Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13 Bayi Besar Yang Manja

"AYLAAA!"

Ayla mengusap dada saat kedatangannya di sambut dengan teriakan yang menggelegar dari Kezia.

"Parah banget sih ninggalin gue sendiri di sini, sumpah!" ucapnya sambil memukul lengan Ayla.

"Aduh, sakit Ji. Jangan di pukul," Ayla mencoba melepaskan diri dari Kezia. Namun Kezia semakin memukul dengan brutal.

"Ihh, jangan di pukul Aylanya!" ucap Arion mencoba untuk membantu Ayla lepas dari amukan Kezia.

"Nggak mau! Atau lo mau gue pukul?" Arion mengantupkan mulutnya, dia menjauh dari Kezia untuk menghindari diri dari amukan Kezia.

Sialan. Umpat Ayla dalam hati. "Jia udah deh jangan mukulin gue terus, sakit ini gila lah. Udah deh gue tadi beli martabak buat lo,"

Ayla mulai mengeluarkan kantung plastik yang berisi martabak yang ia beli tadi, dan menyerahkannya ke Kezia. Kedua bola mata Kezia berbinar saat menatap kantung plastik dan segera mengambilnya dari Ayla dan membawanya ke dapur tanpa memperdulikan kembali panggilan dari Ayla.

"Makanan aja teross yang lo pikir!" dumel Ayla, dia ikut kedapur untuk melihat Kezia. Dan, ya Kezia memakan martabark sendirian tanpa berbagi dengannya. Sungguh tega, Ayla mengusap dadanya sabar melihat kelakuan sahabatnya.

"Ayla martabaknya di habisin, Rion kan juga mau Ay." bisik Arion tepat di samping Ayla.

Ayla mengangguk pelan, niatannya membeli martabak untuk mereka makan bersama. Bukan untuk Kezia saja, dan Kezia telah menghabiskannya sendiri.

"Ji, lo makan sendiri tuh?"

Kezia menoleh sambil menyuapkan potongan martabak, "Iyalah."

"Nggak mau dia bantuin gitu makannya?" Kezia menggeleng, "nggak usah Ay, gue bisa ngabisin ini sendiri kok. Tenang aja, gue sebagai sahabat baik sangat menghargai usaha lo karena udah beliin martabak ini."

Baik matamu, umpat Arion dalam hati. Dia juga mau martabak itu, tapi keinginanya telah lenyap melihat potongan terkahir masuk dalam mulut Kezia. Arion meneguk ludahnya membayangkan betapa nikmatnya cokelat dalam martabak itu lumer dalam mulut, ah! Lain kali Arion akan mengingatkan Ayla untuk membeli lebih banyak martabak agar dia bisa mencobanya juga!

"Gila Ay, ini enak banget!" ucap Kezia sambil membersihkan jari-jarinya dari lumeran cokelat, "kapan-kapan beli lagi ya?"

"Iya Ji," balas Ayla sekenannya.

"Kak Ji kenapa di habisin? Rion juga mau martabaknya," Kezia mendongakan kepalanya menatap ke arah Arion sekilas lalu mengedikkan bahunya.

"Bilangnya tuh dari tadi dong, jangan pas udah habis gini. Yakali martabaknya harus di muntahin dulu?"

Arion mendengus kesal, dia melipat tanganya di depan dada menatap Ayla dan Kezia tajam.

"Ayla sih belinya cuman satu!"

Ayla yang baru saja minum segelas air putih harus tersedak karena perkataan Arion, "Loh, kok jadi gue yang salah sih?"

Arion mengercutkan bibirnya, "Iya lah. Rion jadi nggak dapat makan martabaknya,"

Ayla menarik kursi di sebelah Arion, "Yang salah itu Jia makanya banyak," ujar Ayla lagi, Arion menatap Kezia tajam.

"Apa?" sahutnya galak. Arion menggeleng kikuk, dia takut di marahi Kezia. Jangankan di marahi, Kezia melotot saja dia sudah takut duluan.

"Ay, mau susu. Nanti bawain ya ke kamar,"

Selanjutnya Arion sudah beranjak dari tempat duduknya untuk menuju ke kamarnya, dan sekarang Ayla sedang bersiap untuk membuatkan susu untuk Arion. Ayla sesekali melirik ke belakang saat merasa Kezia memperhatikannya, dan benar saja Kezia tengah memperhatikkannya.

"Lo ngapain sih Jia?" Kezia menegakkan badannya dan langsung mengglengkan kepalanya pelan.

"Terus kenapa liatin terus?" tanya Ayla lagi. Dia merasa risih di tatap oleh Kezia seperti itu.

"Iya iya maaf, yaudah sih tinggal lanjut aja buatin bayi gede susu." sahut Kezia yang kini beralih untuk memainkan ponselnya dari pada memperhatikan Ayla lagi.

Ayla menghela napas pelan kemudian melanjutkan kegiatannya, "Jia gue ke kamar Arion dulu ya?"

"Iya," sahut Kezia sekenannya.

***

Ting...ting

Abrani yang baru saja hendak beranjak dari tempat tidur, harus mengurungkan niatnya karena suara dari ponsel. Abrani membuka ponselnya melihat pesan dari anaknya.

Aron Sabian: Sabar ya Pa minggu depan aku bakalan balik

Abrani menatap pada layar ponselnya datar, dia fikir akan ada suatu informasi baru. Ternyata hanya pesan biasa tanpa kepastian dari anaknya.

Abrani berniat untuk tidak menjawab dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari mengurangi dari rasa lelah selama mengurus pekerjaannya di kantor. Abrani mulai menyalahkan shower namun kegiatannya itu di urungkan karena suara sang istri.

"Nanti langsung ke dapur ya, udah aku siapin untuk makan malam."

"Iya!" sahutnya setengah berteriak agar bisa di dengar dengan jelas oleh istrinya dari luar.

***

Ayla mengetuk pintu kamar Arion beberapa kali berharap pemilik kamar itu mau menyahut, ya walau Ayla di berikan akses untuk keluar masuk kamar Arion tapi dia tetap tidak mau bertindak seenaknya. Bisa-bisa Arion akan mengadu kepada Nessya dan berakhir dirinya yang harus keluar dari sini karena ketidak sopanannya.

Ayla menyerahkan gelas berisi susuk kesukaan Arion, Arion menerimanya dan mulai meneguknya perlahan. Arion meletakkan kembali gelas susu yang tinggal setengah di atas narkas samping tempat tidurnya dan kembali fokus pada permainan di ponselnya.

"Rion minum dulu susunya baru main game lagi," tegur Ayla karena tidak suka Arion malah lebih fokus pada ponselnya dan lupa pada semua hal.

"Iya Ayla bentar dulu, ini udah mau siap kok." jawab Arion tanpa menatap ke arah Ayla.

"Yes! Dapet point besarrr!" seru Arion kegirangan, dia menunjukan layar ponselnya pada permainan subway surf ke Ayla.

"Iya bagus. Karena dapet point besar harus minum susunya dulu, ok?" Ayla menyerahkan kembali segelas susu untuk Arion habiskan. Arion menerimanya dan meneguknya kembali sampai habis, Arion menyerahkan gelas kosong ke tangan Ayla dan mulai merebahkan diri di atas ranjang. Belum sempat selimut di tarik menutupi tubuhnya Ayla sudah menahannya terlebih dahulu.

"Udah jam berapa ini?" tanya Ayla melirik ke arah jam di dinding kamar, Arion ikut melihat ke arah jam di dinding.

"Jam setengah empat," jawab Arion dengan wajah polosnya.

"Bagus. Jadi?"

"Jadi-" ucap Arion menggantung. "Rion harus tidur siang." lanjutnya cepat.

Ayla menarik lagi selimut yang kini telah menutupi seluruh tubuh Arion dengan sekali tarikan, Arion berdecak kesal saat sesi tidurnya harus terganggu karena Ayla. Arion menatap Ayla sambil menggaruk rambutnya kesal.

"Ada apa sih? Rion mau bobok Ayla. Jangan di ganggu!"

Tangan Ayla terlipat di depan dada menatap lurus ke arah Arion yang tampak kesal.

"Udah jam setengah empat nggak boleh tidur, lebih baik Rion mandi sore aja."

Arion menggeleng pelan, "Nggak mau,"

"Kenapa nggak mau?"

"Dingin," ujar Arion memeluk tubuhnya sendiri.

"Mana ada dingin. Udah buruan mandi  atau mau nggak dapet makan malam? Jadi mau pilih yang mana?"

Sudut bibir Ayla terangkat saat Arion mendengus kasar karena penawaran yang dia berikan, sudah di pastikan Arion akan memilih untuk menurutinnya dari pada tidak mendapatkan makan malam.

"Iya iya Rion mandi,"

Pinter banget ngancemnya, pikir Arion. Sepertinya dia juga harus membuat ancaman agar Ayla juga mau menurutinnya juga.

"Cepetan mandinya jangan lama-lama!" pesan Ayla saat Arion telah masuk ke dalam kamar mandi.

"Iya!" teriak Arion dari dalam kamar mandi agar dapat di dengar oleh Ayla.

"Baju udah di siapin, cepetan jangan lama-lama Rion!" pesan Ayla lagi.

"Iya Ayla, jangan teriak terus nanti Rion nggak siap-siap mandinya!"

Ayla tertawa mendengar suara Arion yang terendam oleh suara air di dalam sana, dia memilih untuk tidak menjawab lagi dan segera keliar dari sana.

***

Malam ini mereka bertiga tengah berkumpul di meja makan, Ayla dan Kezia mulai menyusun makanan yang sudah mereka buat. Sedangkan Arion duduk dengan tenang sambil memperhatikan setiap makanan yang di sajikan di hadapannya, semua tampak menggiurkan dan membangkitkan selera makannya.

Tangan kanan Arion terulur untuk mengambil nugget yang ada di hadapannya, belum sempat masuk dalam mulutnya tangan Arion sudah terlebih dahulu di pukul dengan sendok nasi oleh Kezia yang kini menatapnya tajam.

"Ayla liat nih bayi gede nyolong nugget,"

"Eh! Nggak boleh ada yang ngambil. Awas aja, nanti nggak boleh makan malam."

Arion mendengus kasar kemudian menatap Kezia tajam, "dasar tukang ngadu." ujar Arion pada Kezia tanpa mengeluarkan suaranya, hanya dengan gerakan mulut.

Kezia menjulurkan lidahnya, mengejek Arion. "Bodo amat, gue nggak peduli." balas Kezia dengan gerakan mulut juga.

"Udah sekarang kita makan malam." ucap Ayla yang datang dengan membawa tiga piring berisi nasi goreng. Semua sudah di letakan di hadapan masing-masing Ayla mulai mengambil nugget dan beberapa potong sosi dan suiran ayam di hadapannya untuk di gabungkan dengan nasi goreng miliknya.

Ayla sudah memulai makan malamnya sendiri sedangakn dua orang yang bersamanya menatap kearahnya, Ayla mendongakan kepalanya sambil menaikan sebelah alis matannya seolah bertanya 'Apa?'

"Lo laper ya Ay? Main makan langsung aja lagi,"

"Iya, masa Rion nggak di ambilin sih?"

"Ribet banget kalian semua, makan tinggal makan doang. Lagian semua udah di depan mata tinggal gabungin aja sih di nasi gorengnya, riber ihh!"

"Tapi Ay-"

"Apa? Mau di ambilin?" Arion mengangguk pelan, Ayla menghentikan sebentar sesi makannya untuk melayani bayi besanya," Nih, makan."

"Suapin,"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel