BAB 7. ARGA PERGI KE LUAR NEGERI
Malamnya, di kota yang indah Arga memijat kaki Alinta. Di tempat tidur Alinta hanya ada oksigen, infus, dan di meja terdapat obat tumor dan penyakit ayan. Hanya itu yang bisa membuat Alinta tetap normal, belum ada informasi mengenai donor darah untuk mengoperasi tumor. Arga tidak bisa melihat Alinta yang muram, karena tidak bisa memberikan kepuasan ke pada Arga. Nenek angkat Alinta, pergi meninggalkan rumah karena Arga marah melihat sang istri yang dijadikan sebagai pemuat uang. Nafsu dunia yang membuat nenek angkat Alinta tergila-gila dengan warisan yang ditinggalkan oleh orang tua Alinta.
Untunglah, Arga sekarang bisa bernapas dengan tenang. Karena masalah yang satu sudah pergi, namun kondisi Alinta belum membaik.
"Alinta, kamu harus sembuh ya. Nenek angkatmu sudah tidak ada."
Arga mencium kening Alinta.
"Arga, tante pulang. Gimana kondisi Alinta?"
Tante kandung Arga datang, ia kemudian melepas sepatu dan berkemas-kemas. Auranti saat ini yang merawat Alinta. Begitu Auranti masuk, ia merasa begitu sedih karena melihat Alinta yang kejang-kejang belum sembuh.
"Arga, ayo kita ke luar. Bicara sebentar,"lanjut tantenya. Arga kemudian berhenti memijat kaki Alinta.
"Tante, nenek angkat Alinta datang. Aku pikir dia sudah menyerah, saat aku membeli makanan di luar. Aku liat cctv, rupanya makin kejam."
Arga sedih, air matanya tidak bisa ditahan. Melihat keluarga angkat Alinta masih ada di kota kelahiran Alinta dan Arga. Arga masuk, ia kemudian menyuapi obat ayan dengan dosis tinggi. Alinta masih kejang-kejang, bahkan mulutnya tidak berhenti mengunyah dan matanya berkedip tidak berhenti.
Beberapa jam, Alinta sudah berhenti. Setelah makan pil ayan.
Arga kemudian mematikan lampu dan tidur di dekat Alinta.
Saat jam 3 pagi, Alinta tiba-tiba kejang. Arga bangun, ia mengambil obat.
Di langit yang masih gelap, Alinta harus menahan penyakit kejang selain epilepsi. Arga memasang selang oksigen, Alinta butuh oksigen karena penyakit epilepsi membuat ia kesulitan bernapas.
"Sayang, kamu harus kuat. Jam 5 aku harus ke luar negeri. Kalau kamu seperti ini, aku tidak tega meninggalkan kamu,"ucap Arga. Ia terus menangis berat hati meninggalkan sang istri yang sakit. Namun pekerjaan datang tanpa diundang, saat Alinta belum sembuh dari penyakit Ayan.
"Arga, biar tante yang ngobatin Alinta. Tante akan jaga Alinta. Kamu kerja buat Alinta dan dirimu."
Bagi Auranti, Arga sudah dianggap anak kandung. Semenjak ibu dan bapak kandung Arga meninggal kecelakaan, Auranti yang membesarkan Arga. Dia menghilangkan semua nafsunya, demi masa depan Arga. Karena telah kehilangan Alinta dan kakak kandungnya, Auranti bertekad mengasuh Arga dengan teliti.
"Alinta, kamu tidak apa-apa? Sepertinya penyakitnya membuat ia susah bernapas." Auranti mengambil obat ayan, tumor, dan penyakit syaraf. Ia mengambil di laci kemudian mengeluarkan yang sudah menjadi puyer. Auranti mengambil jarum suntik untuk menyuapkan ke Alinta.
Alinta yang mempunyai penyakit ayan masih kejang-kejang di kasur, ia dari tadi menahan sakit sampai tidak bisa bernapas. Tumor yang ada di rahim membuatnya juga susah untuk beraktivitas. Bukan cuma penyakitnya, masa lalu bersama dengan nenek angkat membuat Alinta harus bekerja keras saat penyakitnya membuat kondisi Alinta melemah.
Sekarang, Alinta harus menahan emosi karena Arga dan Auranti bisa bahaya kalau ketemu nenek angkat Alinta. Alinta sudah berhenti kejang-kejangnya, Auranti yang menjaganya merasa lega. Alinta membuka mata.
"Tante, makasih sudah merawatku."
"Kamu sudah seperti anakku sendiri. Kamu tanggung jawabku."
Auranti memegang tangan Alinta yang pucat. Auranti tahu, mungkin Alinta mempunyai perkataan atau pikiran yang disimpan.
"Alinta, kamu jangan banyak berpikir. Penyakitmu bisa kambuh. Kalau ada apa-apa bilang ke tante,"lanjut Auranti. Alinta ingin berkata, ia berusaha untuk bicara namun Alinta tidak mau melihat Auranti dalam masalah. Kelakuan nenek angkat Alinta sangat kejam, ia bisa mengancam Alinta, Auranti maupun Arga sang suami yang menolong Alinta karena diterlantarkan oleh mantan suami. Ya, Mantan suami yang gila harta juga. Dia memiliki nafsu besar terhadap harta dan ingin tidur bersama Alinta.
Alinta tersenyum, namun ia bangun dari tempat tidur.
"Tante, Mas Arga sudah ke luar negeri ya. Syukurlah, Alinta merasa bersalah kalau dia cuti. Alinta tidak ingin membuat mas Arga sedih,"ucap Alinta. Auranti membantu Alinta duduk, ia mengambilkan air putih.
"Alinta, kenapa kamu tidak bilang kalau nenek angkat kamu datang ke rumah. Kemarin Arga sudah bercerita, kamu ditindas atau ditekan oleh nenek angkat."
"Tante, Alinta tidak mau membuat tante dan mas Arga diapa-apakan oleh nenek. Alinta ingin kalian hidup tenang."
Alinta meminum air putih, ia masih susah untuk bernapas. Ayan yang diderita membuat Alinta semakin lemah, apa lagi nenek angkat Alinta kemarin datang dan membuat kejang-kejang kambuh. "Tan, apakah tante hari ini tidak sibuk. Karena mas Arga ke luar negeri. Alinta minta tolong antarkan ke rumah sakit buat terapi,"lanjut Alinta.
"Alinta, kamu masih sakit. Kalau dipaksa tante bisa kena marah dengan dokter penyakit dalam. Kemarin dokter jantung bilang, kamu juga menderita penyakit jantung. Kamu istirahat, tante tidak merasa kerepotan untuk merawat kamu."
Alinta merasa berterima kasih tante Auranti dan suami yang baru merawat ia dengan tenang. Tetapi, Alinta tidak mau melihat mereka yang sedih. Saat ini saja, Alinta merasa bersalah karena merepotkan tante Auranti. Suami Alinta pergi ke luar negeri cukup lama, jadi yang merawatnya adalah tante kandung Arga. Alinta masih memakai tabung oksigen dan selang infus, kondisinya belum sehat seratus persen.
"Alinta kamu kenapa? Tante bawakan obat syaraf dan ayan." Auranti mengambil obat, Alinta tiba-tiba kejang-kejang, kejang-kejangnya bukan karena penyakit ayan. Melainkan karena tertekan, saat Alinta sakit Arga menelepon.
Auranti mengangkat telepon.
"Arga, kamu sudah transit di bandara A?" tanya tante.
"Sudah, tante bagaimana kondisi Alinta? Apakah sudah membaik?" tanya Arga balik.
Di telepon Auranti menangis, ia bercerita bahwa Alinta semakin lemah. Dan sekarang kejang-kejang.
"Ar, kamu ke luar negeri. Biar tante yang mengurus istrimu. Tante akan menelepon dokter jantung, biar dicek kesehatan jantung Alinta."
Tante mematikan telepon. Alinta kejang-kejang, karena kepikiran Arga. Jika Alinta bertemu dengan nenek angkat. Auranti yang membawakan obat, menyuapkan obat syaraf dan ayan perlahan-lahan ke mulut Alinta. Tante Auranti sangat sedih, ia juga tahu Alinta kambuh pasti karena memikirkan Arga. Sedangkan Arga harus ke luar negeri untuk bekerja, tetapi kondisi Alinta yang sakit dan belum membaik. Sementara itu, Alinta pasti tertekan ia tidak mungkin mau bicara dengan Arga yang di luar negeri karena mementingkan masalah kantor.
Untunglah, Alinta sudah berhenti dari kejang.
"Alinta, kamu tidak usah banyak pikiran. Tante tahu kamu takut dengan nenek angkat. Tetapi, tindakan nenek angkat terhadapmu sangat kejam."
"Tan. Tolong jangan bicara dengan mas Arga. Aku tidak mau mas Arga kepikiran penyakitku ataupun masalah yang nenek angkat lakukan padaku."
"Alinta, kamu bicara kenapa nenek angkat bisa mengetahui alamat Arga?" tanya perlahan tante.
"Aku diberitahukan oleh mantan suami. Dia sengaja membuatku seperti ini."
Kamar yang begitu tenang dengan perabotan berubah kamar yang begitu menyesakkan. Auranti ingin melaporkan ke polisi, tetapi ia tidak punya bukti cukup.
"Sayang, tante akan menjagamu. Kamu harus kuat. Kamu jangan sakit ya. Tante tidak ingin melihat ibumu sedih di surga. Kalau ada apa-apa bilang tante."
"Iya tante, Alinta terima kasih sudah ditolong oleh tante,"ucap Alinta.
