Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11 Sakit Gigi

"Ayla kenapa ninggalin Rion sendiri?! Huaaa Ayla jahat! Rion kasih tahu Mama nanti!" adu Arion sambil mengusap air matanya dengan lengan baju.

Arion sedikit menggeser posisinya yang berdiri di pintu untuk mengizinkan dua orang ini masuk ke dalam, kedua alis Arion tertaut mentap Kezia yang membawa koper berukuran besar kedalam.

"Kenapa bawa koper?" tanya Arion dengan polosnya, dia mendekat ke arah Kezia setelah menutup kembali pintu. Arion berjongkok untuk meneliti koper berwarna merah maroon dan mengetuknya beberapa kali.

"Kayaknya isinya banyak, pasti berat ya?" ujar Arion lagi yang langsung di hadiah angukan Kezia. Setidaknya Arion bisa membantunya untuk membawa kopernya ini, pikir Kezia namun itu semua tidak benar terjadi. Arion memilih untuk langsung kedapur sedangakan Ayla duduk di sofa tanpa memperdulikan dirinya yang kesusahan.

"Ayla," tidak ada sahutan sama sekali dari Ayla, Kezia menghela napas panjang sambil mengelus dadanya dan meninggalkan kopernya di dekat pintu masuk.

Ayla menatap kesebelahnya yang sudah ada Kezia yang bersender sambil meregangkan otot-otot tangannya, "Ayla, gue haus banget nihhh." ujar Kezia yang tidak langsung di respon oleh Ayla, lagi.

"Ekhem!" Kezia sengaja berdehem kuat di samping Ayla sambil sesekali menyentuh lehernya dan mengeluh panas, "Kayaknya gue batuk deh, ekhem!" ujar Kezia sambil melirik ke arah Ayla yang juga meliriknya.

Dalam hati Kezia berseru senang saat Ayla bangkit menuju ke arah dapur, tempat di mana Arion berada tadi.

***

Ayla menatap ke arah Arion yang tengah makan sendirian, tangan kiri Arion mengambil buah apel yang sudah di potong dan memasukkan ke dalam mulutnya dan tangan kanannya menyuapkan sesendok nasi.

Aneh. Satu kata yang terlintas dalam benak Ayla saat melihat kelakuan Arion, "Kenapa baru makan? Kan tadi udah di siapin makananya," ucap Ayla sambil mengisi air di dalam gelas yang berada tidak jauh dari Arion.

Arion mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Ayla, "Lawper." jawab Arion tidak terlalu jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.

"Telen dulu makananya, baru di jawab." tegur Ayla lagi, dia mendekat ke arah Arion. "makan apa itu?" tanya Ayla yang mendadak penasaran.

"Telur mata ayam. Pak Anto yang buat tadi," Ayla mengenyitkan dahinya bingung, "kok Pak Anto, Bik Inem belum dateng?"

Arion menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, "Bik Inem  tadi udah dateng kok, terus izin nggak mau di sini lagi. Katanya repot harus bolak balik, apalagi harus ke rumah lain." jelasnya sambil kembali menyuapakan makanannya.

"Enak Ay, mau nggak?" tawar Arion sambil menyendokan nasi yang berisi makanan yang sudah Ayla buat sebelumnya dan telur mata sapi yang Pak Anto buatkan. Ayla menggeleng pelan, menolak tawaran Arion.

"Eh! Ay lo malah duduk di sini. Gue tungguin juga." omel Kezia yang tiba-tiba datang entah dari mana. Ayla jadi mulai curiga jika temannya ini bisa teleportasi, jika benar dia akan berguru dengan Kezia nantinya!

Kezia langsung menarik kuris yang berhadapan dengan Ayla, dia mengambil gelas di hadapan Ayla yang sudah dia pastikan itu pasti minuman untuknya. "Thanks Ay,"

"Hem,"

Kezia tidak melanjutkannya lagi, dia menatap makanan yang tengah di santap Arion. "Wihh makan apa lo?"

Arion menyodorkan piring yang berisi banyak lauk dan telur mata sapi dengan bentuk yang tidak utuh lagi, "Nuget, kentang sama telur mata ayam." jawab Arion sambil menunjuk satu persatu makanan yang masih ada di dalam piring.

Kezia mengerutkan keningnya merasa asing dengan perkataan yang baru saja Arion lontarkan, "Mata Ayam? Mata Sapi kali! Jangan ngeubah nama deh."

Ayla yang duduk berhadapan dengan Kezia pun memberikan kode untuk tidak memperpanjang urusan nama makanan yang Arion ubah, Kezia tampak tidak memperdulikan kode yang Ayla berikan dia langsung menatap sengit ke arah Arion.

"Siapa yang ngubah? Rion bener kok, ini itu telur mata ayam bukan mata sapi. Tanya aja sama  Ayla, iya kan Ay?" tanya Arion meminta persetujuan Ayla yang tengah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Eh, aneh banget nih anak. Sejak kapan jadi telur mata Ayam, jangan asal ngubah gitu dong. Nanti yang buat namanya marah." balas Kezia tidak terima.

"Ihh apaan sih, yang buat juga Pak Anto kok. Dia aja nggak marah, kok jadi Kak Jia yang nggak terima?"

Kezia menggaruk keningnya, Siapa Anto? Dia tidak mengenalnya. "Anto siapa woy!"

Ayla menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan, dia merasa tidak tahan berada di antara dua orang ini.

"Ihh masa nggak kenal sih." geram Arion, tiba-tiba pria dengan pakain satpam datang dari arah depan sambil membawa koper besar berwarna merah maron.

