Bab 5 Kisah Orang Bulan Biru
Rumah Kepala Desa berada di belakang desa, pekarangan kecil yang berdiri sendiri. Pekarangannya dikelilingi pagar kayu yang ditumbuhi bunga mawar. Satu per satu mawar bermekaran membentuk sekelompok bunga. Di belakang halaman ada ladang sayur, ditanami mentimun dan tomat. Tanaman merambat mentimun dipenuhi dengan mentimun. Tomat juga tergantung di dahan, merah dan hijau. Tempat ini bersih dan sederhana. Tidak ada hiruk pikuk kota, juga tidak ada keinginan ini atau itu, terkesan tenang dan alami.
"Tempatmu benar benar bagus. Aku sangat menyukainya," ucap Erick.
Liana berkata,"Kamu boleh tinggal di sini selama beberapa hari."
Erick tersenyum dan berkata,"Apakah hanya untuk beberapa hari?"
Liana memelototi Erick sembari berkata, "Tentu saja hanya untuk beberapa hari. Apakah kamu mau tinggal di sini terus?"
Erick tertawa sambil berkata, "Kenapa kamu selalu memelototiku? Melototi orang bukanlah kebiasaan yang seharusnya dimiliki seorang wanita. Selain itu, kamu tidak bisa tinggal di halaman sebesar itu sendirian. Bukankah itu pemborosan?"
"Kamu benar benar tak tahu malu. Aku akan membiarkanmu tinggal di sini selama beberapa hari. Dalam beberapa hari ini, kamu harus membangun rumahmu sendiri," kata Liana.
Erick merentangkan tangannya sambil berkata, "Kamu memintaku untuk membangun rumah dalam beberapa hari. Aku sama sekali tidak bisa melakukannya. Apakah kamu tega mengusirku dan tidur di tanah?"
"Itu bukan urusanku. Jangan harap aku akan membawamu masuk. Kamu ini pria dewasa. Kamu harus membangun rumahmu sendiri," jawab Liana.
Erick tersenyum dan berkata, "Kenapa bukan urusanmu? Bukankah kamu yang membawaku ke sini?"
"Apa kamu akan bersandar padaku?" tanya Liana.
Erick tersenyum dan berkata, "Baiklah, jangan gugup. Aku akan membangun rumahku sendiri dan pindah."
Setelah jeda, dia menambahkan, "Di kamar mana aku tinggal?"
"Ikut aku." Liana berjalan ke sebuah ruangan bersama Erick.
Kamarnya sederhana, hanya ada tempat tidur, meja dan bangku, juga selimut di tempat tidur. Selimut itu terlihat usang,tapi dicuci bersih.
"Apa ini kamarmu?" tanya Erick.
Liana berkata, "Ini adalah kamar ibuku. Desa ini dibangun olehnya dan ayahku. Aku lahir dan dibesarkan di sini."
"Lalu orang tuamu ...." Erick menyesal begitu dia mengatakannya. Dia merasa tidak seharusnya bertanya.
Benar saja, sentuhan kesedihan muncul di mata Liana lalu berkata, "Mereka semua sudah mati, mati di tangan orang Bulan Biru."
"Maafkan aku," kata Erick.
"Tidak apa apa. Tidak usah minta maaf padaku. "Liana menggelengkan kepalanya, seolah menggunakan gerakan ini untuk membuang kesedihan di hatinya. Kemudian dia tersenyum dan berkata, "Aku tahu kamu punya banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan padaku. Tanyakanlah. Aku pasti akan memenuhi janjiku padamu."
"Terima kasih, aku benar benar melupakan semuanya. Aku punya terlalu banyak pertanyaan yang ingin kupahami, tetapi kalau aku menanyakannya satu per satu padamu, kamu akan kesal. Bagaimana kalau kita berbincang? Mari kita mulai dari orang Bulan Biru, ceritakan tentang orang Bulan Biru padaku."
"Kamu benar benar makhluk aneh. Kamu bisa memperbaiki peralatan orang Bulan Biru tapi kamu tidak tahu apa itu orang Bulan Biru," kata Liana. Kemudian dia duduk di kepala tempat tidur lalu berkata, "Kamu harusnya sudah melihat benda biru di langit,'kan?"
"Tentu saja aku melihatnya. Planet itu sangat jelas," jawab Erick sembari duduk di bangku.
"Benda itu bukan planet, namanya Bulan Biru. Tempat itu adalah markas orang Bulan Biru, mereka tinggal di sana. Mereka menganggap kami sebagai mangsa dan sesekali turun untuk berburu. Di mata mereka, kami sama seperti ikan di sungai, hanya makanan mereka."
Hati Erick tergerak, dia bertanya, "Apakah orang Bulan Biru bermata besar, tapi berhidung dan mulut sangat kecil?"
"Ya, kamu sudah pernah melihatnya?" kata Liana, dia memelototi Erick lagi. "Kalau kamu sudah melihatnya,kenapa kamu masih bertanya padaku? Bukankah kamu sangat membosankan?" sambungnya lagi.
"Apa kamu pikir aku seperti itu?" jawab Erick.
"Ya," jawab Liana dengan sangat yakin.
Erick tersenyum masam lalu berkata, "Tentu saja aku pernah melihatnya, tapi bukankah aku sudah melupakan semuanya? Apa yang baru saja kamu katakan memicu ingatanku, jadi aku ingat sesuatu, tapi ingatanku masih kabur. Bicaralah lagi, itu sangat penting bagiku."
Liana berkata, "Apa lagi yang ingin kamu ketahui?"
Erick berkata, "Kamu mengatakan benda itu adalah markas orang Bulan Biru. Kenapa bisa ada di langit? Apakah sudah ada sejak awal atau baru datang kemudian?"
"Tentu saja, mereka datang kemudian. Bintang Harapan sama sekali bukan milik mereka. Sekitar 1.000 tahun yang lalu, mereka menyerbu ke sini. Mereka menghancurkan satu per satu kota dan memperlakukan semua orang sebagai makanan. Peradaban kita hancur. Setelah penindasan dan perbudakan selama ribuan tahun, kami hampir kembali ke masyarakat primitif ...."
Erick terkejut. Dalam hati dia berkata, 'Ternyata Kota Langit tidak membawaku ke planet Yistab dan Frankin, tetapi ke planet yang dihuni manusia. Tapi.... Orang orang di sini bisa berbahasa Chindera. Mungkinkah mereka berimigrasi dari Bumi? Kalau asumsi ini benar, bukankah berarti aku berada di masa depan!'
Liana tidak tahu apa yang ada di pikiran Erick. Dia melanjutkan, "1.000 tahun yang lalu, peradaban yang kami dirikan di planet ini sangat maju. Kami juga memiliki pesawat luar angkasa dan prajurit robot kami sendiri. Orang yang tinggal di planet ini sama sekali tidak perlu melakukan pekerjaan fisik apa pun untuk mendapatkan alokasi sumber daya yang melimpah. Kami juga memiliki lembaga penelitian ilmiah dengan jutaan orang yang terlibat dalam penelitian ilmiah di berbagai bidang. Saat itu, peradaban manusia kita sedang berkembang.Pemimpin kita bersiap membawa kita ke galaksi yang lebih jauh. Dia membuat rencana 1.000 tahun untuk kita, tetapi sebelum rencana ini dilaksanakan, orang orang Bulan Biru datang ...."
Erick menyela cerita Liana, "Dari mana nenek moyang kita berasal 1.000 tahun yang lalu?"
"Aku juga tidak terlalu jelas. Dalam 1.000 tahun, peradaban kita telah hancur total, hanya ada sedikit hal yang tersisa," jawab Liana.
"Apa tidak ada buku sejarah atau CD?" tanya Erick.
Liana tersenyum masam sambil berkata, "Kami dipaksa untuk belajar bagaimana menghindari kejaran orang Bulan Biru sejak kami lahir. Kapan kami punya kesempatan untuk membaca buku, apalagi pergi ke sekolah? Kamu hidup di sebuah dunia di mana kamu diperlakukan sebagai makanan, kamu bisa dimakan kapan saja. Apakah kamu akan belajar cara bertarung atau membaca buku? Itulah kenapa teknisi sangat berharga. Di Desa Kedamaian ini, aku hanya memahami beberapa kata yang diajarkan oleh ibuku. Orang lain bahkan tidak bisa menulis nama mereka sendiri."
Hati Erick penuh dengan emosi, lalu berkata, "Kalaupun begitu, pasti ada legenda,'kan? Ceritakan legendanya."
Liana berkata, "Aku pernah mendengar ayahku membicarakannya. Dia memberitahuku bahwa nenek moyang kita berimigrasi dari planet yang sangat jauh. Planet itu sepertinya disebut Bumi."
Bumi!
Kata ini berkibar ke telinga Erick, tetapi seperti palu yang menghantam kepalanya dengan keras, membuatnya pusing, telinganya menderu dan pemikirannya berhenti.
Peradaban di planet ini ternyata didirikan oleh manusia di bumi!
Sebenarnya tidak perlu buku sejarah. Fakta bahwa orang orang di sini dapat berbicara bahasa Chindera adalah bukti yang kuat!
"Apakah aku ada di ... masa depan?" Tanpa sadar sebuah kalimat keluar dari mulut Erick.
"Apa katamu?" tanya Liana sambil menatap Erick penasaran.
"Aku .... Bukan apa apa." Erick segera mengubah topik. "Apakah ada cerita legendaris tentang pemimpin yang kamu bicarakan?"
Liana menyeringai sambil berkata, "Apakah maksudmu James Suci? Bahkan anak berusia tiga tahun pun mengetahui cerita legendaris tentangnya. Apakah kamu tidak tahu?"
Seketika tubuh Erick bergetar, dia hampir jatuh ke tanah dari bangku.
James Suci.
Bukankah ini nama yang diberikan Falentina dan tiga kesatria wanita padanya? Bagaimana dia bisa menjadi pemimpin planet ini? Otak Erick benar benar kacau.
"Hei, apa kamu baik baik saja?" tanya Liana, dia memandang Erick dengan terkejut.
"Sarafku bermasalah. Tadi aku benar benar ingin berteriak," jawab Erick. Dia benar benar berpikir seperti itu.
Apa yang dilihat dan didengarnya setelah datang ke sini hampir membuatnya gila.
Liana berkata, "Aku sudah melihatnya, benar benar ada yang salah dengan otakmu." Setelah jeda, dia menambahkan, "Kamu adalah orang bodoh yang cerdas."
Erick terdiam.
"James Suci membuka peradaban planet ini. Saat dia ada, orang orang di planet ini sangat bahagia. Tidak ada perang dan tidak ada kejahatan. Setiap orang menemukan tempat mereka sendiri di masyarakat, mewujudkan cita cita mereka, mendapatkan balasan yang memuaskan. Orang orang di planet ini memujanya seolah olah dia adalah dewa. Meskipun aku tidak percaya bahwa ada dewa di dunia, dari legenda dan cerita yang pernah aku dengar tentangnya, aku sangat menghormatinya. Kalau aku hidup pada masanya, aku yakin aku juga akan memujanya seperti dewa. James Suci, dia adalah legenda umat manusia."
Erick tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "James Suci yang kamu bicarakan, apa yang terjadi padanya?"
"Dia meninggal dalam pertempuran," jawab Liana. "Ketika orang Bulan Biru menyerbu, dia memimpin pasukan kita untuk melawannya, tetapi pada akhirnya dia tetap gagal. Dikatakan dia meninggal di tangan Raja Bulan Biru, tulangnya tidak dapat ditemukan. Untuk memperingatinya, orang orang membangun tugu untuknya di distrik satu, tetapi kemudian orang Bulan Biru menghancurkan tugu itu, tempat itu telah menjadi reruntuhan," lanjut Liana.
"Di mana Raja Bulan Biru?" tanya Erick.
"Dikatakan dia masih hidup, ada juga yang mengatakan Raja Bulan Biru juga tewas dalam pertempuran, tapi tidak ada cara untuk memastikannya," jawab Liana.
Erick diam diam berkata dalam hatinya, 'Kalau ada kesempatan, aku akan pergi ke Tugu James Suci. Aku harus mengklarifikasi hal ini. Dia tidak mungkin aku dan aku tidak mungkin memasuki era di mana aku tidak ada.... James Suci yang disebut Liana dan nama yang Falentina dan lainnya berikan padaku mungkin hanya kebetulan. Hanya ada penjelasan seperti ini ....'
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Liana.
Barulah Erick tersadar kembali. "Sepertinya aku baru saja mengingat sesuatu, tapi aku melupakannya dalam sekejap," jawab Erick.
"Aku hampir lupa. Aku pernah berkata akan meminta dokter memeriksamu. Aku akan memanggilnya sekarang," kata Liana.
Erick berkata, "Tidak perlu. Penyakitku tidak dapat disembuhkan oleh dokter desa kalian. Jangan khawatirkan aku. Aku pikir aku bisa memulihkan diri. Kondisiku akan terbantu kalau kamu berbicara lebih banyak denganku."
Liana bangkit dan berkata, "Aku tidak punya waktu luang. Istirahatlah. Aku akan memanggilmu nanti."
"Untuk apa?" tanya Erick.
Liana berkata, "Aku akan membawamu ke tempat pembuangan sampah."
"Kamu mengajakku memungut sampah?" tanya Erick.
"Omong kosong!" jawab Liana.
Erick terdiam.
Perlukah memberitahunya bahwa kita adalah orang terkaya di dunia?
