Bab 3 Desa Super Miskin
Jalan setapak di tepi sungai diaspal dengan lumpur dan kerikil. Erick berjalan di atasnya tanpa alas kaki, perasaannya benar benar masam. Dia menutupi area di antara kedua kakinya dengan kedua tangan dan mengikuti di belakang Liana dengan telanjang. Rasanya malu setengah mati.
Setelah berjalan selama sekitar setengah jam, desa di tepi sungai mulai terlihat. Erick melihat jaring ikan yang dipasang di tepi sungai, serta wanita yang membuat jaring itu. Ada pria yang bekerja di ladang samping desa, tetapi alat yang digunakan adalah cangkul paling primitif. Selain itu, tidak terlihat ada tumpukan listrik atau kabel di dekat desa.
Sekilas dilihat, desa ini memberi kesan kuno dan terisolasi. Sampai sekarang, hanya senapan serbu lusuh di tangan Liana yang membuatnya merasa seperti berada di masyarakat modern. Kalau bukan karena senapan di tangan Liana, dia bahkan akan mencurigai Kota Langit telah membawanya ke dunia yang sangat terbelakang, seperti zaman kuno Negara Chindera.
"Itu, Liana." Erick tampak ragu ragu."Bisakah kamu meminjamkan mantelmu?" lanjut Erick.
"Untuk apa kamu menginginkan mantelku?" tanya Liana, dia berhenti berjalan dan menatap ke arah Erick.
Erick berkata dengan canggung, "Aku tidak mungkin mengikutimu ke desa seperti ini,'kan?"
Liana mengerutkan kening lalu berkata, "Maksudmu, kamu ingin menggunakan pakaianku untuk membungkus bokongmu dan ...." Dia tidak menyebutnya, tapi matanya melirik ke area itu, kemudian membuat ekspresi jijik.
"Menutupi tubuh dengan pakaian, apakah ada yang salah dengan itu?" tanya Erick sambil mengangkat bahunya.
"Aku bisa meminjamkannya untukmu, tapi kamu harus mencucinya untukku," jawab Liana.
"Tidak masalah, aku pasti akan mencucinya hingga bersih untukmu," kata Erick lagi.
Liana melepas jaketnya dan menyerahkannya pada Erick. Dia masih memiliki rompi olahraga di tubuhnya.
Karena payudaranya kecil, dia tidak memakai bra. Jadi dua benjolan muncul dengan jelas di balik kain hitam itu,kabur dan menarik.
"Apa yang kamu lihat?" kata Liana dengan galak. "Kalau kamu berani menatapku lagi, jangan salahkan aku bertindak kasar padamu," sambungnya lagi.
Erick tersenyum masam, lalu membuang muka sebelum menutupi bokongnya dan benda jeleknya dengan mantel Liana.
"Jangan lupa cuci yang bersih. Kamu mengenakan pakaian terbaikku," kata Liana.
Erick terdiam.
Mantel compang camping seperti itu adalah pakaian terbaiknya? Erick membayangkan kalau dia memberinya salah satu baju dari lemari pakaian wanita di rumahnya, Liana mungkin akan pingsan karena terlalu gembira, bukan?
Liana terus berjalan, Erick sekali lagi menjadi pengikutnya.
Sebelum memasuki desa, orang orang melihat Liana dan Erick. Para wanita yang menenun jaring dan para pria yang bertani di ladang satu per satu menghentikan pekerjaan mereka untuk melihat Liana dan Erick, terutama untuk melihat Erick, karena dia terlalu mencolok. Kulit Erick putih dan bersih, lebih halus dari pada wanita yang dimanjakan, tetapi juga terlihat sangat kuat, memberikan kesan yang tak terlupakan.
Seorang pemuda berbadan tegap dan berkulit gelap berjalan mendekat. Dia juga memegang senapan di tangannya. Pistol itu terlihat lebih lusuh dari pada yang ada di tangan Liana.
"Liana, siapa dia?" tanya pemuda berkulit gelap itu dengan lantang dari jauh.
"Erick James," jawab Liana.
"Erick James?" Pemuda berkulit gelap menatap Erick dengan tatapan aneh. Ketika dia melihat pinggang Erick terbungkus pakaian Liana, ada sedikit ketidaksenangan di alisnya.
"Macan Hitam, mari kita bicarakan di rumah. Tidak baik baginya berada di luar seperti ini. Oh, ya, pinjamkan dia satu set celana dan jaketmu," kata Liana.
"Apa? Kamu menyuruhku meminjamkan pakaianku padanya?" Pemuda yang dipanggil Macan Hitam itu terlihat enggan.
Liana berkata, "Sudahlah, lain kali kalau aku menemukan pakaian yang cocok di tempat pembuangan sampah, aku akan memprioritaskanmu."
Macan Hitam merentangkan tangannya sembari berkata, "Baiklah, kamu adalah Kepala Desa. Kamu yang memutuskan."