"Ada apa ini, kenapa nama Bapak di sebut-sebut?" Ayla mendongak, menggelengkan kepalanya.

"Nggak Pak, maa-" ucapan Ayla tidak terselesaikan karena Arion yang langsung menyelah.

"Bapak kan tadi yang buatin Rion telur mata ayam?" Pak Anto mengangguk.

"Iya, kenapa ini. Apa nggak enak ya?"

"Nggak kok, masaan di bilang telur mata sapi sih? Kan itu nggak bener." ujar Arion menunjuk ke arah Kezia. "Kan ini telur dari ayam bukan dari sapi," lanjut Arion lagi.

Kezia merasa tidak tahan, mendadak tangannya terasa gatal ingin mencakar sesuatu. Dia menahanya dari bawah meja sambil menatap Ayla meminta bantuan untuk keluar dari sini. Ayla sama sekali tidak membantunya, dia mengatakan sesuatu dengan gerakan mulut tanpa suara; "Kan udah gue bilang jangan di perpanjang masalahnya, lo sih ngeyel banget!"

Kezia menghela napas panjang kemudian bangkit dari duduknya dan meraih koper miliknya yang sudah di bawah oleh Pak Anto.

"Maaf Pak ini tas saya," Kezia menerimanya, "Makasih Pak udah di bawain."

***

0813-0135-7900: Maaf untuk lo nomor yang gak gue kenal, gue gak ngerti maksud dari minta tolong dari lo apa, dan gue gak paham yang lo maksud demi kita itu apa. Jadi gue minta tolong sebesar besarnya untuk berhenti seolah olah gue dan lo itu saling kenal

Sudut bibirnya terangkat membacanya, "Nggak mau bantu tapi dateng juga kan?" dia terkekeh pelan. Dia menatap lalu lintas orang-orang dari balik kaca besar transparan di salah satu cafe di kota Oxford, Inggris.

Pandangannya teralihkan pada seorang wanita yang duduk di hadapannya, rambut sebahu dengan poni yang menutupi keningnya. "Ada apa sih manggil ke sini?" ucap dengan ketus.

Dia tertawa sebentar, "Mau minta tolong, jangan sinis amat napa sih? Heran banget selalu sini ke gue,"

"Udah makanya lo buruan mau minta tolong apaan?"

"Gue mau-"

***

Di rumah besar dan luas ini seorang Ayla di sibukkan oleh satu makhluk bernama Arion, terbukti dengan segala perintah yang menguji ke sabarannya. Ayla berdiri menghada meja belajar Arion, dan segera mengambil pewarna berbentuk padat.

"Aylaaa, bawaain kertas lagi donggg!" Ayla yang berdiri di ujung tangga berdecak kesal menatap Arion yang terus mencoret-coret di buku gambarnya dengan serius.

Ayla tidak menghiraukan perkataan Arion dia memilih turun menghampiri Arion dan menyerahkan kota yang berisi pewarna padat, "udah deh, sayang itu buku gambarnya cuman di coret-coret. Jangan di tambahin lagi lah," ujar Ayla melihat di setiap lembarnya di penuhi coretan-coretan abstrak.

"Ihh, bukan di coret-coret. Ini tuh di gambar,"

"Iya, terserah bilang apa." balas Ayla malas melanjutkan, dia memilih ikut duduk di sebelah Kezia. "Jia, lo mending istirahat aja gih di kamar. Dari pada lo disini nanti tambah sakit kepala lo,"

"Iya, gue mau ke kamar. Sabar ya lo jagainnya,"

Kampret. Umpat Ayla dalam hati. Dia menatap Kezia yang meninggalkannya di ruang tengah, Ayla beralih pada Arion yang sudah berdiri sambil menunjukkan hasil gambarnya di depan dada.

"Ay, bagus nggak?" Ayla menggeleng pelan, "nggak bagus,"

"Ihh, kok nggak sih! Ini bagus ya."

"Nggak bagus itu," jawab Ayla dengan santai, dia meraih toples yang berisi permen berbentuk hati dan di lumuri gula pasir.

Arion melengkungkan bibirnya ke bawah dengan raut wajah yang di buat sesedih mungkin, kemudain mengambil alih toples, dan memakannya membuat Ayla membelakkan matanya karena terkejut.

"Ehh!"

"Apa?"

"Siniin toplesnya,"

"Enak aja, ini punya Rion."

"Eh, jangan sembarangan. Gue duluan yang ambil ya!"

"Ihh, apaan sih. Ini itu rumah siapa? Rion kan? Yaudah berati semua punya Rion, jadi jangan sembarangan."

Ayla yang hendak protes mengantupkan kembali mulutnya, dia merasa kalah telak dari Arion yang mulai mengeluarkan sisi menyebalkannya. Ayla bersikap tak perduli pada Arion yang telah berhasil menghabiskan permen, dan dia juga tidak perduli jika anak ini akan sakit gigi. Benar dugaan Ayla, kini Arion menutup toples sambil memringis kesakitan pada giginya yang terasa sakit.

"Sakit, huaaa. Mama sakitttttt!"

Ayla melempar bantal sofa ke arah Arion. "Berisik tau nggak?!"

"Sakit Ayla, gigi Rion sakit."

"Kapok. Siapa suruh yang ngabisin sendiri, huh??" balas Ayla dengan tangan terlipat di depan dada.

"Tapi sakit." ucap Arion dengan suara pelan nyaris tidak terdengar.

Ayla berdecak mendengar aduan dari Arion, "Ngerepotin."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel