BAB 9.Tante Kandung Arga Pergi Kerja
Saat Alinta memakai selang oksigen, nenek angkat berpura-pura memijit tangan Alinta. Alinta yang melihat wajah nenek angkat menahan tangan dan kaki yang gemetar karena cemas. Alinta suka kambuh ayan, bila cemas namun sekarang ia tidak bisa meminta bantuan atau membuat sopir taksi yang dari tadi melihat kaca spion penumpang.
"Pak sopir, saya tidak apa-apa kok,"lirih Alinta. "Nek, bisa ambilkan obat tumor, ayan, dan sakit jantung!" Alinta menyuruh sang nenek.
"Oh, iya sayang. Sebentar nenek ambilkan." Nenek angkat Alinta mengambil obat di kursi roda.
Dasar, cucu angkat tidak tahu diri. Memangnya aku ini pembantumu, seenak saja minta bantuan. Lihat saja saat di Toko atau Mal aku akan buat kamu kesakitan dan aku buat kakak kandungmu tidak sembuh, batin nenek angkat Alinta. Ia mengambil ponsel dan dengan hati-hati ia mengeluarkannya. Kemudian ia menekan nomer dan mengirim pesan.
Untuk Suster Siska
Suster, kamu saya tugaskan suntikan obat yang buat kejang-kejang. Kamu suntikkan dengan dosis berat, kakak kandung Alinta kan punya penyakit lemah jantung, kamu buat ayannya kambuh hingga kondisinya kritis. Aku akan membayarmu sebesar dua juta rupiah dari uang warisan Alinta.
Dari Nyonya S
Nenek angkat Alinta kemudian mengeluarkan ke tiga obat, lalu ia menyuapkan ke Alinta perlahan-lahan.
Sementara itu, di rumah Alinta.
"Kemana Alinta, jam segini tidak ada kabar. Dia tidak boleh pergi, karena penyakitnya sering kambuh." Tante Auranti melihat jam tangan, ia kemudian berjalan dan melihat ke ruang tamu. Saat membuka, Alinta dan nenek angkat belum datang. Bahkan di nomer telepon tidak ada panggilan masuk maupun pesan dari Alinta. Tante Auranti menelepon Arga yang sudah di taksi.
"Halo, Arga. Alinta sudah menelepon kamu belum?"tanya tante. Ia tidak bisa duduk, bolak-balik melihat jendela.
"Belum tan, memangnya ada apa? Tante tenang dulu."
"Ar, sebenarnya tante mau bilang ke nenek angkatnya Alinta. Tapi Alinta memohon, ia tidak ingin masalah menjadi besar."
"Tante tenang dulu. Pasti Alinta selamat."
Arga di taksi duduk bertopang dagu, ia tidak bisa berhenti menangis. Ingatannya masih ada, ingatan saat dia bersama Alinta.
"Alinta, kamu istirahat ya. Kamu kan tidak boleh lelah."
Arga mengangkat Alinta, ia menggendong dengan hati-hati membawa ke kasur. Melihat Alinta yang masih pucat dan mengelus-ngelus badannya yang sakit.
"Mas, aku tahu kamu sering tidak masuk kantor karena cemas. Tapi, kamu harus kerja."
"Aku ga bisa kerja kalau kamu masih belum sehat, ma. Kamu istirahat ya."
Arga mencium Alinta karena dia mencintai. Hal yang membuat Arga mencintai dibalik kecerdasan Alinta, ada sebuah ketegaran yang dipikul oleh seorang wanita.
"Pa. Mama ingin papa sukses di bisnis papa. Mama kan kuat, walau mama setiap hari kejang-kejang. Tapi itu sudah biasa buat mama."
Kenangan itu begitu indah, karena mereka berdua bisa mencintai.
Sekarang, di taksi. Alinta dan nenek angkatnya sudah hampir sampai di pusat belanja ternama.
" Bu, sekarang sudah sampai." Taksi berhenti, supir membuka pintu.
Di rumah tante Auranti berbicara ke Arga di telepeon.
"Ar, tante pergi kerja. Dulu ada Email di tab tante kakaknya Alinta kritis,"ucap Tante. Tante Auranti bersiap-siap, ia menuju ke kamar dan mengambil pakaian kerja serta baju dinas. Kemudian, Auranti memesan taksi dan berdadan.
Auranti masih kepikiran, kenapa saat Alinta bersama nenek angkat dan tidak ada kabar, di satu sisi kakak kandung Alinta mendadak kritis? Auranti yang berkaca di cermin langsung menyelesaikan make up dan ke luar kamarnya. Auranti lalu menuju ke teras, saat ia ke teras dengan tas. Taksi yang dipesan sudah datang.
Sementara itu, di rumah sakit yang terdapat peralatan medis.
"Dok, pasien mengalami gagal jantung."
"Sus, tolong defibulator,"ucap Dokter.
Kakak kandung Alinta masih belum membuka mata, sementara suster dan dokter mencoba untuk membuat jantungnya berdetak kembali. Suster yang satunya, memberi obat ayan supaya kakak kandung Alinta terbangun dari masa kritisnya. Kakak kandung Alinta masih belum membuka mata bahkan di elektro kardiagram alat untuk mendeteksi jantung masih garisnya menandakan bahwa kondisi lelaki itu sangat memburuk. Tidak tahu, apa yang dimasukkan ke dalam infus atau yang membuat saudara yang dicintai Alinta menjadi jantung dan otaknya memburuk saat bekerja.
Di rumah, Auranti langsung turun dari teras. Ia menuju ke taksi, waktu tidak bisa diputar kembali.
"Pak, ke rumah sakit segera ya."
Alinta yang berada di dalam taksi segera turun bersama nenek angkat.
"Nenek tega. Demi nafsu, nenek menyiksa aku dan kakak,"ucap Alinta. Alinta dibantu supir taksi, kursi roda diturunkan dan Alinta berjalan perlahan-lahan dengan kaki yang masih sulit bergerak. Ia kemudian duduk di kursi roda, namun saat duduk nenek angkat Alinta berbisik.
"Kalau kamu masih begini. Kakak kandung kamu akan mati,"ucap nenek angkat Alinta.
Alinta duduk di kursi roda, ia menahan sakit pas di pagi jam delapan pagi di depan taman mall yang masih sepi.
"Terima kasih pak supir,"ucap sang nenek.
Sang pencipta, aku mohon padamu kuatkan diriku. Aku sekarang tidak kuat menahan sakit karena tumor dan ayan yang ku derita selama ini, ucap Alinta dalam hati.
Alinta mengelus perutnya, ia kemudian berkata.
"Nek, antarkan Alinta ke toilet. Alinta mau mencuci wajah karena terlihat kusam."
"Iya, cerewet sekali. Nanti nenek antarkan kamu. Nenek lagi membayar taksi."
Alinta menahan kaki yang mau gemetar, ia perlahan-lahan menarik napas supaya penyakit kejang tidak kambuh. Alinta telat minum obat ayan, jadi setiap dia banyak pikiran pasti sakit ayan tiba-tiba membuat sulit bekerja.
Di taksi, tante Auranti yang dari tadi cemas dan tidak berhenti melihat jam karena mendapat panggilan darurat dari kantor dan panggilan itu dari suster yang biasa mengecek kesehatan kakak kandung Alinta yang masih dirawat di rumah sakit. Bahkan, Auranti saja mencemaskan Alinta. Tapi, kenapa nenek angkat Alinta membuat Alinta menjadi tertekan? Pikiran Auranti bercampur, ia tidak mau melihat Alinta menderita karena Alinta sudah dianggap sebagai anak Auranti.
Sementara, Alinta masih duduk di kursi roda. Ia kemudian menggerakkan kursi roda dan mencari bantuan. Alinta sudah tidak bisa menahan penyakit ayan, ia dengan wajah pucat yang tidak biasa dan perasaan yang sudah memasuki otaknya tidak bisa menahan. Untung, saat ia pergi menuju kursi mal. Alinta menemui salah satu seorang wanita.
"Bu, bisa antarkan saya ke toilet. Saya sudah tidak tahan."
"Oh, baiklah. Saya antarkan. Nona sama siapa pergi?"tanya wanita itu.
"Saya sama nenek saya. Tapi dia sibuk, jadi saya tidak mau nenek marah."
Sementara, di taksi Auranti mencari ponsel. Kemudian dia menelepon suster.
"Sus, bagaimana kondisi pasien kamar ICU VVIP?"tanya Auranti di taksi.
Suster yang di rumah sakit menjawab.
"Kondisinya masih keritis, bu. Saya sudah memberi dosis banyak untuk pasien, namun belum ada perkembangan."