Erick memberi Macan Hitam senyuman ramah, diam diam dia berkata dalam hatinya, 'Aku tidak menyangka dia adalah Kepala Desa, tapi bukankah desa ini terlalu miskin? Bahkan pakaian yang dikenakan oleh penduduk desa harus memungutnya di tempat pembuangan sampah? Di bumi, sepertinya suku Frokia tidak semiskin ini'
Dunia baru ini, orang orang di dunia ini dan desa yang sangat miskin ini, membuat Erick penasaran sekaligus bingung.
"Hei! Nak, ikut aku," kata Macan Hitam dengan tidak sopan. Dia maupun Liana sepertinya memiliki kebiasaan menyebut 'Hei' begitu membuka mulut.
Erick masih mempertahankan senyum ramah di wajahnya.
Macan Hitam membawa Erick memasuki desa, lalu membawa Erick ke sebuah ruangan.
Sebuah rumah yang sangat sederhana dengan beberapa perabot bobrok yang juga buatan tangan dari kayu yang dipotong dari hutan. Bahkan tidak ada sedikit pun cat. Perabot ini telah digunakan untuk jangka waktu yang tidak diketahui, mereka tampak kotor tanpa perlindungan cat.
Pandangan Erick berpindah ke sudut rumah, sesuatu segera menarik perhatiannya.
Beberapa produk logam yang terlihat seperti dibongkar dari semacam mesin. Namun, bagian itu bukanlah bagian logam biasa seperti besi tuang dan baja, melainkan paduan perak yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Pembuatan bagian bagian itu terlihat jauh dari proses di peradaban bumi.
Melihat bagian paduan itu, Erick benar benar bingung. Dari apa yang dilihatnya, dia merasa bahwa meskipun ada peradaban manusia di dunia ini, pasti tidak akan lebih maju dari pada peradaban manusia di Bumi atau bahkan tertinggal jauh. Namun, melihat bagian bagian paduan presisi tinggi ini, konsep ini benar benar terbalik. Peradaban dunia baru ini berkali kali lebih maju dari pada peradaban manusia di Bumi!
Dunia macam apa ini?
Pertanyaan ini muncul lagi dan mengganggunya. Meskipun dia sangat ingin tahu jawabannya, kali ini dia tidak bertanya. Dia percaya pada akhirnya dia akan mengetahuinya dan itu tidak akan memakan waktu lama.
Kalau dia selalu mengajukan pertanyaan aneh, dia akan menarik lebih banyak perhatian, bahkan kecurigaan.
Hal ini tidak akan menguntungkan.
Macan Hitam mengeluarkan sepotong baju dan celana panjang dari kotak kotor dan menyerahkannya kepada Erick.
Ada banyak bercak merah tua dan beberapa lubang peluru di pakaian itu. Erick bisa menebak bahwa pemilik pakaian ini telah tertembak mati, sama sekali bukan pakaian Macan Hitam. Ini membuatnya tampak sedikit ragu ragu.
"Kenapa? Apakah kamu tidak menginginkannya? Ini adalah pakaian terbaik yang kutemukan di tempat pembuangan sampah," kata Macan Hitam, dia terlihat sangat tidak senang.
Erick berkata, "Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin bertanya apakah kamu punya sepatu untuk dipinjamkan padaku?"
"Kamu benar benar berkulit tebal. Apakah kamu tidak tahu betapa mahalnya sepasang sepatu? Kamu malah meminjamnya dengan santai, benar benar tidak tahu malu," kata Macan Hitam sambil mencibir sembari menggali. Ekspresi menghina muncul di wajahnya.
Namun, Erick sama sekali tidak terlihat marah. Dia tetap tersenyum dan berkata, "Kak Macan Hitam, pinjamkan aku sepasang. Aku akan memberikanmu sepasang yang baru."
Macan Hitam tersenyum sinis sambil berkata, "Apa katamu? Memberikan sepasang sepatu baru? Kamu bahkan berani berkata seperti itu, benar benar tak tahu malu."
"Aku tidak akan mengingkari kata kataku. Pinjamkan aku, ya," ucap Erick sambil tersenyum.
"Dasar .... Tunggu!" Macan Hitam mengeluarkan sepasang sepatu bot dari bawah tempat tidur dan melemparkannya ke kaki Erick dengan kasar.
Sepatu bot itu tidak terbuat dari kulit sapi, tetapi semacam bahan komposit. Bahannya terlihat seperti logam dan plastik. Sangat istimewa dan belum pernah terlihat di bumi. Telapak sepatu bot itu sangat tebal. Karena telah kehilangan kemampuan perspektifnya, Erick tidak dapat melihat struktur apa yang ada di dalamnya.
Namun, dia merasa sepatu itu sangat berat, setidaknya lima kilogram.
Sepatu seberat lima kilogram, hampir setara berat enam atau tujuh pasang sepatu normal, sepatu seperti itu tentu tidak akan nyaman dipakai.
Macan Hitam mencibir sambil berkata, "Bukankah kamu menginginkan sepatu? Sepatu ini milik orang Bulan Biru. Diperlukan sepuluh wanita untuk menukarnya di pasar gelap. Namun, unit tenaganya sudah rusak, jadi kamu kenakan saja."
'Orang Bulan Biru?' Hati Erick dipenuhi keterkejutan.
"Baiklah, kenakan pakaianmu dan pergi. Ini rumahku. Aku tidak suka kamu di rumahku," kata Macan Hitam, dia terlihat sedikit tidak sabar.
"Baik, tidak masalah, aku akan segera pergi," jawab Erick, dia mulai berpakaian.
Ketika Erick mengenakan celananya, Macan Hitam berkata dengan senyuman jahat di bibirnya, "Sebenarnya, aku melepaskan baju itu dari mayat."
Erick tersenyum padanya, lalu membawa sepasang sepatu bot 'orang Bulan Biru' itu dan pergi meninggalkan kamar Macan Hitam.
Ruang terbuka di luar rumah Macan Hitam dipenuhi orang orang, sebagian orang tua, anak anak dengan wajah kotor dan beberapa pemuda dengan pistol dan pisau. Ada pria dan wanita yang terlihat seperti prajurit desa ini. Jumlah mereka tidak banyak, hanya dua puluh dua. Kalau ditambahkan Macan Hitam menjadi dua puluh tiga.
Liana berdiri paling depan, dia telah mengganti pakaiannya, tapi terlihat lebih lusuh. Benar yang dia katakan, baju yang dia pinjamkan pada Erick untuk menutupi bokongnya adalah pakaian terbaiknya.
Hampir semua orang di desa ada di sini. Pria, wanita, muda dan tua semuanya menatap Erick. Mata mereka dipenuhi rasa ingin tahu dan kewaspadaan.
"Mm hmm." Senyum ramah muncul di wajah Erick, dia lalu berkata, "Halo semuanya, namaku Erick James, senang bertemu dengan kalian."
Tidak ada yang memperhatikannya.
Erick tersenyum canggung. "Aku.... Apakah ada yang bisa kukerjakan?"
Ditatap oleh begitu banyak orang dan tidak ada yang berbicara, Erick tidak tahu harus berkata apa.
Liana berkata dengan lantang, "Erick, aku sudah memberi tahu semua orang tentang situasimu. Mereka ingin bertemu denganmu. tidak usah gugup."
"Tidak, tidak, kalian semua adalah orang baik." Erick mengucapkan kata kata yang baik.
Tiba tiba seorang lelaki tua memperlihatkan gigi kuning dan berkata dengan sinis, "Dia sangat putih, pasti sangat enak."
Erick terdiam.
"Baiklah, Pak Matthew, jangan ceritakan kisah kanibalismu lagi," kata Liana dengan ekspresi jijik.
"Ya, aku sudah mendengarnya ratusan kali," kata seorang anak kecil.
Pria tua yang dipanggil Pak Matthew itu tersenyum dan tidak peduli.
Liana berkata, "Erick, semua orang di desa ini adalah orang yang melarikan diri dari luar. Setiap orang memiliki ceritanya sendiri. Aku yakin kamu juga memilikinya."
Erick menganggukkan kepalanya dan berkata,"Aku yakin ada, tapi ... aku lupa."
Liana berkata, "Aku tidak peduli kamu lupa atau ingat. Yang ingin kutanyakan adalah apakah kamu ingin tinggal di sini?"
"Aku ingin tinggal," jawab Erick dengan singkat. Dia bahkan tidak mengerti apa yang sedang terjadi di dunia ini. Tentu saja dia ingin tinggal.
"Baiklah, apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Liana. "Semua orang di sini memiliki pembagian kerja. Ada yang bisa bertani, ada yang bisa memancing, ada yang bisa menyembuhkan penyakit, ada yang bisa berburu. Tidak ada yang makan dengan percuma. Kalau kamu ingin tinggal, kamu harus bekerja. Katakan padaku, apa yang bisa kamu lakukan?"
"Aku bisa...." Erick bisa banyak hal, tetapi dia seorang penderita amnesia, kalau dia tiba tiba berkata bisa melakukan ini dan itu. Bukankah itu sama saja mengungkap kebohongannya sendiri?
"Tidak apa apa, kamu bisa belajar, orang tidak langsung bisa segalanya begitu dilahirkan," kata Liana.
Macan Hitam berjalan keluar dari kamarnya, lalu mengedipkan mata pada sekelompok prajurit.
"Dia sangat putih, pasti orang yang dimanjakan. Mungkin dia adalah kaki tangan orang Bulan Biru," kata seorang tentara dengan lantang.
"Benar! Dia harus memberi tahu kita apa yang bisa dia lakukan, kita lihat apakah dia berguna, kemudian membuat keputusan apakah dia boleh tinggal, kata prajurit lain.
Wajah Liana segera menunjukkan ekspresi tidak senang, tetapi banyak orang yang berdiri di sisi yang berlawanan dengannya. Dia mengkhawatirkan beberapa hal kalau ingin membantu Erick berbicara.
Pada saat ini, Erick berkata dengan lantang, "Bagaimana kalau aku mencoba memperbaiki sepatu ini?"
"Apa?" Terdengar suara terkejut.
