Bab 2 Liana
Suara yang datang tiba tiba itu mengejutkan Erick, bukan hanya karena seseorang tiba tiba datang, tetapi juga karena orang di belakangnya berbahasa Chindera!
Dunia baru, wanita, bahasa Chindera yang sangat fasih, elemen elemen ini bercampur menjadi satu, semua ini membuat perasaan Erick kacau dalam sekejap. Ini adalah dunia baru! Bagaimana bisa muncul seorang wanita yang berbicara bahasa Chindera?
"Hei! Apa kamu tidak mendengarku? Angkat tanganmu dan berbalik!" Suara wanita itu membawa sedikit kemarahan, serta kewaspadaan.
Erick bangkit dari tanah di tepi sungai, mengangkat tangannya perlahan dan berbalik. Setelah berbalik, dia melihat wanita itu. Dia masih sangat muda, tampak seperti berusia awal dua puluhan, posturnya tinggi, dengan sepasang paha yang kuat dan montok, juga bokong yang seksi, seluruh tubuhnya dipenuhi aura muda dan seksi.
Namun sayang, dadanya relatif rata, tampaknya hanya berukuran B.
Dia mengenakan mantel hijau militer dengan banyak saku di pakaian dan celananya, mirip dengan pakaian di bumi. Namun, pakaiannya sudah sangat lusuh, dengan bercak dan kerusakan di beberapa tempat, memperlihatkan kulitnya yang seputih salju dan halus.
Wajahnya dicat dengan cat minyak hijau, dia terlihat seperti pasukan khusus di bumi. Namun, cat minyak itu tidak memengaruhi wajahnya. Wajahnya berbentuk telur angsa yang terlihat sangat halus. Matanya besar, bibirnya sedikit tebal, membuatnya terlihat sangat seksi. Dua elemen yang berbeda dari cantik dan seksi bercampur di satu wajah, terkesan begitu alami, enak dipandang dan sangat nyaman, sehingga membuat orang mengabaikan dadanya yang berukuran B.
Semua itu kesan pertama Erick.
Setibanya di dunia ini, energi kekuatan jejaknya bermasalah. Kemampuan luar biasanya menghilang, tapi otaknya tidak banyak terpengaruh. Dia pintar dan gesit seperti ketika dia di Bumi.
Namun, yang paling mengesankan Erick pada pandangan pertama ini bukanlah wajahnya yang cantik atau bokongnya yang montok dan kuat serta kakinya yang panjang, tetapi bibirnya. Dia menyukai wanita dengan bibir tebal, bukan dengan alasan lain, tapi karena dia punya pengalaman dengannya.
Wanita itu memegang senapan di tangannya. Senapan itu terlihat sangat lusuh, badan pistol itu bernoda karat. Kata 'Berani' tertulis di badan pistol dengan cat merah.
Karakter Chindera yang sederhana dan jelas dengan font yang indah, sepertinya dibuat oleh seorang wanita.
Bahasa Chindera, karakter Chindera, senapan yang menyerupai senapan AK 47, seorang wanita yang diduga orang Chindera, semua itu mengalir ke mata Erick. Wanita ini dan segala sesuatu tentangnya terlihat sangat normal tanpa masalah, tetapi justru memberikan dampak yang sangat besar padanya, sehingga dia tercengang dan kebingungan.
Wanita itu juga menatap Erick dengan ekspresi tercengang. Saat dia menemukan Erick tetapi belum melihat wajahnya, dia membayangkan seorang pria kasar dan tidak tahu malu. Dia bahkan membayangkan orang gila, karena hanya orang gila yang akan berlarian telanjang. Tak disangka, ketika Erick berbalik, dia menyadari pria yang dia 'tangkap' sangat tampan.
Pria ini tidak hanya sangat tampan, tetapi juga seputih salju, seperti sebuah karya seni yang dibuat dari batu giok yang indah, seketika dia merasa malu.
Mereka berdua saling memandang. Padahal, banyak yang ingin mereka berdua katakan, tetapi setelah saling berhadapan, mereka tertegun dan pemikiran mereka berhenti.
Butuh beberapa detik bagi wanita itu untuk tersadar kembali. Dia berteriak, "Hei! Kamu bisa menurunkan tanganmu untuk menutupi area itu." Saat berbicara, tatapannya sangat tidak wajar. Wajahnya dicat dengan minyak hijau, sehingga tidak terlihat apakah dia tersipu atau tidak.
Erick membangkitkan kemampuan penglihatan tembus pandang untuk melihat menembus tubuh wanita itu.
Tujuannya bukanlah untuk memata matai tubuhnya, tetapi untuk menemukan beberapa petunjuk tentangnya, seperti dokumen identitas. Namun, setelah mencoba, dia menemukan bahwa kemampuan penglihatan tembus pandang terbaiknya telah menghilang dan tidak dapat digunakan.
Hal ini membuatnya sangat tidak nyaman, bahkan sedikit tertekan. Namun, dia tahu hal ini normal, karena penglihatan tembus pandang didasarkan pada energi Kekuatan Jejak. Sekarang energi Kekuatan Jejaknya sama sekali tidak dapat digunakan, maka secara alami, kekuatan penglihatan tembus pandangnya tidak dapat digunakan secara normal.
Wanita itu mengguncang senapan lusuh di tangannya dan berkata dengan galak, "Hei, apakah kamu tidak mengerti yang kukatakan? Aku menyuruhmu menurunkan tanganmu dan menutupi benda jelekmu itu!"
Erick menuruti, dia menurunkan tangannya untuk menutupi benda di antara kedua kakinya.
Wanita itu menatap Erick sambil berkata, "Kamu mengerti apa yang kukatakan?"
Erick menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Ya, aku mengerti apa yang kamu katakan."
"Baguslah," jawab wanita itu."Aku ingin kamu menjawab satu pertanyaanku," katanya lagi.
Erick mengangguk lagi lalu berkata, "Boleh, silakan tanya."
"Katakan siapa namamu? Dari mana kamu berasal? Ke mana perginya pakaian di tubuhmu? Apa yang terjadi? Kenapa kamu datang ke sini? Apa yang kamu lakukan di sini?" kata wanita itu dengan sangat cepat, seperti menuang air.
Apakah ini satu pertanyaan?
Erick merasa aneh. Dia terdiam sejenak sebelum berkata, "Namaku Erick James. Aku dari...."
"Kamu dari mana?" desak wanita itu.
Erick mengangkat tangannya.
"Kamu mau apa? Turunkan tanganmu dan tutupi benda milikmu itu!" teriak wanita itu sambil mengayunkan senapan lusuh di tangannya. Dia tampak galak, tetapi tidak ada niat untuk menyerang di matanya.
Erick tidak mendengarkan perintahnya. Dia memegang kepalanya dengan kedua tangan, kemudian menggosok rambutnya, terlihat sangat kesakitan.
"Ada apa denganmu?" Entah kenapa, suara wanita itu terdengar sedikit khawatir.
Wanita cantik selalu dengan mudah memenangkan hati pria. Demikian pula, pria tampan selalu dengan mudah memenangkan hati wanita, walaupun hanya simpati.
"Aku, aku....." Erick berkata dengan getir, "Aku tidak dapat mengingat apa pun kecuali namaku .... Dari mana aku berasal? Apa yang terjadi? Aku bahkan tidak tahu lagi, aku terbangun di sisi lain gunung itu. Aku sangat lapar, aku tiba di sini untuk mencari makanan dan air."
"Maksudmu kamu tidak ingat apa pun kecuali namamu?" Wanita itu tampak terkejut, sedikit kecurigaan muncul di matanya.
Erick berkata, "Aku tahu sulit bagimu untuk percaya, tapi itu benar.... Aku, aku ...." Dia menggosok rambutnya dengan keras, ekspresinya makin menyakitkan.
Berpura pura amnesia adalah plot kuno dalam drama TV di Bumi. Bahkan seorang gadis berusia l4 atau 15 tahun di Bumi tidak akan percaya dengan plot seperti itu, tetapi Erick tidak punya pilihan lain. Dia tidak bisa memberi tahu wanita di depannya bahwa dia berasal dari planet lain dan sebuah kota yang terbuat dari batu telah menerbangkannya ke sini. Cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini adalah berpura pura amnesia.
"Kamu mencoba membohongiku?" kata wanita itu.
Erick merentangkan tangannya sambil berkata, "Mengapa aku berbohong padamu? Apa yang bisa kudapatkan dengan berbohong padamu?"
Wanita itu sontak memalingkan wajah, kemudian berkata, "Tutupi benda jelekmu itu atau aku akan meledakkannya dengan satu tembakan!"
"Uh .... maafkan aku." Erick segera menutupi area di antara kedua kakinya dengan kedua tangan.
Dia perlu memahami dunia baru ini. Wanita di depannya jelas adalah orang penting yang dapat membantunya menyelesaikan masalahnya. Apalagi, sekarang wanita itu hanya menodongkan pistol ke arahnya dan tidak menyerang. Kalau dia melompat dan mengambil senjatanya, maka mereka akan menjadi musuh. Dia tidak ingin punya musuh begitu tiba di dunia ini.
"Apa kamu sudah menutupinya?" tanya wanita itu.
"Sudah," jawab Erick.
Barulah wanita itu berbalik melihat Erick lagi, lalu berkata, "Coba pikirkan. Apa lagi yang bisa kamu ingat selain namamu?"
Erick ingin mengangkat tangan dan mengusap rambutnya lagi.
"Baiklah, kamu tidak perlu memikirkannya!" Wanita itu buru buru menghentikan Erick.
"Terima kasih, terima kasih," jawab Erick dengan sangat sopan dan hati hati."Aku berjanji padamu, kalau aku mengingat sesuatu, aku akan langusng memberitahumu. Sekarang bisakah kamu memberitahuku, tempat apa ini?" lanjut Erick.
"Kamu tidak tahu tempat apa ini?" tanya wanita itu.
Erick tersenyum masam lalu berkata, "Aku sudah memberitahumu, aku tidak bisa mengingat apa pun selain namaku."
"Ini adalah Area 51,"jawab wanita itu.
"Apa?"
Erick tertegun sejenak. Saat mendengar 'Area 51' dari mulut wanita ini, dia langsung teringat pada pangkalan militer Area 51 di Newada yang dia bom dengan pesawat pengebom. Namun, basin di hadapannya, serta hutan itu jelas tidak berhubungan dengan pangkalan militer Amardina mana pun.
"Baiklah, ikut aku. Yang kamu butuhkan sekarang bukan pertanyaan, tapi pakaian. Apa kamu tidak tahu? Kamu terlihat jelek seperti ini," kata wanita itu sembari menyimpan senjatanya dan berjalan ke arah desa.
Erick mengikuti langkah kaki wanita itu dan berkata sambil berjalan, "Bisakah kamu memberitahuku namamu?"
Wanita itu ragu ragu sejenak sebelum berkata, "Liana."
"Liana?" Erick mengulanginya, lalu tersenyum sambil berkata, "Nama yang bagus."
"Cukup! Tidak perlu menggombal denganku!"
"Maaf, maafkan aku, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kamu cantik dan namamu sangat cocok denganmu," kata Erick.
Liana mengalihkan matanya dan memelototi Erick.
Erick tersenyum masam. Dia memuji bukan untuk menggodanya. Dia hanya ingin menyenangkannya agar bisa mendapatkan bantuannya.
Wanita itu tidak berbicara, dia melangkah dengan cepat.
Erick mengikutinya agak jauh sebelum dia berkata dengan lantang, "Nona Liana, apakah kamu kebangsaan Chindera?"
"Kebangsaan Chindera? Apa itu?" tanya Liana.
"Kebangsaan Chindera... tentu saja sebuah bangsa."
"Aku tidak tahu apa itu kebangsaan Chindera, aku belum pernah mendengarnya. Mengenai bangsa yang kamu bicarakan, bukankah kita semua sama?" Wanita itu balik bertanya.
"Ya, kita sama." Mulut Erick berkata demikian, tetapi hatinya diam diam berkata,'Dia berbicara bahasa Chindera, ada karakter Chindera di senjatanya, tetapi dia tidak tahu apa itu Chindera. Apa yang sedang terjadi?
Wanita itu memperingatkan, "Jangan macam macam setelah tiba di desa. Kalau aku tahu kamu punya niat jahat, aku akan membunuhmu."
"Nona Liana, tenanglah. Aku datang ke sini karena kepepet, aku sama sekali tidak punya niat buruk. Aku akan berterima kasih kalau kalian bisa membantuku," kata Erick.
Liana terus berjalan.
Erick bertanya sambil berjalan, "Nona Liana...."
"Jangan panggil aku Nona lagi, panggil saja namaku," sela Liana.
"Baiklah kalau begitu, bisakah kamu memberitahuku sekarang ini tahun dan bulan apa? Aku bahkan melupakan hal ini," sambung Erick.
"Aku tidak tahu," jawab Liana.
"Bagaimana mungkin? Ini bukan rahasia. Kamu tidak perlu waspada terhadapku. Hal ini sangat penting bagiku. Tolong beri tahu aku," kata Erick.
Senyum pahit muncul di wajah Liana lalu menjawab, "Aku benar benar tidak tahu."
Erick tertegun sejenak lalu berkata, "Kalau begitu bisakah kamu memberitahuku bagaimana menuju ke kota terdekat?"
"Kamu ingin pergi ke kota?" jawab Liana, tiba tiba dia kembali menatap Erick. "Kamu tidak serius,'kan?" sambungnya lagi.
"Tentu saja aku serius. Kamu tidak menceritakan apa pun padaku. Aku ingin pergi ke kota. Sepertinya aku bisa menemukan jawabannya di kota," ucap Erick.
"Sepertinya kamu benar benar sakit dan tidak dapat mengingat apa pun," jawab Liana, dia berpaling dari tubuh Erick. "Ikutlah denganku. Ada seorang dokter di desa. Aku harap dia dapat membantumu," lanjutnya lagi.
Erick kebingungan. Semua hal ini menyatu menjadi sebuah pertanyaan. Dunia macam apa ini?
