Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 8. Nenek Angkat Alinta Pura-Pura Baik

Alinta sedang tidur di kamar, saat Auranti sedang berada di dapur terdengar suara bel yang mengetuk. Alinta yang mendengar suara bel, langsung bangun perlahan-lahan. Alinta meraba-raba tembok yang sudah dipasang pegangan buat difable. Alinta kemudian berjalan sambil menyeret kakinya yang masih gemetar karena penyakit ayannya. Sesampai di dekat kursi roda elektrik, Alinta duduk perlahan-lahan. Alinta yang berjalan sambil membawa tumor rahim yang mirip orang hamil kesusahan bernapas, ia mengambil oksigen di kursi roda.

"Siapa yang datang pagi sekali?"tanya Alinta pada dirinya. Ia kemudian memasang tabung oksigen dan menggerakkan kursi roda.

Sementara itu, Arga di luar negeri sedang menunggu penerbangan untuk ke tempat kerja. Dia memakai baju kantor dan membawa koper, Arga mengenakan baju kemeja dengan sangat gagah dan duduk di tempat penunggu keberangkatan. Sambil melihat jam, ia mengeluarkan ponsel kemudian Arga menekan nomer tante.

Di rumah, Alinta sedang menuju ke ruang tamu menggunakan kursi roda elektronik. Ia melihat, karena sang tante sedang sibuk, jadi Alinta melihat siapa yang datang.

Saat tante melihat ponsel ada panggilan tidak terjawab, tante Auranti menelepon ulang.

"Halo, ada apa Arga menelepon jam segini?"tanya tante di telepon.

"Tan, tolong jaga istriku. Aku tidak tenang kalau dia kenapa-napa." Arga mondar-mandir di bandara, ia masih belum mendapat penrbangan dari transit ke negara X ke Y.

"Arga, kamu jangan panik. Tante akan menjaga Alinta dengan tenang."

Alinta yang sudah menuju ruang tamu, membuka pintu. Ia kemudian menelan ludah.

"Nenek, ada apa datang pagi-pagi?"tanya Alinta.

Di dapur Auranti berbicara dengan Arga. Ia melihat ke ruang tamu, siapa yang berbicara dengan Alinta.

"Arga, bisa kita bicara besok. Alinta ada tamu, ia sudah lama di ruang tamu."

Di ruang tamu yang sepi, nenek angkat mendekat ke kuping.

"Kamu tahu. Kakak kandungmu sekarang kritis lagi. Jika kamu tidak ingin melihat kakakmu sekarat atau kritis, kamu harus menurutiku. Wanita cacat yang keluarganya juga cacat."

Bisikan di telinga Alinta membuat kakinya gemetar, ia merasakan aura ayan yang diderita akan muncul.

Sang maha kuat dan sang maha meringankan penyakit, Engkau adalah Sang pencipta. Berilah kekuatan untuk diriku supaya tidak kambuh penyakitku. Aku tahu nenek angkat masih nafsu dengan harta warisan peninggalan nenek kandungku, doa Alinta dalam hati.

Tante Auranti kemudian datang, dan ia membungkuk.

"Anda siapa?"tanya Auranti.

"Kenalkan, saya nenek angkat Alinta. Saya ingin membelikan baju baru untuk Alinta,"ucap nenek angkat Alinta. Ucapan itu terkesan baik, namun bagi Auranti dan Alinta itu hanyalah sandiwara yang dibuat supaya Auranti tidak curiga terhadapnya.

"Boleh saya bicara dengan menantu saya dulu. Karena ada urusan penting,"ucap Auranti. Kemudian ia membawa Alinta menuju kamar. Saat di kamar, Auranti memeluk Alinta.

"Sayang. Kenapa kamu tidak bilang kalau ada nenek angkatmu?"tanya Auranti. Auranti memperhatikan Alinta yang tiba-tiba bola matanya bergerak-gerak saat cemas, ia kemudian menuju laci untuk mengambil obat dan meminumkan ke Alinta. Setelah mengambil, Auranti cepat-cepat ke arah Alinta yang tiba-tiba sudah kejang-kejang. "Diminum sayang. Supaya sembuh,"lanjut Auranti.

Setelah Alinta meminum obat, Alinta membaik.

"Tante, aku kenapa?"tanya Alinta.

"Kamu kambuh. Oke, Alinta kalau ada apa-apa hubungi tante atau polisi ya. Tante tahu kamu tidak ingin mengadu ke tante. Tapi, kamu sudah tante anggap anak kandung."

Tante Auranti yang memakai baju pendek dan celana jeans, dengan rambut dikucir. Ia mengantarkan Alinta ke ruang tamu.

Sementara itu, Arga sudah sampai di bandara tempat tujuan. Ia turun dari pesawat, koper dan tasnya masih di bagasi pesawat.

Saat turun, ia menelepon tante kandungnya.

Di ruang tamu, tante Auranti menerima ponsel di sakunya. Auranti mengambil ponsel dengan tangannya, saat mengambil ponsel ia kemudian melihat bahwa Arga, keponakannya sudah menelepon. Auranti sudah bisa menebak, Arga sudah sampai di luar negeri tempat bisnisnya. Auranti pamit ke nenek angkat Alinta dan Alinta.

"Saya ke kamar dulu. Alinta, telepon tante kalau ada apa-apa,"ucap Auranti dengan nada terburu-buru. Ia terburu-buru, karena takut nenek angkat mengetahui bahwa Auranti berbicara tentang kedatangan sang nenek.

Saat masuk kamar, ia langsung menjawab.

"Halo Arga, bagaimana kabarmu sayang?"tanya Auranti dengan nada gemetar.

"Tante, tarik napas. Jangan tergesa-gesa,"saran Arga.

"Arga, Alinta dalam bahaya. Tante tidak bisa memantau terus. Tante sibuk, tante suruh dia kalau ada apa-apa telpon."

Air mata Auranti menetes, karena takut Alinta diapa-apakan oleh nenek angkatnya.

"Tante, kalau nanti ada telepon dari Alinta. Tante tenang aja, aku sudah sewa detektife untuk melacak nenek angkat dan mantan suami Alinta."

Alinta dan sang nenek angkat pergi menuju mobil taksi yang sudah dipesan.

"Ku peringatkan, jangan sekali-kali mengadu ke suami barumu. Atau aku akan menyakiti suami barumu dengan memanggil suami dan membuat kakakmu sakit lebih parah,"ucap nenek angkat. Namanya Asita, ia kejam sekali sehingga bisa bertutur kata baik ke Auranti saat sedang berbicara dengan Alinta. Alinta tidak bisa bicara, takut tante Auranti akan diapa-apakan oleh nenek angkat. Syukurlah, sekarang hanya ia dan wanita tua yang berlidah ular.

Wanita tua itu memang sulit dilawan, Alinta tidak bisa menelepon jika terus dibisikkan dengan kata-kata kejam untuk membuat Alinta goyah.

Pernikahan ke duanya adalah hal yang membuat Alinta bersyukur, semenjak menjauh dari nenek angkat dan mantan suami. Keuangan Alinta membaik, meskipun hanya bisa makan seadanya.

Arga di bandara menutup ponsel, ia menunggu tas dan koper di bagasi bandara. Saat itu tangannya mengepal, tidak tahan mendengar ucapan bahwa nenek angkat Alinta datang. Arga bisa menebak, pasti ada sesuatu yang membuat nenek angkat Alinta datang. Ya, sebuah nafsu ingin mengusai harta benda yang dimiliki oleh Alinta.

Maafkan aku Alinta, saat kamu membutuhkanku untuk melindungimu. Pekerjaan malah membuat kita berpisah dan tidak saling menjaga. Alinta aku mencintaimu, ucap Arga dalam hati.

Alinta di taksi memandang ke arah jendela. Ia tidak bisa memberi tahu Arga.

"Nek, kita mau ke mana?"tanya Alinta dengan sopan.

"Jangan banyak tanya."

Saat itu Alinta menahan penyakitnya supaya tidak kambuh dan membuat sang sopir taksi tidak curiga atas perlakuan nenek angkat Alinta.

Arga, aku minta maaf. Aku tidak bisa jujur padamu. Nyawamu dan tante dalam bahaya. Aku tidak ingin membuat kalian berdua terluka, ucap Alinta. Batinnya terluka karena tidak bisa membuat bahagia Arga.

Di taksi Alinta tiba-tiba kejang, ia tidak bisa menahan kejang-kejang sehingga liurnya keluar dan badannya kaku. Supir taksi yang melihat lalu bertanya.

"Bu, cucunya kenapa?"tanya supir.

"Oh, dia lagi kurang sehat. Makanya saya suruh dia jalan-jalan menghirup udara segar di alun-alun,"ucap nenek angkat. Nadanya yang pura-pura perhatian, membuat sang supir taksi tidak bertanya. Ia percaya omongan nenek angkat Alinta.

Beberapa menit kemudian Alinta sadar.

"Kamu begitu saja sudah kejang-kejang,"bisik nenek angkat.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel