Bab 4 Mekanik Berkulit Putih
Terdengar suara suara terkejut, mata terkejut dan sekelompok orang yang terkejut. Semua ini karena kata kata Erick yang mengajukan diri memperbaiki sepasang sepatu. Erick juga terkejut. Bukankah hanya memperbaiki sepasang sepatu? Mengapa orang orang ini begitu terkejut?
"Itu...." Erick berkata dengan hati hati,"Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?"
"Apakah kamu bercanda?" Macan Hitam berkata dengan lantang, "Itu barang Bulan Biru. Bagaimana mungkin kamu bisa memperbaikinya?"
Erick mengangkat bahunya dan berkata, "Kenapa tidak bisa? Bukankah itu hanya sepasang sepatu? Apalagi tidak terlihat rumit, kurasa aku bisa mengatasinya."
"Dia berbohong!" teriak seseorang.
"Biarkan dia memperbaikinya di sini. Kalau dia tidak bisa memperbaikinya, biarkan dia pergi!" kata seseorang yang lain.
"Seorang pria masih bisa dimaafkan bila makan dengan mengandalkan wanita. Tapi seorang pria yang makan dengan mengandalkan wanita dan pada saat yang sama suka membual, maka tidak bisa dimaafkan."
Macan Hitam akhirnya berbicara, dia terlihat tenang. "Biarkan dia memperbaikinya. Kalau dia tidak bisa memperbaikinya dengan baik, kita tidak akan menerima orang seperti dia di sini."
Erick berkata dengan santai, "Bisakah mencarikanku perkakas? Aku membutuhkannya."
"Beruang, pergi ambilkan perkakas," kata Macan Hitam kepada seorang prajurit.
Beruang adalah orang pertama yang menanyai Erick. Orang ini berbadan kekar, dia memiliki janggut hitam tebal di wajahnya. Benar benar terlihat seperti beruang. Tidak tahu apakah dia diberi nama Beruang karena postur tubuhnya atau memang diberi nama seperti itu sejak lahir.
Prajurit yang dipanggil Beruang kemudian pergi mengambil perkakas untuk Erick.
Karena tatapan mata Macan Hitam, para prajurit di desa memandang Erick dengan maksud jahat. Erick juga menyadari meskipun Liana adalah Kepala Desa, reputasinya tidak tinggi di antara kelompok prajurit ini, bahkan tidak sebanding dengan Macan Hitam.
Liana berjalan ke sisi Erick dan berbisik, "Apa kamu sudah gila? Kamu mengatakan kamu dapat memperbaiki sepatu bot tempur orang Bulan Biru, kamu pikir kamu siapa?"
"Siapa orang Bulan Biru?" Erick merasa ini adalah kesempatannya untuk bertanya.
"Kamu bahkan tidak tahu tentang Bulan Biru?" Mata Liana menampakkan keterkejutan.
Erick tersenyum masam lalu berkata, "Bukankah aku sudah memberitahumu? Aku tidak ingat apa apa."
"Lalu kamu masih mengatakan kamu bisa memperbaiki sepatu bot tempur orang Bulan Biru?" kata Liana sambil memelototi Erick. "Bukankah kamu bodoh?" sambung Liana.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa bisa memperbaikinya. Aku merasa akrab dengan hal hal mekanis," kata Erick.
Dia adalah mekanik dan insinyur listrik paling hebat di bumi. Tak peduli seberapa kuat teknologi Bulan Biru, itu hanya sepasang sepatu bot tempur. Tidak mungkin lebih rumit dari Pesawat Pengebom Foniks yang dia buat, bukan? Jadi meskipun dia belum bersentuhan dengan sepatu bot tempur Bulan Biru, dia memiliki kepercayaan diri untuk memperbaikinya.
"Aku akan memberitahumu kalau kamu berhasil memperbaiki sepatu bot tempur orang Bulan Biru, tapi kalau kamu tidak bisa memperbaikinya ..." jawab Liana. Kemudian dia menghela napas dan berkata, "Kamu harus keluar dari sini."
Bagi Erick, ada baiknya dia bisa tinggal, tetapi kalau tidak bisa juga tidak masalah baginya. Dia tidak mungkin tinggal di tempat ini selama sisa hidupnya. Cepat atau lambat dia harus pergi, itu hanya masalah waktu.
Beruang membawa sebuah kotak perkakas. Kotak itu berisi sejumlah alat mekanik. Alat alat itu agak berbeda dengan alat mekanik yang Erick kenal, tetapi dia masih bisa mengetahui klasifikasi dan penggunaan alat alat itu secara sekilas.
Setelah memberikan perkakas kepada Erick, Beruang berkata dengan kasar, "Aku sudah membawa alat yang kamu inginkan. Perbaiki! Aku ingin lihat bagaimana kamu bisa memperbaikinya."
Erick tersenyum dan tidak memilih tempat. Dia mengambil alat yang menyerupai pisau untuk membuka sebelah sol sepatu bot tempur.
Setelah sol dibongkar, yang terlihat oleh Erick adalah perangkat bantuan daya yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Ada sirkuit yang rumit, serta struktur mekanis. Sepintas, Erick merasa itu lebih rumit dari pada mesin mobil di Bumi.
Setelah mengamati, pandangan Erick berpindah ke tengah perangkat bantuan daya, dia menemukan bagian besar seperti kristal berbentuk silinder seukuran ibu jari. Hatinya bergerak, 'Sepertinya jenis batang energi yang digunakan Yistab. Apakah benda ini yang menyediakan energi untuk alat penggerak ini? Peran yang dimainkannya seperti baterai di mobil yang dikendalikan dari jarak jauh?'
"Cepat perbaiki," desak Macan Hitam. "Apa yang kamu lakukan? Jangan mencoba mengulur waktu, apalagi mencari alasan. Kamu hanya punya kesempatan ini," sambungnya lagi.
Liana berkata, "Macan Hitam, kenapa kamu terburu buru sekali? Hanya ada beberapa orang di Area 51 yang bisa memperbaiki barang barang orang Bulan Biru. Mereka juga membutuhkan waktu, jadi kita harus memberinya waktu."
"Baiklah kalau begitu," kata Macan Hitam sambil mengangkat bahu.
Liana berkata kepada Erick, "Kamu tidak perlu terburu buru. Pikirkan pelan pelan. Aku akan memberimu waktu satu hari."
Kata kata Liana membuat Macan Hitam mengerutkan kening, beberapa prajurit juga menunjukkan ketidakpuasan. Namun bagaimanapun, Kepala Desa adalah pemimpin desa ini. Meskipun tidak puas, mereka tidak menunjukkannya, Macan Hitam juga tidak mendesak Erick lagi.
Pada saat ini, Erick berkata, "Tidak perlu satu hari. Beri aku waktu beberapa menit."
"Hahaha...." Macan Hitam tertawa lalu berkata, "Kepala Desa, kamu berbaik hati memberinya waktu, tetapi dia tidak menghargainya."
Liana agak malu, dia memelototi Erick sambil berkata, "Aku tidak peduli lagi padamu. Kamu bilang kamu bisa memperbaikinya dalam beberapa menit, jadi aku hanya akan memberimu beberapa menit!"
"Ini hanya masalah kecil," kata Erick. Dia menggunakan alat yang menyerupai pisau untuk melepaskan papan sirkuit dari perangkat bantuan daya, kemudian membongkar komponen sirkuitnya dengan cepat.
"Hei! Nak, kalau kamu merusak sepatu bot tempurku, aku tidak akan mengampunimu!" kata Macan Hitam dengan wajah suram.
Erick tidak memperhatikannya. Dia membongkar sol dan papan sirkuit dari bot tempur lainnya dengan cepat, lalu melepaskan komponen sirkuit yang sama dari papan sirkuit sepatu bot tempur lainnya, kemudian memasangnya di papan sirkuit yang pertama kali dia lepaskan. Akhirnya, dia memasang papan sirkuit pada perangkat bantuan daya.
Saat papan sirkuit berada di tempatnya, kristal berbentuk silinder itu tiba tiba memancarkan cahaya biru yang samar. Rasanya seperti bola lampu biru. Cahaya itu tidak terlalu kuat, tapi sangat jelas.
Para penduduk desa dan prajurit yang menyaksikan langsung tercengang.
Erick melemparkan perkakas ke dalam kotak dengan santai lalu berkata, "Apakah ini bisa dianggap selesai?"
"Cepat pasang, biar aku mencobanya!" desak Liana.
"Tidak masalah," jawab Erick, dia memasang sol sepatu, kemudian meletakkan sepatu bot tempur di bawah kaki Liana.
Liana tidak sabar untuk melepas salah satu sepatunya dan memasukkan kakinya ke dalam sepatu bot. Dia melihat ke kiri dan kanan sepatu bot tempur, terlihat sangat bersemangat.
Sekelompok prajurit juga menatap penuh semangat pada sepatu bot tempur di kaki Liana, tidak merahasiakan harapan mereka terhadap sepatu bot tempur itu.
Erick diam diam berkata dalam hatinya, 'Sepertinya mereka semua sangat ingin mendapatkan sepatu bot tempur semacam ini. Tidak tahu apa kegunaan khusus sepatu bot tempur milik Bulan Biru, tapi kurasa seharusnya tidak hanya membuat orang berjalan dengan mudah ....
Saat Erick masih berimajinasi, tiba tiba Liana menginjak tanah dengan keras dengan kaki kanannya yang mengenakan sepatu bot tempur. Suara "Krek" terdengar datang dari kakinya, kemudian tubuhnya terbang lurus ke atas, terbang di atas atap dalam sekejap mata.
"Wow! Berhasil!" teriak seseorang dengan bersemangat.
Erick mendongak menatap Liana, dia juga merasa terkejut. Gravitasi dunia ini lebih besar dari pada bumi, sepasang sepatu bot tempur seperti itu akan memudahkan mereka bergerak.
Namun, di tengah imajinasinya, Liana yang terbang di atas atap tiba tiba jatuh ke bawah. Titik pendaratan tepat di atas kepalanya.
Erick bisa saja menghindar, tetapi saat Liana akan menimpanya, dia berubah pikiran. Kalau dia menghindar, bukankah Liana akan jatuh ke tanah? Kalau dia ingin tinggal di desa ini untuk jangka waktu tertentu, dia harus berlindung pada Liana. Bukan hal yang baik baginya kalau Liana dipermalukan. Karena pemikiran itulah, dia membuat keputusan. Kali ini, dia harus menjadi bantalan manusia untuk Liana si Kepala Desa.
"Ah ...." teriak Liana, kemudian jatuh menimpa Erick.
"Aduh!" Erick berpura pura berteriak dan jatuh ke tanah dengan Liana di pelukannya.
Liana menopang tubuh bagian atasnya. Sebelum dia bangun dari tubuh Erick, dia berkata dengan cemas, "Apakah kamu baik baik saja?"
"Aku hampir mati ditimpa olehmu," jawab Erick berpura pura kesakitan.
Setelah itu Liana baru tersadar dan buru buru bangkit dari tubuh Erick.
Namun, Erick masih terbaring di tanah berpura pura mati, mulutnya bersenandung dan terlihat sangat menyakitkan. Makin terlihat menyakitkan dia sekarang, makin Liana akan merasa bersalah padanya. Begitu Liana merasa bersalah, dia akan memenuhi permintaannya dengan mudah. Erick berbaring di tanah dan mengerang. Di dalam hatinya, sebenarnya dia sudah mulai mencari tahu pertanyaan mana yang harus dia tanyakan nanti.
"Orang ini terlihat sangat kuat. Baru ditimpa sebentar, apakah sesakit itu?" kata Beruang dengan jijik.
"Ototnya pasti hasil dari obat obatan,'kan? Untuk memenuhi beberapa sponsor dengan kebutuhan khusus," kata seseorang.
"Jangan berkata seperti itu. Dia adalah mekanik yang bisa memperbaiki peralatan orang Bulan Biru. Orang seperti itu bisa hidup dengan baik ke manapun dia pergi," kata seorang warga desa.
"Sepertinya desa kita beruntung, menemukan harta karun secara percuma," kata salah satu penduduk desa.
Beberapa orang mengatakan hal hal buruk, yang lain mengatakan hal baik, suasananya berisik.
Liana mengulurkan tangan dan menarik Erick, lalu berkata, "Pulanglah bersamaku. Aku akan menyekanya dengan alkohol."
"Mm." Erick menyetujui dan berhenti berteriak.
Saat Erick hendak mengikuti Liana, Macan Hitam berkata, "Itu, Erick, bisakah kamu memperbaiki yang satunya?"
Erick berkata, "Tentu saja, tetapi membutuhkan suku cadang. Kalau kamu dapat menemukan suku cadangnnya, aku dapat membantumu memperbaikinya."
"Baik, aku akan segera mencarinya! Haha, terima kasih!" jawab Macan Hitam, dia berbalik dan pergi. Namun setelah melangkah, dia berbalik lagi dan berkata, "Kepala Desa, aku akan meminjamkanmu sepatu bot tempur itu selama sehari. Kamu harus mengembalikannya padaku besok."
Liana segera melepas sepatu bot tempur dan memakai sepatunya sendiri, lalu berkata, "Aku punya Erick, aku tidak mau sepatu bot tempurmu."
"Kamu....." Macan Hitam tersedak.
Erick mengekori Liana, lalu berkata dalam hatinya, 'Tadi kamu ingin mengusirku, tapi sekarang kamu ingin aku membantumu memperbaiki sepatumu. Tunggu saja.'
