Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kedinginan

Intan menoleh dan bersembunyi di punggungnya Vany sambil mergelayut.

‘’Maaf Van, dia agak kurang’’ kata Johan sambil menempelkan jari telunjuk ke jidatnya dengan posisi miring.

‘’Ih, mas Johan kok gitu sih, aku bukan orang gila tau’’ balas Intan cembrut dan memukul lengannya Johan.

‘’Udah-udah kalian jangan bertengkar, malu dilihat banyak orang’’ Vany melerai mereka berdua.

‘’Marahin aja dia kak, dia yang mulai duluan.’’ Kata Intan sambil bergelayut di lengannya Vany dan menjulurkan lidah kepada Johan.

‘’Sudahlah kalian membuatku pusing saja, aku pergi dulu’’ kata Vany lalu berjalan kembali.

‘’Aku ikut kak’’ Intan mengejar Vany sampai ke tempat ibunya.

Ibunya Vany melihat Intan yang sedang berjalan cepat menyusul, ‘’siapa dia Van?’’ tanya sang ibu.

‘’Hah hah, cape banget’’ ucap Intan yang baru sampai sambil mengatur nafasnya.

‘’Dia adiknya mas Johan bu’’ jawab Vany.

‘’Johan siapa? Ibu gak kenal?’’ kata ibu lagi.

‘’Johan temenku’’ balas Vany.

‘’Aku Intan bu’’ ucapnya sambil mencium punggung tangan ibunya Vany.

‘’Kenapa kamu ikut kesini terus dimana kakakmu?’’ kata Vany.

‘’Mas Johan masih di sana kak’’ jawab Intan sambil menunjuk.

‘’Kalau kamu disini, kasihan mas Johan sendirian di sana gak ada yang nemenin’’ kata Vani sambil menggelengkan kepala.

‘’Biarin aja kak, palingan dia nyusul ke sini’’ jawab Intan cuek.

‘’Ya udah, kamu disini aja sama ibuku dan aku kesana nemenin mas Johan ya’’ Vany berjalan setelah mengucapkan kata itu.

‘’Loh kak kok gitu sih?’’ Intan melongo melihat Vany berjalan.

‘’Udah kamu disini aja nemenin ibu, biar kakakmu sama Vany disana’’ ucap ibunya Vany sambil mengelus punggungnya Intan.

‘’Tapi bukan itu rencanaku bu’’ kata Intan sambil menoleh.

‘’Loh, emang kamu punya rencana apa?’’ tanya sang ibu.

‘’Rencanaku tuh bu supaya mereka deket dan berpacaran’’ jawab Intan.

‘’Intan-Intan, ada-ada aja kamu’’ sahut sang ibu sambil tersenyum.

Vany menghampiri Johan yang sedang duduk sendirian sambil menatap rembulan malam. ‘’boleh aku duduk disini?’’ sapa Vany sambil tersenyum.

‘’Boleh dong, duduk aja’’ jawab Johan sambil menoleh. ‘’dimana Intan?’’ sambungnya lagi.

‘’Dia bersama ibuku di sana’’ jawab Vany.

‘’Tuh anak emang bandel, susah diatur’’ kata Johan.

‘’Kalian suka berantem yah kalau di rumah?’’ tanya Vany.

‘’Gitu lah’’ balas Johan.

‘’Kita tukeran nomor yuk’’ kata Vany sambil menunjukkan ponselnya.

‘’Boleh’’ jawab Johan lalu memberikan nomor ponselnya, ia pun mencatan nomornya Vany.

Hari mulai larut dan angin mulai dingin, Johan mengantar Vany ke tempat ibunya sambil menjemput Intan.

‘’Hallo bu, aku Johan’’ ucapnya lalu mencium punggung tangan ibunya Vany.

‘’Oh, jadi kamu kakaknya Intan’’ balas ibunya Vany sambil tersenyum.

‘’Ibu ayo pulang, bagas udah ngantuk’’ rengek anak kecil yang berusia sepuluh tahun dia adalah adiknya Vany.

‘’Ya udah kami pamit dulu bu, van’’ Johan berpamitan lalu diikuti oleh Intan.

Vany tersenyum sambil melambaikan tangan, Johan dan Intan langsung menuju ke motor sedangkan Vany dan keluarganya masuk kedalam mobil lalu melesat jauh menembus malam hari.

Beberapa menit kemudian Johan dan Intan sampai di rumah, mereka berdua masuk, ‘’ibu sudah tidur mas,terus gimana martabak ini?’’ kata Intan.

‘’Martabaknya buat besok aja’’ balas Johan.

‘’Kan gak enak mas kalau dimakan besok’’ ucap Intan sambil cemberut.

‘’Ada kulkas kan disini?’’ tanya Johan.

‘’Ada mas’’ jawab Intan.

Intan lalu menaruh martabak tersebut kedalam kulkas supaya esok harinya bisa dimakan. Intan kembali menemui Johan yang sedang berbaring di sofa.

‘’Kok tiduran sih mas’’ kata Intan sambil duduk di tepi sofa lalu menepuk pahanya Johan.

‘’Capek Tan’’ balas Johan.

‘’Kamu mau nginep disini atau mau pulang’’ kata Intan lagi.

‘’Aku tidur disini aja deh, kalau udah ngantuk males untuk pulang’’ jawab Johan sambil memejamkan matanya.

‘’Terserah kamu deh’’ kata Intan lalu mengunci pintu rumah.

Intan berjalan ke kamarnya lalu berbaring di atas ranjang dan berusaha untuk memejamkan kedua matanya. Hari semakin larut hembusan angin pun terasa dingin membuat Johan meringkuk di sofa.

Johan menggeliat kesana kemari karena udara sangat dingin, ia lalu membuka matanya dan berjalan masuk kedalam kamarnya Intan.

‘’Aku tidur di sini aja deh, dari pada kedinginan di sana’’ ucapnya lirih sambil berbaring di sampingnya Intan.

Intan menggeliat dan terlentang tanpa di rasa tangannya Johan sudah berada diatas perutnya Intan, perempuan itu menggeliat lagi lalu memeluk Johan sambil membenamkan kepalanya di dada lelaki itu.

Johan yang merasa hangat lalu ikut memeluk Intan sambil menyampirkan satu kakinya di paha perempuan itu. Suara kokok ayam terdengar menandakan kalau hari sudah pagi.

Intan perlahan membuka matanya, ‘’hoam’’. ( loh kenapa mas Johan tidur di kamarku? Perasaan tadi malam dia tidur di sofa? ) ucap Intan dalam hatinya sambil menatap wajahnya Johan yang masih memeluknya.

‘’Mas, bangun udah pagi’’ ucap Intan sambil menepuk pelan pipinya Johan.

‘’Masih ngantuk’’ balas Johan sambil mengeratkan pelukannya.

‘’Sudah pagi mas, ayo bangun’’ Intan masih berusaha membangunkan lelaki tersebut.

‘’Bentar lagi’’ ucap Johan yang masih memejamkan matanya.

‘’Ya udah, aku mau bantuin ibu masak’’ kata Intan sambil melepaskan pelukannya Johan dan duduk.

‘’Nanti dulu aku masih ingin memelukmu’’ kata Johan sambil menarik tangannya Intan.

Intan pun terjatuh diatas tubuhnya Johan, tangan lelaki itu langsung melingkar erat di pinggangnya Intan, ‘’ih..mas, sudah ayo bangun’’ ucap Intan lalu mengecup bibirnya Johan, ‘’cup’’.

‘’Kok cuma sebentar sih’’ kata Johan.

‘’Ogah’’ balas Intan sambil mencubit hidungnya Johan.

‘’Ayo dong cium lagi’’ pinta Johan yang matanya masih terpejam.

‘’Sana minta sama kak Vany aja, jangan sama aku’’ balas Intan lalu bangkit dari atas tubuhnya Johan.

‘’Mau kemana kamu?’’ Johan bertanya.

‘’Mau bantuin ibu’’ jawab Intan lalu turun dari ranjang.

Intan berjalan keluar dari kamar menuju ke kamar mandi, sedangkan johan masih enggan untuk bangun dari tempat tidur. Selesai mandi Intan kembali masuk kedalam kamarnya.

Intan melemparkan handuk yang tadi melilit di badannya ke wajahnya Johan, lelaki itu kaget dan langsung membuka matanya. Johan menatap ke arah Intan yang sedang menungging tanpa memakai pakaian.

Intan mengambil celana dalam lalu memakainya setelah itu ia memakai BH berwarna biru dan berjalan ke meja rias untuk menyisir rambutnya, sebuah tangan melingkar di perutnya Intan.

‘’Mas, sana mandi dulu’’ kata Intan sambil menoleh untuk melihat siapa yang memeluknya dari belakang.

‘’Boleh aku cium kamu?’’ kata Johan sambil menempelkan pipinya di telinganya Intan.

‘’Cium aja kak Vany mas’’ jawab Intan.

‘’Kan jauh Tan, mana bisa aku cium dia’’ kata Johan.

‘’Ya udah kamu samperin dia kerumahnya’’ balas Intan sambil melepaskan tangannya Johan yang melingkar di perutnya.

Intan berjalan menuju ke lemari dan mengambil kaos putih dan rok mini abu-abu lalu memakainya, Johan hanya memandanginya saja lalu ia pamit pulang.

*BERSAMBUNG*

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel