Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

6. Ikut Jagat

"Jagat," ucap Lena.

"Kenapa tidak bawa pacarmu ke rumah? Kalian baik-baik saja kan?" sambungnya.

Deg.

Jagat terdiam sejenak. Bagaimana ini? Jagat pikir sandiwara kemarin sudah cukup. Kenapa Lena menanyakan kembali soal hubungannya?

Agar tidak dicurigai, Jagat pun menyahut santai, "Ma, pacar Jagat sedang sibuk kuliah. Hubungan kami baik-baik saja."

"Tapi, Mama kangen loh, Gat. Mama mau ketemu pacarmu. Bawa dia ke rumah kita malam ini, ya?" bujuk Lena. Jagat meneguk ludahnya.

Di sisi lain, Jagat merasa sangat beruntung karena sang ibu percaya rencananya. Tidak curiga siapa sebenarnya Arum itu.

"Iya. Nanti malam Jagat bawa Arum," putus Jagat.

"Sudah, Jagat berangkat kerja dulu." Sengaja pamit lebih cepat untuk mengakhiri obrolan.

"Oke, sayang. Hati-hati, ya." Lena sedikit melambaikan tangan dengan senyum manis. Rasa bahagia itu hadir karena Jagat akhirnya mau membawa Arum bertamu, lagi.

Jagat mengangguk kecil. Saat pergi berjalan keluar rumah, ia menghela napas berat. Resah. Bagaimana ini? Apa dia minta lagi Arum menjadi pacar pura-puranya? Namun, sampai kapan?

Dalam hati dia berdecak, Jagat akan memulai sandiwara lagi. Ia naik ke dalam mobilnya. Pergi ke kantor segera. Kalau masih di rumah, sang ibu pasti banyak bertanya-tanya soal hubungan yang sedang dijalaninya itu.

***

Saat tiba di kampus, Sumi sudah lebih dahulu sampai dan menunggu dirinya bersama Dion di tempat parkir kampus.

"Hai, Rum." Sumi menyapa seperti biasa dengan senyuman. Arum menyapa balik. Keduanya tampak senang. Sementara Dion hanya diam melihat interaksi kedua gadis itu.

"Oh my god, aku benar-benar nggak sabar buat konser nanti!" Arum tampak excited. "Jadi tiketnya sudah dapat?" ucap Sumi. Arum mengangguk. "Terus kita bertiga bakalan pergi nonton konser dong?" ucap Arum, tak percaya dan terlihat aura bahagia terpancar. Mereka tersenyum bahagia karena rencana yang disusun pun akan terwujud.

Ketiganya berjalan menuju kelas bersama dengan semangat. Namun, saat berjalan di lorong kampus, semua pasang mata tertuju pada ketiganya. Tidak, lebih tepatnya pada Arum menjadi sasaran tatapan aneh mahasiswa di kampus. Raut senang di wajahnya perlahan luntur, berubah jadi cemas dan curiga. Ada apa?

Arum mengernyit heran, Sumi yang sadar pun akhirnya berbisik, "Rum, mereka kenapa? Kayak ada yang aneh."

Arum mengangguk kecil sambil perhatikan sekitarnya yang masih perhatikan dirinya tanpa henti.

"Apa ada yang salah sama penampilanku?"

Sumi menggeleng kecil. Tatapan mereka di sana terlihat tidak biasa. Ketiganya keheranan. Seperti kebencian, ketidakpercayaan, iri dan juga sda yang masih mau tersenyum manis. Arum dibuat bingung.

Tetapi, ramai di depan mading membuat pertanyaan-pertanyaan dan kebingugan Arum dan kedua sahabatnya terjawab seketika. Mereka merapat ke kerumunan. Melihat pengumuman yang ada makin mengejutkan Arum dan yang lainnya.

Foto-foto saat Arum pulang ke rumah ternyata terpampang nyata. Itu bukan foto biasa, melainkan foto di saat ia pulang bersama CEO itu. Yakni Jagat. Dan banyak sekali kata-kata berisi umpatan dan ujaran kebencian. Menuduh Arum yang tidak-tidak.

Dia memang membenarkan pulang bersama dengan pria itu. Tetapi, perkataan dan opini yang ditulis di sana tidaklah benar. Kenapa foto tersebut sampai berada di mading kampus? Dan siapa yang berani melakukan itu? Arum melirik ke sekitar yang menatap balik ke arahnya dengan tatapan yang tidak seharusnya. Dia bukan jalan dengan seorang pria hidung belang atau semacamnya. Bagi mereka yang tidak mau tahu fakta, foto itu justru menjadikan kebencian bagi banyak orang dan melihat Arum seperti sebagai simpanan.

"Nggak usah sedih, cerita ke aku bagaimana keadaan sebenarnya...," ucap Sumi. "Iya, Rum. Kita percaya kamu," lanjut Dion.

Arum seolah berada di titik salah. Dan banyak orang yang berpikir negatif tentangnya tanpa tahu yang terjadi. Foto itu seketika jadi bahan gosip. Melihat itu, Sumi bersama Dion langsung membawa Arum ke tempat ketiganya bisa berbincang dengan aman dan tanpa banyak orang tahu. Tempat itu berupa rooftop kampus.

***

Meski hari ini sulit didefinisikan, Arum masih mencoba mencerna situasi yang terjadi. Ada banyak hujatan yang diterima tanpa mereka tahu apa yang terjadi antara Arum dengan pria bernama Jagat itu.

Arum tetap tegar disela pembulian yang ada. Kedua sahabatnya selalu setia. Selesai dari kampus, Arum memutuskan langsung pulang ke rumah. Ia ingin istirahat. Membiarkan perkataan-perkataan di mading menjadi angin lalu.

Arum bukan simpanan CEO itu. Tetapi, tetap saja orang-orang sudah memiliki opini tanpa mendengar kebenaran. Gadis itu berpisah dengan kedua sahabatnya.

Di tengah perjalanan, Arum dikejutkan karena mobil tiba-tiba menghadang tepat di depan motornya. Hal itu membuat Arum terkejut dan kalau saja dia tidak rem tepat waktu, mungkin saja dia menabrak mobil tersebut.

Siapa lagi itu?

Tepat Arum membuka kaca helm, sosok pria bertubuh kekar, dengan setelan jas hitam kebanggaan kembali muncul di hadapannya. Pria yang dituduhkan di mading kampus yang memiliki hubungan dengannya.

Seharusnya Arum tidak bertemu pria itu.

***

"Saya berkali-kali bilang ke Bapak, jangan main ajak saya tanpa tahu mau apa!" kesal Arum. Bibirnya mencebik. Dia kini marah karena Jagat kembali menarik dirinya dengan paksa.

"Pak Jagat ada perlu apa lagi bawa saya tiba-tiba?" tanya Arum, tangannya mengepal di atas meja.

Kini, keduanya berada di salah satu kafe yang Arum sendiri baru tahu ada kafe mewah, aesthetic di Jakarta yang tidak jauh dari kampus Galaxy.

Pikirannya masih terngiang-ngiang soal mading dan dirinya dibilang simpanan pria itu.

"Apa kau lupa masih ada 2 permintaan lagi yang belum kau sebutkan?" ucap Jagat. Tampaknya, dari jawaban lawan bicaranya, Arum sedang tak tertarik dengan apa yang ditanyakan.

Arum membatin, 'aku bukan simpanannya! Dan seharusnya aku menjauh saja darinya.'

'Tapi, aku butuh uang untuk melunasi biaya kuliah...,' batinnya bingung.

"Ya. Tapi, sekarang aku sedang tidak punya permintaan. Aku hanya ingin pulang," katanya dengan nada lelah. "Masih banyak tugas kampus yang harus saya selesaikan."

Ya. Resiko sendiri karena Jagat memutuskan mengajak anak mahasiswa menjadi pacar pura-puranya. Sudah pasti Jagat kalah saing dengan tugas.

"Lupakan tugas itu. Kau harus ikut denganku! Aku akan kabulkan apapun yang kamu mau, tapi tentu ada syaratnya."

"Maksudnya bagaimana, ya? Bapak menyuruh saya untuk malas?" oceh Arum dengan kesal, matanya melotot.

Salah. Tidak seharusnya Jagat mengatakan hal tersebut. Oke ralat. Jagat segera menyahut cepat, "saya akan bantu tugas kamu, asal sekarang ikut dengan saya."

Jagat menemui dan mengajak Arum bukan sekedar cuma-cuma. Ada hal terdesak bahwa ibundanya ingin bertemu Arum. Dan memastikan hubungan keduanya benar-benar baik.

"Ikut saja sekarang. Saya akan jelaskan nanti! Kau hanya perlu ikut tanpa perlu menolak," ujar Jagat tanpa bisa dibantah. Kali ini Arum menahan emosinya. Dia hanya mampu mengepalkan tangan. Jagat memesan dua minuman.

Arum bisa sedikit lega dan menghilangkan rasa haus di tenggorokan serta dapat mengontrol emosi. Sedikit.

***

Lagi-lagi Arum harus mengganti pakaiannya. Tebakan Arum tidak salah. Dia pasti disuruh bertemu orang tua Jagat lagi. Di mobil Arum sibuk berdecak karena memikirkan masalah di kampus. Dan sekarang dia berakhir bersama pria itu. Arum sering kali melirik pria dingin itu.

Menyebalkan sekali!

Tidak ada pembicaraan, Arum melihat dirinya yang berubah total seperti tengah berada dalam drama. Menjadi seorang Queen padahal miskin.

Saat Arum melirik lagi pria itu berbalik meliriknya. Alhasil, gadis itu cepat-cepat membuang wajahnya ke jendela. Jagat mengernyit. Kenapa dengan gadis itu?

Setelah itu, Jagat mendapatkan panggilan masuk dari Lena. Ya, tidak lain menanyakan tentang gadis yang baru saja masuk ke dalam kehidupannya.

"Halo, Jagat."

"Iya, Ma, ada apa?" ucap Jagat.

Arum hanya menyimak obrolan tersebut. Tapi, dia tak tahu apa yang Lena katakan di telepon karena Jagat tidak perbesar suara panggilan itu.

"Iya, Ma." Sahut Jagat. "Hm."

Selesai. Tak ada percakapan lagi. Panggilan itu terputus. Jagat menaruh ponsel di dalam jasnya lagi.

Mereka berdua masih sibuk berdiam dengan pikiran masing-masing.

'Apakah pertemuan ini akan lama?'

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel