Bab 6 Wanita Berdada Kecil
Ke mana perginya Kota Langit?
Ke mana perginya Frankin?
Ke mana perginya Yistab?
Erick yang sedang berbaring di kasur yang keras merenungkan pertanyaan pertanyaan ini di dalam hatinya.
Namun, hal yang membuat Erick merasa terganggu adalah cerita legendaris yang Liana ceritakan padanya. Bumi, bahasa Chindera dan juga James Suci. Erick yakin kalau itu 100% bukan dirinya, karena dia belum pernah ke sini, apalagi memimpin manusia pindah ke sini dan membangun peradaban baru di sini.
Kota Langit membawa Erick ke dunia masa depan?
Apabila asumsi Erick benar, di alam semesta pasti ada waktu dan ruang untuk kembali ke masa lalu. Lalu, apakah Kota Langit bisa membawanya kembali melalui ruang dan waktu? Erick ingin kembali ke masa lalu dan mengubah hidupnya ....
Terdengar langkah kaki datang dari luar pintu.
Erick menyingkirkan pikirannya yang berantakan dan memalingkan wajahnya. Erick sudah terbiasa untuk menggunakan kemampuan kedua matanya, tapi dia masih gagal membangkitkan Kekuatan Jejak di tubuhnya. Kekuatan Jejak hanya "sadarkan diri" selama satu detik dan kembali "tidur nyenyak". Meskipun Erick gagal melihat keadaan di luar pintu, dia bisa merasakan kalau penglihatannya masih bisa berfungsi dengan sangat baik. Erick masih bisa melihat dengan jelas bahwa ada serat kayu di panel pintu.
'Sepertinya aku harus bekerja keras untuk melatih tubuhku dan juga Tinju Wing Chun. Setelah kehilangan semua kemampuanku, aku harus membuat tubuhku menjadi lebih kuat. Aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri untuk bertahan di dunia yang memakan orang ini,' pikir Erick dalam hati.
"Erick, apa kamu ada di dalam ruangan?" tanya Liana dari balik pintu.
"Ya," kata Erick sambil turun dari tempat tidur. Dia pun bergegas membukakan pintu untuk Liana.
Liana yang berdiri di pintu sudah membersihkan cat minyak di wajahnya. Kulitnya begitu putih dan wajahnya terlihat lebih cantik. Liana membawa kotak perlatan dengan ekspresi datar.
Erick pun tersenyum dan berkata, "Halo, Kepala Desa." Kemudian Erick mengulurkan tangan dan bersiap untuk menjabat tangan Liana.
Liana hanya menatap Erick tanpa mengulurkan tangannya dan berkata, "Ikuti aku."
Erick berkata sambil tersenyum kecut, "Apa kita akan pergi memungut sampah dari tempat sampah?"
Liana berkata, "Jangan mengira bahwa pergi ke tempat pembuangan sampah untuk memungut sampah adalah tugas yang mudah. Sebenarnya ini sangat berbahaya. Kita harus mempersiapkan sesuatu."
Erick berkata dengan penasaran, "Bukankah hanya pergi ke tempat pembuangan sampah untuk memungut sampah? Kenapa berbahaya?"
"Nanti juga kamu tahu. Ikutlah denganku," kata Liana sambil berbalik.
Erick terus mengikuti Liana dan berpikir bahwa dia akan berjalan cukup jauh. Namun, Erick hanya berjalan belasan langkah dan kemudian melihat sebuah ruangan.
Erick mengikuti Liana ke dalam ruangan itu, lalu dia melihat banyak suku cadang bekas dan beberapa bagian yang belum pernah Erick lihat sebelumnya. Erick bahkan tidak tahu apa fungsinya. Ruangan itu dipenuhi dengan bau oli mesin dan juga ada bau aneh, Erick tidak tahu bau aneh apa ini. Ruangan ini tampak seperti bengkel pengolahan mesin yang dia buka di Kota Haviar, tetapi tidak ada peralatan mesin.
Erick melirik Liana yang memegang kotak peralatan dan berkata, "Kamu ingin aku memperbaiki pecahan logam ini,'kan?"
Liana meletakkan kotak perlatan di bawah kaki Erick dan berkata,"Kalau kamu tinggal di sini, kamu pasti akan memakan makananku. Kalau aku memberimu makan dan tempat tinggal, bukankah kamu juga harus mengerjakan sesuatu untukku? Kamu lihatlah benda apa yang masih berguna dan bisa diperbaiki, lalu perbaiki."
"Aku bisa melakukan hal ini, tapi aku punya satu syarat," kata Erick.
Liana memelototi Erick dan berkata, "Kamu masih mengajukan syarat padaku?"
"Kamu memelototiku lagi. Lupakan saja, aku tidak akan memperhitungkannya," kata Erick sambil tersenyum.
Lalu, dia melanjutkan perkataannya, "Syaratku sangat sederhana. Kamu harus menjadi asistenku ketika aku bekerja dan juga kamu harus mencuci pakaianku kalau pakaianku kotor."
"Apa katamu? Katakan lagi!" kata Liana dengan tersipu malu.
Erick tersenyum dan berkata, "Jadi asistenku dan tolong cuci pakaianku. Apa perkataanku cukup jelas?"
Liana tiba tiba mengangkat tangannya dan hendak menampar wajah Erick.
Erick meraih pergelangan tangan Liana sambil bersandar dan berkata, "Kamu ini memang sangat liar seperti harimau betina. Memangnya kamu bisa memukul orang seenaknya?"
"Kamu tidak tahu malu! Kamu jahat! Aku ingin memukulmu! Lepaskan aku!" kata Liana sambil meronta.
Namun, dia gagal melepaskan diri dari tangan Erick.
Erick berkata, "Aku memintamu menjadi asistenku karena aku ingin kamu belajar beberapa hal dariku."
Liana tertegun sejenak.
Erick melepaskan tangan Liana dan berkata, "Aku tidak akan tinggal di sini terlalu lama. Aku akan meninggalkan desa ini begitu aku menemukan jawaban yang aku inginkan." Setelah berhenti sesaat, Erick pun berkata sambil tersenyum, "Mengenai mencuci pakaian, aku hanya bercanda saja. Aku hanya memiliki satu set pakaian yang kamu pinjamkan ini. Kalau aku menyuruhmu mencucinya, bukan hanya pantatku saja yang kelihatan,'kan?"
Liana tertawa terbahak bahak.
Erick pun berkata sambil tersenyum, "Bukankah itu memang benar? Tersenyumlah. Tidak baik kalau ekspresi wajahmu tetap serius seperti itu. Walaupun lingkungan tempat tinggal kita sangat buruk, kita harus tetap optimis. Ketika kita optimis kita bisa memiliki harapan. Percayalah, semua ini pasti akan berlalu."
Erick juga merasa pahit ketika mengatakan kata kata yang memotivasi orang lain. Dia terpaksa meninggalkan anak dan istrinya serta bumi tempat dia dilahirkan dan dibesarkan dan pergi ke dunia aneh dan berbahaya ini.
Bagaimana mungkin Erick bisa bahagia? Perkataan itu sebenarnya hanya untuk memotivasi dirinya sendiri dan memaksa dirinya untuk tidak merindukan istrinya serta anaknya dan juga saudara serta teman temannya di bumi.
"Kata katamu bagus juga," kata Liana. Cara Liana menatap Erick pun agak berubah, lalu dia berkata, "Kamu pasti orang yang berpendidikan,'kan?"
"Aku juga tidak tahu. Aku lupa semuanya, karena itulah aku akan mencari jawabannya," kata Erick sambil melihat ke langit di luar jendela. Saat ini, Erick tidak bisa mengingat di mana kampung halamannya.
"Lalu, kapan kamu akan pergi?" tanya Liana.
"Aku tidak tahu, aku rasa mungkin setelah aku siap. Oke, mari kita berhenti bicara dan bekerja," kata Erick sambil berjalan menuju tumpukan tembaga dan besi yang rusak. Mata Erick terkunci pada sepasang sepatu bot tempur orang Bulan Biru. Sampai saat ini, Erick bahkan tidak memiliki sepatu. Semuanya akan lebih baik apabila Erick bisa memperbaiki sepatu bot tempur orang Bulan Biru.
Erick pun mengambil sepasang bot tempur orang Bulan Biru dan menemukan bahwa masih ada beberapa perangkat bantuan daya di bagian bawah sepatu bot. Perangkat bantuan daya itu masih terlihat lengkap, tapi ada beberapa bagian yang rusak. Sepasang sepatu bot tempur ini masih bisa digunakan. Erick sangat senang dengan barang yang dia temukan dan mulai mengutak atiknya.
Liana berkata, "Aku penasaran bagaimana kamu bisa memperbaiki sepatu bot tempur Macan Hitam. Aku melihat kamu hanya membongkar sebagian kecil bagian saja. Bagaimana kamu tahu kalau itu rusak tanpa mengujinya dengan peralatan penguji?"
Erick berkata, "Aku mengamatinya dengan mataku. Salah satu komponen elektronik itu rusak. Ciri cirinya sangat jelas, hanya saja kamu tidak menemukannya."
"Apa bisa seperti ini?" tanya Liana.
"Sekarang aku akan memberimu pelajaran pertama. Ketika tidak ada alat untuk menguji dan juga tidak ada mesin untuk memproses komponen, kalau kamu ingin memperbaiki peralatan yang kamu inginkan, satu satunya cara adalah mengamati langsung dengan matamu. Kalau kamu merasa benda itu rusak, kamu bisa langsung menggantinya dengan komponen yang lebih baik," kata Erick.
"Sesederhana itu?" tanya Liana.
"Ya, sesederhana itu," jawab Erick.
"Hihi!" Liana tersenyum bahagia dan berkata, "Perkataanmu masuk akal. Sepertinya aku harus sudah mempelajari suatu teknik. Terima kasih, Pak Erick!"
Erick pun tersenyum. Dia menerima panggilan guru ini.
Tidak ada yang salah datang ke dunia ini untuk menjadi guru dan menabur benih untuk membangun kembali peradaban manusia.
Erick menggunakan perlatan untuk membongkar sepatu bot tempur orang Bulan Biru. Liana pun bertindak sebagai asisten Erick dan menyerahkan apa pun yang Erick butuhkan. Erick memperbaiki sepatu bot tempur orang Bulan Biru sambil menjelaskan ilmu yang dia kuasai pada Liana.
Dalam setengah jam, Erick tidak hanya memperbaiki sepasang sepatu bot tempur orang Bulan Biru untuk dirinya sendiri, tapi menemukan sepatuh bot tempur lainnya dari tumpukan rongsokan itu dan menyuruh Liana untuk memperbaikinya sendiri.
"Haha!" Liana sangat bersemangat saat dia mengenakan sepatu bot tempur yang sudah dia perbaiki sendiri.
"Akhirnya, aku punya sepasang sepatu bot tempur sendiri! Aku bahkan memperbaikinya sendiri!"
Erick pun melihat lihat barang rongsokan itu dan menatap sebuah baju besi perang. Tidak tahu mengapa, Erick teringat dengan baju perang perak Agustino. Di Kota Langit, Erick mengenakan baju besi perak, tapi baju besi perak itu hilang sekarang. Komponen logam perak yang tergeletak di tumpukan barang rongsokan sangat mirip dengan baju perang perak. Ini juga membangkitkan imajinasinya.
"Kepala Desa, logam perak itu berasal dari mana?" tanya Erick dengan lantang setelah melihat beberapa detik.
Liana melirik logam perak itu dan berkata, "Itu adalah baju besi perang orang Bulan Biru."
"Mereka memakai armor perang untuk berburu?" tanya Erick.
"Tentu saja, waktu itu kami bukannya tidak melawan. Ada perlawanan dari Tentara Pemberontak yang dibentuk oleh manusia kami di tempat lain. Di Area 51 kami juga ada sekelompok prajurit. Pimpinannya adalah Tamara, seorang wanita yang sangat pemberani," kata Liana sambil tersenyum, lalu melanjutkan perkataannya, "Dia adalah idolaku. Kalau dia mengajakku untuk bergabung, aku tidak akan ragu untuk bergabung dengan pasukannya."
Tamara, Erick mengingat nama ini, lalu bertanya, "Apa kamu bisa menceritakan bagaimana orang Bulan Biru berburu dan memakan orang sebagai makanan?"
Liana sepertinya mengenang sesuatu dan berkata dengan sedih, "Orang orang dari Bulan Biru menerbangkan mesin terbang dan menangkap semua orang. Mereka langsung meletakkan alat di kepala orang yang mereka tangkap. Begitu mereka menyalakan alat itu, orang orang akan menjadi mayat dalam beberapa menit saja."
Erick pun tergerak dan bertanya, "Apa mereka memiliki tubuh?"
Liana tertegun sejenak dan berkata, "Tentu saja memiliki tubuh. Apa maksudnya tanpa tubuh?"
Erick menghela napas lega. Tidak semua orang Bulan Biru adalah makhluk seperti Yistab dan Frankin. Baik Yistab dan Frankin sudah mengonsumsi mineral misterius, tapi mineral misterius itu tidak tersedia untuk semua orang. Hal ini membuat Erick memiliki harapan. Apabila semua orang Bulan Biru adalah makhluk seperti Yistab dan Frankin, dunia ini tidak memiliki harapan sama sekali.
"Mereka menggunakan armor perang untuk melindungi tubuh mereka. Peluru kita tidak bisa menembus sama sekali. Mereka hanya bisa dibunuh dengan bom meriam atau bom jebakan. Selain itu, ada cara lain, yaitu bertarung dengan tangan kosong sambil menggunakan senjata dingin dan membunuh mereka dari jarak dekat."
"Dalam pertempuran seperti itu, korban pasti sangat banyak, bukan?" tanya Erick.
Liana berkata sambil tersenyum pahit, "Korban sangat banyak, tapi kalau kita tidak bertarung, cepat atau lambat kita pasti akan dimakan, kami tidak punya pilihan sama sekali." Setelah berhenti sejenak, Liana pun menambahkan, "Selama ribuan tahun, ini adalah kehancuran yang sangat dahsyat. Tapi, pertempuran ini juga memberikan kita pengalaman yang berharga. Misalnya kita pergi ke tempat pembuangan sampah untuk memungut sampah. Orang orang Bulan Biru tidak akan meninggalkan sampah di Bulan Biru. Setiap malam, pasti akan ada kapal yang mengangkut sampah ke Bintang Harapan. Kita akan menemukan bahan bahan yang berguna dari sampah dan kemudian mengubahnya menjadi senjata untuk bertarung melawan orang orang Bulan Biru."
Erick pun merasa suram. Dia memungut sampah yang dibuang musuh dan membuatnya menjadi senjata, kemudian menggunakannya untuk melawan musuh. Ini adalah situasi manusia saat ini. Benar benar sangat sengsara.
Buzz! Buzz! Buzz....
Suara yang menakutkan tiba tiba datang dari langit.
Erick tanpa sadar mengangkat kepalanya dan juga mengaktifkan kekuatan penglihatan tembus pandang.
Namun, kali ini, penglihatannya tiba tiba menembus atap dan melihat ke langit.
Sebuah pesawat ruang angkasa besar perlahan lahan turun dari langit.
Erick sangat terkejut dan berkata dengan kebingungan, "Apa yang terjadi? Bukankah aku tidak bisa menggunakan kekuatan penglihatan tembus pandang milikku lagi? Mengapa tiba tiba menjadi normal? Apa ini ada hubungannya dengan Bulan Biru?"
"Pak Erick, pesawat luar angkasa yang mengangkut sampah itu ada di sini. Ayo cepat. Kalau kita terlambat, desa lain akan mengambil barang barang bagus," kata Liana.
Erick mengalihkan pandangannya dari atap dan menatap Liana. Setelah menatapnya satu detik, Erick segera berpaling dan berkata, "Oke, aku akan pergi ke tempat pembuangan sampah bersamamu."
"Ikut aku," kata Liana sambil keluar dari pintu.
Erick tersenyum pahit dan berkata, "Payudaranya sangat kecil."
Liana tidak mendengar hal ini.
