Pustaka
Bahasa Indonesia

COWOK GANTENG JADI REBUTAN

68.0K · Tamat
Media rekor
66
Bab
2.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Kisah ini menceritakan seorang pemuda yang tampan, ia bekerja sebagai tukang servis keliling, Johan namanya. Johan tak mengerti tentang hubungan percintaan bahkan hubungan sex, suatu hari ia membetulkan mesin cuci di salah satu tetangganya dan mendapat godaan dari wanita pemilik rumah itu yang sangat ganjen dan centil.

RomansaFantasiplayboyPerselingkuhanWanita Cantik

Merasa dewasa

Dirumah kecil dan sederhana seorang perempuan yang bernama Intan sedang melamun di ruang tamu seorang diri, ia baru lulus SMA seminggu yang lalu. Intan memikirkan nasibnya karena tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi.

Intan adalah anak semata wayang dari seorang ibu yang bernama Maryam sedangkan ayahnya sudah meninggal dunia satu tahun yang lalu, hidup sederhana dan apa adanya itulah yang dirasakan mereka.

‘’Perempuan itu jangan suka melamun, nak’’ suara bu Maryam mengagetkan Intan yang sedang melamun.

‘’Eh ibu, bikin kaget aku aja’’ balas Intan sambil mendongak melihat ibunya.

‘’Pagi-pagi sudah melamun, ayo bantuin ibu di belakang? Kamu cuci tuh pakaian, ibu akan memasak’’ kata bu Maryam.

‘’Iya bu’’ jawab Intan yang tampak lesu dan tak bersemangat.

Mereka berdua berjalan kebelakang, Intan segera mengambil pakaian yang kotor lalu mencucinya. Bu Maryam di dapur sedang sibuk dengan penggorengan.

‘’Bu, mas Johan belum kesini ya?’’ tanya Intan sambil mencuci pakaian yang tak jauh dari dapur.

‘’Belum tuh, emang ada perlu apa?’’ jawab bu Maryam sambil menoleh ke anaknya.

‘’Sudah satu minggu gak main ke sini’’ kata Intan sedikit cemberut.

‘’Barang kali dia lagi sibuk dan gak sempet main ke sini’’ balas bu Maryam.

Suara motor berhenti di halaman rumah, Intan yang mendengarnya langsung berjalan menuju ke pintu depan untuk melihat siapa yang datang.

Pintu baru saja akan di ketok tapi sudah dibuka oleh Intan, ‘’mas Johan’’ kata Intan sambil tersenyum melihat seorang lelaki yang dari tadi di harapkan kedatangannya.

‘’Hai Tan, kok baju kamu basah sih?’’ tanya Johan yang melihat bajunya Intan basah.

‘’Aku tadi sedang mencuci pakaian lalu aku denger suara motor kamu dan aku langsung kesini’’ jawab Intan menjelaskan.

‘’Oh..dimana ibu?’’ tanya Johan kembali.

‘’Sedang masak mas, ayo masuk?’’ balas Intan lalu mengajak Johan untuk masuk.

Intan dan Johan berjalan ke belakang menemui bu Maryam, ‘’pagi bu’’ sapa Johan dengan ramah.

‘’Tuh dari tadi Intan nanyain kamu terus’’ balas bu Maryam.

‘’Yaelah kan baru kemarin aku kesini bu’’ kata Johan.

‘’Gak tau, tanya aja sendiri’’ jawab bu Maryam.

Intan hanya senyum-senyum sambil menggerakkan badannya dan menunduk malu, Johan lalu mendekati, ‘’ada apa kamu mencariku Tan?’’ tanya Johan.

‘’Mmm..gak jadi deh’’ ucap Intan lalu berjalan dan melanjutkan mencuci pakaian.

Johan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Intan yang susah di tebak, Johan kembali menghampiri bu Maryam.

‘’Bu, ini ada sedikit uang buat ibu’’ kata Johan sambil memberikan uang.

‘’Makasih ya Han, kamu selalu membantu keluarga kami’’ balas bu Maryam sambil menerima uang tersebut.

‘’Sama-sama bu, aku sudah menganggap keluarga ini sebagai keluargaku juga’’ kata Johan sambil tersenyum.

‘’Sekali lagi makasih ya nak’’ ucap bu Maryam.

‘’Iya bu, kalau begitu aku pulang dulu ada pekerjaan yang harus aku selesaikan’’ balas Johan sambil pamit pulang.

‘’Iya Han, hati-hati jangan ngebut.’’ Bu Maryam membalas sambil tersenyum bangga kepada Johan.

Intan bangkit lalu menghampiri ibunya, ‘’bu minta dong buat beli skincare’’ ucapnya sambil menjulurkan tangan meminta uang kepada ibunya.

‘’Ini uang buat belanja tau, bukan untuk beli skincare’’ jawab bu Maryam sambil memasukkan uang ke sakunya.

‘’Ih..ibu pelit’’ kata Intan sambil memanyunkan bibirnya.

Intan kembali melanjutkan mencuci pakaian dengan raut wajah yang lesu karena ia ingin sekali membeli skincare untuk keperluannya namun dilarang oleh ibunya.

Di lain tempat Johan sedang menyervis televisi tetangganya, pekerjaan Johan adalah tukang servis elektronik satu-satunya di kampung tersebut. Setelah selesai membetulkan televisi Johan kembali pulang kerumah.

Siang berganti malam, Johan mengendarai sepeda motornya menuju ke pangkalan nasi goreng karena ia merasa perutnya sudah lapar.

‘’Bang, nasi goreng satu’’ kata Johan lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh pedagang tersebut.

‘’Siap bos’’ jawab pedagang itu lalu membuat nasi goreng.

Beberapa menit kemudian nasi goreng pun siap dan Johan langsung menyantapnya dengan lahap sekali.

‘’Sendirian aja bos?’’ kata pedagang tersebut.

‘’Iya bang, kan aku belum punya pacar’’ jawab Johan sambil menoleh.

‘’Makanya cari pacar biar gak kesepian’’ balas pedagang itu.

‘’Belum ada yang mau bang, perempuan sekarang mata duitan mana ada yang mau sama aku’’ ucap Johan sambil tersenyum.

‘’Jangan pesimis gitu dong, harus semangat pantang menyerah, hehehe..’’ balas pedagang itu sambil cengengesan.

‘’Iya bang’’ jawab Johan lalu mengunyah nasi goreng.

‘’Pasti ada kok wanita yang mau menerima kamu apa adanya’’ kata pedagang itu memberikan nasehat.

‘’Doakan aja bang biar cepet dapat jodoh’’ balas Johan dengan mengangguk lalu tersenyum.

Setelah selesai makan lalu Johan membayarnya dan pulang dengan sepeda motornya menuju ke rumah. Sedangkan Intan lagi asyik berbaring sambil bermain dengan ponselnya.

‘’Sudah malam ayo cepat tidur’’ kata bu Maryam yang kebetulan lewat dan melihat anaknya belum tidur.

‘’Iya bu’’ jawab Intan lalu mengunci pintu kamar.

‘’Belum juga ngantuk, eh di suruh tidur’’ gerutu Intan lirih lalu kembali berbaring diatas ranjang dan bermain lagi dengan ponselnya.

Malam semakin larut dan perlahan mata Intan mulai kantuk, ia pun tertidur pulas bersama dengan ponselnya. Pagi sekali sekitar jam lima bu Maryam sudah bangun dan mulai sibuk di dapur.

Intan masih terlelap dengan mimpinya sampai sinar matahari masuk ke celah-celah jendela dan membangunkan perempuan itu, ‘’hoam..’’ Intan menutup mulut dengan tangannya.

‘’Sudah pagi rupanya’’ gumamnya lirih sambil merenggangkan kedua tangan.

Intan berjalan menuju ke kamar mandi, bau harum dari masakan ibunya membuat perutnya merasa lapar, ‘’enak sekali bau masakan ibu’’ gumamnya sambil masuk kedalam kamar mandi.

Intan melepaskan pakaiannya satu persatu dan menaruhnya di keranjang, kini ia sudah polos tanpa memakai pakaian, perlahan Intan menyiramkan air ke kakinya lalu menyiram lagi ke pahanya sambil menggosok-gosok belahan diantara kedua pahanya.

Selesai mandi Intan berjalan menuju ke kamar hanya mengenakan handuk saja sebatas dada dan lutut, ia membuka lemari dan mencari pakaian yang akan di pakaianya.

Intan melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya lalu melempar ke tempat tidur, ia mengambil celana dalam dan memakainya. Setelah itu ia mengambil BH berwarna putih lalu di lingkarkan ke dadanya.

Intan berjalan menuju ke meja rias dan menyisir rambut sambil berpose dan tersenyum sendiri, ia melihat dirinya di pantulan cermin yang hanya memakai BH dan celana dalam saja.

‘’Benjolan di dadaku sudah mulai besar pasti banyak lelaki yang terpesona’’ ucapnya lirih sambil tersenyum dan meraba dadanya sendiri.

‘’Tok tok tok’’ suara pintu kamar di ketok.

‘’Tan! Ayo sarapan!’’ teriak bu Maryam di depan pintu kamar.

‘’Iya bu, bentar lagi’’ jawab Intan.

Intan mengambil baju dan rok mini lalu memakainya, setelah itu ia keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ke meja makan.

*BERSAMBUNG*