ketenangan untuknya.
Dia segera mengirimkan pesan untuk istrinya, dia mencari nama kotak istrinya.
Abrani Sabian: Tadi aku lihat cctv, mereka berdua pergi jalan lagi dan temen yang di maksud udah dateng tuh
***
Kezia membuka kelopak matanya, dia merasakan tidur yang sangat nyaman dan nyenyak. Kezia meraih ponselnya yang berada di samping untuk mengecek jam, 13.45. Kezia mendudukkan dirinya sambil meregangkan otot tangan, efek kecapeaan karena perjalanan menuju kerumah Arion tempat Ayla berkerja.
Kezia merasakan lapar, dia segera turun dari atas ranjang untuk mmencari makanan. Namun Kezia mengernyit saat tidak mendengar suara Ayla ataupun Arion dari tadi, tapi dia tetap berfikiran mungkin mereka berada di ruang lain karena bagimana pun juga rumah ini sangat luas dan akan sulit untuk mencari mereka berdua di saat dia tidak mengenali tempat ini di tamabah tidak ada siapa pun selain Pak Anto di depan.
Kezia lebih memilih untuk makan, ntah nasib sial atau Kezia yang kurang beruntung. Semua makanan sudah tidak ada, Kezia berdecak kesal di saat genting seperti ini tidak ada apapun.
Kezia membuka kulkas dan mendapati bungkus nuget, setidaknya dia bisa memakannya. Dengan sabar Kezia mengoreng beberapa nuget untuk dirinya sendiri.
Sampai semua selesai Kezia masih belum mengetahui keberadaan Ayla dan Arion, dia memutuskan untuk mengirimkan Ayla pesan dari pada harus berkeliling untuk mencarinya.
Kezia Aletta: Woi, Ayla lo di mana? Gue di meja makan nih, buruan temenin gue. Takut nyasar ini mau nyusul lo
Ayla Winart: Lo udah bangun? Sorry nih gue di taman sama Arion, dia yang minta di temenin
Kezia membulatkan kedua bola matanya, astaga dirinya tidak di ajak. Memang parah!
Kezia Aletta: Kampret gue gak di ajak, parah sih sumpah
***
Ayla terkekeh membaca pesan balasan dari Kezia. Dia tidak bermaksud untuk meninggalkan sahabatnya itu, sungguh. Kalau tidak ajakan dari bayi besar yang sedang berjalan di sebelahnya ini pun dia tidak akan mau ikut, lebih baik dia merebahkan dirinya dan tidur sepuas-puasnya.
"Ayla-Ayla!"
"Apa?"
"Es krim, itu. Es krim mau!"
"Yaudah beli," jawab Ayla dengan tenang.
"Uang?" Arion menadahkan tangannya ke arah Ayla untuk meminta uang. Ayla melebarkan matanya karena Arion meminta uang denganya.
"Nggak bawa uang?" Arion mengangguk. Ayla menghela napas panjang kemudian mengeluarkan uang yang sudah dia siapkan di kantung celana.
"Nih,"
"Yess!" seru Arion kegirangan, dia langsung berlari ke arah penjulan es krim keliling.
Ayla menggelngkan kepalanya heran melihat Arion, "Nih anak ya."
Ayla mengikuti Arion dia berdiri di sebelah Arion dan menunggu pembeli yang lainnya, "Pak, dua ya pake roti aja. Jangan pake corn, nanti jadinya dikit." pesan Arion yang di angguki penjual paruh baya itu.
"Pak saya dulu dong, anak saya udah nangis nih." ujar Ibu-ibu yang tiba-tiba saja datang dengan anak kecil di sampingnya yang merengek minta es krim juga.
"Bunn, cepetan es klimnya. Ila mau es klimya,"
"Iya, Ira sabar dulu." ucap ibu itu lagi.
"Ihh, Pak Rion dulu. Kan Rion duluan yang di sini." ucap Arion menyerahkan uang enam ribu yang Ayla berikan untuknya.
"Pak untuk anak saya dulu, udah nangis ini." ngotot ibu tadi yang menatap Arion sengit.
"Sabar dong buk. Jangan motong, Rion dulu ini!" balas Arion yang kesal.
"Eh, ngalah dong sama anak saya."
"Ihhh, apaan sih. Rion duluan ini, ibu nunggu dong!"
"Ngalah sama anak kecil dong!"
Ayla menutup wajahnya, kemudian menatap ke arah penjualan es krim itu. "Udah Pak buatin aja dulu untuk anak ibu itu,"
Arion menoleh ke arah Ayla dengan terkejut, "Ihh, apaan sih Ay. Kok Ibu itu duluan, kan Rion duluan!"
"Diem nggak? Atau pulang?" ancaman Ayla berhasil membuat Arion menutup rapat mulutnya dan memilih untuk menurut saja.
"Makasih Pak," jawab ibu tadi setelah es krim pesananya jadi, dia melirik tajam ke arah Arion dan beralih untuk pergi dari tempat itu.
Lain halnya dengan Arion yang mengepalkan kedua tangannya di udara dan meninju udara untuk pelampiaskan kekesalanya pada ibu tadi.
"Dasar Ibu-ibu gendut. Galak!"
Ayla menyikut tangan Arion dan menyerahkan es krim pesananya yang tertunda tadi ke Arion, "nggak boleh gitu. Ini makan aja dulu es krimnya,"
Arion menurut, langakah kaki membawanya untuk mendudukan diri di salah satu bangku taman yang berada tidak jauh dari mereka. Keduanya saling diam, menikmati es krim di tangan mereka masing-masing dan juga suara angin yang berhembus membuat beberapa dedaunan di pohon bergoyang dan ada juga yang jatuh berguguran.
"Oh ya, Kezia dia keliatanya marah banget tuh. Nanti sebelum pulang beli makanan dulu untuk Jia, nggak papakan?"tanya Ayla, memecahkan keheningan.
Arion menoleh menatap Ayla dari samping, kemudian menganggukan kepalany. "Iya, yang penting Ayla yang bayar kan?"
Ayla menatapnya datar, "Iyaa."
